12

1802 Kata
 "Lo gak papa?" tanya Ana sambil berjongkok di sebelah Jino. "Gak mungkin gue baik-baik aja dong, kan tadi lo liat sendiri gue jatuh." Kata Jino sewot. Ana melepas ikatan rambut apel yang dibuat Jino, dan tiba-tiba menyentil kening Jino, membuat Jino terkejut dan langsung mengaduh sambil memegangi keningnya. "Bisa jalankan tapi?" Ana bertanya lagi. "Aduhhh, lo sempet-sempetnya deh mau gombal." Ana menatap aneh Jino. "Apa sih? Siapa yang mau gombal?" "Ya tadi lo nanya gue bisa jalan apa enggak, pasti nanti itu ujung-ujungnya mau ngajakin gue jalankan?" Ana menghela napas, sambil menutup matanya sejenak dengan satu tangan. "Jino, tingkat kepercayaan diri lo itu bisa dikurangin gak? Sedikit aja." "Loh, jadi gak mau gombal?" "Siapa yang bilang mau gombal?!" Ana tanpa sadar jadi membentak. Jino nyengir. "Iya, iya, jangan marah dong." Kata Jino. "Ck, udah jawab pertanyaan gue. Lo gak papakan?!" "Cieeeee... khawatir nih yeeee..." "Gue tinggal nih!" ancam Ana. "Ehhh jangan dong. Gue gak papa, cuman keseleo dikit." "Ya udah berdiri, emang lo gak akan telat apa? Sekarang udah jam delapan lewat." "Paling Dosennya belum dateng. Bantuin," kata Jino sembari mengulurkan tangannya pada Ana. Ana pun akhirnya menarik tangan Jino untuk berdiri. Jino berdiri dengan agak sempoyongan, kemudian pura-pura hendak rubuh, membuat Ana langsung memegangi. "Lo beneran gak papa gak sih?!" tanya Ana sambil menatap Jino raut khawatir, yang tidak bisa dikontrol. Jino senyum. Antara senyum manis dan ngeledek. "Aku gak papa kok sayang." "HIHHH!" Ana akhirnya menginjak sebelah kaki Jino, lalu jalan duluan meninggalkan pria itu yang tengah mengaduh kesakitan. ••• "Nih perpusnya, gue ke kelas dulu ya." Kata Jino sembari hendak pergi. Tapi baru selangkah, Ana tiba-tiba menarik lengan baju Jino. "Di dalem gak banyak cowoknya kan?" tanya Ana. "Tenang aja, di kampus ini semuanya udah pada tau lo itu pacar gue. Gak akan ada yang berani ganggu." Balas Jino. "Cih, emang lo jagoan di sini?" Jino hanya menyeringai kecil, sebelum akhirnya benar-benar pergi. Ana mendengus, dan akhirnya memilih segera memasuki perpustakaan tersebut. ••• "Gue cabut duluan ya?" kata Jino sembari bangkit berdiri dari mejanya. "Buru-buru amat, gak mau main dulu?" "Lo gak liat tadi gue ke sini bareng siapa?" "Aduh, mentang-mentang hubungan udah dipublikasiin, jadi berani bawa pacar ke sini." "Ya iya dong, udah ya, bay!" kata Jino sambil melambaikan tangannya sebentar, sebelum bergegas keluar kelas. Setibanya Jino di perpustakaan, ia langsung mencari keberadaan Ana. Di perpustakaan yang cukup luas, Jino jadi membutuhkan waktu yang cukup lama, sampai akhirnya ia menemukan gadis itu juga. Ana duduk di meja-meja yang dekat dengan jendela, namun paling ujung. Saat Jino sudah mendekat, Jino baru sadar kalau Ana sedang tidur di atas buku yang sedang ia baca. Jino pun duduk di sebelah Ana. Tangannya mengambil beberapa buku yang ada di sekitar Ana. Keningnya mengkerut, melihat judul-judul buku tersebut, semuanya tentang masalah kesehatan. Entah itu kesehatan mental dan fisik. Jino kemudian melirik Ana yang tiba-tiba menggeliat kan badannya, sambil menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya yang ada di atas meja. Ia tampak sedang mengatur napasnya sejenak, lalu kembali melanjutkan tidurnya. Melihat Ana yang seperti itu, membuat Jino otomatis memperhatikan naik turun punggungnya. Dari pergerakan napas di punggung Ana, Jino merasa ada yang tidak beres. "Lo udah selesai?" Jino terkejut, karena Ana yang tiba-tiba bicara, padahal tadi sepertinya masih tidur. "I-iya udah." Balas Jino. "Gue kira lo masih tidur." Ana bangkit menegakan punggungnya, kemudian merenggangkan tangannya ke atas. "Iya, tadi masih tidur. Sekarang udah bangun." Kata Ana. "Mau pulang sekarang?" tanya Jino. "Kalau lo capek, ya istirahat aja dulu." Balas Ana. "Uwuuu, perhatian banget sih." Goda Jino. Ana seketika langsung mengepalkan sebelah tangannya dan menyodorkannya ke depan wajah Jino. "Ih, kamu tuh, galak, galak aja sama aku." Ana memberi tatapan datar yang galak, tanpa berucap apapun. Tapi akhirnya berhasil membuat Jino bungkam, dan hanya cengengesan. "Gue masih ada yang mau dibaca, mending lo istirahat dulu aja." Kata Ana. Jino menganggukan kepalanya. Ana kira dia akan langsung meletakan kepalanya di meja, tapi Jino rupanya malah menyandarkan kepala di bahunya. "Ck, lo apa-apaan sih?" protes Ana sambil menggerak-gerakkan bahunya. "Ihhh, gak papa lah. Gue capek, kalau tidur di meja gak enak." Kata Jino. Ana akhirnya diam, dan membiarkan Jino tidur di bahunya. Hanya selang beberapa menit setelah Jino meletakkan kepalanya di bahu Ana, Jino akhirnya tertidur. Ana yang sebelumnya sedang fokus membaca, melirik Jino sejenak, lalu kembali berusaha fokus membaca, dengan cara menutupi seluruh wajahnya dengan buku. ••• "Hooaaaammmm," Ana menatap datar Jino yang baru saja menguap lebar. "Dua jam lo tidur anjir, bahu gue sampe sakit." Kata Ana. "Ehhh, maafff..." balas Jino, sambil refleks langsung memijat bahu Ana. "Lagian kenapa lo gak bangunin gue aja?" Ana tidak menjawab. Ia membuang muka dari Jino, lalu membereskan buku-buku yang sudah ia baca. "Lo gak tega bangunin gue ya?" tanya Jino sambil tersenyum jail. "Dih, percaya diri banget sih lo, heran. Udah, bantuin gue balik-balikin buku lagi nih." Balas Ana. "Iya, iya, sini, gue aja yang bawain. Lo tinggal kasih tau letak buku-bukunya tadi ini di mana." Kata Jino sambil mengambil alih buku yang sebelumnya dipegang Ana. "Btw, kaki lo udah gak papa? Jawabnya yang bener! Gak usah ngajak gelut." Kata Ana. Jino terkekeh kecil. "Iya, udah gak papa. Tadi sama temen sekelas, udah sempet ditanganin." Jino dan Ana pun bergegas bangkit dari meja yang mereka duduki, dan pergi ke rak-rak buku, untuk mengembalikan buku-buku yang Ana baca. "Lo kok bacanya tentang buku ginian? Lo mau jadi Dokter, apa jadi Psikolog?" tanya Jino. "Gak mau jadi apa-apa, cuman lagi kepengen aja baca gituan." Balas Ana. "Cita-cita lo sebenernya apa sih? Gue gak yakin cita-cita lo mau jadi penulis." Kata Jino. "Hahaha, bisa nebak lo ya? Dulu pas kecil gue banyak cita-citanya, menjelang umur 20-an, gue milih gak punya cita-cita." "Why?" kata Jino dengan nada dramatis, yang membuat ekspresi Ana berubah datar. "Soalnya gue mikirnya realistis, dan gak mau berekspektasi terlalu tinggi. Gue cuman mau jalanin, apa yang bisa gue jalanin. Gue udah terlalu sering berharap terlalu tinggi, soalnya kan kata orang, kita harus bermimpi setinggi-tingginya. Tapi justru karena itu, mental gue jadi sering down." Jino terdiam sejenak untuk mencerna perkataan Ana, sebelum akhirnya menganggukan kepalanya tanda mengerti. "Lo sendiri mau jadi apa?" tanya Ana. "Aku mau jadi orang yang ngebahagiain kamu sama anak-anak kita." Balas Jino sambil nyengir, tapi ia malah mendapat cubitan di pinggang. ••• "Tante, aku izin masuk kamar Ana, mau bantuin bikin video." Kata Jino, beberapa menit setelah baru sampai rumah Ana dan menyapa Ibu Ana sebentar. "Pintu jangan ditutup." Pesan Ibu Ana. "Eh, tapi Ana mau bikin video? Video makeup?" Ana menganggukan kepalanya. "Aduhhh, akhirnyaaa..." kata Ibu senang. "Ya udah langsung ke kamar aja kalian, Mama masak dulu buat makan malem. Jino, makan malem di sini mau gak?" "Kalau Mama belum pulang Tante, hehehe. Hari ini soalnya Mama pergi reunian sama temen SMA." "Oalah gitu... ya udah Tante bakal masak banyak. Kalau emang nanti Mama kamu udah pulang, bawa aja makanannya." Jino menganggukkan kepalanya setuju. Jino dan Ana pun segera bergegas ke kamar Ana. "Inget ya! Pintunya jangan ditutup!" seru Ibu. ••• "Nih, gue punya ring light selfie yang bisa dijepit ke handphone. Cahaya jendela, plus cahaya lampu ini, udah bakal cukup bagus. Apa lagi kulit lo pucet, jadi gak perlu cahaya yang terang-terang banget." Tutur Jino sambil sibuk memasang lampu berbentuk bundar yang bisa dijepit di ponsel. Karena kamera Jino belum ketemu, akhirnya pakai ponsel Jino saja. "Gue malu," ucap Ana. "Ck, paksain. Nanti habis liat hasilnya juga lo bakal lega." Kata Jino. "Videonya mau gimana? Lo mau ngomong, pakai teks di video, atau voice over?" "Pakai musik aja deh." "Kalau gitu tutorialnya gak akan jelas dong." Kata Jino sambil menatap Ana. "Gue kan masih malu." Balas Ana, dengan alis bertaut dengan bibir bawah yang maju. Jino tiba-tiba mendesis sembari mencubit pipi kanan Ana. "Ck, ya udah buat permulaan pakai musik aja." "Terus lonya jangan di kamar." Kata Ana. "Lah, gimana?" "Lo pasang-pasangin hpnya aja, terus lo keluar." "Dih, jadi seperti ini balasan atas jasa ku?" "Ngomong ape sih? Keluar dulu lah sebentar, gue malu, beneran." "Gue pengen liat lo makeup-an." Ana geregetan, kayaknya Jino bakal susah dibujuk untuk pergi. "Ayolah Jino, pleaseee... ya?" Ana memasang ekspresi semanis yang ia bisa. "Enggak ah." Balas Jino singkat sambil membuang muka. Ana mengerucutkan bibir. "Jino~" tanpa sadar Ana malah jadi ngerengek, tapi Jino tetap keras kepala tidak mau keluar dari kamar Ana. "Gak mauuu..." balas Jino dengan nada ikut merengek juga. Dan yaa... malah Ana yang luluh. Ana menghela napas. "Ya udah, tapi jangan ngetawain." "Ya enggaklah, masak gue ngetawain?" "Ya kan kali aja," "Enggak, udah yuk mulai ngerekam." "Entar, gue siapin alat makeupnya dulu, sama pakai baju yang bagusan." ••• "Udah?" tanya Jino, setelah Ana tiba-tiba bangkit berdiri dan menjauh dari kamera, kemudian duduk di sebelahnya. "Udah." Balas Ana. Jino pun akhirnya mengakhiri rekaman, dengan raut wajah menunjukan kebingungan. "Kok langsung udahan? Gak ngerekam akhir makeup?" tanya Jino. "Udah kok." "Cuman senyum sebentar, mana senyumnya juga gak lebar." "Orang kan yang penting tutorialnya, ngeliat hasil akhirnya mah sebentar aja." "Ya udah deh terserah." Kata Jino dengan pandangan sibuk ke ponsel. "Tapi makeupnya bagus gak?" tanya Ana sembari meraih sebelah pipi Jino, agar pria itu menatapnya. "Iya bagus." Balas Jino, dan setelah itu ia langsung membuang muka, membuat Ana bersungut. "Kenapa lo jadi sering buang muka sih?" tanya Ana. "Gue kan lagi liat hasil video lo." Balas Jino. "Tapi lo bisa edit sendiri videonya gak? Gue gak bisa." "Bisa. Kirimin videonya lewat bluetooth." Kata Ana sambil mengambil ponselnya. "Ngedit video susah apa enggak? Lo udah pernah sebelumnya?" "Iya udah pernah. Susah, susah, gampang. Gue sih ikutin intruksi yang dari aplikasinya aja." "Bukan belajar sama orang?" Ana menggelengkan kepalanya. "Kalau ada yang membingungkan, ya tinggal cari di youtube." "Lo padahal bisa ini itu ya..." Ana berdecih. "Bisa ini itu apa? Iya, emang bisa ini itu gue, tapi gue gak bisa bikin orang tertarik." "Bisa kali, lo aja yang kurang percaya diri." Kata Jino. "Terus ini kalau responnya sedikit gimana? Lo gak akan bawa perasaan, dan tetep mau jalankan?" "Tau ah. Sekarang gue mau uplod-uplod video aja kalau jenuh nulis, terserah responnya gimana." Kata Ana sambil membaringkan tubuhnya di karpet, dengan kepala berada di atas paha Jino, membuat Jino terkejut. "Ish, lo mau ngapain di sini?" tanya Jino. "Kan ini lagi nge bluetooth, jaraknya harus deket. Gue capek, pengen tiduran." Balas Ana. "Bilang aja lo sebenernya pengen deket-deket sama gue terus, pakai alasan lagi nge- bluetooth segala." Kata Jino. "Gak tau deh, udah berapa kali gue bilang dalam sehari ini, lo harus ngurangin kepercayaan diri lo itu." Kata Ana. "Dih, siapa yang percaya diri? Jelas-jelas lo emang mau nempel gue mulu." "Enggak ih! Pede banget sih!" seru Ana sambil hendak bangkit duduk, tapi Jino malah menariknya lagi agar tetap di posisi semula. "Nah kan, elo yang pengennya nempel mulu sama gue!" "Enggak! Cuman kalau lo emang capek, ya udah tiduran aja." Ana menggeram kecil sembari merubah posisinya jadi menyamping, tapi dengan kepala masih ada di atas paha Jino. "Nanti kalau videonya udah diuplod, share linknya ke gue." Kata Jino. "Iyaa..." balas Ana. Untuk beberapa saat, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Jino yang sebelumnya dalam posisi duduk, akhirnya ikut berbaring juga di karpet, dan meluruskan kakinya yang sebelumnya sila. Sementara Ana masih dengan posisinya, meskipun Jino sudah berubah posisi. ••• "Kok Ana sama Jino gak ada suaranya ya?" gumam Ibu Ana, setelah ia baru selesai memasak. Dengan sedikit panik, ia bergegas ke kamar Putri sulungnya. Sesampainya di sana, agak lega melihat pintunya dibuka, kemudian ia menge cek ke dalam. Oh, rupanya Ana dan Jino tidur. Mereka sama-sama tidur di karpet. Ibu sudah spot jantung, takut mereka melakukan sesuatu yang tidak-tidak. "Dih, Kak Ana tidur sama cowok?" Ibu tersentak, saat tiba-tiba mendengar suara di belakangnya. Ia pun berbalik dan menemukan Putri keduanya, yang berdiri di belakangnya. "Ketiduran kayaknya, ya udah gak usah diganggu." Kata Ibu. "Habis bikin video ya? Kak Ana jadi, jadi beauty vlog?" "Yah, kamu doain aja." Adik pertama Ana, melirik sekilas ke dalam kamar. 'Kak Ana, gak akan baper sama tuh cowok kan?'[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN