Cleaning Service

2019 Kata
Saat Keenan masih sibuk dengan kegiatannya yang memutar otak, dering ponsel miliknya pun sudah mati dan tidak terdengar lagi. Ia tiba-tiba mendapatkan ide di kepalanya dan menganggap akan menyelesaikan masalah yang melanda dirinya. Dengan menatap ke arah sosok wanita yang berdiri dengan posisi tangan ditujukan ke arahnya, ia memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celananya. Tentu saja ia sedang berpura-pura untuk mengambil ponsel miliknya, padahal itu hanya kebohongan yang dilakukannya. Baru saja ia berniat untuk mengambil ponsel, sudut bibirnya melengkung ke atas saat berakting kesakitan. "Aah ... perutku." Keenan tidak jadi meraih ponselnya dan beralih memegangi perutnya. Untuk membuat aktingnya makin meyakinkan, ia pun kini terlihat berjongkok di antara para penumpang lain sambil terus meringis menahan kesakitan. "Freya, perutku benar-benar sakit luar biasa ini. Apa masih jauh tempatnya? Aku sepertinya tadi salah makan hingga membuat perutku mulas." Sementara itu, Freya yang merasa sangat terkejut saat melihat Keenan yang kesakitan, hanya memijat pelipisnya berkali-kali. Tentu saja ia merasa selalu dibuat pusing oleh pria yang membuatnya kesal tersebut. Tidak ingin berkomentar karena menahan diri sekuatnya agar tidak sampai mengumpat sosok pria dengan posisi masih berjongkok tersebut, ia menatap ke depan untuk melihat bus sudah sampai mana. "Lebih baik kau menahannya dulu karena beberapa menit lagi kita akan sampai. Sayangnya di sini tidak ada batu," ucap Freya yang saat ini tengah menunduk menatap Keenan yang masih berjongkok. Melihat majikannya tiba-tiba kesakitan, tentu saja membuat Rudi merasa khawatir. Bahkan ia kini langsung menyamakan posisinya dengan cara ikut berjongkok. Dengan mencoba untuk menyiapkan hati agar terbiasa memanggil majikannya tidak seperti biasanya, ia kini mengarahkan tangannya untuk mengusap punggung tuan mudanya. Berharap perbuatannya bisa mengurangi rasa sakit dari tuan mudanya. "Kamu kenapa, Sepupu? Lebih baik kita pergi ke rumah sakit saja untuk memeriksakan keadaanmu?" Sementara itu, Keenan yang merasa sangat risi dengan perbuatan pelayannya, mengarahkan tangannya untuk mencubit keras kaki Rudi agar tidak mengacaukan aktingnya. Bahkan ia pun sudah menoleh ke arah Rudi dan memberikan sebuah kode dengan mengedipkan mata. "Aku tidak apa-apa. Ini hanya sakit biasa." Keenan beralih mendongak menatap ke arah sosok wanita yang berdiri menjulang di sebelah kirinya setelah berhasil membuat Rudi mengerti karena pelayannya itu telah menganggukkan kepala. "Freya, apa maksudmu tadi bilang seandainya ada batu di sini. Sepertinya kamu sedang mengigau hingga mencari batu di dalam bus. Maksudmu, apa kamu berniat melemparkan batu padaku karena kesal melihatku sakit perut?" Refleks Freya kini terkekeh geli menanggapi pertanyaan konyol yang baru saja tertangkap indra pendengarannya. Bahkan ia tidak bisa berhenti tertawa saat melihat raut wajah penuh kebodohan yang tampak pada pria dengan posisi masih berjongkok tersebut. Puas tertawa, ia kini mengeluarkan ejekan pada Keenan. "Iya, kamu pintar sekali. Aku memang ingin melempar batu pada wajahmu yang menyebalkan itu." Kini, Keenan yang masih terus berakting memegangi perutnya, terlihat geleng-geleng kepala. "Wah ... ternyata kamu adalah seorang wanita yang tidak berperikemanusiaan, Freya. Padahal aku saat ini benar-benar merasakan rasa sakit luar biasa di perutku, tetapi kamu malah ingin berbuat jahat padaku. Dasar, wanita tidak punya perasaan." Sebenarnya, saat ini Freya ingin melanjutkan tertawanya, tetapi tidak bisa melakukannya saat bus sudah berhenti karena ada penumpang yang mau naik dan ia pun berjalan ke depan melewati beberapa penumpang lainnya setelah sebelumnya menepuk pundak kokoh Keenan. "Sudah sampai, cepat turun atau kau terus saja berjongkok di dalam bus ini." Freya yang melewati para penumpang lain sambil sibuk mengucapkan sesuatu. "Permisi ... permisi." Begitu melewati para penumpang dan turun dari bus, Freya menunggu hingga dua pria yang dianggapnya menjadi anak asuhnya itu turun dari bus. "Lama sekali mereka." Freya yang tiba-tiba mengingat sesuatu, kini mengalihkan perhatiannya ke arah tanah untuk mencari sesuatu. Begitu menemukan apa yang dicarinya, ia pun kini bisa melihat dua pria yang sudah berjalan ke arahnya. Keenan yang tadi berjalan sambil melewati banyak penumpang, masih tetap berakting di depan Freya. "Bagaimana ini, perutku masih sakit." Mengerutkan kening saat tangannya diangkat oleh wanita di depannya dan menaruh sesuatu di telapak tangannya. "Apa ini? Apa maksudmu memberikan aku batu kecil ini? Apa kau sedang menyuruhku untuk melemparkan batu ini ke wajahmu?" "Astaga!" Freya kini terlihat menepuk jidatnya begitu mendengar kalimat konyol dari pria yang ada di hadapannya tersebut. "Kalau di kampungku, para orang tua zaman dulu meyakini jika perutmu sakit karena kebelet, disuruh menggenggam batu kecil. Nanti lama-kelamaan akan hilang sakit perutnya. Bukan seperti perkataan konyolmu tadi, Tuan muda Keenan." Tentu saja saat ini Keenan langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar alasan Freya memberikannya batu di tangan. Ia yang sama sekali tidak percaya, menganggap bahwa perkataan itu sangat konyol dan tidak masuk akal. "Freya ... Freya, di zaman modern ini kau masih percaya pada hal-hal tidak masuk akal seperti itu? Seperti kau masih hidup di zaman purba saja." Keenan mengambil batu tersebut dari telapak tangannya dan melihat-lihat bentuknya. "Jika ini berlian, aku akan langsung menjualnya untuk biaya aku hidup di Jakarta karena sudah tidak mempunyai uang. Namun, ini hanya batu yang sama sekali tidak berguna." Baru saja ia selesai menutup mulutnya, batu yang sedang diamatinya sudah direbut oleh Freya. Tidak hanya itu saja, dilihatnya Freya pun langsung melemparkan batu berukuran kecil itu ke tanah. Belum sempat ia berkomentar, dilihatnya wanita dengan tubuh seksi itu sudah berjalan dan menjauh darinya. "Sepertinya dia sedang marah dan kesal padaku," lirih Keenan yang kini melirik sekilas ke arah Rudi. "Lihatlah wanita itu, bukankah dia adalah jenis wanita yang pemarah? Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, tetapi dia malah marah. Apakah aku harus berbicara kebohongan dengan berpura-pura merasa senang atas ide konyolnya itu?" Rudi sebenarnya ingin sekali berkomentar dan menasihati majikannya, tetapi ia tidak punya nyali dan berpikir bahwa semua hal yang dilakukannya akan salah di mata tuannya, sehingga lebih memilih untuk cari aman dengan mengiyakan perkataan tersebut. "Iya, Tuan muda. Anda benar sekali." Menoleh ke arah sosok wanita yang sudah mulai terlihat jauh berjalan. "Ayo, Tuan muda. Nanti kita kehilangan jejak, Nona Freya." Masih tetap diam di tempatnya, Keenan yang merasa kesal pada sosok wanita dianggapnya pemarah tersebut, kini seolah menimbang-nimbang keputusannya. "Sebenarnya aku malas sekali mengikuti wanita pemarah seperti dia, tapi penyamaranku akan gagal jika tidak meminta bantuan Freya. Baiklah, sekarang kita ikuti dia mau pergi ke mana." Keenan yang sudah mengambil keputusan, kini berjalan cepat untuk mengikuti wanita yang sudah jauh darinya tersebut bersama dengan pelayan setianya. Langkahnya yang cepat membuat napasnya tersengal saat merasa capek ketika berjalan untuk mengejar Freya. "Freya, tunggu! Astaga, cepat sekali jalan wanita itu. Sepertinya dia tidak merasa capek sama sekali setelah berjalan jauh. Apa ke manapun dia berjalan kaki? Kuat sekali dia." Rudi yang dari tadi hanya mendengarkan keluhan dari majikannya, ingin memberikan sebuah tanggapan mewakili wanita berparas cantik tersebut. Dengan tujuan, tuan mudanya tersebut bisa sedikit memberikan belas kasih pada orang-orang yang kurang beruntung, atau tidak berasal dari keluarga berada. "Beginilah nasib orang miskin, Tuan. Ke mana-mana jalan kaki karena tidak punya mobil. Jangankan mobil, untuk beli motor saja tidak bisa. Gaji yang tidak seberapa, selalu habis sebelum akhir bulan. Kerja tiap hari aja uang habis terus, apalagi jika jadi pengangguran. Mungkin yang ada, hanyalah menambah banyak utang. Mungkin nona Freya ingin menghemat uang juga, makanya tidak naik ojek online yang sebenarnya lebih memudahkan karena bisa langsung tiba di tempat tujuan." Kini, Keenan yang sudah berhasil menyusul Freya, mengarahkan jari telunjuknya pada bibirnya karena tidak ingin Rudi membuka suara setelah posisinya berada tepat di belakang wanita itu. 'Oh ... jadi seperti itu? Ibarat kata gaji sehari habis dimakan sehari. Jika mereka terkena PHK, ibaratnya seperti lagu gali lubang tutup lubang.' Puas beragumen sendiri di dalam hati, Keenan yang dari tadi terus berjalan mengikuti langkah kaki Freya, merasa sangat penasaran, kenapa tidak juga sampai, ia kini mengarahkan tangannya pada pundak di depannya. "Freya, apakah masih jauh tempatnya? Kakiku mau patah ini rasanya. Kenapa dari tadi tidak juga sampai di tempat tujuan?" Freya yang sebenarnya merasa sangat kesal pada Keenan, langsung mengibaskan tangan dengan buku-buku kuat itu dari pundaknya. "Jangan sembarangan menyentuh wanita yang bukan muhrimmu, Tuan muda Keenan! Sebentar lagi kita sampai, jangan bersikap lebay dan konyol. Cuma berjalan tidak ada satu kilometer saja sudah mengeluh kaki mau patah." Freya kini terlihat mengarahkan jari telunjuknya pada kawasan padat penduduk setelah berbelok ke kanan dari jalan besar. "Itu genteng yang berwarna merah adalah tempat kosku dan berhadapan dengan tempat kos pria." Keenan yang tadinya melihat ke sekelilingnya, kini mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Freya. "Jangan terus panggil aku tuan muda, Freya karena aku bukan tuan muda di tv itu." "Tingkahmu yang berlagak seperti tuan muda padahal sekarang benar-benar kere," umpat Freya dengan sangat kesal. Keenan yang terlihat tengah memicingkan mata saat merasa tidak paham dengan kalimat terakhir itu. "Apa itu kere? Aku sama sekali tidak paham." Menatap ke arah tempat kos yang semakin dekat. "Oh ... jadi di sini. Ternyata kita bertetangga. Wah ... jadi nanti saat aku butuh apa-apa, bisa langsung meminta bantuanmu tanpa harus kesusahan. Jarak yang dekat akan memudahkanku menghubungimu dan datang ke tempatmu." Sementara itu, hal berbeda dirasakan oleh Rudi karena merasa sangat senang tempat tinggalnya berhadapan dengan kos para wanita. 'Wah ... bisa lihat yang bening-bening nanti. Mantap ini, siapa tahu nanti ada yang kecantol dengan kegantenganku. Sekarang aku ibarat sambil menyelam minum air.' Hal berbeda tampak jelas dari wajah Freya yang merasa sangat kesal, ia bahkan mengarahkan tangannya yang mengepal pada wajah Keenan. "Meskipun kita bertetangga, jangan sekali-kali datang ke tempat kos para wanita jika tidak ingin digetok kepalamu sama ibu kos. Oh iya, kere itu adalah sejenis makanan bersantan dan berwarna kuning yang sering dijual di warung Padang." Tanpa menunggu tanggapan dari Keenan, Freya yang sebenarnya ingin tertawa, berlalu pergi meninggalkan dua pria itu karena ingin menemui pemilik kos yang rumahnya berjarak dua rumah dari tempat kosnya. Sementara itu, Keenan yang menyadari telah ditipu oleh Freya, refleks langsung berteriak. "Kalau itu kare, Freya! Dia mau menipuku dengan menganggapku bodoh dan tidak tahu apa-apa. Eeh ... mau ke mana dia? Main pergi aja tanpa bicara apa-apa." "Mungkin nona Freya sedang berbicara pada pemilik tempat kos ini, Tuan muda. Kita tunggu saja di sini," ucap Rudi yang kini mulai melihat ke sekelilingnya. Di mana ada kamar-kamar yang berjejer sekitar tujuh. "Nanti tuan muda tinggal di kamar sendirian atau kita satu kamar?" Keenan yang masih merasa sangat penasaran dengan perkataan dari Freya, sama sekali tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan dari Rudi. "Kere itu apa? Apa kau tahu arti dari kere?" Rudi yang juga tidak mengerti apa arti kere, hanya mengendikkan bahu. "Saya tidak tahu, Tuan muda. Kalau sate kere, saya pernah dengar, tapi kalau kere tidak paham artinya." Kini terlihat pria dengan badan tinggi tegap tersebut memijat pelipisnya karena merasa makin pusing saat mendengar jawaban dari pelayannya. "Apa lagi sate kere. Aku bukan bertanya soal makanan, tetapi kau malah membuatku lapar. Lebih baik kau pergi beli makanan karena aku benar-benar sangat lapar." "Baik, Tuan muda." Rudi mengulurkan tangannya untuk meminta uang. Saat Keenan berniat untuk mengambil uang lima puluh ribu yang tadi ada di saku celananya, ia tidak jadi melakukannya saat mendengar suara Freya. "Kamarnya tinggal satu. Jadi, kalian sekamar berdua saja. Oh ya, ada kabar baik untuk kalian. Tadi aku baru dapat kabar terbaru dari grup chat kantor. Besok dibutuhkan dua cleaning service dan aku tadi langsung mengajukan kalian berdua. Besok disuruh langsung datang ke perusahaan. Satu lagi, bawa surat lamaran kalian dengan ijazah terakhir, oke." Freya menyerahkan kunci pintu yang tadi diberikan oleh pemilik kos. Ia memang sudah kenal baik dengan pemilik kos, jadi dengan mudahnya ia berbicara dan langsung diizinkan. "Jaga baik-baik kunci ini, jangan sampai hilang. Kalau bisa, kalian buat kunci cadangan nanti, agar sewaktu-waktu hilang, tidak kebingungan. Aku pergi!" Melambaikan tangan pada dua pria yang akan menjadi tanggungjawabnya selama sebulan. Sementara itu, Keenan yang dari tadi merasa shock dengan tawaran dari wanita yang sudah menghilang di balik pagar besi tersebut, masih berkali-kali mengerjapkan kedua mata. Ia bahkan menoleh ke arah pelayannya yang juga sama terkejutnya dengan dirinya. "Kau dengar tadi wanita itu, Rudi?" Rudi hanya menganggukkan kepala tanpa membuka suara karena takut menjadi sasaran dari amarah majikannya. "Dia menyuruhku untuk menjadi cleaning service di kantornya? Apa dia sudah gila? Bahkan ijazah terakhirku berasal dari universitas terkemuka di London. Tidak mungkin aku sudi bekerja menggosok WC. Astaga!" Keenan yang kini terlihat berkacak pinggang, refleks langsung tertawa terbahak-bahak. "Freya adalah satu-satunya wanita gila yang pernah kutemui." To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN