04

1815 Kata
"Ya ampun Jin, lo diapain sama cewek itu sampe tulang hidungnya diamputasi?" tangis Han sembari memeluk Jino dari samping. "Alhamdulillah ya Allah, saingan berkurang! Akhirnya Jino jadi pesek," giliran Bayu yang menangis sambil memeluk Jino juga dari sisi yang lain. "Temen lagi kena musibah lo! Lo malah ngomongnya ngelantur!" teriak Tora. "Turut berduka buat hidung lo Jin!" kata Ardan. "WOY BERISIK!" semua seketika terdiam begitu Jino teriak. "Hidung gue lecet doang, aelah!" "Terus ngapain lo masih baring di brangkar?" tanya Randy. "Gue emang belum sempet turun aja. Lagian siapa sih yang bilang tulang hidung gue patah?" "Tetangga lo," balas Jazmi.                "Ya?" "Tetangga lo, cewek yang selalu bikin lo kesel itu." "Dan kalian percaya?! Atau kalian memang mengharapkan tulang hidung gue patah kayak Bayu?! Ya ampun tega ya kalian! Jahat tau gak?! Jahat!" Randy menggelengkan kepalanya sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. "Mulai lagi deh ni anak," gumam Randy. "Udah yuk mending tinggal-" kalimat Randy terputus, karena semua temannya malah memeluk Jino untuk menenangkannya, membuat Randy menepuk keningnya. "Enggak kok Jino, kita tuh gak bermaksud kayak gitu." "Akh! Tuhan! Punya dosa apa sih gue sampe dikasih temen kayak mereka?!" teriak Randy. "Tora! Lo jangan ikut-ikutan dong! Pulang aja yuk!" "Tapi kasian Jino, hidungnya sakit." "Astaga... udah ah, anggep aja kalian gak kenal gue besok! Bodo amat!" ••• Jino langsung pulang dengan diantar Hendra, sementara Ana sendiri memilih naik ojek online. Di perjalanan Ana terus merenung. Baru juga kenal beberapa hari dengan Jino, tapi dia langsung punya banyak cerita. Salah satunya bertengkar. Padahal Ana itu tipe yang mudah mengalah dengan orang lain —yah hampir seluruh anggota keluarga sih—. Kalau ada masalah dengan orang, biasanya langsung mengalah begitu saja, entah siapapun yang salah. Tapi dengan Jino dia bahkan berani memukul dan menendang. Meskipun salah sih, tapi Ana malah jadi merasa kalau mereka dekat. 'Aduh mikir apa sih gue?' batin Ana. Setibanya di rumah, dia melihat Jino sedang dipapah Hendra ke rumahnya. "Yaelah, hidung doang yang lecet, kenapa pakai dipapah segala sih?" cibir Ana. "Pinggang gue juga sakit tau ditendang sama lo. Lagian jadi cewek kasar banget sih." Balas Jino. "Makanya mulut juga dijaga dong," "Maaf nih kalau ikut campur," celetuk Hendra. "Tapi kalian jangan kelamaan berantem, mending kalau ada masalah dibicarain baik-baik. Sayangkan kalau putus, padahal hubungan kalian unik banget, apa kalian tetanggaan." "Ya?" gumam Ana dengan kening mengernyit, sementara raut wajah Jino seketika menegang. "Maaf Mas, tadi bilang apa? Maksud Mas saya dan Jino pacaran?" "Loh bukannya iya? Katanya Mas Jino gitu." Balas Hendra dengan tampang watados. Jino tiba-tiba melepaskan tangan kanannya yang sebelumnya melingkar di bahu Hendra, sebelum berlari masuk ke dalam rumah. "WOY! KABUR LAGI LU! DASAR k*****t!" teriak Ana. "Mas, saya sama dia tuh gak pacaran. Tipe saya tuh cowok manly, gak kayak dia." Kata Ana sambil berkacak pinggang dan menghela napas untuk membuang amarahnya. "Oalah, gitu toh... tapi kok dia ngaku-ngaku, suka ya sama Mbak?" Ana terdiam sejenak, untuk memikirkan sesuatu. Sebelum seringaian kecil tercetak di wajahnya. "Dia itu emang suka sama saya, tapi saya tolak terus makanya jadi halu." Kata Ana. "Woy! Fitnah!" teriak Jino tiba-tiba dari kamarnya. "Woy! Keluar lo! Gue retakin pinggang lo entar!" balas Ana. "Ana pulang! Ribut aja terus ya!" "Jino! Udah malem! Besok lagi aja berantemnya! Haduh kalian ini." Suara Ibu Ana dan Jino, secara bersahutan terdengar. "Awas lo Jin besok! Keluar rumah gue tendang lu lagi!" "Gue bakal dandan cakep, lo gak akan tega nendang gue!" Hendra tanpa sadar tertawa melihat interaksi Ana dan Jino, tapi saat Ana menatapnya, Hendra langsung diam. "Ya udah ya Mbak, saya permisi dulu, masih harus nganterin paket yang lain." Tutur Hendra. "Oh iya Mas," balas Ana. "Tapi udah malem gini Mas." "Jam kerjanya sampe jam 10 kok, sekarang masih jam sembilan." "Oh gituu... ya udah hati-hati Mas." "Sama-sama Mbak," Hendra pun bergegas pergi, sementara Ana masih belum masuk ke dalam rumahnya, sampai Hendra serta motornya menghilang. "TUKANG PAKET YANG SUKA NGANTER PAKET JADI JODOHKU! AU AU AU!" teriak Jino tiba-tiba sambil mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela. "BACOT!" "ANA! MULUTNYA!" "JINO MAMA JEWER YA?!" ••• Ana sibuk berkutat dengan tulisannya. Sesekali ia akan melamun, memikirkan ide yang hilang datang. Ana memang tidak pernah menulis menggunakan kerangka, dia hanya menulis sesuai dengan alur yang berjalan. Kadang ada yang konfliknya jadi bercabang, tapi ada juga yang jadi terlalu pendek. Tok, tok, tok. "Permisi, paket!" "Sebentar!" seru Ana. Ia langsung mengambil celana panjangnya, dan keluar rumah, tapi ternyata tidak ada siapa-siapa. Kening Ana mengernyit, ia kemudian mendesis kesal sembari menutup pintu kembali. Saat hendak kembali ke kamar, tapi lagi-lagi ia mendengar ketukan di pintu, yang membuat Ana terpaksa menghentikan langkahnya. "Permisi, paket!" Ana akhirnya kembali ke pintu, dan membukanya. Tak lama terdengar suara tawa di samping pintunya. "Padahal kan gak ada suara motornya, kok bisa percaya ada tukang paket beneran hahaha!" Ana mendengus, udah gak usah ditanya siapa pelaku yang udah ngetuk pintu sambil teriak 'permisi, paket.' Sudah jelas itu Jino. "Lo tunggu di sini bentar ya? Tunggu di situ, jangan kemana-mana." Kata Ana sembari masuk ke dalam rumahnya, dan anehnya Jino sungguhan menunggu. Tak lama Ana keluar sambil membawa sapu lidi, membuat Jino langsung berlari menuju halaman rumahnya, agar cepat dia melompati pagar pembatas halaman rumah mereka. Oh, Jino pikir Ana tidak bisa? Dia juga ikut lompat bahkan lebih cepat dari saat Jino melompat. "Sini lo!" seru Ana. "Aaaaaa!!!" teriak Jino sambil berlari ke halaman belakang, lalu berputar lagi ke halaman depan. Tapi Jino tiba-tiba berhenti berlari saat sudah tiba di halaman depan lagi, Ana yang baru sampai langsung menghampiri Jino sambil mengangkat sapu yang ada di tangannya tinggi-tinggi. Ia pikir Jino akan lanjut kabur, tapi dia tiba-tiba berlari menghampiri Ana, yang malah membuat Ana berhenti berlari. Jino tanpa terduga tiba-tiba memeluk Ana hingga tubuh mereka jatuh ke atas rumput halaman. Ana melebarkan matanya, dan saat hendak protes, Jino malah membungkam mulut Ana dengan bibirnya. ••• "Ih kok kalian m***m di luar sih?!" Jino dan Ana secara bersamaan menoleh ke sumber suara. "Siapa yang m***m?" kata Jino sembari bangkit dari atas tubuh Ana, dan menarik tangan Ana lembut agar ikut duduk. "Jelas-jelas tadi lagi m***m, tindih-tindihan, ciuman lagi, iihhh... lo gak bermoral banget sih." "Nih ya, ini rumah gue, di samping rumahnya Ana. Dan di sini sepi. Lagian gue gak niat m***m tuh, tadikan lagi bercanda." "Lagi bercanda, terus pas ada kesempatan langsung nyosor." "Ck, lagian lo mau ngapain sih ke sini? Tau dari mana juga rumah gue hah?" Cewek bernama Atika yang sedari tadi bicara dengan Jino, mengangkat tangannya yang membawa sesuatu. "Gue cuman mau ngasih makanan ke tetangga baru." Kata Atika, yang membuat kening Ana dan Jino mengernyit. "Tetangga?" gumam Jino. "Eum, gak bisa dibilang tetangga juga sih. Cuman mulai hari ini gue nge kost di perumahan ini, meskipun di jalan yang beda, tapi sebelahan kok. Dan gue tau rumah lo, soalnya banyak anak kost yang ngomongin lo." Ujar Atika. "Ngapain lo nge kost di sini?" tanya Jino. "Ya suka-suka gue dong. Gue kan kuliah di deket sini," balas Atika. "Ya udah gue masuk dulu ya? Mau nyapa Ibu lo." "Gak usah," cegat Jino sembari bangkit berdiri dan menarik tangan Atika agar menjauh dari pintu rumahnya. "Kenapa sih?" "Gue bilang gak usah ya gak usah. Kalau emang mau ngasih, kasih ke gue aja." "Gak mau ah, entar makanannya dibagi-bagi lagi sama pacar lo." Ana memutar kedua bola mata mendengarnya, ia pun bangkit berdiri dan hendak pergi. Malas berurusan dengan orang, yang berpotensi jadi penambah masalah hidupnya. Tapi Jino malah merangkul bahunya, menahannya agar tidak pergi. "Ibu gue lagi gak ada, mending lo pergi aja deh, ganggu waktu gue sama Ana." Kata Jino. "Justru harusnya bagus dong gue ke sini, kalau kalian keblablasan gimana?" "Ya gak papa, kita udah dewasa ini. Besok gue nikahin Ana juga bisa." Ana langsung melotot. Rasanya ingin memukuli Jino saat ini juga, tapi dia harus tahan. "Sok banget, emang udah kerja?" "Woy, liat dong muka gue yang bening, menghasilkan uang nih." Kata Jino sambil menunjuk wajahnya. "Udah deh, mending lo pergi! Ganggu!" "Ihh, lo masih dendam aja sih sama kejadian waktu itu," dengus Atika. "Udah deh mending lo pergi sekarang." Usir Jino. "Kalau enggak ya gue tinggal, yuk Na, kita ke rumah kamu aja, kita ber- lovey dovey." 'Apa sih anjir?' batin Ana. "Udah yuk beb, kita pergi dari sini." Jino menggandeng tangan Ana, kemudian membawanya pergi, meninggalkan Atika begitu saja. "Iih, ya udah, ya udah! Gue pergi!" seru Atika sebelum Jino dan Ana sempat masuk ke dalam rumah. Atika pun langsung pergi, sementara Ana dan Jino menghentikan niatan mereka untuk masuk ke rumah Ana. Setelah memastikan Atika telah menghilang, Jino langsung hendak pergi, tapi Ana sudah lebih dulu meraih kerah baju belakangnya, dan mencengkramnya hingga Jino tercekik. "Mau kabur kemana lu?" tanya Ana. "Akh, akh, A-Ana gue gak bisa napas." Kata Jino dengan dramatis seperti biasa. "Lo tau gak apa aja kesalahan lo?" "Iya, iya tau! Udah ngerjain lo, udah nyium lo tanpa izin, gue minta maaf!" "Lo tau gak betapa berharganya ciuman pertama gue?!" seru Ana dengan cengkraman di kerah baju Jino, yang tanpa sadar semakin mengerat. "Berharga banget, iya tauuu... soalnya itu juga ciuman pertama gue. Maafffff..." "Bohong banget itu ciuman pertama lo!" "Beneran! Sumpah! Kan udah gue bilang, gue anak polos!" "Balik badan lo sekarang!" kata Ana dengan nada membentak sembari melepas cengkraman tangannya dari kerah baju Jino. Jino berbalik badan, sembari menundukan kepala dan meletakan kedua tangannya di depan tubuhnya. Ana mengangkat sebelah tangannya bersiap menampar Jino, tapi Jino langsung melindungi wajahnya. "Jangan sakiti aku!" teriak Jino. "Gue bakal ngelakuin apapun deh, asal jangan mukul gue, sakit tau." "Apapun?" "Iya, apapun!" "Ya udah ikut masuk rumah gue lo sekarang." "Loh mau ngapain?" "Udah ikut aja," "Di rumah lo lagi gak ada siapa-siapakan? Jangan nodai aku." "Jino, gue pites lu." Kata Ana geram sambil melotot, yang membuat Jino akhirnya menurut. ••• Kamar Ana super berantakan, berikut dapur dan ruang tengah. Kamar Ana penuh makeup dan baju yang berserakan, dapur penuh cucian kotor dan lantai ada bekas-bekas bahan makanan, sementara ruang tengah tengah dipenuhi pipa-pipa dan besi memanjang, ada gergaji juga. Karena di rumah hanya ada Ana. Ana melakukan banyak kegiatan dengan sesuka. Memasak resep unik, memakai makeup dan baju yang aneh-aneh, juga coba-coba membuat perabotan rumah dengan bahan seadanya. Hanya untuk kesenangan sih yang terakhir, kalau ada yang bisa dipakai ya untung. Dan sudah bisa ditebak, apa tugas Jino. Beres-beres. Jadi disaat Jino sibuk beres-beres, Ana ngetik cerita. "Na, kasian banget deh cogan dijadiin babu gini," keluh Jino. "Ya udah sini, gue acak-acak muka lo." Kata Ana tanpa melepas penglihatannya dari laptop. Jino mengerucutkan bibir, dan akhirnya lanjut beres-beres. Sesekali dia akan melihat-lihat koleksi makeup Ana, sebelum disusun di tempat yang sudah Ana beritahu. Iseng-iseng dia kadang mencolek eyeshadow yang warnanya terlihat menarik, dan mencoba mengaplikasikannya ke mata. Sambil kedip-kedip di depan kaca, Jino mencampur beberapa warna. Hasilnya jelas sangat buruk, tapi Jino merasa senang melihat ada warna-warna unik dan aneh di matanya. Matanya kemudian beralih melihat koleksi lipstick. Ada satu lipstick yang tak lama menarik perhatiannya, warnanya ungu metallic. Sambil memajukan bibirnya, Jino mengoleskan lipstick tersebut di bibirnya. Merasakan suasana yang tenang, Ana pun jadi penasaran, apa yang sedang Jino lakukan. Ia berbalik badan, dan melihat Jino sedang sibuk di depan meja rias, yang berhadapan dengan meja belajar, sehingga posisi Jino memunggunginya. "Lo ngapain Jin?" tanya Ana. "Jino gitu loh manggilnya, Jin, Jin, emang gue makhluk halus? Meskipun emang hati gue tuh halus." Ana memutar kedua bola matanya malas mendengar penuturan Jino. "Balik badan lo, ngapain sih?" "Jangan marah loh." Kata Jino sambil mengembalikan lipstick yang tadi ia pakai ke tempat semula. "Emang lo ngapain? Balik badan cepet." Jino dengan ragu-ragu berbalik badan. Mata Ana seketika melotot melihat apa yang terjadi pada wajah Jino, Jino sudah siap untuk dimarahi, tapi yang ia dengar malah tawa lebar Ana. "Hahahaha, lo ngapain sih? Aduh, harus foto nih, terus diposting, hahaha," Jino tercenung. Baru kali ini dia melihat Ana tertawa lebar seperti itu.[]   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN