05. Rencana

1103 Kata
Previous.... Pletak! Tiba-tiba dunia kembali ke Cafetaria; didepan mata Vivi banyak anjing yang tengah makan. Sudah cukup Vivi mengkhayal, jidatnya sakit sekali karena jitakan Meokmool. "Aku bisa saja gagar otak, atau lebih parahnya lagi wajah tampanku jadi cacat karena pukulan kejammu itu!" marah Vivi sengit. Ditatapnya Toy Poodle betina itu geram. "Makanya jangan suka mengkhayal." Meokmool berujar santai. Sama sekali tidak peduli dengan tatapan kesal si Bichon Frise. Tidak menghiraukan pertengkaran kedua temannya. Toben mengendus bau anjing betina Shih-tzu yang ditemuinya tadi sore, langsung saja Toben mengikuti bau tersebut dan keluar dari Cafetaria tanpa sepatah kata pun pada teman-temannya. Vivi, Meokmool, Byul, dan Mongryeong terkejut akan aksi Toben yang tiba-tiba. "Habiskan dulu makanannya, baru menyusul Toben," pesan Byul ketika teman-temannya akan menyusul lanjutnya Toben padahal masih banyak dog food tersisa dimangkuk mereka. Ketiga anjing itu pun menuruti perintah Byul; menghabiskan makanan. Sebagai yang tertua, ucapan Byul sangat mereka patuhi. Sepiring dog food penuh itu mereka habiskan dalam dua menit, keempat anjing itu pun langsung turun dari kursi, menyusul Toben, sebelum anjing Toy Poodle itu membuat kekacauan. Meokmool yang sudah sampai di ambang pintu keluar kembali ke meja mereka dan membawa piring dog food milik Toben yang belum tersentuh itu dengan moncongnya. Kemudian ia menyusul ketiga temannya dengan susah payah; karena harus menyeret piring dog food milik Toben. EXCHANGE SOUL'S 05. ??? Toben memfokuskan indra menciumannya demi bisa bertemu anjing cantik itu. Beberapa kali anjing Toy Poodle itu menabrak seseorang atau pun pot bunga, hingga akhirnya Toben berhenti disebuah pintu; kelas menari, pintu berwarna biru dengan gambar kepala anjing ditengahnya. Tanpa pikir panjang Toben mengintip kedalam melalui celah dog flat. Seekor anjing betina berjenis Shih-tzu tengah menari balet tanpa iringan musik, bulu-bulunya yang panjang terkena cahaya lampu membuatnya berkilauan, seperti seorang balerina profesional. Tanpa sadar, Toben berjalan mendekatinya. Dengan senyum mengembang sempurna, pipi berbulu hitamnya yang memerah malu, dadanya menghangat, seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitiki perutnya. "Kamu sangat cantik," puji Toben tanpa sadar. Shih-tzu itu pun menghentikan gerakan tarinya, terkejut mendapati ada seekor anjing lain di ruangan ini. Menyadari ketidak nyamanan anjing betina dihadapannya itu. Dengan gugup Toben buru-buru berkata, "Maaf, aku akan segera pergi." Toben berbalik, berjalan keluar lewat dog flat. Namun sebuah suara merdu buru-buru menghentikannya, "Tidak apa-apa, aku senang memiliki seorang penonton." Toben mematung, jantungnya berdebar ketika mendengar suara merdu itu lebih panjang. Dengan pipi memerah malu, Toben berjalan mendekati anjing betina itu lagi. "Namaku Angel, siapa namamu?" Anjing betina berjenis Shih-tzu itu memperkenalkan dirinya. Membuat d**a Toben seperti ingin meledak! Dengan tergagap, Toben berkata, "T-toben ... namaku adalah Park Toben." Toben merutuki dirinya yang berkata gagap; sebuah poin minus untuk dirinya dimata seekor betina. Namun, ketika melihat Angel tidak memandangnya remeh dan malah tersenyum manis, Toben membusungkan dadanya dan memberanikan diri. "Mari berteman?" ajaknya agak ragu. Karena seharusnya Toben mengajak anjing cantik itu menikah, 'kan? "Tentu saja, mari berteman." Angel menerimanya dengan baik. Rasanya Toben ingin terbang ke langit ketujuh ketika dapat melihat senyum cerah itu dari jarak sedekat ini. "Omong-omong, aku belum pernah melihatmu sebelumnya?" Kini Toben dan Angel duduk berdekatan diatas tuts piano. Ekor juga lidah Toben tidak hentinya bergerak semangat. "Aku baru tiba tadi siang," jawab Angel sambil menatap anjing hitam disampingnya. "Jadi kamu murid baru? Pasti kamu belum memiliki teman, aku akan mengenalkanmu pada teman-temanku," kata Toben bersemangat. Ia merencanakan agar selalu ada alasan berada di dekat Angel. Itu pasti menyenangkan. "Terima kasih," balas Angel senang. "Kenapa di sini sendirian? Bukankah ini waktunya makan malam?" tanya Toben, lagi. Pasalnya ia tadi sempat mencium bau Angel akan memasuki Cafetaria. Namun tiba-tiba bau Angel menjauh dan sekarang ia malah menemukan anjing cantik itu diruang balet. "Oh itu, aku baru ingat kalau aku tengah diet." Angel beralasan. "Aku tidak bisa makan terlalu banyak." Toben mengangguk mengerti, karena seorang balerina memang harus memiliki tubuh yang ramping. "Tetapi Angel tetap harus makan yang banyak dan bergizi. Aku akan menemani Angel berolahraga—” "HEYY!!" Toben dan Angel berjingkat kaget ketika sebuah suara besar dan berat berteriak tiba-tiba. Diliriknya bayangan anjing hitam besar dihadapan mereka tersebut. Toben menelan air liurnya gugup, dihadapannya ada seekor anjing Great Dane hitam dan seekor anjing Doberman Pinscher. "Apa kami boleh ikut bermain anak manis?" tanya si Doberman Pinscher. Suaranya menggelegar mengerikan, membuat persendian Toben tiba-tiba melemas seperti jelly. Toben berdoa semoga si Great Dane itu tidak bicara atau ia akan pingsan detik itu juga. "Ben, aku bisa jelaskan semuanya," mohon Angel memelas. Membuat Toben sedikit binggung bahwa ternyata anjing cantik yang baru saja masuk itu mengenal 2 anjing perusuh di sekolah mereka. Anjing Great Dane itu mengangkat tubuh mungil Angel dengan mengigit tengkuknya. "Kamu akan menjelaskan semuanya pada Monsieur," kata si Doberman Pinscher. Ia sempat mengeram tepat didepan wajah Toben sebelum akhirnya menyusul pergi teman besarnya yang membawa Angel. Vivi, Meokmool, Byul, dan Mongryeong berpapasan dengan si Doberman Pinscher dan Great Dane ditengah jalan. Vivi sempat menyeringai ketika melihat ada anjing mungil dimulut si Great Dane. Mongryeong ingin sekali bertanya pada kedua anjing besar itu kenapa memperlakukan anjing cantik itu demikian, namun Vivi menyeretnya dan menyusul kedua betina itu. Meokmool dan Byul yang sampai lebih dulu dan melihat keadaan mengenaskan Toben. Anjing Toy Poodle itu seperti tengah berdiri tanpa nyawa. Meokmool mendekati Toben, meletakkan mangkuk dog food itu disamping si Toy Poodle jantan tersebut. "Makan atau kugantung kamu ditali jemuran," paksa Meokmool, ia menatap Toben galak. "Gantung saja, aku tidak peduli!" jawaban Toben membuat darah Meokmool naik pitam. Dihempaskannya mangkuk dog food tersebut hingga sebagian isinya berceceran ke lantai. "Dasar anjing tidak tahu diuntung!" omelnya. Lalu pergi dari kelas tari dengan menghentakkan kaki kesal. Gigi-giginya sakit membawa mangkuk itu susah payah dan Meokmool menyesal telah berbuat baik pada Toben. Byul tersenyum kikuk sebelum akhirnya pergi meninggalkan Toben sendirian dan menyusul Meokmool. "Betina harus mengerti betina. Bye, Toben!" Vivi dan Mongryeong mendekati Toben—sempat binggung ketika melihat Byul mengejar Meokmool yang menangis sambil berlari. Tiba-tiba saja Vivi mendekati telinga Toben dan berbisik, "Angel itu ... anjing licik." Toben membelalakkan matanya tidak percaya. Wajah manis dan polos itu? TIDAK MUNGKIN SEJAHAT ITU!! Toben menatap wajah Vivi tak percaya. “Apa yang kamu katakan, Vivi? Darimana kamu mengenal Angel?” Vivi menceritakan semuanya tentang Angel yang ia ketahui. Mulai darimana ia bisa mengenal anjing itu hingga bagaimana sifat asli Angel. Sejak saat itu, Toben tidak lagi peduli dengan si cantik Shih-tzu yang sudah seminggu itu bersekolah di Pet High School tersebut, pertemanan mereka hanya bertahan beberapa menit saja. Yang lebih mengejutkan adalah, ternyata Angel adalah kekasih Monsieur. Anjing bengis yang menjadi pemimpin geng berandalan di Pet High School empat tahun belakangan ini. Namun satu yang Toben lupakan, bahwa Vivi tidak menceritakan hubungannya dengan Angel. ΘωΘ To Be Continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN