02

3864 Kata
"Mah, are you kidding?" "Gak usah sok english kamu," kata Ibu. "Aku kan anak sastra Inggris mah." Sungut Jino. "Yah pokoknya Mama serius, Mama juga udah obrolin sama Papa, sama orang tua Ana." "Ya ampun, mau nonton aja ribet amat." Komentar Jino. "Ana itu gak kenal dunia luar, dia cuman taunya lewat media sosial. Info yang ada di media sosial seakurat apa sih? Dan Mamanya Ana bilang, yang sering Ana liat itu info-info pembunuhanlah, p*********n, yang akhirnya bikin Ana sering parno sama orang. Dia juga minderan, menurutnya semua orang benci sama dia, gak terkecuali adek-adeknya. Yahh, cuman orang tuanya aja yang dia anggep gak benci sama dia, tapi kecewa." Ujar Ibu. "Yah, siapa sih Ma yang suka sama cewek berwajah jutek dan dingin kayak dia? Nada suaranya aja Mama denger sendirikan? Datar, berat, dingin, hihhh... aku mah merinding tiap denger suaranya." Balas Jino. "Ck, kamu itu, sejak kapan diajarin nilai orang dari fisiknya aja?" "Masalahnya kalau penampilannya rapih, mau fisiknya kayak apapun gak masalah. Lah Ana ini? Mama liat sendirikan? Kulitnya pucat, tatapan matanya kosong, dan bajunya, aduhhh..." "Pokoknya Mama mau kamu ajak dia nonton bioskop sama kamu! Titik. Inget dong jasa Ayahnya yang udah nemuin si baby blue." "Haduh, gimana caranya Ma? Susahlah..." protes Jino. "Usaha aja belum. Usaha dulu, baru bilang susah." Jino mendengus. "Lagian kok ada sih manusia kayak dia? Heran." "Masih mending loh itu. Banyak orang yang bener-bener anti sosial, sampe ketemu keluarganya aja gak mau." Balas Ayah. "Ada yang gitu Pa?" "Ya ada. Introvert, anti sosial sama phobia sosial itu beda loh yaa... nah kalau si Ana ini kayaknya phobia sosial. Soalnya Papanya cerita, Ana itu dulu pas kecil ceriwis, dan gampang akrab sama orang." "Kalau si Ana emang phobia, coba bantuin dia keluar dari rasa takutnya itu Jin. Nanti Mama beliin motor ninja deh." "Ih Mama, aku kan bukan psikolog," "Dorongan terkuat seseorang buat keluar dari rasa takutnya, bukan psikolog. Tapi diri sendiri sama orang terdekat." "Maa, aku sama dia musuhan lo." "Eehh, kalian udah dewasa loh. Udah dewasa itu gak lagi main musuh-musuhan sama orang. Apa lagi alesannya gak jelas kayak kalian." Jino mendengus. Kalau debat dengan Ibunya memang tidak akan pernah menang. ••• Ana menangis di depan laptopnya. Menangis karena apa juga tidak tahu, yang jelas mood- nya saat ini sedang buruk, dan ia ingin menangis. Jadi ia menangis. Itu juga hanya sebentar, tak berselang lama ia mengusap air matanya, dan langsung berkutat lagi dengan laptopnya, seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa. Kalau orang melihat tingkah Ana, mungkin sudah menganggap Ana gila. Yah, terkadang Ana juga berpikir seperti itu sebenarnya. Banyak yang mendorongnya untuk pergi ke psikolog di media sosial, tapi Ana merasa dia 'masih' baik-baik saja. Ana merasa hidupnya baik-baik saja, meskipun tidak seberuntung orang lain, atau seburuk orang lain. Orang tuanya baik, adik-adiknya... yah, nakal sih. Tapi mau bagaimana lagi? Kadang-kadang Ana tidak bisa merasakan emosi tertentu. Dia bisa bersikap seolah sedang frustasi, padahal 'hal' yang sedang dihadapinya adalah sesuatu yang seharusnya membuat senang. Ana kadang perlu meraba perasaan sedih dan senang. Sebelum dia menunjukan ekspresi yang sesuai. Tapi ekspresinya lebih sering tidak ada. Ana sempat berpikir, apa ini karena efek kesepian? Setahunya kesepian memang bisa bikin gila. Tapi... Ana merasa nyaman tuh hidup tanpa teman. Mau itu teman hanya kenal nama, fake friend atau apapun itu, Ana benar-benar tidak punya teman. Kesannya kayak diada-ada. Enggak, tapi ini beneran ada. Tok, tok, tok. Ana terkejut karena tiba-tiba mendengar suara ketukan di jendela kamarnya. "Permisi, paket." Kening Ana mengernyit. Sejak kapan tukang paket mengetuk jendela kamarnya, bukannya pintu utama rumah? Ana jadi ngeri. Jangan-jangan itu orang iseng, atau tukang paket tadi sebenarnya berbahaya? Karena memang pernah ada tukang paket yang mengintip ke jendela kamarnya setelah mengantar paket. Mengingatnya saja sudah membuat Ana merinding. "Permisi, paket." "Woy Na! Buka dong!" Ana terdiam, suara yang kali ini, sepertinya terdengar familiar. Karena sebelumnya, suara saat dia mengatakan 'permisi, paket' itu agak beda. Lebih berat. Ana akhirnya memberanikan diri turun dari kursi yang ia duduki, dan berjalan ke jendela kamarnya. Tapi tidak langsung ia buka. "Siapa?" tanya Ana. "Tebak," balas suara itu. "Saya panggil Ayah saya ya?!" "Aduh masak lo gak hafal suara gue sih Na? Gue Jino." "Mau ngapain lo ke sini?" "Ada yang mau gue omongin, udah bukain dulu jendelanya." Dengan tangan gemetaran Ana akhirnya memberanikan diri untuk membuka gordennya, tapi tidak dengan jendelanya. Cowok bersurai hitam panjang itu mendengus, menatap malas Ana yang hanya membuka tirai. "Buka juga jendelanya," kata Jino. "Mau ngapain?" Jino terdiam sejenak, saat ia menyadari gesture Ana yang sepertinya ketakutan. "Jangan takutlah, gue gak akan ngapa-ngapain." "Mana bisa gue percaya sama lo," Jino mendengus. "Ya udah deh terserah. Gue ke sini mau anter paket nonton bioskop dari Mama gue. Lo mau enggak? Kalau mau minggu kita nonton." "Kita?" "Iya, lo sama gue. Aduh, gue sebenernya males ya, males banget malah. Cuman itu film yang pengen banget gue tonton, tapi uang jajan gue terbatas, soalnya dibagi dua buat baby blue juga. Jadi gue gak bisa nonton. Nah, Mama gue berbaik hati beliin tiket, syaratnya gue harus nonton sama lo." "Gak mau. Maaf ya, gue gak gampang diajakin jalan sama sembarangan cowok." Jino mengerjapkan matanya. "Lo gak liat betapa polosnya wajah gue ini? Mana mungkin gue bakal apa-apain lo?" "Cowok yang mukanya polos, otaknya bisa aja predator. Lagian muka lo gak keliatan polos tuh, malah nakal. Nakal banget." "Anjir, gue tuh anak baik-baik." "Bukannya lo anak Mama, Papa lo?" "Gak lucu," "Pokoknya gue gak mau," "Ayolahhh..." kali ini Jino memasang ekspresi memelas. "Kalau lo gak percaya sama gue, gue ajakin deh temen-temen gue. Gue punya enam temen yang lucu-lucu dan unyu-unyu. Kemaren waktu lo ke rumah gue, lo ketemu mereka kok." "Apa lo bilang? Lucu dan unyu?  Lo gak nyadar ada yang lengannya gede banget? Yang rambutnya putih." Jino terdiam sejenak, untuk mengingat-ngingat siapa yang punya lengan besar selain dirinya di antara teman-temannya. "Ardan? Blonde kali rambutnya, bukan putih." "Ya tau deh siapa, gue gak peduli. Yang penting gue gak mau." Ana mengucapkan kalimat terakhir dengan penuh penekanan. "Ayolah Naaa... masak cuman gara-gara tangannya besar lo jadi takut? Kitakan cowok, udah masa puber, kalau masih kurus kering aja ya mengkhawatirkan dong." "Aduhhh... pokoknya gue gak mau. Ngebayangin gue jalan sama lo aja merinding, apa lagi ditambah temen-temen lo. Enggak, makasih." Kata Ana sebelum akhirnya menutup gorden jendelanya. "Astagaaa... baru kali ini gue ketemu orang kayak gitu." Gumam Jino. ••• Sekarang hari jum'at, hari minggu itu terakhir filmnya tayang di bioskop. Jino tentu saja jadi kalut, pusing, mata berkunang-kunang, mual, dan lain sebagainya. Yah, itu sebenarnya hanya perasaan Jino saja. Selama jam mata kuliah berlangsung, Jino sama sekali tidak fokus. Dia memikirkan berbagai macam cara agar bisa mengajak Ana nonton. Sementara itu Ana di rumah sibuk mencoba bereksperimen dengan makeup-makeup yang baru ia beli. Kalau sudah selesai membuat look yang ia inginkan, Ana akan mengambil beberapa foto, mengeditnya, lalu mengirimnya ke media sosial. Media sosial sempat jadi tempat teraman bagi Ana untuk menunjukan dirinya. Tapi lama-lama... tidk suka. Mulai banyak yang membencinya, mulai banyak laki-laki yang memperhatikannya, dan itu otomatis membuat Ana sebenarnya takut. Tapi dia sudah jadi pengecut di kehidupan nyata. Ana mau jadi sedikit lebih berani di media sosial, meskipun dia tidak pernah berkomentar di postingan orang atau nge- chat duluan. Saat baru posting foto, seseorang mengirim direct message padanya, membuat Ana jadi sedikit bersemangat. Tapi ternyata pertanyaannya langsung membuat semangatnya seketika memudar. Kak, foto sendiri terus. Ana manyun, tapi ia tentu saja tetap membalas pesan tersebut. Kan emang gak punya temen. Balasan datang beberapa menit kemudian. Sama Kak, semua fake friend. Ana membalas lagi. Hahaha, gitu yaa... gak papa masih muda, nanti juga kalau udah tua bakal nemu temen yang bener-bener temen. "Gue udah tua atau masih anak-anak ya?" gumam Ana. "Masih anak-anak kali, makanya belum nemu temen." Ana menghela napas, sembari membaringkan tubuhnya di kasur. Ia kemudian membuka aplikasi online shop, untuk melihat barang pesanannya sudah sampai mana. Ngeliat tracking-an barang, adalah salah satu kesenangan baginya. Inginnya barang cepat-cepat datang, tapi kalau sudah tidak ada yang di tracking, jadi bete juga. Padahal yang Ana beli itu bukan barang-barang penting, malah terkesan sampah. Nanti beberapa minggu kemudian, Ana bisa dipastikan akan menyesal sudah beli barang itu. Tok! Tok! Tok! "Permisi, paket!" Ana tersentak saat tiba-tiba pintu diketuk dengan brutal. Ana otomatis langsung bangkit berdiri, dan berlari ke pintu tanpa menggunakan celana panjang dulu seperti biasa. Cklek. Ana terhenyak, matanya melebar, begitu ia membuka pintu, dan yang berdiri di depan ternyata bukan tukang paket. Ana langsung mau menutup pintu kembali, tapi si pelaku yang sudah mengetuk pintu dengan brutal dan berteriak ada paket, langsung menahan pintu. "Tunggu, tunggu, Na!" dia tentu saja Jino. "Gue kirain beneran tukang paket njer! Gue ini masih pakai celana pendek!" "Ya terus kalau beneran tukang paket, lo gak malu gitu pakai celana pendek gitu hah?!" "Gue bakal keluarin setengah badan!" "Apaan?! Tadi aja lo buka pintu lebar-lebar kayak gitu!" "Lo bikin gue panik tau! Makanya kalau gedor pintu yang sopan dong, pakai teriak ada paket lagi! Salam harusnya!" "Aduh Na, biarin gue masuk dulu dong." "Tunggu dulu, gue pakai celana panjang dulu. Lo di luar dulu," Jino akhirnya menurut untuk menunggu di luar. Sementara Ana kembali ke kamarnya untuk menggunakan celana panjang. Tak berselang lama, Ana kembali ke pintu depan, dan langsung membukakan pintu lagi untuk Jino, hanya saja tetap tidak dipersilahkan masuk. "Mau ngapain sih lo? Bujuk gue lagi buat nonton?" tanya Ana. Jino menganggukan kepalanya sembari memasang ekspresi memelas sebagai respon. "Haduh, udah gue bilangkan? Gue gak mau." Kata Ana. "Ayolah, pleaseeeee... Gue anak baik-baik, gak akan ngapa-ngapain loh. Sumpah, suwer, tekewer-kewer." Kata Jino sembari mengangkat ke empat jari telunjuk dan tengahnya. Ana mendengus. Ia terdiam sejenak, sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. "Oke, tapi ada syaratnya," kata Ana. "Apa? Apa syaratnya? Apapun itu bakal gue lakuin." Kata Jino dengan raut wajah berubah sumringah. "Selama seminggu, jangan mainin motor lo. Kalau emang mau lo otak-atik, di tempat lain aja." Kata Ana yang membuat ekspresi sumringah Jino langsung hilang. "Yah, kok gitu?" "Ya itu syaratnya. Katanya lo bakal lakuin apapun kan?" Jino menggeram kesal, tapi pada akhirnya dia menyerah dan menyetujui syarat Ana. "Oke, gue terima syarat lo." Kata Jino. "Gue pantau loh, kalau lo ngelanggar, siap-siap aja bensin motor lo habis dalam semalam." "Heh, mana bisa?!" "Jangan salah ya, bokap gue pernah jadi anak motor. Jadi gue tau gimana caranya ngancurin motor lo itu." Jino menelan ludahnya. "Jangan sakitin baby blue." "Makanya, lo gak boleh langgar syarat dari gue tadi." Jino manyun. "Ya udah deh, tapi bener ya hari minggu mau nonton." "Iyaa..." balas Ana. "Ya udah gue pulang dulu," "Kok gak seneng? Kan gue udah setuju nih diajakin nonton sama lo." "Ya pikir aja sendiri," Jino akhirnya pergi, sementara Ana belum masuk lagi ke dalam rumahnya. Ia memperhatikan punggung Jino, yang menjauh, sebelum akhirnya menghilang di balik tembok rumahnya. Ana menarik ke atas sudut kiri bibirnya. Ia kemudian masuk ke dalam rumah, dan masuk ke kamarnya dengan girang. Akhirnya sepi! ••• Ana menutup layar laptopnya, kemudian menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Semangat nulisnya sudah sangat jauh berkurang belakangan ini, rasanya ingin berhenti saja. Atau kembali menulis untuk majalah. Tapi zaman sekarang majalah sudah tidak terlalu laku, sudah jarang juga majalah yang membuka lowongan untuk penulis mengirim cerita ke mereka, ditambah kalau memang ada majalah yang membuka lowongan, tidak semudah itu tembus. Koran? Ana cuman sekali tulisannya tembus di koran. Koran lebih susah lagi tembusnya, dan lebih jarang lagi penikmatnya. Susah hidup jadi penulis. Apa lagi sekarang banyak penulis baru yang lebih keren, lebih banyak digemari tulisannya, karena tata bahasanya yang sudah upgrade, idenya lebih segar, karena emang penulisnya masih piyik, kalau enggak emang anak gaul, gak kayak Ana. Ana mendengus. "Hiatus sehari deh," gumam Ana. Ia turun dari kasurnya, dan membuka ponselnya. Awalnya main media sosial, ujung-ujungnya pergi juga ke aplikasi novel online, dan menulis. 'Memang b*****t otak dan jari ku ini,' batin Ana. Saat sedang asik mengetik, tiba-tiba terdengar suara musik keras yang datang dari rumah sebelah, beserta suara nyanyian yang melengking. "I came in like a wrecking ball! I never hit so hard in love! All I wanted was to break your walls! All you ever did was break me! Yeah, you wreck me!" Duk! Ponsel Ana otomatis jatuh ke atas wajahnya. "Jino!" teriak Ana kesal. Ia langsung turun dari kasur, mengenakan celana panjangnya, sebelum keluar dari rumahnya dan berjalan ke rumah Jino. Tok! Tok! Tok! Tidak ada jawaban. 'Mama sama Papanya emangnya gak ada di rumah apa?' batin Ana. Tok! Tok! Tok! "Jino! Buka pintunya!" "Jino!" "Jino baby blue lo gue pretelin nih!" "Jino, kalau ada ban ngehantam kaca jendela kamar lo, itu ban baby blue!" Cklek. Pintu akhirnya Jino buka. Ana terkejut karena Jino tidak pakai atasan, hanya celana jeans pendek yang ia kenakan. Ana langsung mengangkat kakinya, hendak menendang. Tapi Jino buru-buru melindungi dirinya dengan pintu. "Ya ampunnn, lo tuh kasar banget jadi cewek." Kata Jino. "Lo tau malu dong bangsat." Balas Ana. "Ana, istigfar Ana, gak boleh ngomong kasar... dosa... eta terangkanlah..." kata Jino dengan masih melindungi setengah badannya dengan pintu. Ana mendesis kesal. "Udah ya langsung ke intinya aja. Lo gak mainin motor, tapi bukan berarti lo bisa bikin kegaduhan dengan cara lain." "Gue gabut, tugas kuliah udah selesai, terus di rumah sepi, Papa kerja, Mama arisan." "Gue gak mau denger curhatan lo, yang gue mau, tolong tenang!" "Gak bisa..." "Gue pretelin beneran nih si baby blue," ancam Ana. "Iya, iya, maaf, gue bakal lebih tenang deh." Kata Jino. "Tapi, tapi... gue mau nanya, rumah lo sepi amat." "Papa gue dines, Mama gue jenguk temennya yang baru lahiran, adek-adek gue sekolah." "Kayaknya ada satu yang gak sekolah sama asrama." "Dia lagi dateng ke event," Jino membentuk mulutnya jadi O. "Bahaya loh sendirian," "Udah biasa gue," "Kalau ada hantu gimana? Denger-denger rumah sebelah itu, kenapa gak laku-laku, karena kuntinya. Dia tinggal di atas genteng." "Percaya lo sama gituan?" "Gimana gue gak percaya, orang gue pernah denger cekikikannya kok, hih, merinding kalau inget." Ana diam, ia kemudian melirik ke atas atap rumah Jino, yang bertepatan di atas kamar Jino. "Dia sebenernya ada di rumah lo sih. Udah sana pakai baju, entar dia ngebet lagi pengen dinikahin sama lo. Gue balik dulu, awas berisik lagi. Anceman gue gak bohongan ya." Setelah berkata demikian, Ana langsung melengos pergi. Sementara Jino mematung di tempat. Matanya mengerjap, dengan ludah yang ia telan dengan susah payah. 'Cerita ini genrenya romance kan ya? Bukan horror?' Jino buru-buru menutup pintu rumah. Ia ke kamarnya untuk pakai atasan, dan membawa semua mainannya, sebelum berlari keluar dari rumahnya, dan pergi ke rumah Ana. "Na! Numpang!" ••• "Enggak, enggak! Apaan sih?! Sambil bawa speaker lagi!" "Gue gak bawa speaker aja kok, gue bawa komik juga!" "Astaga! Balik lo! Balik!" "Enggak mau!" Jino tetap memaksa masuk, sementara Ana terus mendorong pintu agar Jino tidak bisa masuk. "Ana please! Gue janji gak akan ngapa-ngapain! Gue takut!!!" "Tadi lo yang nakut-nakutin! Kenapa sekarang jadi lo yang takut hah?!" "Anaaa... tolonglahhh... bantu sesama manusia," "Apaan sih lu ngelantur ya?" "Kalian ngapain?" ••• Adik perempuan Ana tak lama pulang. Acara event yang ia hadiri telah usai, dan dia dengan bersenang hati membiarkan Jino masuk ke rumahnya. Ana langsung bersungut, tapi dia juga tidak bisa menyeret tubuh besar Jino, keluar dari rumahnya. "Adek lo masih sekolah?" tanya Jino. "Udah kerja sambil sekolah," balas Ana cuek. "Kerja apa? Kayaknya masih anak-anak gitu." Komentar Jino. "Dia cuman komikus sih," "Wih keren!" puji Jino, tapi Ana tidak menunjukan ekspresi bangga sama sekali. "Gambar itu susah loh, keren banget adek lo." "Hah, iya, makasih pujiannya." "Seneng dong, jutek aja mukanya," "Udah diem!" bentak Ana sambil melotot yang membuat Jino ciut. Padahal mata Ana juga tidak terlalu besar, jadi tidak terlalu ngeri waktu melotot. "Masih untung nih lo bisa masuk ke rumah gue," "Tamu kan harusnya disambut, ini dimarah-marahin." Sungut Jino. "Masalahnya lo itu tamu tak diundang, ngerti gak? Jadi jelangkung aja mending." Kata Ana. "Kejam kamu," "Bodo amat. Udah mending nih gue temenin lo di ruang tamu, sekarang mau ngapain coba?" "Mau baca komik?" Jino meletakan komik-komik yang ia bawa di meja. "Komik genre apa?" tanya Ana. "Romantis dong!" balas Jino dengan bersemangat. Ekspresi Ana langsung berubah malas, tapi ia kemudian mencoba berpikir positif. "Romantis sama ada thrillernya gitu gak? Atau horror?" Jino langsung mengibaskan tangannya mendengar pertanyaan Ana. "Enggak, pure romance." Ana langsung mencebikan bibirnya, dan menatap geli Jino. "Apa? Salah bacaannya cerita romantis. Hati gue tuh lembut, makanya bacaannya tuh yang kayak gini." Kata Jino sembari memegangi dadanya. Ana mendengus. Ia akhirnya memilih mengetik saja di ponselnya. "Emang lo kalau nulis, genrenya apa?" tanya Jino. "Ya romance, kadang thriller juga, tapi kurang laku." Balas Ana. "Horror?" "Sama," "Jadi penulis enak?" "Enggak, tapi karena passion di situ, jadi seneng-seneng aja." Jino menganggukan kepalanya. "Jadi penasaran cerita bikinan lo kayak apa," "Gak usah." "Iihh, kenapa gitu?" "Malu gue. Gue aja gak pernah baca ulang cerita atau novel gue sendiri," "Kan bukan elo, ya gak papa dong gue baca karya lo. Uname akun novel online lo apa?" tanya Jino sambil mengeluarkan ponselnya, bersiap mencari akun novel online Ana. "Enggak mau kasih tau," "Yah, tapi gue udah nemu nih. Lo naruh linknya di akun media sosial lo." Mata Ana melebar. "Tau dari mana lo media sosial gue?!" "Muncul di explore gue." Balas Jino, ia kemudian berkomentar. "Hihhh... akun lo isinya muka lo semua," "Kok bisa muncul di explore lo?" Jino menggendikan bahu. "Ada temen gue yang ngikutin lo ternyata," "Siapa?" "Tora, lo kenal?" "Ya enggaklah. Akun lo sendiri apa?" "Ada dehhh..." "Ck, pasti isi media sosial lo sama aja kayak gue kan? Isinya muka lo doang." "Ya kalau gue sih gak papa, soalnya gue tuh ganteng. Cewek itu sukanya liat cowok ganteng, gak akan dinyinyir. Sementara cowok, jarang yang suka nyinyir. Nah tapi kebanyakan cewek gak suka liat cewek cantik, jadi orang-orang kayak lo tuh bakal dinyinyir. Gue mah cuman ngasih tau aja ya, biar hidup lo tentram," celoteh Jino. "Tentram itu kalau gak main media sosial sama sekali. Tetep aja meskipun gak post apa-apa, tapi liat kehidupan orang lain di media sosial, tetep bikin tekanan." Balas Ana. "Heummm... bener-bener, gue jadi kasian sama orang, pasti iri deh kalau habis liat foto-foto gue. Ck, tapi gimana ya? Masak foto gue mau diedit jadi jelek?" Ana langsung mengambil salah satu komik Jino, dan hendak melemparkannya ke arah pria itu. Tapi Jino dengan sigap langsung menghindar. ••• Ujung-ujungnya Ana penasaran, dan akhirnya ikut membaca komik dengan Jino. Jino juga menyetel lagu dari speaker yang ia bawa. Mereka yang sebelumnya ribut, akhirnya saling terdiam. Tok, tok, tok. Pintu rumah tiba-tiba diketuk, membuat Ana otomatis menolehkan kepalanya ke arah pintu. Ia pun langsung bangkit berdiri, dan berjalan ke pintu, tanpa mengatakan apa-apa pada Jino. Cklek. Pintu dibuka, sosok Ibu Jino pun terlihat di depan pintu. "Oh, Tante," gumam Ana. "Jino di sini ya?" tanya Ibu Jino. "Ada Tan, bentar saya panggilin," kata Ana. "Jino!" "Mamaaaa!" sahut Jino sembari berdiri dan berlari ke pintu. "Ck, kayak anak todler yang dititipin ke orang aja kamu," komentar Ibunya. "Masih mau di sini atau pulang?" tanya Ibu Jino. "Pulang aja deh, aku belum mandi. Padahal tadi udah buka baju, tapi Ana tiba-tiba dateng ke rumah." Balas Jino. "Oh, Ana emang ngajak Jino main ke rumah ya?" "Hah? Enggak Tan. Saya ke rumah Jino, soalnya dia berisik banget." Kata Ana. Ibu Jino langsung menatap tajam Jino, yang sedang pura-pura melihat ke arah lain. "Jino ke rumah kamu pasti karena takut ya?" "Kok Tante tau?" "Feeling seorang Ibu, soalnya emang beberapa hari lalu Tante denger suara kunti di atas atap kamar Jino, pas lagi lipetin baju nih anak." "Hah, jadi kuntilanaknya sebenernya ada di rumah kita?!" seru Jino panik. "Udah yuk pulang," kata Ibu Jino, mengalihkan topik. "Ihhh, enggak mau aku takut!" "Pulang hayuk! Mandi! Kamu bau asem tau gak?" Ibu Jino kemudian menarik tangan Putranya, untuk membawa paksa Jino pulang. ••• Hari minggu tiba, hari di mana Jino akan nonton bioskop dengan Ana. Sayangnya badan Jino tidak terlalu fit, karena dua malam dia begadang terus. Takut dengan kunti yang katanya ada di atas atap kamarnya. Tapi Jino akan bertahan, demi film ini, film yang sudah sangat lama ingin Jino tonton! Ana dandan tebal seperti biasa kalau dia mau pergi. Eyeshadow coklat dan hitam membingkai mata, berikut dengan eyeliner yang menukik, bibir ia ombre, warna pucat di pinggir bibir, sedangkan untuk warna gelap di dalam. Sudah seheboh itu dandannya, ujung-ujungnya Ana akan menutupnya dengan topi dan tudung jaket. Yah, dia dandan memang hanya untuk kepuasan sendiri, bukan untuk dilihat orang. Karena menurutnya dia aneh, dan wajahnya bisa mengganggu orang. Padahal dia akan tetap berfoto dan mengirimnya ke sosial media. Entah apa yang ada di pikiran Ana. Di saat Ana sudah siap, Jino baru mau mandi. Dia sempat tidur sebentar waktu subuh, tapi jam delapan sudah bangun. Jadi sekarang Ana sedang menunggu Jino. Ana mendengus kesal. Jino mandinya lumayan lama, siap-siapnya juga lama. Milih baju, nata rambut, gak lupa wajib pakai sunscreen dan lipblam. Ibunya sendiri gemas, dan akhirnya menyuruh Ana langsung ke kamar Jino untuk menariknya. Tanpa permisi, Ana langsung membuka pintu kamar, dan ia menemukan Jino tengah bersenandung, sembari mengerikan rambut hitam panjangnya, dengan hairdryer. "Mau sampe kapan anjir gue nungguinnya?" tanya Ana. "Ehh, lo masuk kamar cowok gak permisi dulu." Bukannya membalas pertanyaan Ana, Jino malah bicara yang lain. "Gue gak masuk, cuman berdiri di depan pintu." Kata Jino. "Cepetan dong, sekarang udah jam berapa nih? Nanti gue keburu gak mood." "Sebentar, gue kan lagi ngeringin rambut," "Biarin aja kek basah, emang lo pakai hijab? Nanti juga kering sendiri kena angin." Sungut Ana kesal. "Nanti pada kelepek-kelepek liat gue rambutnya basah." "Astaga..." gumam Ana sembari menundukan kepalanya sejenak dan menghela napas. "Cepetan, kalau enggak, gak jadi." "Iya, iya!" balas Jino. ••• "Nih," Jino menyerahkan helm dengan warna biru tua dan bergambar tweety pada Ana. Saat Ana hendak menerimanya, Jino malah menariknya lagi. "Eh, baru nyadar, lo mirip tweety." Komentar Jino sembari tergelak, dan melihat Ana serta gambar tweety di helm, secara bergantian. Ana sontak memukul kepala Jino, tapi Jino tidak begitu merasa sakit karena sudah pakai helm. "Hahaha, seriusan." Kata Jino. Ana berdecak dan merebut paksa helm tweety itu dari tangan Jino, lalu mengenakannya. "Motor lo aman gak nih?" tanya Ana. "Ya amanlah. Tapi gak tau ya kalau buat bonceng cewek, belum pernah soalnya. Takut dia cemburu sih. Baby blue jangan cemburu yaa... Ana itu cuman temen kok." Ana menatap datar Jino yang malah berujung ngelus-ngelus motornya. "Udah ayo buru jalan, nanti telat." Kata Ana, yang membuat Jino tersadar. ••• "Rame banget," gumam Ana begitu mereka baru memasuki bioskop. "Yah kan sekarang hari minggu, wajar aja." Balas Jino. Ana tidak merespon lagi. Tanpa sadar kedua tangannya tiba-tiba melingkar di salah satu lengan Jino, membuat Jino terkejut. Jino pun menolehkan kepalanya ke arah Ana, dari jarak sedekat ini, Jino bisa mendengar perubahan deru napas Ana. Jari-jari Ana juga tampak bergerak sendiri seperti kejang. Kalau diperhatikan dari wajahnya sih, Ana tampak biasa saja. Tapi kalau diperhatikan, ada yang tidak beres dari Ana. Diperparah saat tiba-tiba ada yang menyapa mereka, Ana langsung menutup mulut setelah membalas sapaannya, seolah mual. "Lo gak papa?" tanya Jino. "Gak papa, kaget aja tiba-tiba disapa orang." Balas Ana tanpa melihat ke arah Jino. Tak lama suara seorang wanita yang memberitahukan para penonton untuk masuk studio tertentu terdengar. Dan itu merupakan studio tempat film yang mau Jino dan Ana tonton. Namun saat antre hendak masuk ke studio, ramai. Banyak sekali orang yang masuk. Jino bisa merasakan Ana yang semakin tidak nyaman. Saat tiba giliran mereka untuk masuk, Jino tiba-tiba menarik Ana untuk pergi. Ana pun sontak mengernyitkan kening. "Lah mau kemana?" tanya Ana. "Kita nonton film lain aja yuk, tiba-tiba gue gak mood nonton film itu." Balas Jino. "Loh, tapi kan Mama lo udah beliin tiketnya, ini penayangan terakhir kan lagian?" "Yahhh... ya iya sih. Ahh, gak papa deh ngeluarin uang 70 ribu doang, gue gak mood nonton itu, ngapain dipaksain? Kita nonton yang lain aja. Gak papa pakai jatah uang buat baby blue." "70 ribu tuh ya gede lah, gue bayar sendiri kalau kayak gitu." "Ya enggaklah, kan gue yang ngajakin lo nonton. Eummm... kita nonton film apa ya?" 'Yang kira-kira sepi penonton,' batin Jino. "Udah lah Jin, kita nonton yang tadi aja." Paksa Ana sembari menarik tangan Jino untuk kembali ke sana. "Enggak, enggak," "Jin, lo kenapa sih?" Jino menghela napas. "Gue tau lo gak baik-baik aja, mending kita cari film yang penontonnya kira-kira sedikit." "Ya ampun, gue gak papa. Gue cuman kaget sebentar aja, kan gue gak mesti interaksi sama orang-orang lain di dalam studio, jadi phobia gue gak akan kambuh. Nih liat, gue gak papa." Kata Ana sembari menunjukan kedua tangannya pada Jino. "Jari gue udah gak kejang lagi, gue udah gak keluar keringet lagi. Udah yuk balik, lagian lo merhatiin aja sih." "Gue gak enak juga sama Mama lo, udah beliin tiket, tapi kita malah gak jadi nonton filmnya." Ana menarik tangan Jino, dan kali ini Jino membiarkan dirinya ditarik oleh Ana. ••• Dua jam berlalu. Film akhirnya selesai. Perasaan senang meliputi hati Jino, karena akhirnya dia bisa nonton film ini. Padahal sebelumnya sudah pasrah tidak akan nonton filmnya. Orang-orang mulai keluar dari studio, termasuk Ana dan Jino. Tapi Ana rupanya tidak langsung keluar, saat studio sudah mulai agak sepi, ia terlebih dahulu mengutipi sampah yang ada disekitarnya, meremasnya, dan menggabungkannya jadi satu di satu kantung bekas makanan yang lain. "Ngapain?" tanya Jino. "Liat aja sendiri," balas Ana. "Kerajinan amat. Niat lo bagus sih, tapi kalau cuman lo yang kayak gini, gak akan ngaruh apa-apa." Komentar Jino. "Dari pada gak ada sama sekali," Kata Ana yang membuat Jino bungkam. ••• "Habis dari sini mau makan dulu gak? Gue yang teraktir." Ujar Jino setelah mereka baru keluar dari bioskop. "Mau makan apa?" tanya Ana. "Ramen," "Enggak ah," tolak Ana. "Lah kenapa?" "Gak pengen." "Jadi mau apa dong?" "Ayam penyet? Atau geprek." "Boleh juga tuh, hayuklah." Ana terkejut saat Jino tiba-tiba menggandeng tangannya. Jino juga terkejut, dengan perbuatannya sendiri yang refleks. Ia otomatis buru-buru melepas genggaman tangannya dari Ana. "Maaf, maaf. Biasanya kalau jalan sama Mama, suka langsung gandeng tangan." Kata Jino. "I-iya, gak papa." Balas Ana dengan sedikit gugup.[]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN