Hari ini, badan Keenan benar-benar remuk redam karena belum pernah bekerja menggunakan otot. Selama ini, ia bekerja dengan mengandalkan otaknya dan tidak mengeluarkan kekuatan otot sama sekali. Berbeda dengan hari ini, seharian ia bekerja kasar dengan memakai otot dan membuat tangannya serasa mau patah saat menjadi seorang cleaning service.
Jam pulang kantor yang tinggal beberapa menit lagi, dimanfaatkan olehnya dengan meluruskan kaki di ruang istirahat. Selain itu, ia ingin meluruskan pinggangnya yang serasa mau patah.
"Astaga, pinggangku." Mengarahkan tangan untuk memijat pinggangnya dan menurun ke bawah seperti beberapa saat yang lalu. Saat melakukan itu, ia melihat sosok pria yang baru masuk, tak lain adalah Adi dan tengah asyik menertawakannya.
"Baru satu hari bekerja saja sudah seperti sekarat begitu. Bagaimana kalau satu bulan? Keenan ... Keenan, sepertinya selama ini kamu adalah seorang pria yang sangat pemalas. Kasihan sekali nanti wanita yang menjadi istrimu. Mungkin akan berubah menjadi pembantu karena kamu tidak akan membantu pekerjaan rumah seorang istri." Puas mengejek, Adi terlihat membereskan barang-barangnya dan mengganti seragam cleaning service dengan pakaian biasa.
Baru saja ia selesai dengan kegiatannya, saat berbalik badan setelah mengambil tasnya di dalam laci, merasa terkejut karena tiba-tiba ada Keenan di hadapannya dan menunjukkan ponsel tepat di depan wajahnya.
Tadinya, Keenan merasa sangat malas untuk menanggapi ejekan yang dianggapnya sangat tidak penting karena ingin beristirahat untuk memulihkan tenaganya yang banyak terforsir. Namun, begitu mengungkit perihal istri, ia benar-benar tidak terima. Harga dirinya seolah terkoyak mendengar hinaan yang merendahkan martabatnya.
Tidak membuang waktu, ia membuka aplikasi M-banking miliknya dan bangkit berdiri tepat di hadapan pria yang kebetulan berbalik badan. Kemudian ia menunjukkan saldo rekening miliknya, berharap akan menampar dan mempermalukan pria yang menganggapnya seorang penipu.
"Wanita yang menjadi istriku akan menjadi Cinderella dan hidupnya paling beruntung. Jangankan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, memegang perabotan rumah saja tidak akan kuizinkan karena ada banyak pelayan yang melayaninya. Tugas wanita yang menjadi istriku hanyalah melayaniku saja dan merawat anak-anakku. Kau sudah melihat saldo rekeningku ini, kan?"
Adi kini masih menatap pada nominal angka yang menurutnya terlalu banyak nolnya dan membuat kepalanya pusing karena tidak tahu membacanya. "Itu nol banyak amat. Wah ... sepertinya selain menipu, kamu juga pandai menyabotase nominal angka. Jangan kamu pikir aku akan percaya pada penipu yang suka membual sepertimu."
Lagi-lagi usahanya yang tidak membuahkan hasil untuk meyakinkan pria di hadapannya, semakin membuat kesal Keenan. Ia yang tadinya ingin mengarahkan kepalan tangan kanannya ke perut Adi, tidak jadi melakukannya saat indra pendengarannya menangkap suara seorang wanita dan refleks membuatnya menoleh ke belakang.
"Sayang, ayo kita pulang bersama. Hari ini kita harus menghabiskan hari terakhir ini bersama karena aku pasti akan sangat merindukanmu. Apalagi besok, aku tidak bisa mengantarmu karena harus bekerja," ucap sosok wanita yang berdiri di depan pintu dengan wajah muram, seolah menunjukkan kesedihan luar biasa yang dirasakan saat ini.
Adi langsung menyingkirkan tubuh Keenan yang menghalangi jalannya untuk segera menghampiri sang kekasih. "Tentu saja, Sayang. Hari ini kita akan menghabiskan waktu dengan bersenang-senang. Sekarang ayo kita jalan-jalan ke mall karena aku akan memberikanmu hadiah sebagai kenang-kenangan." Menautkan jemarinya dan berjalan dengan saling mengulas senyuman meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara itu, Keenan yang tadinya merasa sangat kesal karena pria yang kastanya berada di bawahnya, sama sekali tidak mempercayainya, semakin bertambah besar amarahnya saat merasa iri.
"Bahkan dia yang tampang pas-pasan mempunyai seorang kekasih yang sepertinya sangat tulus. Sementara aku, wajah rupawan dan tajir melintir seperti ini tidak bisa mendapatkan wanita yang benar-benar mencintaiku dengan tulus tanpa memandang harta. "Beruntung sekali Adi karena wanita itu sepertinya sangat mencintainya dan terlihat sangat sedih saat akan berpisah."
"Kenapa harus ada momen perpisahan yang sangat menyakitkan." Keenan terdiam sejenak dan bersandar di dinding saat mengingat kejadian yang tidak pernah bisa dilupakannya. Bahkan sebenarnya, ia masih belum bisa melupakan wajah cantik sang kekasih yang dulu mengkhianatinya.
Alasan ia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun selain menganggap matreliastis adalah karena ia belum bisa melupakan seseorang yang sangat dicintai. Selama bertahun-tahun, ia menutup informasi mengenai sosok wanita yang dulu sangat diyakini akan dijadikan istri setelah lulus kuliah.
Bahkan ia dan wanita bernama Casandra sudah merajut mimpi indah penuh kebahagiaan dan merancang sebuah rumah sebagai tempat tinggal mereka. Namun, impiannya hanyalah tinggal angan semu yang menorehkan luka tak berdarah di bagian terdalam hatinya.
'Casandra, bisa-bisanya kau dan Aldo menusukku dari belakang. Kalian berdua adalah iblis yang tidak punya hati,' umpat Keenan yang menghempaskan tangannya ke sembarang arah.
Deru napas memburu terdengar sangat jelas saat ia dikuasai amarah. Hal yang paling dibencinya adalah menyadari bahwa ia hanyalah seorang pria bodoh yang belum bisa move on dari mantan kekasih yang jelas-jelas mengkhianatinya. Hal itulah yang membuatnya tidak ingin kembali ke Jakarta karena selalu mengingatkannya pada sosok wanita cantik yang dulu sangat digilainya.
Apalagi terlalu banyak kenangan yang terukir jelas di pikirannya. Banyak tempat-tempat yang telah mengukir sejarah antara dirinya dengan Casandra dan itu hanya menyiksa dan sangat dibencinya.
"Aku tidak ingin bertemu dengan mereka lagi karena jika itu sampai terjadi, mungkin tidak akan bisa mengendalikan diriku. Semoga kalian berdua enyah di neraka!"
Puas melampiaskan amarahnya, kini Keenan mengganti seragamnya dengan pakaian yang tadi pagi dikenakan. Sementara seragam kotornya ia masukkan ke dalam tas yang baru saja diambilnya dari dalam laci. Dengan gerakan kasar ia menutup dan kembali menguncinya. Kemudian beralih berjalan menuju ke arah pintu keluar. Niatnya adalah ingin menunggu Freya di depan loby karena tidak ingin wanita sebaik bidadari itu menunggu.
Kaki panjangnya melangkah menuju ke arah lift dan tanpa mempedulikan tatapan para staf perusahaan, masuk ke dalam ruangan kotak besi tersebut. Saat dalam kondisi marah, ia benar-benar akan menghabisi siapapun yang mengusiknya. Namun, sama sekali tidak ada yang mengeluarkan suara selama lift bergerak turun ke lantai satu.
Saat pintu lift terbuka karena ada yang ingin naik dari lantai tiga, ia membulatkan kedua mata saat melihat wanita yang terlihat tersenyum ke arahnya dan langsung masuk. Bau parfum wanita yang memilih berdiri di sebelahnya itu menguar memenuhi ruangan.
Keenan sibuk merengut di dalam hati karena tidak mungkin ia mengumpat wanita yang seperti sengaja berdiri menempel padanya. 'Astaga, apa dia tadi menuangkan satu botol minyak wangi ke tubuhnya? Bahkan aku benar-benar pusing saat mencium aroma parfumnya yang menyengat. Seperti bau kembang di kuburan, pula.'
Lani yang kini berdiri di sebelah pria incarannya, tidak berhenti tersenyum simpul saat merasa senang bertemu dengan Keenan. Bahkan ia bisa berdiri bersebelahan dengan pria yang diyakininya bukan merupakan orang sembarangan itu.
'Sabar Lani, sebentar lagi kamu akan mendapatkan pria ini. Setelah aku mengetahui siapa dia sebenarnya, akan lebih mudah bagiku untuk mencari kelemahannya karena itu akan menjadi jalan untukku mendapatkanmu, Keenan,' gumam Lani yang kini menolehkan kepalanya ke arah kanan dan melihat sosok pria dengan rahang tegas itu tidak menatapnya sama sekali.
"Besok, kau bisa mengajak temanmu ke perusahaan untuk bekerja sebagai cleaning service. Jangan lupa itu!"
Sebenarnya, saat ini Keenan merasa sangat malas untuk menanggapi perkataan wanita yang selalu dipanggilnya mak Erot tersebut. Namun, ia tidak mungkin hanya diam saja di depan para staf perusahaan lainnya. "Baik, Bu Lani. Terima kasih atas informasinya."
'Astaga, rasanya aku mau muntah mendengar perkataanku sendiri,' lirih Keenan yang saat ini berakting tersenyum simpul pada wanita yang berdiri di sebelah kanannya.
"Sama-sama," jawab Lani yang masih bersikap sangat tenang dan penuh percaya diri.
Bunyi denting lift menandakan pintu sebentar lagi terbuka, kini Keenan yang berada pada posisi paling depan, bersiap untuk melangkah keluar karena buru-buru ingin pergi dari ruangan yang dianggapnya sangat menyesakkan.
Tentu saja begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, Keenan tanpa menoleh ke belakang, kini melangkahkan kaki panjangnya keluar dari lift. Ia berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari keberadaan sosok wanita yang akan pulang bersamanya.
Begitu melihat siluet sosok wanita yang berdiri di depan loby, sudut bibirnya melengkung ke atas karena merasa sangat senang, seolah amarahnya kini sudah mereda. Ia berniat untuk mengejutkan Freya yang terlihat fokus menunduk ke arah ponsel.
Beberapa saat yang lalu, Freya yang sudah turun ke loby, berniat untuk menelpon Keenan. Ia ingin bertanya apakah Keenan sudah turun atau belum. Namun, saat membuka ponselnya, ia tanpa sengaja melihat ada DM di sosial media miliknya.
Sebenarnya, ia jarang memposting fotonya di sosial media miliknya karena lebih sering menulis caption dari suasana hati saat merasa senang saja. Bahkan di sana tidak ada fotonya sama sekali. Namun, kali ini ia mengerutkan kening saat melihat DM dari cinta pertamanya saat kelas 1 SMA. Bahkan akun sosial media miliknya sudah di-follow dan membuatnya merasa heran.
"Dari mana dia tahu ini adalah akun sosial media milikku? Bahkan aku hanya menggunakan nama belakangku untuk membuat akun sosmed. Bahkan Aldo memakai nama lengkapnya di akun sosmednya." Merasa sangat penasaran, kini Freya mengecek akun sosial media dengan nama Aldo Wicaksana dan bisa melihat foto-foto sosok pria yang dulu adalah cinta pertamanya.
"Aldo di Jakarta." Freya menepuk jidatnya berkali-kali saat mengingat bahwa daerah asal mantan cinta pertamanya adalah Jakarta.
Ia dulu mengenal Aldo yang memang merupakan anak pindahan dari Jakarta dan langsung menjadi cowok paling populer di sekolah. Bahkan ia sama sekali tidak pernah menyangka jika bisa berpacaran dengan cowok yang menjadi incaran para cewek di sekolahnya.
Tentu saja sebagai gadis lugu, merupakan sebuah berkah untuknya saat ditembak oleh cowok paling keren di sekolah dan membuatnya langsung menerima ungkapan cinta Aldo kala itu.
Belum selesai mengingat masa lalunya, Freya dikejutkan oleh perbuatan sosok pria yang sudah ada di belakangnya dan mengulas senyuman padanya.
Keenan yang kini sudah mendaratkan tangannya ke pundak Freya, kini terkekeh geli saat berhasil membuat tubuh itu berjenggit kaget karena ulahnya. "Maaf, kamu kaget, ya. Serius amat, lagi mandangin apa memangnya?"
Freya kini refleks memukul lengan kekar Keenan karena telah mengerjainya. "Keenan! Aku benar-benar kaget, astaga! Lain kali jangan begini. Kalau aku punya riwayat penyakit jantung, mungkin aku sudah kumat di tempat." Mengusap dadanya yang saat ini berdegup sangat kencang karena benar-benar merasa kaget atas perbuatan pria di belakangnya.
Keenan yang merasa sangat menyesal, kini sudah menyatukan telapak tangannya dan menampilkan wajah penuh penyesalan "Maaf-maaf, aku tadi hanya bercanda. Habisnya aku tadi melihat kamu sedang serius melihat ponselmu. Memangnya kamu melihat apa? Boleh aku melihatnya?"
To be continued....