Tuan muda gadungan

1540 Kata
Baru saja Keenan berniat untuk melangkah maju mendekati sosok wanita yang baru saja membuat kepalanya terhempas gerbang besi hingga terasa nyeri, indra pendengarannya menangkap suara bariton dari pelayannya yang ternyata baru tiba dan terlihat tengah membawa kantong plastik berisi makanan. "Sepupu, aku sudah kembali," ucap Rudi yang langsung berteriak untuk mengalihkan perhatian dari majikannya. Sebenarnya, ia tadi yang berjalan kembali ke tempat kos, melihat interaksi dari majikannya dan sosok wanita yang menurutnya memiliki wajah cantik tersebut, sehingga saat ia mencium sesuatu yang tidak beres, membuatnya berpikir harus menghentikan perbuatan sosok pria yang sangat dihormatinya tersebut. Hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah berteriak untuk memanggil majikannya dan beralih menatap ke arah sosok wanita dengan wajah memerah dan menjelaskan tengah dikuasai oleh amarah. "Freya, ada apa lagi? Apakah ada hal yang belum kamu sampaikan?" Sebenarnya, beberapa saat yang lalu Freya mengerutkan kening saat mendengar suara bariton bernada kemarahan dari pria yang menatapnya dengan tatapan tajam. Bahkan kalimat bernada ambigu yang sama sekali tidak diketahui artinya tersebut, semakin membuatnya merasa kesal. Namun, saat ia ingin kembali mengumpat, suara Rudi yang tertangkap indra pendengarannya, refleks seketika membuatnya menolehkan kepala. Tidak ingin memperpanjang masalah dengan menyangkutpautkan Rudi, Freya pun memilih untuk menanggapi pertanyaan yang ditujukan padanya. "Tadi aku hanya memberikan contoh surat lamaran untuk kalian. Freya yang tiba-tiba mengingat sesuatu, kini langsung mengungkapkan pada Rudi. "Oh ... ya, nomor ponselmu berapa? Biar nanti saat aku ingin menyampaikan sesuatu, cukup lewat pesan saja. Jadi, aku tidak perlu repot-repot datang ke sini. Tenang saja, aku tidak akan meneror atau menyantetmu." Merasa menjadi sebuah kehormatan untuknya saat nomornya ada dalam daftar kontak wanita cantik, refleks langsung membuat Rudi menyunggingkan senyuman dan buru-buru meraih ponsel yang ada di saku celana sebelah kiri. Namun, suara bariton dari majikannya, refleks membuatnya seketika menolehkan kepala dan menatap wajah yang menurutnya sangat aneh tersebut. Keenan yang merasa ada bahaya saat kebohongannya mungkin akan ketahuan ketika pelayannya memberikan nomor pada Freya, refleks langsung mengungkapkan sebuah kebohongan untuk yang kesekian kalinya. "Rudi, mana ponselku yang kau pinjam tadi? Cepat kembalikan! Tadi Freya meminta nomor ponselku, tetapi aku tidak mengingatnya karena memang tidak menghafalnya. Oh ya, apakah kau menghafal nomormu?" Berjalan menghampiri pelayannya yang terlihat menampilkan wajah kebingungan karena perkataannya. Bahkan Keenan kini menepuk bahu pria yang jauh lebih muda darinya tersebut. "Bukankah ponselmu tadi kehabisan daya dan mengecasnya di dalam? Ambil sana, tapi kembalikan ponselku dulu!" Merasa ada sebuah rencana besar dari majikannya, kini Rudi telah berakting dengan membenarkan semuanya meskipun sebenarnya merasa sangat bingung. "Oh iya, aku lupa, sepupu." Rudi kini Meraih ponsel miliknya dan menyerahkan ke tangan majikan yang dari tadi seolah ingin menerkamnya. "Tentu saja aku pun tidak menghafal nomorku karena kusimpan dengan menamainya nomor pribadi. Oh ya, terima kasih, Sepupu. Tadi aku sudah menelpon ayah dan ibu yang ada di kampung untuk mengabarkan bahwa kita sudah sampai di Jakarta dengan selamat, tanpa kekurangan suatu apapun." "Baguslah kalau begitu," jawab Keenan yang kini sudah menerima ponsel milik Rudi dan seulas senyuman terukir di bibirnya saat mendengar jawaban dari pelayannya. 'Aku tidak perlu repot-repot untuk bertanya, tetapi Rudi sudah memberikan jawabannya. Pucuk dicinta ulam tiba,' gumam Keenan yang langsung membuka ponsel milik Rudi untuk mencari nomor karena ingin segera memberikannya pada Freya. Ia pun menatap wajah sosok wanita yang masih masam dan kesal padanya. "Ini nomorku, cepat catat! Agar kamu lebih mudah nanti untuk menghubungiku." Merasa berubah pikiran karena masih merasa kesal, kini Freya langsung menggelengkan kepala dan berteriak pada Rudi yang sudah berjalan masuk ke dalam kamar kos. "Aku tunggu di sini, Rudi. Berikan nomormu!" Rudi yang baru saja masuk ke dalam kamar, tentu saja bisa mendengar suara dari Freya dan membuatnya merasa sangat kebingungan harus memberikan nomor siapa. "Astaga, baru kali ini ada seorang wanita yang sangat cantik ngotot untuk meminta nomorku. Lalu, aku harus memberikan nomor siapa? Mana ponselnya sudah diakui oleh tuan muda tadi." Berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang tidak jauh lebih besar dari kamarnya di mansion majikannya. Sementara itu, Keenan yang merasa sangat kesal karena tidak dipedulikan oleh Freya, ingin sekali mengumpat. Namun, ia sadar tidak ada waktu untuk mengumpat karena harus segera mengatasi masalah. Hal pertama yang dipikirkannya adalah sosok pelayan dan diketahuinya pasti sedang merasa sangat kebingungan di dalam kamar. 'Sialan, Freya! Dia telah berhasil membuatku merasa diombang-ambingkan! Rudi pasti saat ini tengah kebingungan di dalam. Aku harus segera memberitahunya mengenai apa yang harus dilakukan,' gumam Keenan yang saat ini masih menatap tajam wajah Freya. "Baiklah, kalau kau tidak mau menyimpan nomorku! Aku sama sekali tidak merasa bingung!" Tanpa menunggu respon dari sosok wanita yang seolah tidak ingin melihat wajahnya, Keenan kini melangkah masuk ke dalam kamar dan buru-buru mengatakan sesuatu pada Rudi. "Kau bawa pulpen dan buku tidak?" Rudi yang merasa sangat senang melihat majikannya, kini mencoba memeriksa tasnya karena seingatnya pernah menaruh pulpen dan seulas senyuman kini terbit dari bibirnya. "Ada, tapi hanya pulpen, bukunya tidak ada, Tuan muda. Memangnya untuk apa pulpen?" Tanpa berniat untuk menjelaskan, kini Keenan merebut pulpen dari tangan Rudi dan mulai menulis nomor ponsel miliknya di telapak tangan pelayannya tersebut. Ia benar-benar merasa sangat terhina saat Freya tidak mau menyimpan nomornya. Pada akhirnya, ia mempunyai sebuah ide di kepala, yaitu memberikan nomornya atas nama Rudi. "Sekarang kau keluar dan kasih nomor ini. Bilang pada Freya kalau ini nomormu, oke! Kau paham, kan maksudku?" Kini, Rudi yang merasa mengerti dengan keinginan dari majikannya, hanya menganggukkan kepala. Meskipun jauh di lubuk hatinya kini merasa sangat kecewa dengan ulah majikannya yang seperti merebut haknya. 'Kenapa sekarang aku merasa telah ditikung oleh tuan muda, ya? Padahal yang diminta kan nomorku, kenapa malah dikasih nomor tuan muda? Saat ini, aku merasa seperti tengah bersaing dengan majikan sendiri dan harus sadar diri bahwa aku tidak akan menang melawan seorang tuan muda Keenan yang memiliki sejuta pesona bagi kaum hawa itu,' gumam Rudi yang kini berjalan keluar dari kamar kos untuk menemui Freya. "Freya, ini nomor ponselku. Bisa kamu simpan dengan nama si tampan Rudi," ucap Rudi yang saat ini tengah menunjukkan telapak tangannya. Freya yang kini masih mengerutkan keningnya, memicingkan mata saat merasa aneh melihat pria di hadapannya tersebut tidak membawa ponselnya. "Memangnya mana ponselmu? Kenapa mencatat di tangan seperti ini?" Mulai mengetik nomor dari tangan Rudi dan menyimpannya. Merasa kebingungan untuk mencari alasan, Rudi menyembunyikan kegugupannya dengan terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. "Eh ... itu tadi sepupuku aku suruh charge hp yang mati, tetapi dia lupa dan alhasil ponselku tadi tidak nyala. Jadi, aku cek di hp sepupuku tadi nomornya." "Oh ... ini sudah aku simpan, ya. Nanti aku miscall satu jam lagi, mungkin ponselmu sudah nyala, kan?" tanya Freya yang saat ini baru saja memasukkan ponsel miliknya ke kantong celana. "Iya, pasti sudah nyala," sahut Rudi seraya mengumpat di dalam hati. 'Kau miscall sekarang pun ponselnya sudah nyala, Nona karena itu bukan nomorku. Jadi, begini rasanya ditikung oleh majikan sendiri. Sangat nyesek senyesek-nyeseknya,' gumam Rudi yang masih menangisi nasib tragisnya. Kini, Freya menyunggingkan senyumnya dan melambaikan tangan ke atas. "Baiklah, aku pergi dulu. Nikmati makanannya karena nanti jadi dingin." Berjalan meninggalkan sosok pria yang menurutnya jauh lebih baik daripada Keenan. 'Rudi jauh lebih sopan daripada si tuan muda gadungan yang songong itu,' umpat Freya yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar kosnya. Sementara itu, Keenan yang merasa sangat kelaparan, saat ini tengah membuka nasi bungkus yang sudah dicampur dengan sayuran dan lauk. Melihat itu, ia langsung menutup mulutnya karena merasa ingin muntah. Begitu melihat sosok pelayannya, refleks ia langsung berteriak untuk mengungkapkan kekesalannya. "Rudi, kau belikan aku makanan yang lebih seperti muntahan kucing. Astaga, bagaimana mungkin aku bisa makan makanan seperti ini? Bisa sakit perut aku nanti jika makan makanan yang sudah dingin dan dicampur seperti ini," umpat Keenan yang mendadak merasa selera makannya langsung hilang. Dengan berjalan mendekat, Rudi merasa sangat kebingungan untuk menjelaskan. Namun, ia merasa ingin melindungi dirinya agar tidak mendapatkan kemurkaan dari majikannya tersebut. "Uang lima puluh ribu hanya cukup untuk membeli dua bungkus nasi dan es teh ini, Tuan muda. Ini enak, lebih baik Anda mencobanya dulu. Kalau tetap tidak suka, biar saya yang menghabiskan semuanya nanti. Anda bisa menyuruh orang untuk mengantarkan makanan, tetapi dengan risiko penyamaran Anda bisa terbongkar nanti." Masih merasa kesal ditambah penjelasan panjang lebar dari pelayannya yang malah terdengar sebagai sebuah umpatan, refleks membuat Keenan mengarahkan tangannya ke lengan kekar Rudi. "Apa kau sedang berniat untuk mengguruiku? Lain kali saat membelikan makanan, jangan sampai mencampurkan lagi seperti ini. Sayur dan lauk harus disendirikan. Apa kau mengerti?" "Mengerti, Tuan muda. Maaf, saya tidak bermaksud untuk menggurui Anda," jawab Rudi dengan menganggukkan kepala. Tidak berselera makan, Keenan mendorong nasi bungkus tersebut ke arah pelayannya. "Nih ... buat kamu semua. Aku akan menyuruh orang untuk membawakan makanan ke sini." Keenan mengambil ponsel miliknya yang berada di sebelah kanan dan saat ia ingin membuka panggilan telepon, ponsel miliknya berdering dan ada nomor asing yang tidak terdaftar telah menghubunginya. Tanpa membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mengeluarkan suara baritonnya. "Halo, siapa ini?" "Ini aku Freya. Tunggu, aku sangat hafal suaramu. Ini tuan muda gadungan, kan?" Mendadak Keenan melihat ponsel miliknya dan menyadari bahwa yang saat ini menghubungi adalah Freya. 'Sial! Jadi, ini nomor Freya? Buat apa dia menghubungi Rudi? Apa dia mau menggoda Rudi?' umpat Keenan yang kini menatap tajam ke arah sosok pelayannya saat sudah mulai menikmati makanan. To be continued ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN