"Kita bentar lagi bakal jadi Om?"
"Iihh, padahalkan kita masih anak kecil."
"Anaknya Kak Ana nanti kayak gimana?"
"Woy, woy, kalian ini ngomong apa sih? Kakak nikah aja belum, masak tiba-tiba hamil?" ketiga anak itu seketika bungkam saat Ana menyela obrolan mereka.
"Tapi ada laki-laki di kamar Kakak, kata Mama kalau laki-laki sama perempuan tidur bareng, nanti yang perempuannya jadi hamil."
Ana memasang ekspresi datar.
"Dek, kita gak tidur bareng." Kata Ana.
"Tapi kenapa ada laki-laki di kamar Kakak? Itu gak boleh Kakak. Oh, atau Kakak yang maksa masuk kamar Kak Ana?" tuding salah satu adik Ana, sembari menunjuk Jino.
"Ehh, enggak, jangan salah paham. Kakak ke kamar Kakak kalian itu, karena ada urusan sedikit." Kata Jino.
"Urusan apa? Tetep aja kalian gak boleh sekamar bareng, kan belum nikah. Atau sebenernya udah nikah tapi kita gak tau?"
Ana mendengus, sementara Jino menghela napas.
"Lagian kalian kenapa ada di dalam satu kamar?" giliran Mama yang sedari tadi diam, buka suara.
"Kita tadi cuman ngobrol-ngobrol aja Ma," balas Ana.
"Ya harus di kamar? Kalian emang mau dinikahin?"
"ENGGAK!" seru Ana dan Jino secara bersamaan.
"Terus kalian sekarang udah akur?"
"Ya enggak," balas Ana dan Jino dengan kompak lagi.
"Terus ngapain di kamar bareng? Mama gak akan percaya gitu aja kalian cuman ngobrol-ngobrol." Kata Ibu Ana.
"Ya ampun Ma, masak gak percaya sama anak sendiri?"
"Ya kan amazing, kamu sama Jino di satu kamar, dan ternyata cuman ngobrol-ngobrol. Pas Mama tanya udah akur atau belum, jawabnya enggak."
"Yaa... karena kita emang belum baikan kok, tapi bukan berarti gak bisa ngobrol biasanya."
Ibu seketika menggaruk pelipisnya. "Aduh apaan sih? Hubungan kalian ribet banget."
"Intinya Tante, kita gak ngapa-ngapain kok, asli, beneran. Aku anak baik-baik, masih polos, pelajaran biologi juga nilainya cuman 50. Aku tadi cuman penasaran sama koleksi makeup Ana, udah gitu doang. Makanya aku ada di kamar, terus kita sambil ngobrol apa yang bisa diobrolin." Jelas Jino.
"Beneran?"
Jino mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Yakin?"
"Yakinlah Tan, liat aja leher Ana masih mulus, jalan dia normal, semuanya normal."
"Katanya masih polos, kok tau kalau habis gituan jadi gitu?"
"Yaa..." Jino gugup untuk beberapa saat, sebelum ia nyengir sambil menggaruk kepalanya. "Gimana pun aku udah 20 Tan, kalau belum mimpi, atuh aku gak normal dong."
Ana dan ketiga adiknya sama-sama mengerjapkan mata, karena tidak mengerti dengan pembicaraan Jino dan Ibu mereka.
"Hah, ya udah deh, buat kali ini Mama gak permasalahin, dan gak akan bilang ke orang tua kamu, Jino. Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi, gak baik. Kecuali kalian emang pengen dinikahin."
"Iya!" seru Ana dan Jino dengan raut wajah panik.
"Lagian emangnya kenapa sih kalau kalian dinikahin?" tanya Ibu.
"Mama pasti mau dong Putri Mama yang satu ini, kehidupan rumah tangganya aman dan damai, kalau nikah sama dia ya enggak bisa." Balas Ana.
"Iya Tan, lagian aku mah cari jodoh yang gak boros, yang gak sering belanja. Terus bisa terima baby blue."
"Eh, emang gue gak bisa cari uang sendiri buat belanja? Lagian lo juga aslinya gak sayang-sayang bangetkan sama baby blue? Kalau ditawarin motor yang lebih keren, pasti mau." Kata Ana sambil menatap tajam Jino.
"Realistis aja dong, tapi cinta gue tetep cuman buat baby blue. Meskipun punya motor yang lebih keren, baby blue bakal tetep gue simpen dan rawat."
"Halah, sama motor aja lo bisa ngomong kayak gitu ya? Gimana sama cewek. Udah jelas yang baru yang paling diutamain lah. Gak usah gegayaan sok mau setia, liat yang lebih oke juga pasti oleng lu."
"Enggak, gue itu tipe cowok setia."
"Aahh, bohong banget. Entar juga paling si baby blue lo khianatin kalau punya yang baru, sekarang aja lo kasih dia janji manis."
Ibu menghela napas, sementara ketiga adik laki-laki Ana hanya diam menonton pertengkaran Jino dengan Kakak mereka.
"Kalian kalau masih mau berantem keluar aja." Kata Ibu yang membuat Ana dan Jino seketika bungkam.
•••
Karena adik-adik Ana pulang, rumah jadi ramai sampai ke rumah Jino. Mereka pulang cuman dua hari sih, nanti hari senin sudah masuk lagi, dan asrama sampai sebulan.
Bukan hanya suara berisik adik-adik Ana, tapi juga teriakan Ana yang marah-marah ke adiknya menambah kebisingan.
"JANGAN TERIAK-TERIAK!"
"HEH! Jangan berisik! Kakak lagi kerja!"
"Ajis! Kakak jewer ya kamu!"
"Lele diem! Udah Kakak bilang, jangan teriak-teriak!"
"SIAPA YANG BOLEHIN MASUK KAMAR KAKAK?! KELUAR SEMUANYA! KELUAR!"
"Akh!!! Ajis, kan udah Kakak bilang jangan masuk kamar Kakak! Liat! Bedak Kakak jadi jatuh! Pecah lagi! Akh!"
Jino menepuk pipinya. Lama-lama ia stress juga mendengar teriakan Ana. Suara berisik adik-adiknya malah tidak terlalu mengganggu karena yahhh... namanya juga anak kecil, Jino masih bisa maklum. Tapi suara Ana... ya ampun.
"Gila, rusuh banget rumah tetangga lo." Komentar Felix.
Ya, beberapa teman Jino memang sedang datang ke rumah Jino untuk main. Tapi malah terganggu dengan suara-suara di sebelah.
"Eh, btw si Ana udah buka media sosialnya belum?" celetuk Tora.
"Emang kenapa?" tanya Jino.
"Dia dapet banyak hate komen tuh dari penggemar lo. Lagian lo ngapain pakai konfirmasi yang aneh-aneh segala sih? Emang lo sama Ana beneran pacaran? Kayak lo artis k-pop aja, pakai konfirm-konfirm segala." Tutur Tora.
"Ya biar imej gue bagus, setelah muka jelek gue di post," balas Jino santai.
"Imej lo bagus, ini si Ana gimana?"
"Emangnya sampe segitunya?"
"Yaa... lumayan. Paling banyak sih yang ngasih komentar dia penulis sombong, dan gak pantes pacaran sama lo. Padahal bukannya sebaliknya?"
"Anjir, gue gak sombong."
"Gak nyadar lo? Lagian gila popularitas banget sih."
"Gue gak gila popularitas, tapi..."
"Tapi apa?" tanya Tora sinis, sementara Jino tidak bisa menjawab.
Felix, Ardan, Han, dan Bayu yang sedari tadi menonton tiba-tiba memberi tatapan curiga ke Tora.
"Kok lo ngebelain Ana banget dah? Udah gitu follow media sosialnya juga ya?" tanya Bayu yang membuat ekspresi Tora berubah.
"Hhmm, mencurigakan," gumam Bayu.
Tora menatap malas Bayu. "Apaan sih?"
"Tapi emang anehkan? Lo dari lama udah ngikutin media sosialnya Anakan? Bahkan sebelum Jino." Kata Felix. "Sejak kapan tuh?"
•••
"Apa kalian liat-liat gue kayak gitu?! Kayak gue udah ngelakuin kejahatan aja!" seru Tora galak, yang membuat Han, Jino, Ardan, Felix, dan Bayu langsung menundukan kepala.
"Gue emang penggemar tulisannya, gue punya novelnya, puas lo pada hah?!"
"Iya, iya, gak usah nge gas dong." Kata Jino.
"Ya gue kan kesel, kalian ngeliatin gue kayak gue habis ngelakuin apa aja." Dengus Tora.
"Aduh, nyai juga sensi aja sih," balas Bayu, yang membuat Tora langsung menyodorkan kepalan tangan di depan wajah Bayu.
"Eh, eh, gue tiba-tiba kepikiran buat main sesuatu." Celetuk Felix.
"Main apa?" tanya Ardan.
"Gimana kalau kita main uno stacko? Yang kalah ngajak kenalan Ana, tapi buat Jino, ajak Ana jalan bareng." Balas Felix.
"Gue mah udah pernah jalan bareng dia," kata Jino, yang membuat semuanya terkejut.
"Serius lo?!" seru Han.
"Ihh... ternyata lo pada akhirnya ngegas tetangga lo sendiri," cibir Bayu.
"Ya emang kenapa? Dari pada ngegas sodaranya sendiri, i****t dong, dosa." Balas Ardan.
"Gue gak deketin Ana, Mama gue yang nyuruh ngajak jalan Ana." Kata Jino sambil mendengus.
"Ahay, dijodohin nih yeeee..." ledek Han.
"Eh, jangan sembarangan ngomong, Mama gue mana mungkin jodohin gue sama cewek modelan Ana. Pemales, tukang belanja, galak lagi, kasar juga, hiiihhh..." kata Jino.
"Alah, cinta itu kan datang karena terbiasa, nanti juga lama-lama bisa kecantol," kata Ardan.
"Gue cuman cinta baby blue." Balas Jino.
"Lo ngarepin apaan sih dari motor njir? Heran gue. Entar anak kalian mau brojol dari mana?" kata Han.
Bayu tiba-tiba memukul kepala Han dari belakang. "Buat bikin anaknya aja gak bisa, gimana mau brojolnya? Apa yang mau dibrojolin! Bikin emosi aja lu, kalau g****k tuh emang gak setengah-setengah ya lu."
"Eh, sembarangan lo bilang gue g****k. Yang suka stupid kan elu selama ini. Gue hanya sesekali, dan tadi jokes."
"Jokes apaan?! Tidak berbobot."
"Gue emang bukan elu kelebihan bobot."
"Wahhh, kenapa nyambungnya jadi ke bobot gue lu?! Ngajak berantem?! Body shaming lu!"
"Hayuk, sini gelut!"
Tora mendengus melihat Han dan Bayu yang mulai tarik-tarikan baju sambil berguling di lantai.
"Woy! Diem gak?! Kalau enggak gue usir kalian dari rumah gue!" seru Jino, yang membuat duo H itu langsung diam.
"Udah deh, jadi gak nih main unonya? Pusing gue dari tadi kita ngeributin hal yang gak jelas terus." Kata Felix.
"Jadi yang kalah hukumannya tetep kayak yang lo tadi bilang?" tanya Tora.
Felix menganggukan kepalanya. "Tapi yang lain setuju gak nih?"
"Setuju aja, yang gak setuju, pergi aja." Kata Tora, yang membuat semuanya tidak berani protes pada akhirnya.
•••
Moto hidup Ana, enggak mau cari masalah sama orang, apa lagi media sosial. Karena dia enggak kenal secara personal sama mereka, jadi... Ana memilih memblokir akun-akun yang mengusiknya, tanpa memberi penjelasan apapun.
Kebetulan suasana hatinya juga sedang biasa saja. Tidak bahagia atau sedih, jadi melihat komentar atau direct message yang mengganggu, tidak membuat perasaannya gimana-gimana. Biasa saja, seolah dia memang tidak bisa berekspresi.
Ketiga adiknya sudah tidak mengganggunya lagi, jadi Ana bisa fokus ngetik sambil ngopi.
Enggak, gak bisa bener-bener fokus juga sih. Karena adik-adiknya kadang bertengkar dan ada yang nangis, ditambah suara Jino yang sedang main dengan teman-temannya.
"Mamaaa! Ajis gigit tangan aku!"
"Ajis, kenapa gigit tangan Abang?"
"Ajis gak gigit tangan Ongin, cuman bohong-bohongan."
"Panggil Abang Ajis,"
"Gak mau, orang Ongin lebih pendek dari aku."
"Aduhhh... tapikan Abang Ongin lebih tua dari kamu. Panggilnya Abang,"
"Mama, gimana tangan aku sakit..."
"Woah! Anjer!"
"Wah! Curang lu!"
"Enggak, gue gak curang!"
"Udah deh, Han gak usah ikut main, dia mah udah pasti bakal menang!"
"Dihh, kok gitu?! Lo tuh ngajak gue ribut mulu ya?!"
"Bayu sama Han diem! Tora kalah woy! Nyai kalah!"
"Yey! Nyai kalah!"
"Yang masih panggil gue Nyai, gue robek bibirnya ya?!"
Ana menutup telinganya. Tapi percuma saja mau protes atau marah-marah, semua suara itu tidak akan langsung berhenti.
Tapi beberapa saat kemudian, suara-suara berisik itu perlahan samar-samar terdengarnya. Ketiga adik Ana sepertinya sudah pindah main diluar, dari yang tadinya bertengkar juga sudah baikan lagi.
Sementara Jino dan teman-temannya, entahlah. Malah terdengar sunyi.
Ana jadi bisa fokus lagi untuk menulis, tapi...
Pintu kamarnya tiba-tiba dibuka, dan suara Mama pun terdengar.
"Na, Jino sama temen-temennya dateng." Kata Mama.
"Hah? Ngapain?" tanya Ana.
"Gak tau, yang jelas nyariin kamu, keluar gih."
"Aduh males."
"Mama matiin wifinya ya?"
"Iya, iya, bentar, pakai baju panjang dulu."
Mama akhirnya kembali menutup pintu kamar Ana. Sementara Ana dengan malas mengambil celana panjang serta kaos oblongnya, untuk melapisi celana pendek dan tank top yang ia pakai.
Ana pun keluar dari kamarnya, untuk menemui Jino dan teman-temannya. Tanpa ekspresi, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ana duduk di depan Jino dan teman-temannya, yang duduk di sofa seberang.
Mereka tidak ada yang buka suara, termasuk Ana tentu saja.
"Woy, ngomong apa kek gitu." Kata Jino.
"Males," balas Ana singkat dan padat.
"Hih, emang resek lu. Ini temen gue mau kenalan." Kata Jino sambil menunjuk Tora.
Ana melirik Tora, begitu pun sebaliknya. Ana tampak semakin malas, ia langsung bangkit berdiri dan mau pergi tanpa bilang apapun. Membuat Jino dan lainnya merasa aneh, kecuali Tora.
Melihat tingkah tidak sopan Ana, Jino langsung bangkit berdiri dan mengejar gadis itu.
"Woy! Lo gak ada sopan santunnya banget sih." Kata Jino.
"Gue udah kenal!" balas Ana ketus. "Namanya Tora, kalian juga udah pasti dia ngikutin media sosial gue."[]