Pendingin ruangan yang menyala, tidak terasa sama sekali untuk Ariana. Bukan gerah, melainkan menahan emosi yang sudah di ujung kepala ingin meledak karena mulut tajam pria tua di depannya. Ariana langsung berdiri dari duduk menatap Ganesh seolah menantang. Saking kencangnya ia berdiri, kakinya sedikit kehilangan keseimbangan membuat wibawa kemarahannya sebagian lenyap di depan Ganesh. Entah sepatu atau sendinya tidak bersahabat sepanjang malam ini, tapi Ariana tetap menunjukkan mimik marahnya. "Sekali lagi, saya ingin meluruskan penilaian Anda terhadap saya, seperti orang-orang melihat saya malam ini." Ganesh tidak memotong ucapan Ariana, ingin tahu sampai mana keberanian anak muda ini yang terlihat sangat marah. Ariana mengambil napas sebentar lalu ia hembuskan. "Pertama, saya dipaks

