Ana menatap datar Jino. "Gila lo, yang bener aja, kebetulan doang kali." Kata Ana.
Jino meletakan bensin yang ada di tangannya ke tanah, ia kemudian memegangi kedua bahu Ana, sambil menatapnya serius.
"Bisa ajakan? Kita tuh sebenernya kembar yang terpisah. Coba deh Na lo perhatiin, kita sama-sama punya t**i lalat di bawah mata. Hahhhh, oh my god!" Ana menampar pelan pipi Jino, lalu menepis kedua tangan Jino dari bahunya.
"Apaan sih lu ah, aneh-aneh aja. Liat, ukuran mata lu berapa centi, ukuran mata gue berapa centi. Meskipun sama-sama sipit tetep aja beda. Apa lagi ukuran bibir kita, hihhh..."
"Ya kan kali aja kita tuh kembar terpisah."
Ana menatap malas Jino yang bicara sambil manyun-manyun.
"Gue lahir pas magrib, lo lahirnya kapan? Yang duluan lahir dia yang lebih tua." Kata Ana.
"Gue lahirnya malem, mungkin... sekitar jam 9-nan." Balas Jino.
"Berarti tuaan gue, harus hormat lu sama gue."
"Enak aja, cuman beda beberapa jam doang."
"Tapi gue duluan lahir."
"Heh, gak ngaruh," kata Jino sembari mengibaskan tangannya di depan Ana.
"Kak Ana! Kata Mama cepet masuk, jangan ribut, udah malem." Ongin tiba-tiba keluar dari rumah dan memanggilnya.
"Iya, bentar." Sahut Ana. "Udah ya gue masuk dulu, bay!" setelah pamit pada Jino, Ana langsung berbalik badan hendak masuk ke rumahnya. Tapi tiba-tiba ia merasakan rambutnya diacak-acak.
"Jangan galau-galau lagi Mbak eee..." kata Jino sambil tersenyum.
Ana menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat Jino sejenak, sebelum berlari masuk ke rumahnya.
•••
Dalam sebulan, ada satu hari, dimana rumah akan sangat ricuh.
"Mama! Kaos kaki aku di mana?!"
"Makanya disimpen dong."
"Alah, emang Ongin di simpen."
"Panggil aku Abang Ajis."
"Gak mau!"
"Ma, topi Lele udah kering belum sih? Kok gak ada di tas?"
"Ini baju aku udah pas buat sebulan Ma? Gak kayak kemarenkan? Kurang dua, aku jadi pinjem baju temen deh."
"Ana! Bantuin Mama dong!"
"Kan nanti aku yang nganterin Ma!"
"Aduh, Mama riweh ini! Tolong lah bantuin."
Ana yang sedang dandan pun, akhirnya keluar kamar untuk membantu Mamanya mengurus ketiga adiknya yang hendak asrama ini.
"Kak, katanya nanti kita berenang loh hari selasa." Kata Ongin dengan bersemangat, saat Ana baru keluar dari kamarnya.
"Oh gitu," respon Ana singkat.
"Tapi kita punya gak punya baju renang..." kata Ajis.
"Ya gak papa, kan bisa pakai celana aja." Balas Ana.
"Iihhh pengennya pakai baju renang." Kata Ajis sambil menggembungkan pipinya.
"Ck, gak usahlah, biar bisa pamer d**a sama perut tuh." Kata Ana.
"Kita kerempeng." Balas Ajis dengan memicingkan matanya pada Ana, dan memajukan bibir bawahnya.
Ana tergelak. "Kemaren kayaknya ada yang bilang kalau 'aku tuh berotot kayak Papa'. Akhirnya ngakuin juga kalau kerempeng." Tutur Ana.
"Nanti kalau gede juga kita berotot!" sahut Ongin.
"Ya udah deh, Kakak mau nyiapin keperluan asrama kalian dulu, apa lagi yang kurang?"
"Kaos kaki aku!" seru Ajis.
"Topi Lele Kak!"
•••
"Mau sekolah ya?" tanya Jino yang sedang mencuci motornya. Surai hitam Jino tampak acak-acakan, dengan tubuh hanya berbalut kaos putih oblong, dan celana pendek hitam selutut.
"Iya nih," balas Ana singkat.
"Naik apa?"
"Ya motor, gue kan gak bisa bawa mobil."
Kening Jino mengkerut. "Emang bisa? Bawa tiga anak sama tas gede lagi."
"Gak tau. Gue baru kali ini sih anter mereka, biasanya Papa atau adek gue yang anter." Kata Ana.
Jino jadi ngeri sendiri membayangkan Ana bawa motor dengan tiga anak, dan tiga tas besar. Apa lagi Ana itu sembrono waktu nyetir.
"Gue bantuin anter aja gimana? Gue bawa dua anak, lo bawa satu." Kata Jino.
"Gak usah lah ngerepotin, lagian lo kan nyuci motor lo." Kata Ana.
"Udah selesai ini, lagian tadi baby blue gak kotor-kotor amat. Cuman udah lama gak mandi. Gue panasin motornya bentar, sambil gue ganti baju. Sekalian gue mau ke kampus juga. Gak buru-buru kan?"
"Enggak sih, kalau senin mereka bisa agak siangan ke sekolahnya."
"Ya udah tunggu bentar."
Jino pun bergegas masuk ke dalam rumahnya, setelah menyalakan mesin motornya, untuk ganti baju.
Sementara Ana, Ongin, Ajis dan Leo menunggu di teras.
"Siapa yang mau ikut Kak Jino?" tanya Ana.
Ketiga adiknya hanya diam, membuat kening Ana mengernyit.
"Kenapa?" tanya Ana.
"Kita maunya sama Kakak, kan baru pertama kali kita dianter Kakak." Kata Ongin.
"Yah, cuman Kakak juga gak bisa kalau mau bonceng tiga sekaligus." Kata Ana. "Lagian kenapa juga harus sama Kakak? Katanya Kakak serem."
"Tapi kan sayang..." sahut Leo. "Kita tau kok meskipun galak, Kakak sayang sama kita."
Ana tidak bisa merespon apa-apa. Jujur saja, ia terkejut mendengar perkataan adik-adiknya.
Jino tak lama keluar dengan pakaian lengkap, dan rambut yang lebih rapih, tas ransel pun tersampir di bahunya. Ana yang sebelumnya duduk di pinggir teras, bangkit berdiri dan menghampiri Jino.
Ia berbincang sebentar dengan Jino, dengan sedikit ada perdebatan, sebelum akhirnya keduanya memutuskan untuk naik taksi online saja.
•••
"Sebenernya kalau naik mobil, gue bisa sendiri sih." Kata Ana.
"Ya tapi gue kan penasaran sama sekolah adek-adek lo, lagian ternyata deket sama kampus gue. Gue udah hampir telat." Balas Jino.
Setelah adik-adik Ana dan tas mereka sudah masuk ke mobil. Ana dan Jino baru masuk ke dalam mobil.
Jino di depan, Ana di jok tengah bersama adik-adiknya.
"Anak-anaknya ya Mas? Wah, masih muda anaknya udah banyak ya? Lucu-lucu."
Jino dan Ana tersedak ludah mereka sendiri mendengar celetukan sang driver. Mata melebar dan alis otomatis bertaut.
"Yang bener aja Pak anak saya hahaha. Mereka adek temen saya, yang cewek itu." Kata Jino sambil menunjuk Ana.
"Oalah, habis sering banget liat pasangan muda udah punya banyak anak, jadi ngiranya mereka anak Mas sama Mbak. Apa lagi yang tengah itu, lumayan mirip sama Mas."
Ongin, adalah anak yang duduk di tengah. Dia seketika langsung memasang ekspresi absurd.
"Saya baru 20 loh Pak."
"Eh, kirain udah 25-an."
Ana menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Emang boros mukanya Pak, ditambah badannya gede." Kata Ana.
"Enak aja!" sahut Jino.
•••
Sesampainya di sekolah, Jino langsung turun duluan dan membantu membawa tas adik-adik Ana. Sementara Ana sibuk mengurus adik-adiknya.
Setelah ketiga sudah turun, Ana hendak membayar taksinya. "Berapa Pak?" tanya Ana.
"Udah dibayar sama pacarnya Mbak, tadi pakai pay."
"O-oh gitu, ya udah makasih Pak."
"Iya Mbak, saya permisi."
Taksi online tadi memang dipesan oleh Jino, karena Ana tidak punya aplikasi taksi dan ojek online.
Setelah taksi itu pergi, Ana melirik Jino yang tampak tengah berbincang dengan adik-adiknya.
"Jangan lesu, semangat sekolahnya," kata Jino sambil mengacak rambut ketiga adik Ana.
Ana berjalan menghampiri mereka tanpa bersuara.
"Tapi kita gak suka asrama Kak," keluh Ajis.
"Iya, gak bebas." Timpal Leo.
"Kita tuh pengennya gak asrama." Ongin ikut-ikutan.
"Awalnya emang gak enak, tapi percaya deh sama Kakak, kalian bakal metik hasilnya pas dewasa nanti." Kata Jino.
"Ya udah masuk sana, telat nanti." Akhirnya Ana buka suara.
Ketiga adiknya pun memeluk Ana secara bergantian, sementara Ana hanya mengacak rambut mereka, sambil sesekali dielus.
Jino tanpa perlu diminta tolong, mengantar ketiganya sampai ke dalam karena membawakan tas mereka. Padahal Ana sudah mau melarang.
Akhirnya Ana ikut masuk ke dalam sekolah, tapi tidak sampai ke dalam, hanya sampai ke depan pintu.
Dia agak gemetaran karena banyak orang di sekolah, seperti Guru, murid, dan para orang tua yang juga mengantar anak-anak mereka.
Ana dan Jino cukup jadi pusat perhatian, karena ini pertama kali keduanya datang ke sekolah.
Salah satu Guru pun mendatangi Ana sambil menyapa.
"Kakaknya Ongin, Leo sama Ajis ya?" tanya Guru itu.
"Oh iya Bu." Balas Ana sambil tersenyum kikuk.
"Dateng sama siapa?"
"Sama... temen." Kata Ana dengan mata melirik Jino yang malah sibuk ngobrol dengan ketiga adik dan teman-teman adiknya. Padahal Ana sudah ingin Jino cepat menghampirinya, lalu mereka pamit.
"Oh yang bawain tas tadi temennya?"
Ana mengganggukan kepala.
"Siapa namanya?"
"Ana Bu,"
"Kuliah apa kerja?"
"Udah kerja hehe."
Guru itu mau mengajak Ana bicara lagi, tapi untungnya Jino sudah menghampirinya, membuat Ana menghela napas lega.
Jino menyapa Guru itu dengan senyuman sambil sedikit membungkukan kepala dan badannya.
"Ealah, ganteng banget. Sering-sering ke sini. Sabtu minggu kan adek-adeknya bisa ditengok." Kata Guru itu.
"Iya Bu, mudah-mudahan, kalau gak sibuk, hehe." Balas Jino. "Kami mau balik dulu Bu, saya mau kuliah."
"Ehhh, Ibu belum tau nama kamu. Siapa namanya?"
"Jino Bu."
"Oohh... ini Dek Ana kerja, Dek Jino kuliah. Dek Jino nganterin Dek Ana kerja, atau Dek Ana nganterin Dek Jino kuliah?"
Ana dan Jino saling lirik sejenak. "Saya... saya... anter Jino kuliah." Kata Ana, kalimat untuk menghindari obrolan semakin panjang.
"Iihhh, Ibu jadi gak percaya deh kalian cuman temanan."
Ana dan Jino tertawa kikuk. "Maaf Bu, maaf banget, saya buru-buru, hampir telat." Kata Jino.
"Oh ya udah, ya udah. Maaf ya jadi ngehambat nih."
"Gak papa Bu, kami permisi dulu."
•••
"Ini kita ke kampus lo jalan kaki aja?" tanya Ana.
"Iyalah, orang deket." Balas Jino. "Kalau lo mau pulang, pulang aja. Gue pesenin ojek atau taksi online."
"Enggak ah, nanti lo lagi yang bayar." Kata Ana.
"Ya gak papa, emang kenapa? Sekali-kali ini."
"Tetep ajalah gue gak enak, perginya karena kepentingan gue, jadi lo yang keluar uang. Oh, atau gue ganti aja ya uangnya."
Jino langsung menahan Ana yang hendak mengeluarkan dompetnya dari tas.
"Ck, lo apaan sih? Gue seneng tau nganterin adek-adek lo, berasa gue yang punya adek. Gue tuh udah dari lama pengen punya adek, terus tadi banyak anak-anak lucu di sekolah, duuhhh... gue bakal semangat belajar nih hari ini." Kata Jino dengan raut wajah berseri-seri. "Lo beruntung punya adek, huh, gue karena gak punya adek, jadi sering kesepian."
Ana terdiam. Padahal dia selalu menyesal punya banyak adik. Capek.
"Ya udah, lo adopsi aja satu." Kata Ana sambil terkekeh.
"Enggak ah, gue pengen adek cewek. Ohhh, atau lo jadi adek gue aja. Kita kan anak kembar."
"Woy, lo masih nganggep gue kembaran lo? Kita cuman kebetulan lahir bareng. Lagian tuaan gue, ya gue harusnya jadi Kakak lo lah."
"Tapi kan lo lebih pendek dari gue."
"Anjir lo ya, jangan jadi kayak Ajis deh."
"Eh, tapi ini lo mau ikut gue ke kampus?"
"Di kampus lo ada perpustakaan?"
"Ya udah jelas adalah."
"Lo kuliah sampe jam berapa?"
Jino melirik jam tangannya. Sekarang jam delapan kurang sembilan menit.
"Sekitar jam sebelasan." Ucap Jino.
"Gue bisa gak nunggu lo di perpustakaan? Meskipun bukan mahasiswa di sana, bolehkan ke perpustakaannya? Kan hari ini juga gue mau bikin video, dan lo udah janji bantu. Jadi gue tungguin lo sampe selesai kuliah ya?"
"Ya ampunnn... segitunya lo gak mau pisah sama gue..." kata Jino sambil memainkan cepolan rambut Ana, yang membuat ekspresi Ana langsung berubah datar.
"Tau gak lo? Berapa jam gue bikin cepolan rambut ini, dan sekarang lo acak-acak." Kata Ana sambil menunjuk cepolan rambutnya yang jadi agak berantakan karena Jino acak.
"Ya udah maaf, sini gue benerin." Kata Jino sembari mengulurkan kedua tangannya ke arah kepala Ana, tapi Ana langsung menghindar.
"Emang lo bisa?"
"Bisa kok, jangan salah. Pas kecil gue suka main salon-salonan sama Mama. Udah, percaya deh sama gue."
"Awas aja kalau makin ancur, gue jitak lo."
"Iya, iya. Lo jalan di depan gue."
"Aduh, mana bisa ngiket rambut sambil jalan."
"Bisaaa..."
Ana akhirnya menurut untuk berjalan di depan Jino. Jino pun kemudian membuka cepolan rambut Ana, kemudian mengikat ulang rambut Ana.
Ana sebenarnya sudah punya perasaan tidak enak, dari cara Jino mengikat rambutnya, sudah ketebak ini bukan cara membuat cepol.
"Nah udah, tinggal ngaca." Kata Jino sambil berjalan mendahului Ana dengan langkah cepat.
Ana mengambil ponselnya untuk bercermin, matanya melebar, melihat rambutnya diikat dengan gaya apel. Jidatnya yang lebar jadi kelihatan jelas.
Tawa ngakak Jino langsung terdengar.
"Emang lo ya! Selalu ngajak ribut!" teriak Ana.
Jino langsung lari karena tahu Ana akan menyerangnya. Tapi belum sempat Ana mengejar, Jino sudah jatuh duluan, karena tersandung kakinya sendiri.
"Heum, mampus." Gumam Ana, sambil setengah berlari menghampiri Jino, dengan raut wajah khawatir.[]