Apa kamu pernah tahu bentuk laut sesungguhnya?
Jika tidak, maka aku pun demikian
Sama halnya seperti perasaanku
Benar adanya, tapi kamu masih saja meragu akan keseriusannya..
- Nathan -
***
Gadis itu berjalan cepat meninggalkan pria yang terus berusaha mengejar dan membujuknya. Tak peduli dengan pandangan sekeliling menatap keduanya dengan penuh tanya. Tak biasanya Dira dan Nathan bertengkar seperti anak kecil begini.
"Ayolah Dir, aku cuma bercanda. Maafin aku ya? Please?" Nathan berusaha merayu. Walau pada kenyataannya ia memang tak pandai dalam hal ini.
"Kamu pikir itu lucu? Nggak sama sekali!"
"Iya aku sadar aku salah. Aku minta maaf. Nggak akan kuulangin lagi."
"Denger baik-baik, Nat, aku phobia binatang melata. Kamu tahu itu. Kalau kamu tahu kenapa kamu masih nekat isengin aku kayak gitu?"
"Karena aku cuma pengen bantu kamu supaya nggak takut lagi. Lagipula itu cuma mainan, Dir."
"Oh gitu? Apa jangan-jangan sikap kamu ke aku selama ini juga buat mainan doang?" Dira menyindir tegas.
"Kok ngomongnya gitu sih? Aku sayang sama kamu."
"Sayang tapi gantungin. Itu namanya bukan sayang. Lama-lama jenuh juga harus nunggu tanla kepastian!" Dira semakin emosionil.
Nathan mengurut kening. Ia frustrasi harus bagaimana menghadapi kekesalan Dira saat ini. Memang salahnya karena terlalu berlebihan. Dan Dira sangat membenci hal-hal yang menurutnya kelewat batas. Apalagi sampai membuatnya pingsan. Hubungan keduanya memang aneh. Sama-sama sayang, tapi tak jelas arahnya mau ke mana. Yang satu menunggu tanpa kepastian, yang satunya sengaja menunda seakan tak menampakkan keseriusan.
"Besok malam minggu, kamu ikut aku ke suatu tempat."
"Nggak mau."
"Kamu mau kutembak kan?"
Dira melotot kesal. Nathan ini sudah orangnya agak cuek, kurang peka, dan kadang menyebalkan juga. Herannya, kenapa Dira bisa sebegitunya menyukai pria ini?
Gadis itu menatap ke sekeliling. Semua pandangan mata hampir mengarah ke mereka berdua. Bahkan suara bisik-bisik dan kasak-kusuk tak jelas mulai terdengar di telinga. Ia merasa berada dalam situasi yang menyudutkan dirinya sendiri. Dira tak suka banyak orang tau tentang hubungan dekat dirinya dengan Nathan yang notabene adalah atasan di sini. Bisa-bisa keduanya malah jadi bahan gosip berjalan nanti. Berita di acara Silet bisa kalah tajam dari gibahan para karyawan yang kadang suka julit tanpa perasaan.
Alhasil, mau tak mau Dira pun mengalah. Ia mencoba bersikap sopan pada Nathan dan kemudian membisikkan sesuatu. "Tolong, jangan bicara aneh-aneh di depan banyak orang. Kita berdua bukan bintang telenovela atau tokoh sinetron Ikatan Rasa di televisi. Jadi, jangan sampai ada yang salah paham."
"Ya kalau gitu kita bicara baik-baik. Bisa kan? Jangan kayak anak kecil kejar-kejaran gini."
"Nggak di sini juga, Pak Nathan yang terhormat." Dira menekankan kata Pak untuk memperingatkan Nathan dengan posisinya.
Pria itu bingung melihat Dira memainkan mata ke arah sekeliling. Dan Nathan baru sadar kalau semua orang memperhatikan keduanya setelah menoleh ke sekitaran.
"Ehem. Yasudah, kamu lanjutkan pekerjaan," ujar Nathan berusaha menjaga wibawanya di hadapan semua karyawan.
Keduanya pun berpisah arah. Untuk menghindari gosip berkelanjutan. Padahal, sudah lama keduanya menjadi bahan gunjingan di beberapa karyawan yang iri dengan Dira. Selain karena Dira yang sering mendapat pembelaan dari atasan mereka, juga karena Dira pernah ditembak Rangga di depan banyak orang. Membuat para penggemar Rangga patah hati sekaligus.
Dira menuju kubikelnya dan duduk sembari meniup poni sekilas. Nana mengintip dari sebelah. Seakan tahu prahara apa yang baru saja terjadi.
"Belum baikan?" tanyanya memastikan.
"Baikan? Siapa yang marahan?"
"Ya kamu sama Nathan."
"Kami nggak lagi marahan."
"Terus apa? Statusmu galau gitu."
"Status mana?"
"Status di WA."
Seketika Dira tersadar akan sesuatu. Seingatnya pengaturan di aplikasi hijau tersebut sudah ia buat privasi untuk semua orang. Memang beginilah Dira bila tengah dilanda emosi melanda. Buru-buru Dira mengecek dan benar saja, ternyata ia belum menyetel ulang bilah privasi statusnya. Hobinya sejak lama memang aneh. Dira suka buat status galau jika tengah dilanda emosi, tapi ia sembunyikan dari semua orang. Katanya supaya dirinya bisa plong, tanpa orang perlu tahu problemnya juga. Secepat kilat Dira menghapusnya.
"Percuma dihapus. Udah banyak yang screenshoot kayaknya."
"Hah? Ngapain di screenshoot?!"
"Kamu nggak tengok grup? Coba cek," ujar Nana mengingatkan.
Dira kembali beralih ke ponsel di tangan. Ia membuka grup yang isinya sebagian besar karyawan satu divisi. Dan menemukan fakta mencenangkan. Statusnya malah berhasil menduduki peringkat utama dalam tajuk hangat hari itu. Gadis itu hanya bisa menepuk jidat. Malu bukan kepalang.
"Statusku kelihatan aneh banget apa ya?" tanyanya pada sang sahabat.
"Aneh sih nggak, cuma ya cukup terbuka sekali sih."
Lagi-lagi Dira menepuk jidat. "Iya juga ya. Gimana dong ini?!"
"Yaudah sih abaikan aja. Ntar juga reda sendiri gosipnya. Kayak hujan tuh, awal-awal deres lama-lama juga tinggal gerimis tipis-tipis."
"Kalau ada angin topan beliung gimana? Malah makin parah dong?!" Dira makin frustrasi dengan perumpamaan Nana barusan.
"Ehem. Jemuran digantung seharian kalau panas bisa cepet kering, Pak. Tapi, perasaan kalau dianggurin kelamaan dan digantungin tanpa kejelasan pasti, yang ada malah bikin hati makin panas, Pak!"
Dira dan Nana mendongak ke arah sumber suara. Rangga sudah berdiri di sisi kubikel Dira sembari bersandar dan melipat dua tangan di d**a.
"Statusmu terlalu dangkal buat digali, dan terlalu dalam buat dipahami," sindir pria berjaket putih itu.
"Apaan sih, nggak usah ikut-ikutan kayak netizen deh!"
"Aku kan juga netizen. Penggemar nomor satumu."
"Halu."
"Iya halu. Hanya bisa berharap selalu padamu."
"Maksa banget istilahnya."
"Tapi kena di hati kan?"
"Bodo amat!" Dira pura-pura tak peduli. Hatinya sudah dongkol tak karuan selepas membaca pesan di grup. Semua hanya bisa menjatuhkan namanya, tanpa ada yang mengerti akan perasaannya.
Nana berusaha menenangkan sahabatnya. Ia memainkan tangan sebagai kode agar Rangga tak mengganggu Dira dulu. Pria itu meletakkan sebotol minuman dingin rasa matcha kesukaan Dira di atas meja kerja gadis itu. Kemudian pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
Dira hanya melirik sepintas. Sedangkan Nana melihat sahabatnya dengan perasaan campur aduk.
'Enak ya jadi kamu, Dir. Punya dua orang laki-laki yang sayang banget sama kamu. Sedangkan aku, satu aja nggak berhasil membalas perasaanku,' bisiknya dalam batin. Meski ada senyum terlukis di bibir gadis ini, tetap saja batinnya menahan sembilu tak beraturan.
Nana merana bukan karena ia tak punya cinta. Banyak pria naksir padanya. Malah hampir sebagian besar karyawan kantor yang berjenis kelamin laki-laki suka padanya. Selain cantik dan punya bentuk tubuh aduhai, Nana adalah gadis pintar, yang juga ramah dan murah senyum. Ditambah, ia senang membantu temannya bila ada yang dalam kesulitan mengenai pekerjaan atau sejenisnya. Sayang, semua ia tolak. Hatinya tetap berarah di satu tujuan, dan terlalu sulit untuk dibelolkan lagi. Berbanding terbalik dengan Dira yang hanya ramah terhadap sesama karyawan perempuan, dengan pria ia jutek sekali, kecuali terhadap pria yang ia sukai tentunya.
"Cie yang digantungin sama Pak Bos nih ye?" goda Maya baru datang menghampiri Dira yang sedang menelungkup muka.
Sekilas Nana segera memanggil Maya dan memperingatkannya untuk tidak membangunkan macan tidur, bila tak mau diterkam dan dilumat sampai habis. Maya bergidik ngeri.
"Segalau itu ya?" tanya Maya sambil duduk di tempatnya. Meja kerjanya berada tepat di sebelah Nana.
"Bukan urusan kita. Nggak usah kepo."
"Eh tapi tahu nggak, Na. Ada gosip lebih heboh loh."
"I don't care. Aku nggak suka dengerin gosip murahan. Receh banget tau."
"Ye, gosip mahal nih. Menyangkut namamu juga tahu."
"Namaku? Maksudnya?"
"Denger-denger, ada cinta segiempat di kantor. Antara Pak Nathan, Dira, Pak Rangga, dan kamu."
"Hah? Kok aku?" Jelas saja Nana langsung panik bukan main. Susah payah ia menyembunyikan perasaannya selama ini, berharap agar tak ada satu pun orang tahu.
"Katanya, kamu naksir Pak Rangga ya?"
"Hah?" Sekali lagi Nana dibuat tersentak. Antara ingin menarik napas lega, sekaligus menahan kesal. Ibarat kata, ingin menampik khawatir tuduhan beralih dengan tepat, ingin mengiyakan jelas itu bukan sebuah kebenaran yang dapat dipertahankan selamanya.
"Bener nggak sih beritanya itu?" Maya makin penasaran.
"Nggak usah dibahas ya, kurang kerjaan banget. Gosipnya makin melantur ke mana-mana. Aku naksirnya sama Jungkook BTS. Puas?"
"Jungkook BTS mah punya banyak orang. Aku juga naksir kali. Eh, idamanmu udah bukan Nam Woohyun Infinite lagi?"
"Dua-duanya sih. Tapi mereka nggak naksir kita, May."
"Ya nggak masalah. Cinta nggak harus memiliki, Na. Gitu pepatah lamanya."
"Terus, pepatah barunya apa?"
"Cinta nggak harus dimiliki, tapi harus diraih."
"Lhah? Apa bedanya?" Nana bingung.
Maya hanya garuk kepala sambil nyengir. "Hehe, sama ya? Ngasal aja aku biar kayak motivator di tipi-tipi."
"Kasian BTS punya fans absurd kayak kamu, May."
"Justru mereka bangga dong. Kan unik gitu loh."
Keduanya malah jadi membahas salah satu boyband kenamaan Korea Selatan. Ya, setidaknya Nana berhasil merubah topik menjadi lebih ringan.
Sementara itu, Dira kembali mendapat pesan misterius di dm aplikasi Instagramnya. Dan itu adalah pesan dari orang asing yang sebelumnya. Hanya saja nama akunnya belakangnya sudah dihapus. Dira tak memusingkan hal itu. Ia lebih penasaran tentang hal lain.
@junaivandar_
Saya adalah calon kakak tiri kamu... jika ibumu benar-benar menikahi ayah saya
Dira terlonjat kaget. Retina matanya melebar tak parcaya. Ia bahkan tak menghiraukan Nana dan Maya yang bertanya ada apa dengannya. Dira kembali duduk sembari memainkan tangan ke udara, seolah memberi isyarat tak ada apa-apa. Lalu mulai mengetik balasan untuk si pengirim tak dikenal.
@diraarunika_ji
Calon kakak tiri? Apa maksudnya ya? Saya bahkan nggak kenal dengan anda
Balas Dira. Ia beralih mengecek ke beranda milik si pria asing. Hanya ada foto profile yang tampak dari belakang. Sisanya kosong melompong. Padahal pengikutnya banyak, tapi tak ada foto satu pun diunggah di sana.
"Apa ini akun fake orang iseng ya? Tapi, kenapa ngakunya calon kakak tiri? Tunggu dulu, kalau dia minta uang berarti memang cuma iseng dan mau nipu nih," guman Dira menerka-nerka.
@junaivandar_
Mengirim sebuah gambar
Dira membuka kiriman gambar dan lagi-lagi berdiri terlonjak. Lebih kaget dari sebelumnya.
"Kenapa sih, Dir?!" tanya Nana dan Maya bersamaan.
"Bukan apa-apa!" balasnya singkat, padat, dan tidak jelas. Ia kembali duduk, dan sibuk mengetik balasan lagi.
@diraarunika_ji
Anda kenal dengan ibu saya?
@junaivandar_
Ya. Saya kenal
@diraarunika_ji
Lalu? Apa urusannya dengan saya? Beliau sudah pergi begitu lama. Dan saya merasa nggak ada sangkut pautnya lagi dengan beliau.
@junaivandar_
Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan kamu
Seketika Dira terdiam memandang pesan yang ia baca dalam hati. Gadis itu dilema, antara mengiyakan atau menolak. Pasalnya, ia tak kenal sama sekali dengan sang pengirim pesan. Dan juga, hubungan keluarganya cukup rumit. Sudah lama Dira tak mau tahu tentang ibunya lagi. Sejak sang ibu memilih pergi meninggalkan Dira dan juga ayah Dira. Tak pernah memberi kabar apapun juga. Dira merasa dibuang dan ditinggalakan. Ia harus menumpang di rumah neneknya, sambil merawat ayahnya yang sempat terkena penyakit stroke sampai akhirnya tiada.
Mengingat hal tersebut membuat batin Dira nyeri. Ia berusaha menutup kenangan pahit dengan mengabaikan pesan dan menyibukkan diri dengan pekerjaan. Meski hatinya tak bisa memungkiri, bahwa ia ingin sekali tahu keadaan sang ibu. Apakah baik-baik saja, atau?
Sebuah pesan kembali ia terima.
@junaivandar_
Saya harap kamu berkenan bertemu dengan saya. Saya butuh bantuan kamu...
Dira termenung dengan pikiran tak menentu. Hatinya dilanda gundah gulana.
"Temui atau nggak?" tanyanya pada diri sendiri.
Lagi-lagi pesan ia terima. Kali ini pria itu mengirim sebuah foto identitas diri. Dira terperangah. Untuk apa orang tersebut sampai mengiriminya kartu tanda pengenal segala?
@junaivandar_
Saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin bertemu dengan kamu dan membicarakan hal penting. Itu saja. Bisa kan kita bertemu?
=======♡DHSC♡=======