SEGELAS kopi panas yang baru saja Ariana buat, ia taruh di meja kerjanya. Baru duduk di depan komputer untuk melanjutkan pekerjaan, pikiran Ariana kembali teringat kejadian kemarin. Hal pertama yang membuatnya tidak nyaman, ia merasa bersalah pada Gabriel. Beberapa hari terakhir setelah pulang dari Singapura, Gabriel ditugaskan ke Bandung menemui klien mengenai projek besar untuk mendesain produk terbaru dari suatu perusahaan. Karena sibuk Gabriel jarang memberi kabar, dan Ariana memakluminya. Ia tidak berani merindukan Gabriel setelah apa yang sudah ia lakukan dengan Geo, walau hanya sekadar tidur bersama dalam keadaan topless. Kedua telapak tangannya langsung menutupi wajah karena rasa malu begitu betah menempelinya. Ariana ingin berteriak lalu membenturkan kepala agar amnesia sesaat

