Kira menyandarkan punggungnya di balik pintu. Terisak pelan dengan sangat sesak. Disentuhnya bibir yang masih panas, bekas sentuhan bibir Brian beberapa saat lalu. Sebagian dirinya berdebar sebab ciuman pertamanya begitu manis. Tapi sebagian dirinya lagi tak henti memaki, memarahi dirinya sendiri yang begitu mudah terbuai oleh sentuhan Brian. Yang dengan begitu gampangnya tersentuh oleh tatapan pemuda itu. Padahal dia tahu, Brian tidak bisa dimilikinya. Brian, memiliki seseorang yang sudah Kira ketahui. Sial. Kira memukuli dadanya yang sesak. Sebuah notifikasi pesan di ponselnya membuat Kira sejenak menghela napas. Lalu merogoh saku untuk mengambil benda pipih tersebut. Brian: Maaf atas kekurang-ajaran aku. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Nanti, kalau semuanya benar-benar sel

