Brian melangkah memasuki rumah sakit, bersama pria lain di sisinya. Berbeda dengan Brian yang tampak lebih rileks, pria tersebut tampak begitu kaku dan gemetar. Kedua tangannya yang mengepal serta rahangnya yang mengeras membuktikan bahwa dia gugup bukan main. Brian bisa memahaminya, tidak ada pria yang akan baik-baik saja setelah mendengar gadis yang dicintai dalam keadaan yang tak diharapkan. Terlebih kali ini, Ellen menderita kanker stadium lanjut. Pria mana yang bisa membayangkan hal ini terjadi pada perempuan yang mereka cintai? Tidak ada. Tidak ada yang bisa membayangkan mimpi buruk tersebut. Langkah lelaki itu tiba-tiba berhenti, beberapa langkah dari pintu kamar tempat Ellen dirawat. Brian tidak perlu bertanya apa pun, dia tahu lelaki itu ketakutan. “Ellen nunggu kamu di dalam,

