Hati itu seperti sebuah ruangan kosong yang akan hampa bila tak berpenghuni. Dan akan gelap bila tak ada cahaya. Sama seperti perasaanku. Aku yang kosong dan gulita tanpa balasmu...
- Nana -
***
Sepanjang perjalanan Nana menatap ponsel dengan hati yang bimbang. Di sampingnya, Nathan melirik dengan heran. Tak biasanya teman sekaligus rekan kerjanya ini terlihat muram dan gelisah. Nana adalah tipikal gadis yang agak cerewet dan ceria. Ia suka blak-blakkan bila menasihati sahabatnya. Ia juga senang menghibur kawan-kawannya dengan keramahan serta candaan. Namun, agaknya ada yang berbeda dengan hari ini. Sejak pagi gadis itu terlalu sering melamun tak jelas. Entah apa yang ia pikirkan.
"Kamu kenapa, Na? Ada masalah?"
Nana menggeleng singkat. Kemudian menghela napas perlahan. Seakan ada penat di kepala yang ingin sekali ia enyahkan tapi tak bisa.
"Kalau ada masalah tuh cerita, jangan dipendem sendiri. Nanti malah jadi penyakit."
"Aku pusing sama ibuku. Tiap hari yang ditanyain kapan mau nikah mulu. Memangnya cari jodoh segampang cari cilok di pinggir jalan apa?" keluhnya buka suara.
"Masih zaman ya kayak gitu?"
"Ya gitulah. Makin sering nanya malah. Sehari bisa tiga kali ibuku nanya hal sama. Udah berasa minum obat aku jadinya."
Nathan mesem mendengar jawaban absurd gadis di sebelahnya. Untungnya kedua orang tua Nathan bukan termasuk orang tua yang memaksa dan berpikiran sempit. Kebanyakan orang tua akan memaksa anaknya segera menikah hanya karena khawatir anaknya tak laku, atau cemas bila jadi bahan gunjingan tetangga maupun sanak saudara, atau parahnya takut kalau-kalau anaknya jadi perawan tua.
"Terus gimana kamunya? Calonnya udah ada belum?" tanya Nathan santai. Ia tak sadar kalau pertanyaannya justru semakin memupuk kekesalan di hati Nana saat ini.
'Memang dasar nggak peka banget ya! Kalau bukan karena aku cinta mati sama kamu, mungkin udah punya pacar sekarang aku!' rutuk Nana dalam batin. Kesal bukan main karena Nathan tak pernah bisa merasakan apa yang ia rasakan selama ini.
Suasana hening sesaat. Sebuah lagu berjudul Haruskah Aku Mati yang dinyanyikan oleh Happy Asmara, dengan versi musik koplo pun mulai terdengar dari stereo di mobil. Liriknya benar-benar menyentil sanubari Nana yang merana. Ia sempat melirik sekilas sosok rupawan pria di sisinya. Nathan masih fokus memandang ke depan. Seolah membiarkan Nana menikmati indah perasaannya yang tanpa sadar setiap hari tergores dan tersayat.
***
Andai kau merasakan sakit yang kauberikan kepadaku
Kuyakin kau tak akan sanggup untuk bertahan
Andai yang kau lakukan dapat kukembalikan kepadamu
Kupastikan dirimu lebih rapuh dariku
Namun kutak ingin lukai hatimu
Aku sekuat hati bertahan
Kamu sebisanya menghancurkan
Aku mengalah karena cinta
Kamu sengaja menggores luka
Dengan cara apa lagi kau melunakkan hati
Haruskah diriku mati, agar kau bisa hargai
***
"Udah coba bicara baik-baik dan minta pengertian ke ortumu?"
Pertanyaan Nathan membuyarkan lamunan Nana. Gadis itu tersentak dari debaran jantung yang kian menjadi. Bibirnya terlalu kelu untuk mengungkap rasa yang ia pendam. Begitu dalam dan hanya kediaman sanggup ia lakukan. Ia sadar bila tak akan bisa berada di antara cinta dan persahabatan.
"Udah terlalu sering aku ngasih pengertian ke ibuku. Tapi ya gitu, percuma aja. Sukanya banding-bandingin sama anak tetangga di kampung. Katanya, perempuan tuh kodratnya di dapur dan ngurus anak sama suami. Lhah, aku kan juga punya cita-cita. Pengen jadi wanita karir. Nggak mau cuma ngandelin suami aja nantinya. Memangnya salah ya?!" dumel Nana setengah menahan emosi.
"Ya nggak salah juga. Itu pemikiran yang bagus menurutku. Perempuan ada kalanya harus mandiri dan bisa berdiri sendiri. Jadi, dia bisa mengobati dirinya bila sampai terluka nantinya. Hanya saja, jangan terlalu apa-apa sendiri. Sesekali kamu juga perlu bersikap manja nanti sama pasanganmu."
"Kok malah galau sih?"
"Aku cuma menasihati. Kamu terlalu mandiri, Na. Mungkin itu yang bikin laki-laki pada bingung ngadepin sikapmu. Ada sebagian yang suka, tapi nggak bisa dipungkiri, banyak juga yang jadi was-was."
"Was-was gimana maksudnya nih?"
"Ada saatnya kamu bakalan mengerti nantinya," balas Nathan tak jelas. Ia hanya tersenyum dan beralih ke ponsel sejenak.
"Coba jangan kebiasaan. Kalau pas nyetir tuh fokus ke depan. Jangan mainan hape terus, bahaya tahu."
Nathan pun menepikan mobilnya sebentar. Lalu menghubungi nomor seseorang. Sayangnya, nomor yang dituju tak mau menjawab, malah sengaja dimatikan begitu saja. Nathan hanya geleng kepala seraya mesem-mesem tak karuan.
"Kenapa?"
"Biasalah."
"Dira?"
Nathan mengangguk. "Ngambek dia."
"Ngambek? Gara-gara apa?"
"Aku kasih sedikit kejutan buat dia. Eh malah ngambek."
"Kejutan?"
Seketika hati Nana lengser tanpa arah. Wajah sumringah Nathan seperti menjawab segalanya. Pria itu hanya memberi anggukan dan kembali melajukan mobil setelah mengetik sebuah pesan.
"Aku taruh sesuatu di laci meja kerjanya."
"Kamu taruh apa? Kok sampai bikin Dira ngambek?"
"Uler mainan."
"Hah? Seriusan?!" Nana tersentak kaget. Prediksinya meleset jauh. Ia pikir Nathan memberi kejutan manis semacam bunga, cokelat, makanan, hadiah, atau sejenisnya. Dipikir-pikir lagi, pria satu ini memang tak punya sisi romantis yang baik. Entah bagaimana Dira dan Nana bisa terjebak rasa dengan Nathan yang cuek begitu.
"Parah kamu nih. Kan tahu kalau Dira phobia hewan melata. Kok malah dikasih gituan sih?"
"Justru itu, biar dia belajar mengalahkan rasa takutnya."
"Tapi nggak gitu juga caranya."
"Lagian itu cuma mainan, nggak beneran kan?"
"Tetep aja, Nathan. Kamu nggak tahu ya, dulu Dira pernah pingsan gara-gara dilempar ular mainan sama temen sekelas. Badannya sampai demam dua hari tahu."
Spontan Nathan terhenyak kaget. "Kamu serius?!" tanyanya panik.
Nana mengangguk membenarkan. Ia tahu betul seperti apa sahabat karibnya. Dan tak habis pikir juga dengan keisengan Nathan yang kelewatan.
Benar saja, tak lama berselang, ada sebuah panggilan telepon dari teman kerja Nana di kantor. Gadis itu mengangkatnya.
"Halo, Na! Kamu di mana? Ini Dira pingsan!" Suara Maya terdengar panik dari seberang telepon.
Nana mengurut kening seraya menoleh ke arah Nathan. Lalu meminta Maya agar tetap tenang dan membawa Dira ke ruang khusus kesehatan. Sebuah ruangan yang disediakan khusus oleh perusahaan apabila sewaktu-waktu terjadi hal tidak diinginkan. Ada silsilah buruk sebelum akhirnya dibangun ruangan tersebut. Dulunya, ada dua orang karyawan di sana, satunya supir dan satu lagi yang membantu supir. Keduanya kecelakaan di tempat kerja dan lumpuh permanen. Akibatnya, perusahaan harus menanggung biaya pengganti cukup besar. Sebab itulah, lebih baik didirikan ruang kesehatan dadakan. Terlebih, adik Nathan adalah lulusan kedokteran. Dan ia tak suka bekerja di bawah tekanan. Maka dari itu ia memutuskan untuk membantu di sana sekaligus buka klinik sederhana. Klinik khusus hanya untuk para karyawan saja.
Maklum saja, ia kuliah bukan karena keinginan pribadi. Kalau bukan karena bujukan dan permintaan orang tua, mana mau ia menempuh pendidikan serumit itu. Ia lebih suka bergulat dengan game di ponsel.
Dira pun akhirnya di bawa ke ruang kesehatan. Rangga kebetulan baru kembali dari makan siang.
"Ada apaan nih?"
"Ini Pak, Dira pingsan," celoteh Maya.
"Oh. Bawa masuk."
"Lhah ini juga mau dibawa masuk, Pak. Masa mau dibawa ke Hongkong?!" cibir Maya agak sebal. Kesal karena Rangga selalu bersikap santai sekali.
Dua orang yang menggotong Dira pun segera membaringkan gadis itu di atas tempat tidur dalam ruangan.
"Saya tetap di sini ya, Pak?" pinta Maya. Ia khawatir Rangga akan macam-macam pada temannya.
"Ngapain?"
"Ya jagain Dira lah. Biar nggak ada setan di antara kalian berdua," balasnya menahan sensi.
Rangga pun melakukan pengecekan pada Dira. Memastikan kalau gadis itu tak kenapa-kenapa. Selesai mengecek, Rangga lantas menyuruh Maya mengambil minyak kayu putih di loker meja.
Tak lama akhirnya Dira pun tersadar. Ia merasakan mual yang lumayan mengganggu dan agak pusing.
"Kenapa bisa sampai pingsan?" tanya Rangga sambil duduk santai di tepi ranjang.
"Orang masih lemes gitu kok udah ditanya-tanya!" protes Maya.
"Kan saya nanya dia. Bukan kamu. Kamu perwakilannya?"
"Ya bukan."
"Yaudah diem aja dulu."
"Ih ngeselin."
"Balik kerja sana. Biar Dira saya yang urus."
Melihat Dira sudah bangun, Maya pun akhirnya berlalu. Ia sempat mengatakan agar Dira berteriak saja bila ada yang berusaha menjahatinya. Sembari ekor matanya melirik tegas pada Rangga.
"Beginilah nasib cogan. Selalu disuudzhooni terus kan," kata Rangga memuji diri sendiri.
"Siapa yang cogan, Pak?" Maya pura-pura tak paham.
"Saya. Siapa lagi? Masa kamu?"
"Oh..." Maya hanya beroh ria lalu pergi begitu saja.
Rangga kembali berfokus pada Dira. Ia beranjak untuk mengambilkan segelas air minum. Dan menyodorkannya pada gadis itu. Dira menerima dan meneguknya sekilas. Lalu meletakkannya ke atas nakas samping pembaringan.
"Udah makan?" tanya Rangga.
"Sudah tadi."
"Tadi kapan? Pagi? Malam?"
"Barusan kok."
"Pusing?" tanya Rangga lagi.
Dira hanya mengangguk sekilas. Rangga lekas mengambil obat di rak yang tertata rapi. Lalu memberikannya pada Dira. Gadis itu hanya memandangi pil di tangan.
"Kenapa? Butuh pisang? Atau jely?" goda Rangga seakan paham kalau Dira tak bisa menelan pil tanpa makanan.
"Ada roti?"
"Ada. Di toko."
"Seriusan, Rangga."
"Iya, Cinta."
"Kok cinta?"
"Kan pasangannya Rangga itu Cinta."
"Terus? Kamu pikir aku mau jadi pasanganmu?"
"Jutek banget sih. Nanti suka loh..."
"Aku makin pusing kalau deket-deket kamu. Mending balik kerja!"
Baru akan berdiri, Rangga menahan bahu Dira. "Nggak usah ke mana-mana. Di sini aja dulu. Minum obatnya, terus rehat sebentar sampai bener-bener baikan. Di kulkas ada jely. Minum obat sama jely aja ya?" tawar Rangga.
Dira pun mengangguk saja. Daripada ia tak bisa menelan pil.
"Kakakmu ngeselin banget!" curhat Dira usai minum obat pereda pusing. Mual di perut juga berangsur hilang.
"Oh penyakit asmara nih kayaknya," ledek Rangga.
"Seriusan! Kakakmu tuh nyebelin banget. Sudah tahu aku phobia binatang melata, eh malah dikasih uler mainan di laci! Bener-bener memang!"
"Waduh, bahaya nih urusannya. Sama uler mainan aja pingsan. Gimana kalau lihat uler piaraan Nathan?"
"Hah? Nathan piara uler? Yang bener kamu kalau ngomong." Dira harap-harap cemas.
"Bukan dia aja yang piara uler. Aku juga. Semua laki-laki juga piara."
"Jangan ngawur kamu." Dira makin merinding.
"Iya. Serius. Ulernya unik dan ajaib."
"Maksudnya? Ada kayak gitu apa?"
"Ada dong. Itu uler kalau dianggurin lemes, lunglai, lesu, udah kayak orang kena darah rendah. Tapi, kalau diajak main, beh langsung berdiri tegak!" tukas Rangga.
"Uler apaan kayak gitu?" Dira makin bergidik ngeri.
"Mau lihat?"
"Ogah! Nanti aku pingsan lagi, kamu mau tanggung jawab?!"
"Tenang aja. Jangankan tanggung jawab, menanggung hidupmu aja aku rela."
"Makin ngelantur. Aku heran ya, mama sama papahmu kasih nama bagus-bagus Rangga Anggara Haidar. Tapi kelakuan nggak jelas betul."
"Apa hubungannya nama sama kelakuan?"
"Ya kan harusnya nama bagus kelakuan juga bagus."
"Oh gitu? Jadi misal aku sayang kamu, kamu juga harus sayang sama aku juga? Gitu?" balas Rangga telak.
Sontak hanya membuat bibir Dira kelu untuk sesaat. Pasalnya, terhitung sudah tiga kali Dira menolak cinta Rangga. Alasannya jelas hanya satu, karena hati Dira hanya untuk Nathan seorang. Meski dirinya harus rela digantung sampai sekarang.
"Kenapa diem? Bingung ya?"
"Nggak. Biasa saja."
"Lagian, aku juga nggak habis pikir ya sama kamu. Kurang apa aku ini. Ganteng udah, mapan udah, sarjana iya, setia juga insyAllah iya. Rumah punya. Apa susahnya nerima aku yang paket lengkap ini coba?" seloroh Rangga percaya diri.
"Kamu tuh ibarat nasi kotak nih ya, isinya memang menggiurkan, ada d**a ayam, sambel matah, lalapan, beserta kerupuk udang yang menggugah selera. Tapi sayang, rasanya nggak senikmat tampilannya," timpal Dira tepat sasaran.
"Ckck, memangnya kamu udah ngerasain?"
"Ngerasain apa?"
"Ulerku mungkin..." Rangga menaik turunkan alisnya. Lalu pandangannya berhenti ke arah bawah bagian celana yang agak menonjol.
Sontak Dira membekap mulut sendiri. Ia baru sadar apa yang dibicarakan Rangga sejak tadi. "Dasar mesuuuum!" omel Dira sembari bangun dari tempat tidur. Ia berjalan cepat walau agak limbung sesaat, hendak meninggalkan ruangan. Namun, pertanyaan Rangga menghentikan langkahnya.
"Sampai kapan mau digantungin kayak jemuran? Jemuran masih mending, mau maghrib selalu diangkat. Lhah kamu? Setahun nggak diangkat-angkat juga kan?"
Dira menarik napas pendek dan mengembuskannya perlahan. Lalu sedikit memutar bahu agar bisa menatap pria yang masih duduk di tepi ranjang. "Kamu sendiri, kapan berhenti berharap dengan pakaian yang justru mengharap diambil oleh orang lain?"
Rangga hanya tersenyum. "Sampai pakaian itu mau kumiliki," jawabnya lugas.
"Kamu akan sakit karena menunggu. Lebih baik berhenti dari sekarang."
"Apa hakmu melarangku? Kamu penjualnya?"
"Pakaian memang bisa diperjual belikan. Tapi perasaan nggak bisa."
"Aku tahu."
"Terus kenapa masih tanya gitu?"
"Kamu itu aneh, Dira. Sama seperti nama belakangmu. Warna jingga itu perpaduan dari dua warna. Merah dan kuning. Tahu artinya apa? Kamu itu seumpama simbol dari kehangatan dan kenanganku yang hangat dan manis. Tiap lihat kamu, aku berasa lihat sunset senja di tepi pantai. Bikin aku selalu tenang."
Ucapan Rangga membuat Dira tak bisa berkata-kata lagi. Pria itu selalu saja pandai melontarkan kalimat yang memabukkan perasaan. Hanya saja, Dira masih keukuh pada tujuan hatinya. Ia pun berlalu tanpa membalas lagi perkataan Rangga barusan.
"Kadang aku penasaran. Rangga itu cuma iseng apa beneran serius suka sama aku?" gumamnya pada diri sendiri.
==♡DHSC♡==