"Sejak kapan kalian saling kenal?" tanya Jino.
"Kepo," balas Ana.
"Ck, tapi jangan main ke kamar dong, gak sopan banget sama tamu. Kenalan sama yang lain, kan lo belum kenal." Kata Jino.
Ana menatap Jino, dengan tatapan tidak minat. Sementara Jino menatapnya dengan tatapan tajam.
"Lo tau adabkan?" kata Jino, yang akhirnya membuat Ana menyerah.
Ia akhirnya mau diajak berkenalan dengan teman-teman Jino, meskipun terpaksa.
"Dari pada kita di sini aja, gimana kalau kita jalan-jalan? Jino tadi mau ngajakin Ana jalan sebenernya." Kata Han, yang membuat Jino melebarkan matanya.
"Kapan gue bilang gitu?" protes Jino.
"Gue belum mandi tapi kalau mau pergi." Jino yang duduk di sebelah Ana, mendadak langsung menjauh sambil berteriak.
"Iyuuuhhh..."
Ana memicingkan matanya sinis pada Jino. "Emang kenapa? Gak usah lebay deh, gue kan gak kringetan, makanya belum mandi."
"Lo itu saking pemalesnya ya, ihhh... ngomong kayak gitu dengan santainya di depan cogan lagi. Gak takut pada ilfeel apa sama lo?" kata Jino.
"Bodo amat," balas Ana. "Ya udah, kalau kalian mau jalan-jalan mah, jalan aja. Gue belum mandi, gak bisa kemana-mana."
"Ya mandi dong, nanti kita tungguin." Kata Ardan sambil senyum.
"Ck, gak usah ngerdus lu." Cibir Bayu.
"Aduh, tapi gue mal-" kalimat Ana terhenti saat Jino tiba-tiba meletakan sebelah tangannya di atas kepala Ana, dan memutar kepala Ana agar menghadap ke arahnya.
"Mandi sekarang," kata Jino sambil memberi tatapan tajam.
"Aduh, apaan sih lo kok ngatur-ngatur gue?!"
"Jadi manusia tuh jangan ngeselin kek. Lo diajak jalan, nanti juga dibayarin, udah mending nih selama lo mandi kita mau nungguin. Sana, sana!"
Ana menggeram kesal, ia akhirnya bangkit berdiri dan pergi ke kamarnya untuk mandi.
"Gila lo, udah kayak suaminya aja bisa ngatur-ngatur dia." Komentar Han.
"Heh, sembarangan lo. Tapi keren juga ya gue?" gumam Jino sembari membentuk V dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, di bawah dagu.
"Ya, mungkin lo emang calon suaminya." Kata Ardan asal sambil tertawa.
"Dih, enggaklah!" seru Jino. "Selama Ana gak bisa terima baby blue, gue juga gak akan jatuh cinta sama dia."
"Bener-bener pengabdi motor ya lu," cibir Han.
"Dari pada pengabdi setan." Balas Jino.
"Kok gue gak dapet dialog lagi sih dari tadi?" celetuk Felix.
•••
Skinny jeans hitam, serta hoodie panjang selutut, membalut tubuh Ana. Dengan makeup yang on seperti biasa, tapi rambut enggak disisir.
"Udah siap nih, emangnya mau kemana sih?" kata Ana sesaat setelah ia kembali ke ruang tamu. Di sana teman-teman Jino terlihat sudah jenuh menunggu.
"Jalan-jalan aja di sekitaran sini, sambil jajan." Kata Jino.
"Kalau gitu bawa adek-adek gue ya?"
"Yah jangan, nanti rempong." Kata Han.
"Tapi kasian mereka kalau gak diajak, mereka pasti mau jajan juga. Gue yang jagain, yang penting kalian yang bayarin." Kata Ana.
"Ya udah, ya udah, gak papa." Kata Tora.
"Ajis! Lele! Ongin! Mau ikut Kakak gak?!" begitu Ana teriak, ketiga anak yang dimaksud, langsung muncul.
"Mau kemana Kak?" tanya Ongin, selaku anak tertua di antara ketiganya.
"Jalan-jalan sama abang-abang ini, ganti baju sana." Kata Ana.
"Mereka siapa? Pacar Kakak?" tanya Ajis.
"Ya kali pacar Kakak sebanyak ini, udah sana."
"Ihh Kak Tora!" seru Ongin tiba-tiba, saat dia sudah lebih masuk ke dalam rumah.
"Udah, udah sanaaa... cepetan ganti baju sana, nanti ditinggalin loh." Mendengar ancaman Ana, tiga anak ayam itu langsung berlari ke kamar mereka untuk ganti.
"Wahhh, adek-adek Ana sampe kenal juga loh sama Tora. Kalian nih punya hubungan apa sih dulu?" kata Ardan penasaran.
"Iya, iyaa... kita kan kenalnya padahal udah lama, dari zaman kita masih umbelen sampe jadi cogan, tapi gue gak pernah tau lo punya temen cewek." Kata Bayu.
"Bacot ah kalian," balas Tora.
"Iihh Tora ngomong kasarrr!!!" seru Bayu, Ardan, Han, Felix, dan Jino.
Ana dan Tora saling lirik, tapi kemudian Ana langsung buang muka.
•••
"Kakak, Kakak," Tora melirik Ongin yang baru menarik-narik bajunya sembari memanggilnya.
"Kok udah gak pernah ke rumah sih?" tanya Ongin.
"Kalian kan udah pindah rumah, jadi gak tau deh rumah baru kalian." Balas Tora.
"Ah, tapi udah dari lama tuh Kak Tora gak ke rumah, jauh dari sebelum kita pindahan. Gara-gara perempuan yang waktu itu marah-marah ke Kak Ana ya?"
Ana tiba-tiba membekap mulut Ongin, dan menariknya, agar Ongin berjalan di dekatnya saja.
"Udah, gak usah ngomong lagi sama Tora." Kata Ana, yang membuat Ongin cemberut.
Jino menatap curiga Ana dan Tora, tapi memilih tidak bertanya.
Jino mengajak teman-temannya, Ana,.serta adik-adik Ana, ngebakso di depan perumahan. Bakso dan mie ayamnya.
Ana dengan telaten memotong-motongi bakso untuk Ajis, sementara Ongin dan Leo, sudah bisa makan bakso tanpa perlu dipotong kecil-kecil.
Dibanding makan atau ngobrol dengan teman-teman Jino, Ana malah sibuk mengurus adik-adiknya, sampai mie ayamnya sendiri terabaikan.
Jino yang memperhatikan sedari tadi, akhirnya mengambil mie ayam milik Ana. Ia menggulung beberapa helai mie di garpu, sebelum menyodorkannya pada Ana.
Ana tentu saja kaget.
"Apaan?" tanya Ana.
"Nih makan, mie ayam lo udah hampir dingin." Balas Jino.
"Cieeeeee..." ledek teman-teman Jino, kecuali Tora tentunya.
"Apaa sih? Gue kan cuman mau bantuin, sayang dong kalau mie udah dingin." Sungut Jino.
Jino pikir Ana akan menolak suapannya, karena ia tidak kunjung menerimanya. Tapi pada akhirnya, Ana menerima suapannya juga.
"Udah lah, realisisasikan aja hubungan bohongan kalian di medsos." Kata Han sambil cekikikan.
"Gue nyari cowok yang cinta sama gue, bukan sama motor." Balas Ana yang membuat Jino menatapnya jengkel.
"Gue juga nyarinya cewek yang cinta sama gue dan hemat. Bukan cewek yang cinta sama paketan dan boros, hobi belanja."
"Dih, siapa juga yang mau disukain sama lo?"
"Emang gue mau? Gue juga gak mau tuh."
Jino dan Ana akhirnya mulai merembet meributkan hal lain, hingga jadi tontonan.
•••
Selesai makan bakso, Jino mengajak keliling perumahan yang cukup ramai dengan anak-anak. Ana yang pendatang baru, jadi baru tahu jalan-jalan di perumahan ini, dan ada apa saja, selain taman yang ada di depan perumahan.
Ada lapangan kosong dengan hamparan rumput, di bagian samping rumah-rumah, yang membentang sampai ke belakang.
Bayu, Han dan adik-adik Ana langsung berlarian ke sana dengan semangat.
"Ehh Jino!" Jino terkesiap saat tiba-tiba Atika muncul bersama teman-temannya, yang mungkin teman nge kostnya.
Jino buru-buru meraih tangan Ana dan menggenggamnya, membuat Ana terkejut, tapi kemudian hanya diam, saat menyadari adanya Atika di sekitar mereka.
"Lagi jalan-jalan nih sama pacar?" tanya Atika dengan nada menyindir.
"Sama adek-adeknya dan temen-temen gue." Balas Jino.
"Kok gak berdua aja?"
"Emang kenapa?" tanya Ana sambil memasang ekspresi datar.
"Yaaa... gak papa sih. Btw udah konfirm ya ke penggemar lo kalau lo sekarang udah punya pacar. Hahaha, kayak lo artis aja deh."
"Emang artis," respon Jino.
"Tapi katanya Ana penulis resek nih, sombong, galak, gak konsisten sama ceritanya, penulisannya juga gak sebagus penulis lain, terus kerjaan nerbitin buku mulu lagi." Tutur Atika.
"Apa itu semua ngeganggu lo?" tanya Jino. "Paling juga lo bukan pembacanya, lo kan gak suka baca."
"Yaaa... gue menyayangkan aja sih, lo pacaran sama cewek kayak dia." Kata Atika.
Aduh, Ana udah mulai malas nih kalau mau berdebat. Untungnya adik-adiknya sudah dijaga teman-teman Jino.
"Hal kayak gitu kan bukan berarti gak bisa diperbaiki," kata Jino.
"Dari yang gue baca sih, dia gak pernah ada perkembangan di tulisannya, padahal udah lama nulis, dan sering dapet kritik." Kata Atika.
"Mungkin passion utama Ana emang bukan disitu, lagian emangnya gue gak punya kekurangan? Gue juga punya kekurangan, yang mungkin orang bakal mikir, sayang banget Ana sama gue." Kata Jino.
"Duhhh, namanya juga bucin ya? Sampe jadi ngejelekin diri sendiri loh." Kata Atika.
"Aduh Mbakkk... mulutnya minta dicabein banget ya? Ribet banget sih ngurusin hidup mantan, kalau pun Jino putus sama saya, gak akan balikan sama Mbak. Ngerti? Paham? Udah yuk Jin, males gue ribut sama orang." Kata Ana sembari menarik tangan Jino, untuk bergabung dengan adik-adiknya dan teman-teman Jino.
"Hih, jadi beneran ya kalau dia tuh nyebelin." Gerutu Atika.
"Ya lu lagian ngapain sih? Sibuk banget ngurusin hubungan baru mantan lo?" celetuk salah satu temannya, sebelum tertawa dengan yang lain.
"Gue akuin sih mantan lo ganteng, pakai banget malah. Cuman kayaknya dia benci banget sama lo, jadi mundur ajalah, move on."
"Ahhh, udahlah, kalian tuh gak tau apa-apa!" seru Atika.
•••
"Sumpah deh, lo apa-apaan sih? Cuman gara-gara foto jelek lo, jadi konfirm yang aneh-aneh ke penggemar lo. Kan jadi gue yang kena imbasnya." Dengus Ana, setelah menjauh dari Atika.
"Maaf, habiskan biar gak pada bingung juga, kenapa muka gue begitu." Kata Jino.
"Emang orang lain tuh sebegitu pedulinya ya sama hidup lo hah?"
"Ya jelaslah. Gak usah yang emang penggemar gue, yang gak kenal aja bisa ikutan kepo kalau ada sesuatu dari orang itu. Orang itu paling suka ngurusin hidup orang lain, lo aja yang beda."
Ana menghela napas, sembari memutar kedua bola matanya malas.
"Emangnya penggemar lo gak kepo juga sama kehidupan lo? Pasti kepo jugakan?" tanya Jino.
"Lebih banyak yang gak peduli, dan gue juga gak suka terlalu ngekspos hidup gue ke orang lain." Balas Ana.
"Ah, gue pernah tuh liat story lo yang cerita tentang hidup lo, dan gue yakin gak sekali dua kali lo ngelakuin itu." Kata Jino.
"Ada cerita yang bisa dibagi, tapi ada juga yang enggak. Harusnya bisa bedain dong mana privasi, mana bukan. Gue juga bagi cerita yang kemungkinan orang bakal ambil sisi positif dari cerita itu, atau sekedar buat hiburan, bukan buat diurusin kayak lo." Tutur Ana.
"Lo pikir dengan mereka ngomentarin segala sesuatu tentang lo, itu tandanya mereka peduli? Enggak Jin, gak semua karena peduli. Mereka cuman kepo. Kepo sama peduli tuh beda. Lo hidup udah 20 tahun, harusnya lo udah ngerti perbedaan-perbedaan kayak gitu."
"Yang paling gue gak suka, lo udah bikin konfirmasi gak jelas kayak gitu, tanpa omong-omongan dulu sama gue. Aduhhh, gue gak habis pikir deh sama lo."
"Yaa... terus mau gimana? Kan udah terlanjur. Masak tiba-tiba mau bilang kita putus? Jalanin aja deh, kan cuman di media sosial. Lagian gue udah bilang kok, yang ngejelekin lo, gue blokir. Dan gue yakin, yang suka sama lo tuh lebih banyak, dari pada yang gak suka sama lo. Iyakan?" ujar Jino.
"Coba deh yang lo inget tuh yang suka sama lo aja, jadi yang gak suka sama lo, gak jadi beban buat lo. Emangnya gue gak punya hatters? Banyak tau."
Ana mengibaskan tangannya. "Tau ah, gue mau menenangkan diri dulu, dah." Kata Ana sebelum berlari menghampiri adik-adiknya yang sedang main.
"Lo resek banget." Jino terkejut, saat tiba-tiba mendengar suara Tora di belakangnya, ia langsung berbalik dan menatap Tora dengan mata menyipit.
"Resek kenapa?" tanya Jino.
"Ya itu, apa banget deh jadiin Ana pacar bohongan lo." Balas Tora.
"Ya udah sih, Ana juga gak marah." Kata Jino.
"Dia tuh karena terlalu marah, jadi gak bisa mencak-mencak." Kata Tora.
"Sebenernya hubungan lo sama Ana apaan sih hah?"
"Lo gak perlu tau, yang jelas lo resek."
"Ya terus dengan lo ngasih tau gue ini resek, bakal jadi apa? Gue juga sadar gue salah. Bahkan kayaknya... lo yang udah bikin kesalahan lebih fatal ke Ana." Tutur Jino.
Tora bungkam.
"Gue tuh paling gak mau ya berantem sama lo, jadi gak usah ngajak ribut." Kata Jino sebelum berlalu hendak menghampiri Ana.
Tapi ia tiba-tiba berhenti melangkah, karena melihat sesuatu yang membuatnya mematung. Saat Ana sedang memperhatikan adik-adiknya main sambil sesekali memotretnya, seorang pria tiba-tiba berjalan di belakang Ana, dan menepuk bagian bawah tubuh Ana. Ana seketika mematung, karena shock berat.
"WOY!" teriak Jino.
Tahu ada yang sadar atas perbuatannya, pria itu langsung berlari untuk kabur, tapi Jino tanpa membuang waktu langsung mengejar. Teman-teman Jino yang tidak sadar dengan apa yang terjadi, hanya dapat melihat Jino yang tengah mengejar orang dengan kebingungan.
"Woy, kejar woy, Jino bisa bunuh orang itu!" seru Tora.[]