Jino terus mendesis, setiap satu suapan ayam geprek dengan nasi masuk ke mulutnya. Bibirnya yang sudah merah dan tebal, jadi tampak semakin merah dan membengkak.
"Aduh, pedes," komentar Jino, sembari memasukan kembali nasi dan ayam geprek ke dalam mulutnya. Ia sesekali juga akan menyeka keringat yang ada di keningnya menggunakan punggung tangan.
"Udah deh, kalau gak kuat gak usah dipaksain." Kata Ana yang mulai terganggu dengan Jino yang makannya mulai belepotan.
"Pedesss..." keluh Jino dengan nada merengek. "Tapi enak,"
"Minum dulu minum, terus elap tuh keringet. Tenangin diri lu, baru lanjut makan." Titah Ana sembari menarik beberapa lembar tisu dan memberikannya pada Jino.
Jino pun buru-buru menerimanya. Ia meminum es tehnya, sebelum akhirnya menyeka keringatnya.
"Haduh, pedes banget ya ampun, jontor bibir gue." Kata Jino sembari mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Bukannya dari sananya bibir lo emang begitu?" sahut Ana dengan nada meledek, yang membuat Jino langsung menatapnya kesal.
"Bibir shaming lo," kata Jino.
"Mana ada tuh bibir shaming?"
"Ya elu tuh, bibir shaming, ngeledekin bibir gue yang unch ini."
Ana menatap natar Jino. "Siapa yang ngeledekin? Kan fakta, kalau menurut lo itu emang 'unch' ya udah."
"Kalau menurut lo?"
"B aja."
"Alah, bilang aja lo irikan sama bibir gue? Bibir lo kecil banget kayak paruh burung."
"Nah elu kan yang bibir shaming!"
"Ih, mana ada tuh bibir shaming?"
"Elo sendiri tadi yang ngomong ya bangsat." Ana mulai geram dan bersiap meninju Jino. Tapi Jino tiba-tiba menempelkan jari telunjuk kanannya di depan bibir Ana.
"Shuttt... depan umum, sabar atuh." Kata Jino.
"Jino! Tangan lo bekas sambel! Gue udah jaga cara makan gue biar lipstick gue gak kena sambel, malah sama lo dikenain, memang b*****t kau ini ya!"
Manajer restoran tiba-tiba menghampiri meja yang diduduki Ana dan Jino, untuk menengahi. "Mbak, Mas, punten... kalau mau berantem di tempat lain aja ya? Ganggu pengunjung yang lain."
"Gara-gara elu tuh," tuding Ana sambil melotot.
"Kok gue?!" sahut Jino tidak terima. "Elu yang dari tadi teriak-teriak."
"Mbak Mas, peringatan sekali lagi ya? Kalau masih ribut, saya terpaksa buat usir kalian."
Oke, kali ini Jino dan Ana nurut untuk diam.
Selesai makan, Jino dan Ana langsung bergegas menghampiri baby blue, yang terparkir di depan restoran.
"Habis mau kemana lagi?" tanya Jino.
"Langsung pulang aja," balas Ana.
"Gak mau jalan-jalan kemana dulu? Sayang nih, Papa gue udah ngasih uang jajan." Kata Jino.
"Ya udah lo simpen aja buat lo sama pacar lo ini," kata Ana sembari menepuk motor Jino, membuat Jino panik sesaat, melihat motornya ditepuk agak keras. "Gue udah makasih dibayarin nonton sama makan."
"Lo bilang makasih ke gue?"
Ana mengernyitkan kening. "Emang kenapa?"
"Enggak, gue kaget aja, gue kira kita bakal berantem terus."
"Emang sekarang udah baikan? Enggak. Gue cuman bilang makasih, kalau lo masih mainin motor lo, kita belum baikan."
"Ish, gak bisa gitu dong. Elo gak boleh melarang kebahagiaan orang lain."
"Tapi elo itu mengganggu, sadar gak sih?"
"Suara baby blue itu adalah suara termerdu yang ada di dunia ini. Dan emangnya gue gak terganggu sama suara tukang paket?"
"Tukang paket itu gak setiap saat, gak kayak motor lo."
"Motor gue juga gak setiap saat, gue kan kadang kuliah."
"Apaan, orang sering banget."
"Tukang paket juga sering banget."
"Yang belanja online itu gak cuman gue doang, kadang Mama gue, adek gue, Papa gue, gak mesti gue."
"Tapi seringnya elo. Yang klontang-klanting juga gak mesti gue. Papa gue juga kadang suka ngotak-ngatik motor sama mobilnya."
"Pokoknya elo itu ngeganggu!" kekeuh Ana.
"Sadar diri dong, elo juga!" balas Jino tak terima.
"Enggak!"
"Iya!"
"Enggak!"
"Bacot!"
"Elo bacot!"
"Elo lebih bacot!"
"Elo!"
"Elo!"
"Mbak, Mas, mohon maaf, mau saya panggilin security?"
•••
Ana dan Jino tidak ada yang bicara selama perjalanan pulang. Ana terus mengerucutkan bibir, begitu juga dengan Jino.
Mulai bosan, Jino pun iseng mengerjai Ana. Dia tiba-tiba ngebut, membuat Ana sontak memegangi jaketnya.
"Woy!" teriak Ana. "Kalau gue mati gara-gara lo awas aja lo! Arwah gue bakal gentayangan!"
"Gue gak takut!" sahut Jino.
"Jangan ngebut-ngebut woy! Ada Polisi, nanti ditilang!"
Bukannya memperlambat laju motornya, Jino tiba-tiba malah berhenti mendadak, yang membuat kepala Ana terantuk punggung Jino.
"Woy!" teriak Ana.
"Way, woy, way, woy!" balas Jino.
"Untung jalanan lagi sepi, bahaya tau gak?!"
"Iya maaf, tapi ada orang mau nyebrang!"
Akhirnya Ana bungkam. Ia pun mengangkat kaca helmnya, dan melongokan kepalanya dari punggung Jino, untuk melihat siapa yang menyeberang. Gadis bersurai panjang, dengan warna coklat terang, rupanya yang mau menyeberang jalan. Tapi bukannya menghampiri sisi jalan yang lain, gadis itu malah berjalan menghampiri Jino serta Ana.
"Jino ya?" sapa gadis itu.
Ana melirik Jino, Jino tampak tersenyum kikuk.
"Apa kabar Tik?" tanya Jino.
"Baik dong! Lo sendiri gimana?"
"Baik juga,"
"Siapa tuh cewek yang lo bonceng?"
"Pacarlah!" Jino membalas pertanyaan itu dengan lantang, membuat Ana terkejut, dan malah tidak bisa bereaksi apa-apa.
"Pacar lo?" gadis itu tampak tidak yakin.
"Iya, emang kenapa?" balas Jino.
"Dandanannya tebel banget, hehe."
"Dia kan beauty vlog, tadi dia baru syuting, terus habis syuting gue ajak dia jalan buat makan." Dusta Jino, yang membuat Ana lebih terkejut.
"Wah apa nama youtubenya? Kok gue gak pernah liat ya?"
"Emang lo suka dandan? Bukannya lo anti perawatan sama makeup soalnya tomboy, dan gak mau dibilang centil? Lo gak mungkin nontonin tutorial makeup kan?" Jino berkata dengan nada penuh penekanan di akhir.
"Udah ya gue balik dulu, gak baik ngobrol di jalanan."
"Ya udah, hati-hati ya? Semoga kita bisa ketemu lagi."
'Ogah,' batin Jino dalam hati.
•••
"Minum es kelapa dulu yuk," kata Jino.
"Ayo aja gue mah." Balas Ana.
"Pasrah lo ya gue mau bawa kemana." Kata Jino.
"Asal gak dibawa ke hotel aja." Kata Ana.
"Gue gak bawa cewek tepos ke hotel." Ana langsung memukul kepala Jino. Bukannya meringis kesakitan, Jino malah ketawa.
"Body shaming!"
"Bodo amat!"
Motor Jino akhirnya berhenti di depan sebuah warung es kelapa. Ana turun duluan sembari melepas helmnya, sementara Jino sibuk memarkirkan motornya dulu.
Setelah motor terparkir dengan rapih, tepat di bawah pohon agar tidak kena sengatan matahari, sudah dielus dengan penuh kasih sayang dengan Jino. Baru Jino masuk ke warung. Ana hanya bisa mendengus dan memasang ekspresi malas.
Setelah duduk dan memesan. Ana pun langsung membuka obrolan, yang memang dari tadi dia sudah sangat ingin ia bicarakan.
"Cewek tadi siapa sih?" tanya Ana.
"Mantan," balas Jino dengan tampang yang langsung berubah jadi bad mood.
"Ohh... punya mantan juga lo ternyata?"
"Ya punyalah! Masak enggak? Helloooo... cowok kayak gak punya mantan kayak gue tuh impossible."
"Heh, punya mantan tuh bukan sesuatu yang harus dibanggakan ya? Lagian apaan sih lo lebay amat." Kata Ana sembari memukul pelan pipi Jino.
"Aduh sakit!" seru Jino sembari memegangi pipinya.
"Lebay lagi gue tampol lebih keras nih," ancam Ana.
"Ih jangan, muka gue tuh bisa buat cari uang."
"Kata siapa?"
"Abang Lucas, panutan sejuta umat cowok-cowok di kampus."
"Pasti orang aneh deh," gumam Ana sembari menggelengkan kepalanya.
"Jadi cewek tadi tuh mantan lo, mantan pas kapan?" Ana mulai kembali ke topik awal pembicaraan mereka.
"Pas SMA kelas dua, tapi cuman setahun habis itu putus." Kata Jino.
"Kenapa putus? Lo selingkuh?"
"Ih ya enggaklah! Gue tuh tipe cowok yang setia."
"Ya terus?"
"Kalau gue kasih tau penyebab lo pasti bakal gak habis pikir."
"Emang apa sih? Bikin penasaran aja."
"Kita putus, gara-gara gue ketahuan pakai sunscreen."
"Hah?" Ana langsung menatap Jino dengan tatapan yang mengekspresikan berbagai perasaan, terutama bingung.
"Katanya gue kecentilan pakai gituan, dia aja enggak. Soalnya aku kan tomboy, gak pakai gitu-gituan," Jino menggunakan nada yang dibuat-buat di kalimat akhir. "Gue inget banget ya, dia suka ngomong, aku mah gak pernah perawatan, gak suka dandan. Ihh aku mah gak pernah masuk dapur, aku gak bisa masak. Aku tuh tomboy, akh! Kenapa dia gak sekalian ganti kelamin aja sih?!"
"Tapi dia kan jadi b***k anjir, giliran gue ngelirik yang bening dia marah. Astagaaa... sumpah deh, kalau gue inget masa-masa pacaran sama dia tuh bikin emosi."
"Cuman gara-gara gue ketahuan pakai sunscreen, dia mempermalukan gue di depan banyak orang. Dia teriak dong, sumpah! Ihh Jino, apaan sih?! Kok pakai skincare, lo kan cowok! Hancur imej gue, hancur!"
Jino bercerita dengan menggebu-gebu, sampai jadi pusat perhatian banyak orang.
"Sabar dong bro, lo ceritanya kayak cewek aja." Kata Ana dengan nada pelan.
"Kesel gue Na, kesel! Apa yang salah sama apa yang gue lakuin?"
"Iya enggak, lo gak salah. Dia aja yang mikirnya kolot."
"Nah emang," kata Jino sembari menghela napas dan melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Terus kenapa lo pacaran sama dia?" tanya Ana.
"Karena dia unik. Dia tuh sebenernya anak kelas satu, waktu gue kelas dua. Dia belum banyak kegiatan gitu di sekolah, jadi gue gak tau dia kayak gimana. Dia kan tomboy ya, gak ngejar-ngejar gue kayak cewek lain, akhirnya gue pacarin lah. Gue mah gak papa ya b***k, gak bisa masak, atau lain-lain, karena gue sangka baiknya dia bisa hal lain. Minimal main basket, karena gue suka banget basket. Gue kira dia bisa diajak main bareng, ternyata enggak."
"Basket gak bisa, sepak bola gak bisa, main game juga gak bisa, dia cuman bisa naik sepeda. Oke, itu semua bukan masalah utamanya juga, tapi tiap diajak ngomong dia juga sering gak nyambung, banyak diemnya, katanya gara-gara dia tuh anti sosial, jadi susah gitu buat ngobrol sama gue. Kalau dia anti sosial, dia gak bisa sekolah, sama keluarganya udah gak interaksi. Temennya sendiri emang dikit, karena dia emang gak mau gaul aja, katanya fake friend semua. Ya mana ada sih temen yang sempurna? Kalau mau punya temen yang sempurna mah, gak akan punya temen sampe mati."
"Hah, pokoknya kalau gue ngomongin dia gue emosi."
Ana mengangguk-nganggukan kepalanya terlebih, sambil memproses celotehan panjang lebar Jino.
"Dia waktu itu kan masih remaja, remaja itu sukanya pengen keliatan beda dari yang lain. Dan jadi tomboy, gak suka dandan, gak bisa masak, itu tuh... kayak semacam hal langka buat perempuan. Padahal sekarang banyak yang ngaku kayak gitu, jadi udah gak jarang dong. Dia juga kayaknya udah perawatan tuh, rambutnya aja keliatan halus banget." Kata Ana.
"Lo juga harusnya udah dewasa dong, menganggap itu masa lalu, pengalaman, cerita yang lucu buat diceritain di masa depan. Gak usah emosi."
Jino mengerucutkan bibir. "Ya habis gimana? Dia tuh udah mempermalukan gue."
"Emang lo sekarang ketemu lagi sama temen-temen pas SMA lo? Kecuali kalian nanti reunian, udah beda cerita." Kata Ana. "Mereka juga emang gak bertambah tua? Gak bisa mikir dewasa dan bijak gitu? Masak pikirannya masih kayak pas SMA aja. Hidup mah dibawa santuy aja."
"Hah, iya deh, iya. Tapi menurut lo emang salah cowok perawatan?"
"Ya enggaklah. Gue juga gak mau kali punya cowok yang burik."
"Cuman asli Na, gue merinding kalau inget mantan gue itu, gak mau lagi deh ketemu."
"Tapi gara-gara lo gue sekarang bakal ketimpa masalah," raut wajah Ana jadi berubah serius, membuat Jino mengernyitkan kening.
"Masalah apa?"
"Lo bilang ke dia kalau gue beauty vlog, dia bisa jadi langsung nyari-nyari tentang gue."
"Ya enggak mungkinlah, dia tau nama lo aja enggak. Kalau dia emang beneran nyari, ya udah lo bikin video makeup dong."
Satu jitakan mendarat di atas kepala Jino. "Emangnya segampang itu apa?!"
"Gue bantu deh, bahkan gue bantu promosi. Oh, oh, atau gini, gue punya rencana. Ini bakal untung banget buat kita berdua."
"Apaan?"
"Kita pura-pura pacaran di dunia maya, buat cari uang aja, gimana?"
"Gila lo," respon Ana yang membuat Jino otomatis memajukan bibir bawahnya.
"Gini Na, ceritanya lo udah mulai nge vlog nih. Habis itu lo pura-pura pacaran sama gue, biar channel lo langsung banyak dikepoin orang. Untung bangetkan buat lo? Sedangkan keuntungan buat gue, si mantan gue itu gak akan ganggu gue lagi." Kata Jino.
"Emangnya dia selama ini gangguin lo?"
"Selalu Naaa... dia cuman pakai akun beda-beda buat dm gue, tapi gue tau itu tuh dia. Dia pasti susahlah move on dari gue."
"Berapa sih pengikut lo emang?"
"Ratusan ribu,"
"Gue pikir-pikir dulu deh, soalnya gue kan gak kepikiran buat jadi vlogger."
"Serius gak kepikiran? Makeup lo kece loh, jujur."
Ana menopang dagunya, sembari menghela napas. Iya, udah kepikiran kok, soalnya hasil dari nulis gak seberapa, malah selalu mengecewakan. Sampai-sampai gak pernah berani minta royaltinya ke penerbit, soalnya paling cuman berapa ribu. Bahkan sering gak nyampe seratus ribu. Kan jadi malu buat mintain royaltinya.
Tapi... dia gak punya kamera, gak punya ring light, dan keperluan vlog lainnya. Masih belum berani juga buat nampangin mukanya di depan kamera, apa lagi sampe ngomong.
Baru ngebayanginnya aja udah merinding.
"Ah, gue gak mau ah!" seru Ana tiba-tiba dengan nada tinggi yang membuat Jino terkejut.
"Ya udah kalau enggak mau selow aja kali. Ya mudah-mudahan aja mantan gue itu emang gak akan ngusik-ngusik lo. Maaf udah ngelibatin lo." Tutur Jino.
"Iya..." gumam Ana.
"Kenapa jadi panik gitu lo?"
"Enggak papa,"
Jino akhirnya memilih tidak bertanya lebih lanjut. Untungnya pesanan mereka tak lama datang, Jino dan Ana pun mulai sibuk dengan es kelapa mereka masing-masing, sambil main ponsel.
Tapi tak lama, raut wajah Jino tiba-tiba berubah serius, saat menerima direct message dari seseorang.
Atika19:
Bohong lo, pacar lo tadi bukan vlogger tuh, dia cuman penulis gak laku ajakan?
Atau jangan-jangan dia juga sebenernya bukan pacar lo?
Jino mendengus.
Dia kan lagi latihan. Lagian apa urusannya sama lo dia vlogger beneran atau bukan?
Dia emang seneng makeup, gue gak ngelarang, malah ngedukung. Karena makeup itu seni.
Dan gue beneran pacaran kok sama dia.
Mana buktinya? Gue bahkan gak nemuin foto kalian bareng.
Karena kita gak mau ngumbar kemesraan.
Udah deh, ngaku aja kalian aslinya gak pacaran.
Bodo amat lo mau apa percaya atau enggak. Yang jelas jangan ganggu gue.
"Kenapa lo?" tanya Ana yang menyadari perubahan raut wajah Jino.
"Entar kalau ada akun-akun gak jelas ngirim pesan ke elo, atau komentar-komentar gak jelas di postingan lo, langsung blokir aja." Kata Jino, tanpa membalas pertanyaan Ana.
"Oke," gumam Ana. Dia jadi malas untuk bertanya lagi karena tidak dijawab. Bukan urusannya juga sih.
•••
"Inget janji lo ya? Jangan mainin motor." Kata Ana sambil turun dari motor Jino.
"Iyaaa..." dengus Jino.
Ana pun melepas helmnya, dan memberikannya pada Jino.
"Makasih buat hari ini," ucap Ana.
"Iya, kayak yang diajak kencan aja lo."
"Jadi gak mau kalau gue bilang makasih?"
"Enggak, mau, mau banget. Udah ah, gue lagi capek barantem."
"Ya udah gue pulang dulu." Kata Ana sambil berbalik badan menuju rumahnya. Jino memang memberhentikan motornya di depan rumahnya sendiri.
"Gak ada sun atau hug?"
"Tinju aja gimana?"
•••
Ana baru saja akan mengaplod foto tiket bioskop tadi, serta makanan dan minumannya, tapi tiba-tiba masuk notifikasi, kalau Jino mengikuti akunnya.
Akhirnya hanya Ana uplod di story, dan Ana membuat akun Jino tidak bisa melihat postingannya.
'Baru kali ini diajak nonton seseorang. Gue seneng banget,' tulis Ana di foto.
Tak lama banyak notifikasi masuk yang beruntun, sambil bersungut Ana membukanya. Rupanya dari Jino yang berkomentar di banyak postingannya, minta follback.
"Nyebelin banget sih nih orang," gumam Ana.
Ana akhirnya membuka akun Jino, sebelum mengikuti balik Jino, Ana terlebih dahulu melihat isi akun Jino. Isinya hanya foto-foto selfie Jino.
Yah kadang ada foto pemandangan dan makanan sih. Malah kalau Ana tidak ada. Ya jelas enggak adalah, orang gak pernah kemana-mana.
Ting, satu notifikasi masuk lagi.
Hyunjeans_: Woy follbackkkkkkk!!!
Ana mendengus. Dia malah jadi malas untuk mengikuti balik Jino.
Sepuluh menit berlalu, jendela kamarnya tiba-tiba ada yang ketuk.
"Ana follback!"
"Woy k*****t banget sih lo!" teriak Ana yang terkejut.
Ana berjalan ke jendela, dan membuka gordennya, ia menemukan Jino yang sedang menempelkan wajahnya pada kaca, membuat Ana terkejut.
"Lo ke sini cuman buat minta follback? Emang pengangguran ya lo?"
"Enggak kok, itu cuman alesan, gue ke sini karena kangen."
"Gue tampol nih?"
"Ih baper dong harusnya,"
"Maaf ya, gue bukan cewek yang gampang dibikin baper."
"Alah, bohong, padahal aslinya lo baperkan?"
"Jangan buang waktu gue cuman buat ngeladenin lo." Kata Ana sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Gue ke sini emang ada yang mau diomongin kok, beneran." Kata Jino.
"Apaan?"
"Lo beneran gak mau coba jadi vlogger?"
"Enggak kayaknya."
"Kenapa?" tanya Jino dengan nada dramatis.
"Gak ada kamera, gak punya lampu, gak ada mic, dan yang terpenting, gue juga gak punya keberanian buat ngomong di depan kamera, atau ngekspos wajah dalam bentuk video."
"Tapi keinginan ada enggak?"
Ana mendengus. "Ya sedikit,"
"Ya gue tau sih, gue gak pantes ngomong kayak gini. Tapi kalau gak dicoba, kapan jadinya? Gue bisa kok minjemin lo hp gue, bagus nih kameranya, gue juga punya ring light buat selfie, pakai pencahayaan matahari juga bagus. Dan rasa takut itu harus dilawan, soalnya gak akan hilang sendiri." Tutur Jino, yang membuat Ana tercenung.
Ia tak lama membuka kaca jendelanya, membuat Jino otomatis melangkah mundur sedikit. Ana mencondongkan tubuhnya keluar jendela, hingga jarak wajahnya dengan Jino tidak terlalu jauh.
"Gue penasaran, kenapa lo kayaknya ngedukung gue banget buat kayak gitu. Gak mungkin cuman gara-gara mantan lo kan?"
•••
"Kalau Ana jadi vlogger kan, apa lagi beauty vlog, nanti suka diundang ke event-event gitu, mau gak mau dia bakal keluar dari rumah dan interaksi sama orang."
Jino menganggukan kepalanya setuju mendengar penuturan Ibu Ana.
"Lagian dia itu punya banyak makeup, gak akan habis kalau cuman dipakai pas mau pergi. Tapi dia itu gak suka terlalu didorong, bahkan sama saya jadi sering berantem kalau saya dorong dia buat ngelakuin ini itu. Dia bisa nerbitin novel aja, kalau enggak karena saya paksa, dia gak mau nerbitin novelnya."
"Loh kok gitu?"
"Dia gak percaya diri,"
"Ya udah Bu, biar Jino bantuin Ana buat jadi vlogger sesuai kemauan Ibu. Jino mau ya? Nanti Mama beliin motor ninja."
"Bisa diatur,"
•••
Ana memicingkan matanya, sementara Jino memasang tampang sok polos.
"Ada udang di balik apaan nih?" tanya Ana.
"Enggak kok, cuman ada sayur nangka di bawah nasi padang." Kata Jino sebelum menutup mulutnya.
"Kenapa nyambungnya ke nasi padang?"
"Habis setiap beli nasi padang yang dibungkus, sayur nangkanya suka ada di bawah nasi."
"Udah deh, gue capek seharian ini pergi, mau istirahat." Kata Ana sembari hendak menutup jendela kembali, tapi Jino langsung menahannya.
"Cuman pergi dari pagi sampe sore masak udah capek?" kata Jino.
"Gue kan gak biasa pergi. Udah ah, gue cap-" kalimat Ana terhenti, karena melihat sebuah motor dengan pengendaranya yang menggunakan jaket merah, berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
"Permisi, paket!"
"Woah Mas!" Ana langsung menyapa tukang paket yang baru datang melalui jendela. Jino menoleh ke depan pagar rumah, si tukang paket yang baru turun dari motor langsung tersenyum sebelum sibuk merogoh kantung yang ada di motornya, tempat di mana paket-paket diletakan.
"Cih, sok ganteng," gumam Jino sembari melipat kedua tangannya di depan d**a.
"Bentar ya Mas, aku bentar lagi keluar." Kata Ana sembari menutup jendela, yang membuat Jino mundur mendadak dan tercenung.
"Aku? Bahasa lo sama tukang udah aku kamu?!" protes Jino, yang padahal belum tentu dapat didengar Ana.
Sambil menunggu Ana keluar dari rumah, Jino berjalan mendekati si tukang paket.
"Malem Mas," sapa kurir paket itu santun.
"Hhm, malem juga." Kata Jino sembari melipat kedua tangan di depan d**a.
"Pacarnya Mbak Ana ya Mas?" tanya kurir paket.
"Kok bisa tau nama cewek tadi?"
"Saya kan sering nganterin paketnya, di paketnya itu udah ada namanya."
"Oh iya, saya lupa. Iya, saya pacarnya, cuman kemaren emang lagi berantem, makanya gak akur. Mas ini kayaknya seumuran sama saya dan Ana, berapa umurnya Mas?"
"21 tahun,"
"Woah, muda banget, tapi masih mudaan saya setahun. Gak kuliah?"
"Saya udah lulus,"
Jino manggut-manggut. "Siapa namanya Mas?"
"Hendra,"
"Oke Mas Hendra," raut wajah Jino tiba-tiba berubah serius, ia kemudian meletakan salah satu tangannya pada pundak kurir paket yang rupanya bernama Hendra.
"Apa Mas enggak bosen? Sering nganterin paket ke sini?" tanya Jino.
"Oh ya enggaklah, itu kan emang udah kerjaan saya. Saya justru seneng setiap nganterin paket, soalnya si penerima paket wajahnya bakal berseri-seri." Balas Hendra.
"Hhmm, padahal mukanya preman, saya kira Mas bakal ngumpat. Soalnya saya aja kesel sama kebiasaan pacar saya ini. Oh satu lagi Mas, Mas punya pacar?"
Hendra menggelengkan kepala. Sebenarnya ia dari tadi risih dan bingung dengan sikap Jino, tapi memilih ditahan.
Jino tak lama menjauh darinya sambil berkacak pinggang.
"Bener gak punya?"
"Iya bener,"
"Kalau gitu jangan coba-coba deketin Ana deh, dia galak."
Duk! Hendra melebarkan matanya, saat tubuh Jino tiba-tiba jatuh ke depan. Di belakangnya rupanya sudah ada Ana yang mengangkat satu kakinya.
'Anjir, cewek ini ngeri banget,' batin Hendra.
"Maaf Mas, dia emang suka banyak ngomong gak jelas, yaahhh... bisa diliat dari bibirnya. Jadi gak usah didengerin." Kata Ana sambil nyengir.
Ana kemudian hendak berjalan menghampiri Hendra, tapi pergelangan kakinya tiba-tiba ditahan Jino.
"Ana, tulang hidung gue patah," kata Jino lirih, yang membuat Ana dan Hendra langsung panik.
"Tulang hidung gue patah Na! Darahnya keluar terus ini!" Jino tiba-tiba berteriak, yang membuat Ana dan Hendra semakin panik.
"Hwaaaa... ya ampun hidung gue!!!"
Hendra yang sebelumnya hanya berdiri di depan pagar langsung masuk ke halaman. Ia dan Ana pun menarik bersama tubuh Jino ke belakang, tapi kaki Jino malah kelipet secara paksa.
"Adu duh sakit! Yang bener dong!" seru Jino.
"Ya udah saya gendong aja Mas," kata Hendra sebelum tiba-tiba mengangkat tubuh Jino.
Ana melotot. Enggak, bukan karena Hendra yang bisa dengan kuat mengangkat tubuh bongsor Jino. Tapi cara gendongnya itu...
"Ya gak digendong ala bridal juga dong! Aduh!" protes Jino.
"Sebentar aja kok Mas, yang penting Mas gak papa."
"Gue panggilin ambulan dulu Jin! Mas, dia ditaruh di kursi yang ada di teras rumah aja."
"Kelamaan Mbak kalau ambulan, naik motor saya aja."
•••
"Jadi cuman lecet?" tanya Ana.
"Iya," balas Dokter yang menangani Jino.
"Tapi darahnya tadi banyak banget keluar dari hidung, minimal tulang hidungnya jadi miring, ini enggak?"
"Enggak. Kalau mimisan... emang akibat karena kena benturan, tapi gak parah kok. Itu ada faktor karena dia kecapean juga."
"Oh gitu ya Dok? Makasih Dok."
Ana mengepalkan tangannya. 'Sabar Na, sabar, ini salah lo juga kok tadi udah nendang dia. Ini salah kamu juga Na, gak papa malu dikit.'
"Jino kenapa?"
"Jino gimana?"
"Kok sampe dibawa ke IGD?"
Ana hanya menatap datar teman-teman Jino yang baru datang dengan raut wajah panik.
"Tulang hidungnya diamputasi," kata Ana asal, yang membuat teman-teman Jino semakin dramatis.[]