"Woy! Berhenti lo!" teriak Jino sembari mengejar pria yang tadi sudah menyentuh Ana. Saat sudah berada di dekat pria itu, Jino menarik kerah baju bagian belakangnya, lalu menarik rambutnya sembari memutar balik tubuh pria itu agar menghadap ke arahnya.
Pukulan pun langsung Jino layangkan kepada pria itu, bahkan seolah tidak memberi kesempatan untuk pria itu bernapas.
Teman-teman Jino segera berlari menghampiri Jino, dan berusaha menghentikan aksi brutalnya.
"Woy, udah woy!" seru Han sembari memegangi tangan Jino.
"Dia udah babak belur Jin," kata Ardan sembari menarik kepala pria itu agar menjauh dari jangkauan Jino, dan memperlihatkan bagaimana kondisi pria itu sekarang.
"Bisa mati anak orang." Kata Bayu.
"Biarin aja, gue bunuh sekalian!" balas Jino.
"Woy, sadar dong!" sahut Felix.
"Sadar! Sadar! Dia udah ngelecehin Ana anjing!"
"Ya tapi jangan main hakim sendiri." Kata Felix, sambil ngebatin untuk bersabar, karena dikatai.
"Lagian salah dia sendiri Mas, pakai celana ketat." Pria yang Jino hajar tadi, akhirnya bersuara.
Han dan Bayu yang tadi memegangi tangan Jino, seketika melepas pelukannya.
"Apa lo bilang? Dia aja pakai kaos panjang setengah paha." Kata Jino sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Tetep aja keliatan mencolok Mas, mancing itu namanya. Meskipun gak dipegang, orang bisa aja diem-diem jadiin dia objek fantasi."
"Makanya mata dijaga anjing, biar pikiran lo gak kotor, mau gue bikin buta lo? Mancing apaan lagian?! Elu kebanyakan nonton p***o!"
"Kita habisin aja Jin," kata Ardan.
"Ampun Mas, ampun! Iya, saya salah, saya ngaku!"
"Giliran dikeroyok aja lo takut hah!"
"Udah, biar gue bawa ke pihak berwajib, lo urus dulu aja si Ana." Kata Ardan sambil mengapit leher pria itu, dan menariknya dari posisi duduk di aspal, agar berdiri.
"Emangnya Polisi mau ngurusin hal sepele kayak gini?" tanya Han.
"Hal sepele?" Han langsung bungkam, saat Jino memberinya tatapan tajam.
Jino pun akhirnya berlari kembali ke tempat di mana Ana berada. Mengabaikan orang-orang yang menonton aksinya sedari tadi.
Sesampainya di sana, ia melihat Tora yang tengah memapah Ana. Ana terlihat lemas sekali, dan adik-adiknya terus memegangi tangannya secara bergantian karena khawatir.
"Lo gak papa Na?" tanya Jino khawatir. Ana hanya membalasnya dengan menggelengkan kepala.
"Udah biar gue aja yang bawa." Kata Jino sembari meraih tubuh Ana, yang langsung jatuh ke pelukannya.
Jino mengusap punggung Ana terlebih dahulu untuk menenangkannya, sebelum mengajaknya pulang, dengan cara menggendongnya di punggung.
•••
"Udah yang kedua kali Kak Ana diginiin, yang pertama di dada." Ujar adik perempuan Ana.
"Kok Kak Ana gak pernah bilang?" tanya Ibu mereka khawatir.
"Kak Ana malu mau bilang, makanya ngomongnya cuman ke aku. Dia juga sering digodain, bukannya seneng, malah jadi takut dia."
"Ya terus kenapa kamu gak ngomong ke Mama Papa?"
"Kak Ana ngelarang. Aku mana berani ngelawan Kak Ana?"
"Dia gak pernah speak up gitu ke media sosial?" tanya Jino.
Adik perempuan Ana menggeleng. "Boro-boro ke media sosial Kak, ke orang tua aja gak berani. Apa lagi ke Papa, bisa-bisa Papa ngelarang Kak Ana keluar rumah sama sekali. Padahalkan bukan itu solusinya, harusnya ada yang jagain Kak Ana setiap keluar rumah. Emangnya keliatannya jadi gak mandiri, tapi sekarang mau cewek atau cowok tuh gak aman, sama-sama rawan jadi korban pelecehan. Tadi Kak Ana pergi sama kalian aja, malah tetep kena."
"Gue tuh pernah tuh, liat cewek ada yang komen jorok di postingan foto Jino, itu termasuk pelecehan kan?" ujar Han, yang dibalas anggukan oleh adik perempuan Ana.
"Tapi Jino gak ngerasa, karena ngiranya cuman cewek yang bisa jadi korban pelecehan." Kata Felix.
Jino menghela napas. "Terus gimana sekarang kondisi Ana?"
"Habis minum teh, dan ngobrol sama Tante, udah mendingan sih. Kamu mau nemuin dia Jin?"
Jino terdiam sejenak untuk berpikir. "Tapi nanti dia takut gak ketemu aku?"
"Eum gak tau sih, kamu ketuk dulu aja pintunya, sambil nanya, boleh masuk atau enggak."
Jino menganggukan kepalanya, ia pun beranjak berdiri dan bergegas ke kamar Ana.
"Eh, Tante baru nyadar ada Tora di sini, apa kabar Tora?"
•••
Tok, tok, tok. "Na, ini Jino, gue boleh masuk gak?"
Tidak terdengar jawaban sampai beberapa saat, tapi tak lama pintu terbuka, menampilkan Ana dengan penampilan yang agak kusut.
"Gimana perasaan lo sekarang? Udah mendingan?" tanya Jino.
Mata Ana mengerjap, kemudian ia menganggukan kepala.
"Iya, udah mendingan kok, hah, lagian cuman digituin." Kata Ana.
"Cuman lo bilang? Itu parah banget Na. Lo tenang aja, dia udah gue hajar dan sekarang lagi dibawa ke kantor Polisi sama Ardan." Kata Jino.
"Tapi tetep aja yang dibilang salah pasti gue."
"Lo salah apa? Bahkan lo lagi diem aja motoin adek-adek lo. Apa lo pakai baju terbuka? Kan enggak. Emang celananya agak ketat, tapikan atasan lo panjang."
Ana menundukan kepalanya, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Tapi gak usah dilaporin ke Polisi, gue malu..." kata Ana lirih.
"Jangan malu Na, gak papa. Ini buat keadilan lo."
Ana menatap Jino dengan raut wajah sendu, terlihat ia sangat tertekan.
"Tapi gue keliatan menjijikan kan?"
"Kalau lo gak mandi seminggu, baru keliatan menjijikan."
"Gak lucu,"
"Gue gak ngerasa lo jadi keliatan menjijikkan, murahan, atau apalah. Emang lo mau digituin? Kan enggak. Lo mikirnya jangan kayak gitu deh."
Ana menghela napas berat, dan tiba-tiba memeluk Jino, membuat Jino terkejut. Tapi pada akhirnya Jino pun membalas pelukan Ana, sembari mengusap punggung, dan sesekali menepuk kepalanya.
"Gak papa Na, lo gak jadi seperti yang lo pikirin." Ucap Jino.
•••
Meskipun ada yang bilang gue gak menjijikan, gue tetep ngerasa geli sama diri gue sendiri.
Ketik Ana di story- nya, kemudian mempostnya. Hanya saja postingan itu disembunyikan dari Jino.
Ana menghempaskan tubuhnya di kasur, sembari menatap langit-langit kamarnya. Kepala dan pundaknya jadi terasa berat.
Pintu kamarnya tiba-tiba dibuka, menampakan Leo dan Ajis yang dengan hati-hati masuk ke kamar Ana, agar tidak diomeli.
"Mau ngapain?" tanya Ana sinis.
"Mama nanya, Kakak udah minum obat belum?" tutur Ajis.
"Iya, nanti." Balas Ana sembari memunggungi Leo dan Ajis.
"Ngomong-ngomong Kak, tadi kita dikasih pesen sama Kak Tora, kata Kak Tora, Kak Tora minta maaf, udah ninggalin Kakak." Kata Leo.
"Emangnya Kakak sama Kak Tora kenapa sih?" tanya Ajis.
Ana mengibaskan tangannya. "Udahlah, anak kecil gak perlu tau kenapa."
"Kakak mah gitu, diperhatiin malah marah, udah yuk Le, kita keluar." Kata Ajis.
"Panggil aku Abang dong!" protes Leo.
"Gak mau," balas Ajis sembari mendorong Leo untuk keluar dari kamar Ana.
•••
Jino gatel. Tangannya gatel udah beberapa hari gak nyentuh motornya. Tapi perjanjiannya seminggu dia tidak boleh memegang motornya.
Jino berguling-guling di kasurnya, komik, drama Korea, sama sekali tidak bisa menghilangkan jenuhnya kali ini.
"Ana udah tidur belum ya?" gumam Jino.
Jino akhirnya bangkit berdiri, dan bergegas ke jendela kamarnya, untuk menge cek kamar Ana, apakah lampunya masih menyala, atau sudah mati.
Setelah di cek. Rupanya lampu kamar Ana sudah mati. Jino langsung bersorak di dalam hati.
"Berarti bisa main sama baby blue. Yes! Baby blue i'm coming!"
Dengan bersemangat, Jino keluar dari rumahnya. Ia langsung membuka sarung penutup motornya, dan mengambil perkakas, serta knalpot baru.
"Liat beb, aku punya yang baru untuk kamu." Kata Jino bersemangat. Ia menarik kursi kayu pendek, yang berada tak jauh dari motornya terparkir. Kursi yang selalu Jino duduki setiap mengotak-atik motornya.
Setelah menarik ke atas celana pendek selututnya, sampai ke paha, Jino mulai beroperasi. Tapi dengan gerakan sedikit lebih pelan, agar suara 'kluntang-klantung' nya tidak terlalu terdengar.
Tapi yahhh, kalau sudah keasikan, akhirnya suara-suara dari berbagai peralatan, seperti obeng dan lain sebagainya, yang bertemu dengan motor tidak terkendali juga.
•••
Ana terbangun karena mendengar suara 'kluntang-klantung' di luar. Karena sudah malam, dan suasana sangat sunyi, suara itu jadi terdengar jelas. Apa lagi sesekali terdengar suara deruman motor juga.
Ana bangkit berdiri, dan bergegas ke jendela kamarnya, untuk memeriksa apa yang terjadi di luar. Benar saja, sesuai perkiraannya, Jino sedang bermain dengan motornya.
"Ngelanggar perjanjian nih orang," gumam Ana. Ana hendak berteriak untuk memperingati Jino, tapi dadanya mendadak terasa sakit, jadi ia terpaksa mengurungkan niatnya.
"Awas aja lu entar." Gumam Ana.
Ana kembali ke ranjang, dan memilih mendengarkan musik, sambil menunggu Jino selesai main.
Sampai sejam berlalu, dan Ana sempat ketiduran sebentar. Saat Ana terbangun, Ana sudah tidak lagi mendengar suara 'kluntang-klantung', deruman motor, juga suara cekikikan Jino, plus gombalan mautnya untuk si baby blue.
Ana pun bangkit dari kasur, ia melepas earphone-nya, sebelum keluar dari kamarnya.
Saat hendak keluar rumah, ia memastikan terlebih dahulu, Jino sudah benar-benar masuk ke dalam rumahnya..
Melihat di halaman kosong, hanya tinggal motor Jino. Ana tersenyum. Ia pergi ke garasi rumahnya, untuk mengambil botol-botol bekas, serta selang berukuran kecil.
Setelah merasa semua perlengkapan sudah ia ambil, Ana pun bergegas ke rumah Jino, dengan cara melompati pagar pembatas rumahnya dan Jino.
Sesampainya di sana, ia membuka sarung penutup motor Jino, lalu mengotak-atik kunci jok, hingga bisa terbuka.
Ana lalu membuka penutup tangki bensin, dan mulai melancarkan aksinya.
•••
"Huwaaaaaa baby blue, padahal selama ini aku tuh gak pernah biarin kamu kehausan. Terakhir juga udah aku pastiin kok Mah, kalau baby blue keisi penuh. Ini pasti ada yang nyuri bensinnya." Tangis Jino sembari memeluk motornya.
"Siapa yang bakal nyuri bensinnya Jin? Kan joknya dikunci." Kata Ibu Jino.
"Dibobol ini Mahhh..." Jino mengusap lubang kunci jok dengan ibu jari. "Ya ampun baby blue sayanggg..."
"Ya udah kamu ke bengkel dulu sebelum nemuin temen-temen kamu, buat benerin kuncinya, sama isi bensin."
"Nanti aku telat, temen-temen udah pada kumpul di kafe buat ngerjain tugas bareng, huaaaa... mereka bisa marah nanti ke aku kalau telattt... mana senin tugas udah harus dikumpul."
"Ck, aduh gimana dong?"
Ibu Ana yang sadari tadi menonton di halaman rumahnya, akhirnya mendekat ke pagar pembatas, dan menawarkan bantuan.
"Mau dianter Ana aja gak? Saya punya motor kok, Ana bisa bawa motor." Kata Ibu Ana.
"Eh, gak usah Bu, nanti ngerepotin." Balas Ibu Jino.
"Gak papa, biar Ana juga punya tempat baru buat ngetik. Jino mau ke kafe kan? Ana selama ini gak pernah nulis di kafe. Sekalian balas budi lah, kemaren kan Ana udah ditolongin sama Jino." Kata Ibu Ana.
"Tapi Ananya mau gak Tan?" tanya Jino.
"Kalau gak mau Tante paksa. Soalnya dia juga kemaren curhat sedih gitu, banyak panulis yang sukanya nulis di kafe." Balas Ibu Ana.
"Terus kenapa dia gak nulis di kafe juga?"
"Dia selalu pengen bareng adek-adeknya, tapi kalau bawa adek-adeknya, butuh budget besar, belum lagi nanti malah fokus jagain mereka, kalau sekarang kan judulnya anter kamu, tapi nanti sekalian aja nulis juga di sana, sampe kamu selesai ngerjain tugas, terus pulangnya bisa bareng lagi. Gak mungkinkan kalian berdua pergi, bareng tiga anak?"
"Iya sih Tan,"
"Ya udah Tante panggilin Ananya dulu, nunggu agak lama gak papa kan ya? Tante bakal nyuruh Ana lebih cepet kok siap-siapnya."
"Iya, makasih Tante, maaf ngerepotin."
•••
'Bentar deh, semalem kan gue ngerjain Jino ya, ngabisin bensin di motornya. Jadi sekarang motor Jino gak bisa jalan. Terus kenapa sekarang gue malah nganterin dia? Anjer! Berarti sama aja gue kena getahnya dong?'[]