Wanita bermartabat

1177 Kata
Saat ini, terlihat Keenan mengepalkan kedua tangan dengan rahang mengeras dan bunyi gemeretak gigi yang saling beradu, menjelaskan bahwa ia benar-benar ingin menghancurkan wanita tidak tahu malu di balik telepon. Mendengar suara yang dianggapnya sangat menjijikkan, seketika membuat selera makannya hilang. "Aku tidak ingin berbicara denganmu, w************n!" Tanpa berniat untuk menunggu jawaban dari seberang, Keenan refleks memutuskan sambungan telepon dan berniat untuk menghubungi nomor Freya. Tentu saja untuk kembali mengarang cerita kebohongan. Sebenarnya, niatnya adalah ingin mengatakan yang sejujurnya setelah tadi di kantin wanita itu menekankan padanya, tidak suka pada seorang penipu. Namun, ia mendadak berubah pikiran setelah mengetahui bahwa Freya memiliki mantan kekasih. Ia berharap bisa menaklukkan hati Freya sebagai seorang cleaning service, bukan Keenan yang merupakan pewaris tahta Nelson Group. 'Aku ingin membuatnya memilihku karena ketulusannya. Aku harus bersaing dengan mantan kekasih Freya sebagai seorang cleaning service. Itu untuk meyakinkan diriku, bahwa wanita itu sangat pantas menjadi istri seorang Keenan Ivander Nelson,' lirih Keenan yang kini kembali memencet daftar kontak Freya. Lagi dan lagi ia merasa marah saat ada panggilan dari wanita yang dipanggilnya mak Erot. Tanpa berniat untuk mengangkat panggilan itu, Keenan masih menunggu hingga panggilannya diangkat oleh Freya. Namun, ia hanya menelan pil pahit kekecewaan saat panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Merasa harus segera menyelesaikan permasalahan, kini ia bangkit berdiri dari posisinya untuk mengambil T-shirt dan langsung memakainya. Namun, sebelumnya ia menunduk menatap pelayannya yang tidak melanjutkan makannya. "Kau lanjutkan saja! Aku akan ke tempat kos Freya dulu untuk menyelesaikan semuanya." Rudi yang langsung menganggukkan kepala sebagai respon perintah dari majikannya. Sebenarnya, ia sangat tahu bahwa perbuatannya sangat salah karena mendahului majikannya makan Namun, cacing-cacing di perutnya yang dari tadi protes, tidak bisa dikendalikan, sehingga ingin segera menyantap makanan yang seolah terlihat sedang melambai kepadanya. "Baik, Tuan muda. Selamat menikmati kebersamaan dengan nona Freya." Sebenarnya, Keenan ingin berkomentar, tetapi merasa akan membuang waktu, tidak jadi melakukannya karena merasa khawatir Freya akan marah dan tidak mau berteman dengannya lagi. Kakinya yang panjang kini melangkah keluar dan membuka pintu gerbang di hadapannya. Kemudian menuju ke tempat kos yang ada di seberang jalan. Tempat kos wanita yang terlihat sangat sepi karena pintu gerbang berwarna putih itu tertutup. Bahkan pintu-pintu kamar kos saat ini tertutup rapat dan hanya terdengar musik yang diputar dari kamar paling depan. "Kamar Freya yang mana, ya? Tidak mungkin aku mengetuk pintu itu satu persatu." Baru saja Keenan menutup mulut, ia merasa ada tangan yang mendarat di punggungnya. Begitu menoleh ke belakang, ia bisa melihat sosok wanita paruh baya dengan tubuh gemuk sudah menatapnya sangat tajam dan menghujaninya dengan banyak pertanyaan. "Apa yang kau lakukan di depan tempat kos wanita, anak muda? Apa kau tidak baca itu?" Mengarahkan jari telunjuknya pada papan yang digantung di dinding. Keenan yang kini mengikuti arah jari telunjuk wanita yang sudah tidak lagi muda tersebut, kini membuka suara untuk membacanya. "Tidak diperbolehkan menerima tamu laki-laki." Kini, Keenan terlihat menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena merasa kebingungan untuk menjawab. Namun, ia yang mempunyai keinginan sangat kuat untuk berbicara pada Freya, kini mencoba bersikap tenang. "Apakah ibu tahu wanita bernama Freya yang ada di tempat kos ini? Saya adalah teman Freya yang kos di depan. Ada hal penting yang ingin saya katakan pada Freya, tetapi tidak bisa melakukannya karena dia tidak menjawab telepon." Mendadak, Keenan mendapatkan sebuah ide di kepalanya. "Nanti ada hadiah kecil dari saya. Saya akan memberikan uang seratus ribu untuk tambahan uang belanja. Bagaimana, Bu? Anda setuju, kan?" Sementara itu, wanita paruh baya tersebut mengamati penampilan pria di hadapannya tersebut mulai dari ujung kaki hingga kepala dan hanya geleng-geleng kepala. "Apakah kau adalah pria yang ditolong Freya? Pria yang kecopetan dan kehilangan semua uangnya?" Kini, Keenan yang merasa tidak mempunyai muka lagi di hadapan pria itu, membuatnya mengerutkan kening. "Jadi, Anda tahu siapa saya? Apakah Freya yang sudah menceritakan kejadian yang sangat menyebalkan dan tidak akan pernah dilupakannya sepanjang sejarah hidupnya. "Tentu saja aku tahu karena tidak ada yang tidak kuketahui dari anak-anakku. Lain kali, jangan suka menipu orang tua, Pria muda. Kau tunggu saja di sini karena aku akan memangggil Freya, agar menemuimu. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kau datang ke tempat kos wanita karena jika sampai melakukannya, akan menyuruh pemilik tempat kosmu mengusirmu." Puas memberikan ancamannya, kini wanita yang merupakan pemilik tempat kos, membuka pintu gerbang dan melangkah masuk. Sebenarnya, tadi rencananya adalah ingin menagih uang kos. Namun, melihat ada seorang pria yang berdiri di depan gerbang, membuatnya buru-buru menghampiri dan mengingatkan peraturannya. Meskipun ia tahu bahwa para wanita yang kos di tempatnya adalah para wanita dewasa dan pekerja, tetap saja ingin berjaga-jaga dari hal yang tidak diinginkan. Ia sangat tidak menyukai ada seorang pria yang datang dan mungkin hanya akan menjadi puncak permasalahan wanita, yaitu hamil di luar nikah. Beberapa saat kemudian, Keenan yang tadi hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui perintah bernada ancaman tersebut, tidak ingin berdebat dengan pemilik tempat kos Freya. Tentu saja ia tidak ingin Freya mendapatkan masalah karena dirinya. Terlihat sosok pria wanita yang sudah sangat fresh dan posisi rambut masih dililit handuk kecil. Wajah segar tanpa polesan sedikit pun, kini terlihat sangat sangat luar biasa menawan bagaikan sebuah maha karya luar biasa dan membuatnya semakin terpesona.. "Sangat cantik." "Cantik dari Hongkong," sahut Freya yang tadinya baru saja keluar dari kamar mandi, mendengar ibu kos mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya. Kemudian menjelaskan kelakuan pria yang saat ini ada di hadapannya. "Kenapa kau kemari? Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa pria dilarang berkunjung di sini!" Melihat sosok wanita di hadapannya terlihat sangat kesal padanya, kini membuat Keenan langsung menjelaskan rasa khawatir yang dirasakan. "Aku tadi menghubungimu. Kenapa tidak dijawab? Aku benar-benar tidak ingin membuatmu salah paham mengenai nomor London yang kudaftarkan." Freya yang kini semakin merasa sangat bingung harus memberikan tanggapan apa karena ia hanyalah seorang wanita gaptek dan yang tidak pernah mengikuti perkembangan zaman. "Jadi, kau pernah pergi ke London? Wah ... kau sangat keren karena bisa menipuku hingga berkali-kali." Baru saja Keenan membuka mulut, ia kembali melihat sosok wanita yang terlihat gemuk tersebut baru saja keluar dan kembali melemparkan kalimat pedas dan melukai harga dirinya sebagai lelaki. Wanita paruh baya yang saat ini telah selesai menarik uang sewa, mengarahkan tatapan sangat tajam. "Awas, jangan sampai kalian berdua melakukan perbuatan dosa di sini karena para warga di sini sangat anti pada perbuatan m***m!" 'Sialan wanita ini. Bisa-bisanya dia pikir aku adalah seorang pria m***m . Bahkan selama tinggal di luar negeri pun, ada banyak wanita yang mendekatiku dan aku sama sekali tidak tertarik untuk membawa mereka ke atas ranjangku. Aku bukan pria m***m, wanita tua!" umpat Keenan untuk meluapkan kekesalannya. Hal berbeda dirasakan oleh Freya karena ia hanya terlihat sangat tenang. Setelah lama mengetahui sifat asli dari sang ibu kos, hanya menganggap bahwa ancaman itu hanyalah sebuah candaan. "Anda tenang saja, Bu. Saya pasti akan menjaga harga diri sebagai seorang wanita yang bermartabat." Menyunggingkan senyumnya saat mendapatkan dua ibu jari dan kembali fokus pada sosok pria di hadapannya. "Sebenarnya tujuanmu datang kemari apa? Cepat jelaskan sebelum para tetangga salah paham pada kita." Keenan kini mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan sesuatu pada Freya yang serius saat menatapnya. To be continued...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN