Bab 8: Foto Panas Adik Iparku

1237 Kata
“F-fo-to, Mas ….” Tangan Mas Haris melepaskan cengkeramannya dengan agak kasar. Lelaki itu bangkit dan kembali duduk di sofa dengan bunyi napas yang memburu. Aku benar-benar sangat syok dan takut luar biasa. Duduk aku di sampingnya. Menangis sembari menutup wajah dengan kedua belah tangan. “Kamu terlalu lancang, Gita! Apa yang kamu takutkan?” Suara Mas Haris sangat dingin dan ketus. Hatiku mencelos demi mendengarnya. Ketahuan sudah kelakuanku tadi malam. Padahal aku telah sangat berhati-hati. Namun, kok dia bisa tahu kalau tadi malam membuka ponselnya? Dia kan terpejam dan mendengkur. Apa hanya pura-pura tidur dan sengaja membiarkanku sejenak melihat isi ponsel? “Maumu apa sekarang?” Tubuh Mas Haris meringsek dekat denganku yang duduk di ujung kutub sofa. Aku menggeleng. Aku mau pulang ke rumah orangtua rasanya. Iya, pulang! Lebih baik menjanda saja daripada tidak sehat begini hubungan rumah tanggaku. “Please, Gita. Kita ini menikah butuh kepercayaan satu dengan yang lainnya.” “Lantas … kenapa kamu marah, Mas?” Aku melepaskan tangan yang menutupi wajah. Menatapnya dengan air mata yang penuh melinangi pipi. “Karena kamu melakukannya sembunyi-sembunyi dariku! Aku tidak suka. Paham?” Mas Haris mendekatkan wajahnya padaku. Menatap sangar dan membuat jantungku makin deg-degan tidak keru-keruan. “Kalau begitu … kita pisah, Mas.” “Pisah lagi! Pisah lagi! Cuma itu solusimu. Git, usiamu sudah tua. Makna pernikahan untukmu itu apa? Sekadar pesta sehari untuk membuat mata orang terpukau?” Ucapan Mas Haris terus-terusan membuatku terpojok. Seolah dia tidak sadar bahwa kata-kata itu seharusnya dia tujukan untuk dirinya sendiri. “Kamu kasar! Kamu berubah jauh, Mas!” Aku setengah memekik. Membenarkan letak kimonoku yang sempat terbuka bagian dadanya hingga kembali rapat dan mengikat kencang-kencang tali pinggangnya. “Aku begini sebab kelakuanmu, Gita. Coba ingat saat kamu tidak berulah dan bermasalah dengan adikku. Adakah aku marah padamu? Semua maumu kuturuti! Keuntungan usahaku pun bahkan sebagian besar kukirim ke rekeningmu. Tidak cukup, Git?” Mata Mas Haris membeliak. Aku pun terkesiap dan segera menghapus air mata. Ya, kusadari aku salah. Salahnya aku berhenti bekerja sehingga dia bisa leluasa mengungkit nafkah yang sudah dia beri. “Pikiranku sudah capek terkuras buat bisnis, Git. Masih kamu tambah dengan pertengkaran dengan Fitri. Sampai hapeku kamu cek-cek segala.” Mas Haris terus saja mencercaku tanpa jeda seolah aku ini penjahat kelas kakap yang sudah membuatnya rugi trilyunan. “Kenapa … kenapa foto Fitri di ponselmu sangat banyak? Bahkan foldenya kamu beri nama My Sweety. Isinya … isinya banya yang tidak pantas, Mas!” Mas Haris semakin membelalak. Giginya gemelutuk dengan kedua rahang yang mengeras. Jika dia ingin memukulku, silakan saja! “Foto apa yang tidak pantas, Git? Yang mana?!” Lelaki itu langsung merogoh saku celana pendeknya. Melemparkan ponsel ke atas pahaku dengan kasar. “Tunjukkan!” perintah Mas Haris yang sama sekali membuatku enggan untuk menurutinya. “Kimono tidurnya bahkan sangat seksi untuk ukuran remaja sepertinya. Belahan d**a sampai terbuka! Apa itu pantas, Mas, disimpan oleh lelaki dewasa sepertimu?” Aku menunjuk wajah Mas Haris tanpa rasa gentar. Biarlah. Dia mau mengusirku, aku akan turun hari ini juga. “Hentikan! STOP!” Suara Fitri terdengar berteriak. Sosoknya tiba-tiba muncul ke hadapan kami. “Hapus semua fotoku di ponselmu, Mas! Hapus sekarang!” Gadis itu memekik kesetanan dengan wajah yang merah padam. Aku sangat syok saat Mas Haris merampas ponsel yang masi ada di atas pahaku tersebut dan membantingnya dengan sangat keras ke atas lantai. Benda itu seketika berderai beriringan dengan suara brak yang cukup keras. Hancur berkeping-keping sudah. Kaca LCD dan pelapis body ponsel bertaburan remah-remahnya. “Puas kamu, Mbak Gita?” tunjuk Fitri dengan suara yang parau. “Ponselnya sudah kuhancurkan, Gita. Fotonya sudah tidak ada. Apalagi yang ingin kamu kesalkan di rumah ini?” Mas Haris merangkul tubuhku. Wajahnya semakin mendekat dan … memberikan ciuman ke bibirku. Aku menangis. Air mataku jatuh bagai gerimis yang lama kelamaan makin lebat. Aku takut. Benar-benar takut dengan dua beradik ini. Apakah mereka sakit jiwa? “A-aku … mau p-pu-lang saja, Mas,” kataku sembari terisak. “Tidak. Kamu istriku. Selamanya kamu harus di rumah ini,” bisik Mas Haris dengan suaranya yang lirih. “Hentikan drama ini! Aku lapar. Cepat masak untuk kami Mbak Gita. Sebelum tandukku benar-benar keluar dan aku sanggup untuk menghancurkan rumah kalian.” Fitri dengan santai melenggang pergi meninggalkan kami. Mas Haris yang berada di sampingku, tanpa kuduga malah mengusap air mata yang tersisa di pipi. “Jangan buat aku khilaf lagi, Gita. Tolong. Aku cuma minta kamu tidak bertengkar dengan Fitri dan mencurigaiku berlebihan itu saja.” Mas Haris terus mengusap-usap lenganku. Lelaki itu wajahnya terus memperhatikan dengan senyuman kecil. Membuatku makin merinding dan bingung untuk mengartikannya sebagai apa. Adakah di dunia ini manusia yang bisa berubah perilaku secepat Mas Haris? Dia tiba-tiba manis. Sedetik kemudian meledak-ledak penuh emosi. Sebentar kasar, sebentar kemudian bersikap bak malaikat. Aku jadi merasa tak aman berada di sini. Jangan-jangan … suatu hari nanti dia bisa saja mencelakaiku. Tidak! Aku tidak mau mati di tangan mereka. Salahkah jika pikiranku terlalu negatif kepada keduanya? “Besok aku mau ke rumah Ibu.” “Akan aku antar. Kita pergi berdua.” Mas Haris mengusap-usap rambutku yang mencuat ke sana-sini akibat ikatannya tak kencang. “Aku ingin sendiri.” Aku menunduk. Gemetar tangan ini luar biasa. Aku masih sangat syok dengan perlakuan suamiku yang di luar akal sehat. “Jangan buat aku khilaf lagi, Gita. Please,” mohon Mas Haris dengan nadanya yang sangat lirih. Aku gelagapan. Tidak. Aku tak ingin pertengkaran ini semakin menjadi, lalu nyawaku terancam sebabnya. Baiklah, akan kuiyakan saja ucapan Mas Haris. “Iya, Mas.” “Nah, gitu dong. Istriku memang paling pintar sedunia.” Mas Haris mengecup pipiku lagi. Mesra. Bagai dia tak pernah merasa kesal atau muntab kepadaku. “Masaklah untuk Fitri, Git. Setelah ini aku ingin menunaikan janji untuk menghabiskan Minggu bersamanya. Supaya dia tidak marah gara-gara tadi malam nggak kutemani di kamar.” Kepalaku langsung berdenyut. Ternyata Mas Haris benar-benar akan menjalankan janjinya tadi malam. Aku ingin pergi sejauh mungkin dari sini, Tuhan. Aku takut pada mereka. Benar-benar ngeri. “Iya, Mas. Aku masak dulu. Kamu tunggu di sini.” Aku segera berdiri dari sofa. Berjalan dengan langkah gontai meninggalkan Mas Haris dan kepingan ponsel yang berceceran di lantai ruang tengah. Rencana di kepalaku tentang memasukkan obat pencahar ke dalam masakan yang akan disantap Fitri, seketika tinggal angan saja. Aku takut. Seolah rumah ini menyimpang kamera tersembunyi yang aku sendiri tak paham di mana keberadaannya. Mengecek ponsel Mas Haris saja aku bisa ketahuan. Apalagi bila membubuhkan obat tersebut. Namun, kalau begini terus, kapan si Fitri mendapatkan pelajaran? Lagian, aku rasanya tak rela bila Mas Haris memanjakan anak itu seharian. Pikiranku benar-benar gamang. Ya, sebisa mungkin siang ini aku harus ke rumah Papa. Bertanya pada lelaki tua itu tentang kondisi kedua anaknya yang membuatku curiga sekaligus tertekan dalam waktu yang bersamaan. Sesaat aku menyesal mengapa jiwa ingin tahuku begitu meronta-ronta. Seharusnya, aku diam dan menikmati pernikahan ini dengan sebaik-baiknya. Lagipula, apa yang kurang? Uang berlimpah, makanan selalu tersedia, kehangatan ranjang yang bisa kurasakan hampir setiap malam, dan sosok Mas Haris yang bisa berubah jadi malaikat super lembut tanpa wajah marah. Masalahnya hanya terdapat pada Fitri. Aku pun masih heran, mengapa tak kubiarkan saja mereka melalui hari seperti biasanya, tepatnya seperti saat aku belum masuk ke dalam kehidupan keduanya. Ah, nuraniku benar-benar menolak. Logikaku memaksa untuk mencari tahu segala kebenaran yang tersembunyi. Meski risikonya terlalu berat, yakni menjanda dalam keadaan jobless alias pengangguran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN