Bab 7: Ponsel Suamiku Yang Penuh Rahasia

1297 Kata
“Git … hape,” ceracau Mas Haris yang masih setengah sadar sembari tangan kirinya menggapai-gapai nakas. Kulepaskan pelukan dari tubuh Mas Haris. Tanganku yang gemetar merogoh bawah bantal dan meraih ponsel yang kusembunyikan tadi. Secepat mungkin aku membuka ponsel Mas Haris dengan kode tanggal ulang tahun adik kesayangannya tersebut, kemudian mengeluarkan penelusuran galeri. Segera kuberikan ponsel tersebut ke tangan Mas Haris yang masih menggapai nakas, sementara matanya masih tertutup rapat tersebut. Butuh usaha keras untuk menjulurkan badan dan tangan demi melewati tubuh besar Mas Haris, sekaligus tanpa menyentuhnya saat aku meletekkan ponsel tersebut kembali ke asalnya. “Itu hapemu di atas meja, Mas,” kataku dengan suara yang diparau-paraukan. Akhirnya tangan Mas Haris mendapatkan benda pipih berukuran layar kurang lebih lima inci tersebut. Lelaki itu kemudian mendekap ponselnya di d**a. Kembali nyenyak dengan dengkuran yang keras. Aku melongo. Gila! Sebenarnya dia ini kenapa? Kok, takut banget jauh dari ponselnya? Apa dia punya feeling kalau aku baru saja membongkar-bongkar isi galerinya? Jantungku sudah lumayan normal degupannya. Berbaring kembali aku sembari mengamati wajah Mas Haris yang tertidur pulas dengan mulut yang agak menganga. Mas Haris, belum semuanya kubongkar rahasia di dalam memori telepon genggammu tersebut. Aku masih sangat penasaran dengan isi chat di w******p dari adikmu tercinta, si Fitri. Tunggu tanggal mainnya. Aku akan mengorek hubungan kalian sampai ke inti paling dalam. Sembari menahan dongkol, aku berusaha untuk memejamkan mata dan ikut tertidur pulas di samping Mas Haris. Namun, tetap saja sesekali mataku memperhatikan ponsel berwarna hitam yang masih berada di dalam dekap tangannya tersebut. Huh, jengkel! Kok, bisa-bisanya dia ingat pada barang tersebut dalam keadaan tidur nyenyak? *** “Mbak Gita! Mbak Gita!” Tubuhku diguncang-guncang oleh seseorang. Suaranya yang nyaring membuat telingaku hampir rusak. Malas, aku membuka mata. Si*l! mengapa gadis nakal itu berada di kamarku? “Kenapa kamu di sini, Fit!” bentakku sembari bangun dari tidur. Kuperhatikan samping. Tak lagi ada sosok Mas Haris di sana. Ke mana suamiku? “Siang banget sih, kamu bangun! Udah jam delapan, woi! Mana sarapan buat kami?” Cewek bercelana pendek dengan kaus oversize warna putih yang transparan tersebut berkacak pinggang di samping ranjangku. Mataku membeliak. Semakin kurang ajar anak ini. Berani sekali dia ngomong seperti itu? Memangnya aku ini pembantu? “Mana Mas Haris?” tanyaku sembari turun dari tempat tidur. “Di luar minum kopi sambil main hape. Kamu kok jadi istri nggak perhatian sama suami? Masku tuh pagi-pagi harus selalu tersedia kopi dan sarapannya. Kaya kamu itu baru sehari aja nikah sama dia!” Gadis berambut panjang yang dikuncir kuda tinggi-tinggi tersebut menceramahiku dengan nada yang sok menggurui. Memang bakat jal*ng anak ini, pikirku. Enak saja dia marah-marah padaku hari ini. Aku tak menghiraukannya. Berjalan begitu saja kakiku melalui tubuh ramping gadis banyak bicara itu. Tak kusangka, dia malah makin nyaring bicaranya. “Giliran nanti aku yang merhatiin Mas Haris, kamu pula ngamuk-ngamuk cemburuan! Dasar nenek tua!” Langkahku tercekat. Aku membalik badan dan menatap Fitri dengan d**a yang panas. “Apa masalahmu, Fit?” tanyaku dengan nada dingin. “Masalahku? Kamu bangun siang seperti ini ya masalahku. Pakai nanya pula!” Gadis itu melengos. Wajahnya sangat menyebalkan. “Kamu itu kalau ngerasa laku, cari pacar dong. Jangan nempel terus sama suami orang.” Skak mat! Ucapanku seketika membuat Fitri terhenyak. Anak itu langsung pias wajahnya. Mungkin dia merasa sangat tersindir. “Cari pacar yang muda, ganteng. Jangan main sama masmu terus. Nanti jadi perawan tua kaya aku, baru tahu rasa.” Kulempar senyuman lebar kepadanya. Kemudian aku ke luar dari kamar dan meninggalkan gadis itu sendirian masih berdiri terpaku di sana. Kudatangi Mas Haris yang sedang duduk serius di sofa ruang tengah kami. Dia tengah duduk sembari menaikkan kaki kanannya ke atas paha kiri. Lelaki itu fokus menatap layar ponsel yang sudah seperti belahan jiwa yang tak boleh jauh darinya. “Pagi, Mas. Maaf aku kesiangan,” sapaku sembari duduk di sebelahnya. Mas Haris mengangkat wajah. Lelaki itu tersenyum dan merangkulku. “It’s okay. Nggak apa-apa.” Lelaki itu malah memberikan sebuah kecupan di kening. Mesra sekali. “Fitri ngebangunin aku tadi. Dia marah-marah sambil mengguncang badanku, Mas.” Merasa Mas Haris tak keberatan dengan bangun siangku, aku pun cepat mengambil kesempatan. Kepalaku langsung bersandar pada dadanya. “Oh, gitu, ya. Jangan terlalu dipikirkan, Git,” jawab Mas Haris sembari mengelus kepalaku. “Katanya aku nggak perhatian lah, cemburu sama dia lah. Serba salah aku sama anak itu, Mas. Ngatain aku nenek tua pula.” Terus saja aku curhat pada Mas Haris. Tumben-tumbennya kan, dia mau mendengarkanku seperti ini? Biasanya, kalau kami sedang bahas Fitri, pria ini pasti terus membela adik semata wayangnya tersebut. “Apalagi katanya, Sayang?” tanya Mas Haris dengan nada lembut. Seketika hatiku merasa sangat bahagia. Sebab, akhirnya suamiku benar-benar mau berpihak kepadaku. Apakah gara-gara servis tadi malam? Oh, betapa bahagianya aku! “Ya, aku disuruh cepat bikin sarapan sama dia. Katanya kamu itu kan tiap pagi harus disediakan kopi dan sarapan. Lho, aku kan sedang capek banget tadi malam, Mas. Kan, Mas tahu sendiri semalam kita ngapain.” Aku menatap Mas Haris dengan wajah murung. Kucebikkan bibir agar dia tahu bahwa aku tengah ngambek sebab ucapan kasar adiknya. “Ini kopi sudah dibikinin Fitri. Nggak apa-apa, kok, Git. Sekali-kali kan kamu juga pengen bangun siang. Iya, kan?” Mas Haris mengecup keningku lagi. Lelaki yang mengenakan kaus oblong slim fit warna hitam dan celana pendek sepaha motif kotak-kotak tersebut merangkulku semakin erat. “Maaf, ya, Mas,” ujarku sembari mengalungkan peluk di perutnya. “Maaf untuk apa, nih?” “Ya, maaf karena sudah bangun telat dan nggak sempat bikinkan kamu kopi,” kataku dengan nada yang manja. “Maaf untuk membuka ponselku, tidak sekalian?” Jantungku langsung berdegup sangat cepat. Darahku rasanya saat itu juga berhenti mengalir. Sekujur tubuhku panas dingin. Aku benar-benar syok. Sangat syok. Ingin tubuh ini ambruk seketika kala mendengarkan ucapan Mas Haris yang meskipun bernada sangat lembut, tetapi mampu merobohkan pertahananku. “Kenapa bengong, Git? Jawab, dong,” bisik Mas Haris tepat di telingaku. Pria itu kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut lagi di leher kiri. Sama sekali tak membuatku geli apalagi tersanjung. Malah sebaliknya. Menjadikan diriku ingin mati saja detik ini juga. “Apa yang kamu buka di ponselku, Gita?” Pelukan Mas Haris semakin erat di tubuhku. Membuatku sesak dan hampir sulit untuk menarik napas. “Kamu kok diam-diam begitu meriksa ponselku? Kenapa nggak langsung bilang, sih? Kalau bilang, kan langsung kukasih, Sayang.” Pelukan Mas Haris kini sangat erat sekali. Dia lebih mirip meremukkan tubuhku ketimbang memberi dekapan. Aku sesak. Terbatuk-batuk aku sebab sulit menghirup oksigen. “Jangan begitu, dong, Gita. Kamu kok, makin hari makin aneh saja?” Mas Haris kemudian melepaskan peluknya. Mendorong tubuhku agak keras hingga aku ambruk di atas sofa yang space kosongnya masih tersisa lumayan. Napasku naik turun. Keringat dingin langsung mengucur membasahi pelipis. Aku benar-benar takut. Menggigil ngeri dengan kondisi bulu kuduk yang meremang. Bahkan ikatan kimonoku mengendur hingga membuat d**a ini setengah terbuka di hadapan Mas Haris yang menatapku buas. “Apa yang kamu ingin lihat, Git? Katakan!” Tubuh Mas Haris kini persis berada di atasku. Wajahnya yang menyeringai kini tepat berhadap-hadapan, membuat aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat. “T-tidak, Mas. T-ti-dak. A-aku … tidak lihat apa pun!” Aku berusaha untuk berteriak. Namun, tenggorokanku begitu sakit rasanya. Tangan besar Mas Haris pun kini telah mendarat untuk mencengkeram pipiku hingga bibir ini muncung seperti bebek. “Bilang saja Gita. Aku tidak bakal marah.” Dia tersenyum aneh tetapi tangannya masih belum melepaskan wajahku. Sakit rasanya. “A-aku … cuma lihat—” “LIHAT APA!” Teriakan Mas Haris yang sangat nyaring benar-benar membuatku mati kutu. Tangisku langsung meledak. Aku sesak dan benar-benar sulit bernapas. Pasrah. Aku sekarang hanya bisa pasrah. Ini memang salahku. Namun, apakah Mas Haris harus berlaku sekeras ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN