10

1739 Kata
"Tapi kamu kan udah dewasa Jin, masak masih gak bisa mikir, perbuatan kamu itu bener apa enggak?" ••• Ana mengambil peniti besar yang ada di laci laptopnya. Tapi ia kemudian terdiam sejenak, sebelum mengembalikan lagi peniti itu ke laci, dan langsung menutupnya. Ana memegangi kepalanya sembari menghela napas. Kebiasaan, tiba-tiba ia merasa stress dan ingin melakukan sesuatu, padahal tidak ada masalah apa-apa. Tok, tok, tok. Jendela kamarnya tiba-tiba diketuk. "Permisi, paket!" Ana memutar kedua bola matanya malas. Ia akhirnya beranjak dari kursi, dan membuka gorden jendelanya. Cengiran Jino pun, yang langsung pertama kali ia lihat. "Ngapain ke sini malem-malem?" tanya Ana. "Jalan yuk," balas Jino. "Udah malem." Kata Ana. "Baru juga jam tujuh. Ayolah, ada yang mau gue omongin." "Gue izin Mama dulu." "Ya udah, gue tunggu." Ana kembali menutup gorden jendelanya. Ia mengenakan celana panjang serta jaket, juga mengantongi dompet dan ponsel, sebelum bergegas keluar kamarnya. "Ma, izin pergi bentar ya? Diajak jalan sama Jino." Kata Ana. "Oh, ya udah, hati-hati ya? Jam delapan udah pulang kalau bisa, maksimal jam sembilan." "Iya Ma." "Kakak, nitip es krim!" seru Leo dan Ajis berbarengan. "Enggak!" balas Ana. ••• "Kenapa dah tiba-tiba ngajak jalan? Jalan kaki lagi." Kata Ana. "Kan bensin gue belum lu balikin." Balas Jino. "Oh iya, lupa gue. Mau gue balikin sekarang?" "Gak usah, nanti aja. Enakan jalan kaki gini lagian." Untuk beberapa saat Jino dan Ana sama-sama terdiam. Mereka hanya berjalan melewati rumah-rumah. "Kenapa sendirian menurut lo lebih nyaman?" tanya Jino. "Gak tau," balas Ana. "Gue jadi ngerasa gak punya ketakutan aja. Kalau lagi deket sama orang, ah enggak, bahkan sama keluarga gue sendiri pun, gue suka takut ngelakuin kesalahan ke mereka, atau nyakitin mereka. Meskipun... padahal jelas banget gue selalu nyakitin mereka. Mau berusaha gak kayak gitu pun, tetep aja gue gak bisa ngontrol diri gue sendiri." "Bukan gak bisa, lonya yang gak punya keinginan." Ucap Jino. "Semuanya bisa asal lo punya keinginan, dan terus doa. Yang ngontrol kita semua kan Tuhan. Kalau kata Mama gue, yang ngasih kesulitan ke kita tuh Tuhan, jadi satu-satunya yang punya solusi buat masalah kita ya Tuhan. Tapi dari kitanya itu mau apa enggak buat minta bantuan." Ana menatap Jino dengan mata mengerjap. "Gue gak nyangka lo berpotensi jadi Ustad." Jino mencebikan bibirnya, sebelum merangkul bahu Ana. "Gue serius Na," ucap Jino. "Lo putus asa ya?" Ana terdiam, dan kemudian menggendikan bahu. "Yah, bisa dibilang gitu." "Sebenernya... lo diiming-iming apa sih sampe mau nemenin gue kayak gini?" Jino tersentak mendengar pertanyaan Ana. "Ih, kok lo nanyanya gitu sih?" tanya Jino. "Ya habis, gue kan kenal diri gue sendiri." Balas Ana. "Gak semua orang kayak gitu lah Na, ada orang yang bisa terima, maklum, dan sabar. Tapi kalau lo responnya tetep buruk, meskipun orang itu udah baik, yahhh... orang itu bersikap, sesuai gimana kita bersikap ke orang." Tutur Jino. Ana tidak merespon, ia hanya diam untuk mencerna perkataan Ana. "Jujur... gue baru pertama kali nemu orang yang kayak lo di kehidupan nyata, gue biasanya cuman liat di media sosial. Gak taunya beneran ada. Karena gue gak ada di posisi lo, gue sebenernya jadi gak bisa ngerti sama jalan pikiran dan perasaan lo. Kalau gak karena Mama gue nasehatin gue, mungkin gue mikirnya udah jelek terus ke elo." Kata Jino. "Jadi bener ya? Gue emang jelek banget." Kata Ana. Jino menatap Ana, kemudian mengangkat kedua alisnya untuk mengiyakan. "Gue jujur aja. Tapi bukan berarti gue baik juga, pertemuan pertama kita aja, gue duluan yang marah ke elo, cuman gara-gara masalah paket." Kata Jino. "Tapi kita itu masih 20 tahun, emang mati mah bisa kapan aja datengnya, mau tua mau muda. Nah justru karena itu, kita harus gunain waktu kita saat masih hidup ini, buat berusaha jadi orang baik, sebaik-baik yang kita bisa, karena bisa aja besok kita udah mati. Sayangkan kalau kita mati sia-sia?" "20 tahun itu... pikiran, jiwa, dan lain-lain dari kita belum sempurna, belum sekeras batu kayak yang udah tua, meskipun 20 tahun tuh ya udah umur dewasa. Kalau lo terus ngeliat dan dengerin hal yang positif, gue yakin kita bisa berubah. Tapi ya harus ada kemauan juga dari diri lo sendiri. Jangan nyengsarain diri lo sendiri, orang tua lo khawatir loh." "Hubungan kita gak akur sih, tapi... kalau lo emang ngerasa kesepian, atau ada sesuatu yang ngebebanin lo, gue bakal ada buat lo kok." Ana membuang muka sejenak dari Jino, untuk menghapus air matanya. Ia kemudian menatap Jino lagi sambil nyengir. "Lo kenapa sih? Perkataan lo dari tadi aneh deh, gue jadi kayak bukan liat Jino." Kata Ana. "Tapi lo ngerti apa yang gue bilangkan?" tanya Jino, yang membuat cengiran Ana hilang. "Mama gue janjiin motor ninja." Ucap Jino, yang membuat Ana menautkan alis, karena bingung dengan perkataan Jino. "Udah jangan ngakak, gue tau kekanakan banget gue tuh. Jadi Mama gue janjiin motor ninja, kalau gue berhasil bikin lo keluar dari zona nyaman lo, keluar dari rumah lo, keluar dari rasa kesepian lo, dengan ngajak lo gaul. Dan lo pasti mau nanya kenapa Mama gue lakuin itu, karena Mama gue denger kekhawatiran Mama lo, tentang elo." "Mama gue susah punya anak dulu, bahkan setelah punya anak pun, cuman punya satu, yaitu gue. Jadi Mama suka nganggep, anak orang, atau anak temennya itu anaknya juga." "Gue awalnya cuman mau motor ninjanya, karena gue nabung pun gak pernah cukup uangnya buat beli. Gue jujur ke Mama gue tentang rencana gue, gue kira Mama gue bakal marah, bakal batalin perjanjian, tapi Mama gue malah bikin gue mikir dan akhirnya ngerasa bersalah." Ana spechleess. Sementara Jino sedang mengatur napasnya yang jadi tidak beratur, karena sudah bicara panjang lebar dengan cepat. Jino tiba-tiba meraih kedua tangan Ana, sembari berhenti berjalan, membuat langkah Ana juga jadi terhenti. Jino menggenggam tangan Ana, sembari menatap serius gadis itu. "Don't give up. Gue juga pernah putus asa, dan di saat itu gue sadar, yang gue butuhin itu orang-orang, dan hal-hal yang positif." Ana diam sambil menatap Jino, dia tidak bisa bicara karena tenggorokannya sakit, dan Ana sedang menahan diri untuk menahan air matanya untuk tidak jatuh. Tapi pada akhirnya tetap jatuh juga. ••• Jino mengusap air mata Ana dengan ibu jarinya, sebelum akhirnya merengkuh gadis itu ke pelukannya. Jino membiarkan Ana menangis sampai puas. Jino hanya bisa menepuki kepala dan mengusap bahunya, sembari sesekali meletakan dagunya di pucuk kepala Ana. Setelah tangisan Ana mereda, Ana tetap tidak melepas pelukannya. Ia tetap melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jino, hanya saja sekarang wajahnya tidak lagi sembunyi di d**a Jino. Ia hanya menyandarkan kepalanya, sambil menatap kosong ke arah lain. Jino sendiri tidak protes Ana masih memeluknya. "Dek, jangan pacaran di sini." Suara Satpam yang lewat berhasil mengejutkan Ana dan Jino, membuat mereka berdua langsung melepas pelukan mereka. Terlihat raut wajah malu di muka Ana dan Jino. "Eung, udah yuk lanjut jalan." Kata Jino sembari meraih tangan kanan Ana dan menariknya untuk melanjutkan perjalanan. "Sebenernya kita mau kemana sih?" tanya Ana. "Beli es krim aja ke minimarket depan." Balas Jino. "Gue kira mau diajak jalan kemana." Gumam Ana. "Lo minta gue ajak kencan?" "Ih, ya enggak. Ya udah gak papa, adek-adek gue juga tadi nitip es krim." "Btw lo gak dandan?" "Enggak," "Kenapa?" "Lagi gak pengen aja, lagian tadi lo kan udah nungguin. Emang kenapa?" "Enggak, gue kasian aja sama lo, jadi bisa ngeliat tuyul, mana malem-malem lagi." Ana langsung memukuli Jino, sementara Jino hanya tertawa tanpa dosa, sembari berusaha menghindari pukulan Ana. ••• "Gue kayaknya besok bakal coba bikin video makeup." Tutur Ana sesuai ia dan Jino keluar dari minimarket beli es krim dan cemilan lainnya. Mereka langsung pulang sambil menyantap es krim masing-masing. Karena membelikan es krim untuk adik-adik Ana juga, jadi mereka harus segera pulang. "Mau pinjem hp gue? Oh, enggak deng. Gue kayaknya punya kamera deh, cuman udah lama gak dipakai, soalnya gue biasa selfie cuman pakai hp. Nanti gue cari." Kata Jino. "Gak usah, gue pakai hp gue sendiri aja. Meskipun hp cina, kualitas videonya lumayan." Balas Ana sambil tersenyum. "Gak usah sungkan gitu deh, gue bakal bantuin lo, sesuai perjanjian gue ke Mama lo." Kata Jino. "Gue... jadi ngerasa ngerepotin." Kata Ana dengan nada lirih. "Manusia mana bisa sih jalan sendiri Na? Bukan ngerepotin, namanya minta bantuan. Ngerepotin itu kalau lo tetep minta tolong untuk hal kecil, yang padahal lo bisa lakuin sendiri." Kata Jino. "Tapi... terus lo nanti mau bantuin gue ngerekam juga?" tanya Ana. "Kalau lo berkenan, ya bakal gue bantuin." Balas Jino. "Enggak sih, malu gue." Kata Ana. "Kenapa harus malu?" "Ya malu lah, meskipun gue narsis suka selfie juga kayak lo. Tapi gue gak pernah videoin diri gue sendiri." "Live medsos pernah gak lo?" Ana menggelengkan kepalanya. "Ih, padahal itu penting loh, biar lo deket sama penggemar tulisan lo." Kata Jino. "Ah, yang nonton paling cuman beberapa." Kata Ana. "Btw jujur ya, gue baru pertama kali se enjoy ini ngobrol sama cewek, karena suka kurang nyambung biasanya. Berarti lo sebenernya berpotensi buat punya banyak temen dong." Tutur Jino. "Hhmmm, tapi gue gak mau." Balas Ana. "Udah ah gak usah bahas yang menjurus ke sana lagi, gue capek dengernya." "Ya udah deh maaf." Kata Jino sembari merangkul Ana. "Oh iya, ngomong-ngomong soal Tora. Lo masih sakit hati ya sama dia?" tanya Jino. "Jujur, iya. Kecewa sih," jawab Ana sambil menundukan kepala. "Tora itu... dia lahir di keluarga sempurna sih, maksudnya... dia diajarin buat gak boleh punya sifat buruk sedikit pun, nilai-nilai di sekolah juga harus selalu bagus. Jadi... dia berteman pun, harus sama yang sempurna. Jadi... mungkin dia kayak gitu sama lo, karena dia udah ke doktrin dari kecil, buat kayak gitu. Yah, jadi dia tuh diajarin buat sempurna, tapi gak diajarin buat jangan mandang orang sebelah mata." Kata Jino. "Berarti lo dan temen-temennya yang lain itu sempurna?" tanya Ana. "Nah justru itu! Lo tau gak sih? Tora tuh sebenernya suka risih sama kita, tapi kita tarik dia terus buat temanan sama kita. Orang tuanya mana tau Tora temanan sama orang kayak gue dan yang lain. Lama-lama Tora jadi ikut gila, dia jadi sadar orang itu banyak jenisnya, dan emang banyak kesalahannya, dan jadi apa adanya itu menyenangkan. Kalau dia gak sadar, dia gak mungkin ngerasa bersalah ke elo kayak sekarang." "Tau dari mana lo dia ngerasa bersalah?" "Keliatan lah dari ekspresinya setiap ngeliat lo, dan gue juga tau waktu dia kasih pesan permintaan maaf ke adek-adek lo." Ana tidak merespon perkataan Jino lagi. Tak berselang lama, mereka akhirnya sampai di rumah. "Gue ambilin bensin baby blue dulu ya?" kata Ana, yang dibalas anggukan oleh Jino. Ana pun masuk ke dalam pekarangan rumahnya, setelah memanggil adik-adiknya untuk mengambil es krim mereka. Ana baru pergi ke garasi untuk mengambil bensin punya Jino yang ia ambil. "Nih," kata Ana sembari menyerahkan tiga botol berisi bensin pada Jino. Jino segera menerimanya, lalu ia menepuk kepala Ana. "Lain kali jangan nakal lagi dong." Kata Jino. "Heh, emang lo gak nakal? Sama aja!" balas Ana. "Lagian gak sopan banget sih lo sering banget pegang-pegang kepala gue perasaan." "Gue pasti lebih tua dari lo lah, meskipun seumuran." Kata Jino. "Emang lo lahir bulan dan tanggal apa hah? Gue lahir bulan tiga tanggal 20! Awal tahun!" "Lah samaaa... gue juga bulan tiga tanggal 20." Jino dan Ana seketika terdiam sambil saling tatap-tatapan, dengan alis bertaut. "Jangan-jangan kita sebenernya anak kembar?" kata Jino.[]   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN