Beberapa saat yang lalu, Freya masih berdiri di depan tempat kos sambil mengamati siluet sosok pria yang baru saja ditolak lamarannya. Pria dengan bahu lebar yang tadi terlihat sangat kecewa raut wajahnya saat ia tolak, kini telah menghilang di balik pintu gerbang besi berwarna hitam. Ia tadi sebenarnya tidak mau menerima kotak perhiasan berbentuk hati yang berwarna merah menyala dan melambaikan cinta membara tersebut. Freya kini tengah menunduk menatap kotak perhiasan pada telapak tangannya dan mengamati cincin sederhana yang berkilauan hingga menyilaukan mata. Cincin dengan batu permata yang menurutnya sangat cantik tersebut, membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan untuk memanjakan mata melihat kilauannya. "Cantik sekali," lirih Freya yang baru saja membuka kotak kecil tersebut.

