05

1593 Kata
Ana berhenti tertawa saat Jino tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. "Mau ngapain lo?" tanya Ana. "Ketawa lagi dong, mau gue rekam, langka nih seorang Ana ketawa lebar." Balas Jino. "Sembarangan lo! Oke, gue juga bisa foto lo!" kata Ana sembari ikut mengambil ponselnya. "Eh jangan! Mau ditaruh di mana muka gue nanti?!" Crek! "Yahhh, udah ke foto, hahaha, liat, muka lo lucu banget!" seru Ana sembari menunjukan hasil fotonya pada Jino. "Ettt, tapi gue juga berhasil loh ngerekam lo ketawa. Gila, gigi lo gede banget, keliatan." Ana langsung bangkit berdiri dan menghampiri Jino untuk mengambil ponselnya. "Jino! Jangan dipost!" "Lo juga, foto gue yang itu gak boleh dipost!" kata Jino sembari melompat ke kasur Ana untuk menghindar. Ana ikut naik ke kasurnya, dan berusaha meraih ponsel Jino dengan cara melompat, tapi Jino bisa melompat lebih tinggi. "Gak papa lah gue post, gue bisa bikin pencintraan nanti pakai video ini. Gue berhasil bikin pacar gue ketawa gitu..." kata Jino. "Enak aja! Gue gak mau!" balas Ana. "Ayolah Na," "Ya udah, kalau gitu gue uplod juga tuh foto muka lo yang kayak gitu." Kata Ana sambil mengotak-ngatik ponselnya yang membuat Jino panik. "Ehh, jangan!" kini gantian Jino yang berusaha merebut ponsel Ana. Tapi Ana menyembunyikannya di belakang tubuhnya, membuat Jino terpaksa melingkarkan kedua tangannya di tubuh Ana. Tapi tak lama Ana merubah posisi ponsel jadi di depan, sehingga ia seolah memeluk Ana. Ana cekikikan saat foto Jino berhasil ia uplod. Jino tiba-tiba berteriak, saat menerima notifikasi Ana sudah men-tagnya di sebuah postingan. "Huwaaaa Anaaa!" teriak Jino. Ia tiba-tiba melingkarkan tangannya lebih erat di pinggang Ana, kemudian menggulingkan tubuh Ana ke sebelah kiri, sebelum menghampaskannya ke kasur, dan ia berada di atas tubuh Ana, sambil berusaha meraih ponsel Ana, yang terus Ana jauhkan dari Jino. "Hapus Na! Hapus!" seru Jino histeris. "Enggak mau!" balas Ana dengan penuh penakanan. "Hapus gak Na! Atau enggak gue cium lagi!" Ana seketika tercenung mendengar ancaman Jino. "Idih, jibang lu. Gak usah pakai anceman yang enggak-enggak deh-" mata Ana melebar, saat Jino benar-benar mencondongkan wajah ke arahnya, hingga jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa centi. Ana bisa merasakan hembusan napas Jino di wajahnya, juga ujung hidungnya yang bertemu dengan ujung hidung Jino. Ana pun langsung mendorong Jino sekuat tenaga untuk menyingir dari atas tubuhnya. Ia kemudian duduk, dan dengan sekujur tubuh gemetaran menghapus postingannya tadi. "Iya, iya, nih gue hapus! Lagian gak ada yang peduli juga sama postingan gue. Hiperbola lo!" "Akhhh, tapi gue kan jelek banget di foto itu!" balas Jino sambil guling-guling di kasur Ana. Aduh, aneh, kenapa Ana bisa panik sampai gemetaran hanya karena Jino mendekatkan wajahnya tadi? Padahal Jino kan hanya anak alay yang suka drama. Tapi sikapnya tadi seolah Jino itu cowok bad boy yang dingin, tsundere, dan diam-diam menghanyutkan, ala-ala cerita fiksi gitu. Atau... kalau Jino itu... alay-alay menghanyutkan? Tapi yang jelas, Ana masih berdebar sampai saat ini. "Kasur lo enak nih, jadi ngantuk." Kata Jino sembari memejamkan matanya. "Heh, lanjut beres-beres, gue tabok entar!" seru Ana. "Udah enggak takut, soalnya gue udah tau kelemahan lo," Ana seketika menoleh ke belakang, sambil menatap tajam Jino. "Emang apa kelemahan gue?" "Tinggal diancem aja mau dicium, terus deketin muka, langsung gemetaran deh lu, hahaha!" Ana tidak merespon, ia bangkit berdiri dari kasur tanpa berkata apa-apa, yang malah membuat Jino takut dan langsung duduk. Ana keluar dari kamarnya, sementara Jino menunggu apa yang akan Ana lakukan. Beberapa saat kemudian, Ana kembali dengan membawa hanger. Jino sudah bersiap hendak kabur, tapi ternyata Ana mengambil jaketnya yang ada di lantai, dan menggantungnya menggunakan hanger tersebut di lemari. Jino menghela napas lega tanpa sadar. Buk! "Aaaaa!!!" teriak Jino sambil memegangi pipi kanannya yang baru kena timpuk sebuah benda secara tiba-tiba. "Lanjut beres-beres sekarang, kalau gue post lagi tuh foto lo! Sambil bilang kalau lo udah nyium gue paksa, asal lo tau ya itu termasuk pelecehan s*****l. Bonus sapu melayang!" "Iya! Iya!" ••• "Na, gue udah selesai beres-beres nih," Jino terdiam saat mendapati Ana yang rupanya tidur di depan laptopnya, dengan posisi duduk dan kepala ada di atas meja, di sebelah laptop. Jino berjalan mendekati Ana, laptopnya masih menyala, hanya saja layarnya hitam. Iseng, Jino mengusap tombol spasi pada laptop, hingga layar laptop kembali menyala. Jino kira ia akan menemukan word berisi tulisan, ternyata Ana sedang membuka akun web novelnya. Jino pun melihat profile Ana, dan melihat bionya yang hanya kosong, serta tanggal terbuatnya akun. "Udah lama yaa..." gumam Jino. "Terus selama bertahun-tahun ini dia cuman nulis kegiatannya? Ckck, padahal yang baca juga gak seberapa nih, ini mah kalah sama penulis lain yang pernah gue liat. Padahal masih baru." Jino melirik Ana yang masih tidur. Ia akhirnya memilih menggendong Ana, dan memindahkannya ke kasur. "Kalau dia hidupnya cuman buat kayak gini, ya sia-sia dong. Pantes Mamanya khawatir banget, Mama gue ikut-ikutan lagi. Padahalkan baru kenal. Semua orang ngekhawatirin dia, dia malah sibuk sama dunianya sendiri." "Apa sekarang gue pulang aja ya?" Ting! Ponsel Jino tiba-tiba berbunyi, ia pun segera mengambil ponselnya. Matanya melebar melihat teman-temannya yang men- tag dirinya di sebuah foto. Ini lo Jin? Dapet dari Tora, buahahaha. Diakan follow akun media sosial tetangga lo itu, terus tetangga lo itu post ini. Langsung di ss dong sama Tora. Cieeee... kok bisa ada di kamarnya? "Akh! Tora!" ••• "Jadi Ana itu pacar gue, hahaha, eummm... yah, sebenernya gue udsh lama pacaran sama dia, cuman dia tuh cewek pemalu gitu, makanya gue gak pernah bilang ke kalian. Sekarang gue emang lagi di kamarnya, dan dia lagi tidur." Jino mengarahkan kamera depan ponselnya ke Ana yang sedang tidur sekilas. "Dan foto yang dikirim temen gue itu, aslinya emang diuplod dia, cuman dihapus, gak tau kenapa. Dia sebelumnya ngambek, terus gue cari cara biar dia ketawa, akhirnya yahhh... gue mainin makeup dia, gue kira awalnya dia bakal marah, tapi malah ketawa." Komentar:                                    "Jino boyfriend able banget." "Hari potek nasional," "Ughhh, gak nyangka banget Kakak udah punya pacar. Tapi yahhh... Kakak ganteng gitu, masak gak punya pacar sih?" "Huaaaa... gak nyangka Kakak udah punya pacar." "Tapi pacar Kakak jelek, kayaknya gak pantes deh sama Kakak." Jino mengernyitkan kening, melihat komentar yang baru muncul itu. "Ana cantik kok, yah, lagian gue gak liat dia dari fisik." "Huaaa... Kakak jadi pacar aku aja deh." "Kok gue kayak familiar ya sama pacar Kakak?" "Iya, iya, dia mirip Ana yang penulis. Atau emang dia?" "Hah? Aku tau tuh penulis itu, dia kan sombong banget." "Iya, sok kecakepan lagi, ihh... gak cocok banget sama Kak Jino." "Kakak pasti gak tau deh, kelakuan dia gimana selama jadi penulis. Gak mungkin Kakak mau sama cewek kayak dia," "Eum, udah dulu ya live nya, gue cuman mau konfirmasi itu doang, hehe. Dadah. Oh ya, dan yang ngatain pacar gue, gue blokir." Live selesai, saat Jino menolehkan kepalanya ke arah Ana, ia terkejut melihat Ana yang rupanya sudah bangun. Dan kini sedang duduk tepat di sebelahnya. "Aaaaa! Anjer! Kaget!" teriak Jino sembari memegangi dadanya. "Apa sih? Lebay." Balas Ana. "Lo ngapain?" "Ga-gak ngapa-ngapain," balas Jino sembari memajukan bibir bawahnya. "Terus kenapa ekspresi lo kayak gitu? Gagap lagi ngomongnya." Kata Ana. "Kan gue masih kaget, soalnya lo tiba-tiba bangun tadi." Kata Jino. "Alah, pasti ada yang lo sembunyiin kan?" "Enggak! Nuduh!" seru Jino. "Terus kenapa gue tiba-tiba di kasur?" "Lo tidur sambil jalan tadi," "Masak? Gue aja kalau tidur bahkan gak gerak." Kata Ana. "Lo gendong ya?" tuding Ana sambil memicingkan mata dan menunjuk wajah Jino. "Dihhh, enak aja! Ogah banget gue gendong-gendong lo!" "Ih, gak gentle banget jadi cowok, liat cewek tidur di kursi, bukannya dipindahin, malah dibiarin aja." "Oke, oke! Emang gue yang gendong lo tadi." "Ihhh!!! Najisun!" "Untung lo cewek ya, kalau enggak udah gue hajar lo, serba salah aja jadinya." Ana tertawa lebar sembari kembali berbaring di kasur. Tak lama tawa Ana mereda, kemudian menghilang, membuat suasana kamar jadi hening. "Lo gak penasaran kenapa gue waktu itu marah dan mukul lo, habis Papa gue berhasil nemuin motor lo?" celetuk Ana, sembari menatap punggung Jino. Yah, Jino memang duduk di pinggir ranjang, dengan posisi membelakangi Ana. "Kenapa?" tanya Jino. "Yah emang sih, kita berbuat baik buat diri kita sendiri aja, jangan mengharapkan timpal balik, apa lagi sanjungan. Bahkan ada yang bilang, kalau ada orang baik ke kita, itu jasa Tuhan, Tuhan yang kirim orang baik itu buat kita, bukan orang baik itu emang dateng secara tiba-tiba. Tuhan yang atur, Tuhan yang kirim." Ana kemudian menjeda sejenak bicaranya, untuk menghela napas. "Gue... bukannya ngerasa orang baik juga. Tapi dari zaman Nenek Kakek gue, kita semua, selalu jadi korban tindas orang lain. Padahal kita selalu ngasih bantuan ke orang, tapi tanggapan orang ke kita malah sebaliknya. Kakek gue pernah dikasih permen yang isinya batu kerikil, kedengarannya mungkin lucu, tapi sakit hati waktu denger cerita itu." "Kakek gue sangka baik aja, dikiranya itu emang permen, dimakan pas lagi naik sepeda," Ana tertawa kecil dengan getir. "Padahal orang yang ngasih Kakek gue permen itu, orang yang suka Kakek gue tolong kalau kesusahan." "Nenek gue, dia dulu punya kenalan, miskin, gak punya apa-apa. Dan akhirnya Nenek tolong, suka kasih makan, kasih uang, pas dia nikah, ketemu orang kayak. Bahkan waktu dia nikah, Nenek gue gak diundang." "Papa gue, hahhh... udah gak kehitung berapa kali dia nolong orang, termasuk Kakak kelas gue waktu SD dulu. Dan waktu Papa gue nyapa, disinisin coba. Mama gue juga digituin, padahal sama mantan muridnya sendiri. Iya, Mama gue dulu Guru." "Ditambah Mama gue itu ditindas sama keluarga kandungnya sendiri. Gue jauh lebih sakit hati kalau orang tua gue, keluarga gue, adek-adek gue yang diusik, gak dihargain, dibanding gue sendiri." "Dan... dan gue kemaren sakit hati banget, liat tangan Papa gue luka, cuman gara-gara motor lo, iya emang, luka di tangan Papa gue kecil. Tapi gue gak siap, ngeliat lo nanti, bersikap semena-mena ke Papa gue." Ana terdiam, ia baru sadar sudah terlalu banyak bicara. Buru-buru ia menghapus air matanya, yang tanpa sadar ikut mengalir saat ia bicara. "Heh, enggaklah, gue gak akan kayak gitu. Orang tua gue ngedidik gue dengan bener kok, pergaulan gue juga, meskipun temen-temen tingkahnya agak-agak, mereka gak bawa pengaruh buruk buat gue." Balas Jino. "Lo tau gak sih? Setau gue, justru orang baik itu, ujiannya ada aja, dilatih biar hatinya semakin besar, semakin kuat. Asal lo nanggepinnya gak kayak gini. Lo harus yakin, semua kesusahan yang lo, keluarga lo lewati saat ini, pasti ada balesannya yang baik. Emang Tuhan sejahat itu? Ngasih lo keburukan terus? Malah mungkin elonya yang gak sadar, kalau sebenernya banyak hal baik yang mengitari lo. Kayak gue gitu contohnya," Ana melempar bantal ke arah Jino, tapi tidak terlalu keras. Dan Jino menanggapinya hanya dengan tertawa, padahal Ana kira dia akan dengan dramatis mengerang kesakitan. "Tapi Nenek dari Ibu gue bilang, keluarga gue itu kena azab, soalnya hidupnya s**l terus." Kata Ana. "Kalau lo lebih percaya omongan gue, detik ini lo bakal ngerasa bahagia. Percaya deh." Kata Jino sambil tersenyum. Ana tercenung, tapi tak lama tanpa sadar ikut tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di depan pintu kamar Ana. "Kakak! Kita pulang!" Cklek! Pintu terbuka, menampilkan tiga orang anak laki-laki yang masih menggunakan seragam sekolah. Mereka tampak shock, melihat ada Jino di kamar Kakak perempuan mereka. "MAMA!!! KAK ANA HAMIL!"[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN