Previous....
"Tentu saja, semakin cepat semakin bagus," kata Vivi bersemangat— membuat Byul yang berniat menolak jadi tidak enak. “Ada anjing malang yang akan mereka culik, kita harus bergegas.”
Dengan gesit Vivi melesat ke arah pintu keluar dan menekan tombol BUKA yang terletak tiga inci disamping bawah pintu. Secara otomatis, pintu bercat putih tersebut terbuka. Byul mengigit tengkuk Toben dan menyeret Toy Poodle jantan itu ikut bersama mereka berdua. Toben yang sudah tidur tentu saja terkejut, anjing itu sebenarnya ingin sekali memberontak dan kembali kekasur empuk melanjutkan mimpi. Namun, tubuhnya terlalu malas hingga ia pasrah saja diseret ke mana pun oleh Yorkshire Terrier betina itu. Ketika ketiga anjing tersebut sudah keluar, cecara otomatis pintu pun menutup dengan sendirinya.
Vivi lebih dulu berjalan diantara lorong gelap yang hanya disinari sedikit pencahayaan, secara refleks matanya tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang berjalan melewati lorong. "Ke sana, ayo!" ajaknya. Meninggalkan Byul dan Toben dibelakang.
Byul menginjak kaki depan Toben— membuat Toy Poodle itu meringis kesakitan. Lalu, meninggalkannya sendirian begitu saja, yang mau tidak mau Toy Poodle itu pun harus mengikuti kedua temannya meski diiringi gerutuan. "Mengapa harus aku yang selalu mengalah?" Dengan langkah ogah-ogahan. Toben mengikuti Vivi dan Byul yang jauh berada didepan, di lihatnya Vivi dan Byul yang tengah merapatkan tubuh mereka ketembok sambil mengawasi sesuatu di depan saja.
Penasaran. Toben ikut menempelkan tubuhnya ditembok—dibelakang tubuh Byul yang berdiri dibelakang ekor Vivi. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan?"
"Ssstt!"
EXCHANGE SOUL'S
10.
???
"Sssttt!" desis Byul memperingati Toben agar tidak berisik. Toben pun langsung membungkam moncongnya sendiri rapat-rapat.
Vivi yang berdiri di garda terdepan melihat keempat pengasuh perempuan yang menjadi target mereka. Ternyata bayangan yang dilihatnya tadi adalah bayangan A-yeong yang baru saja keluar membeli makanan. Seseorang yang Vivi tahu bernama Meisie membukakan pintu untuk A-yeong, mereka terlihat berbincang sebentar didepan pintu sebelum akhirnya Meisie menutupnya setelah memeriksa keadaan di luar.
Itu menjelaskan tentang para pekerja di Pet High School yang diberi kebebasan untuk tinggal di sekolah atau pulang, bagi yang memilih tinggal akan mendapatkan gaji dua kali lipat. Tentu saja alasannya agar mereka bisa menjaga para hewan itu dengan lebih baik. Rasa-rasanya Vivi ingin muntah saja mendengar alasan itu.
Vivi tidak lagi menempelkan tubuhnya ditembok, anjing Bichon Frise itu tampak berpikir serius— terlihat dari bagaimana keningnya berkerut. "Ingin membagi pikiranmu?" tanya Byul.
Vivi menghela napas. "Ayo, kita ke sana," ajaknya, tanpa berniat menjawab pertanyaannya Byul.
Ketiga anjing itu pun memasuki area asrama pengasuh lebih dalam. Mereka berjalan dengan mengendap-endap; takut ketahuan pengasuh lain dan berakhir dikunci dikamar sampai besok pagi. Ketiga anjing itu pun mendongakkan kepala sesampainya didepan pintu besar yang tidak memiliki dog/cat flat dibawahnya, atau tombol kecil agar pintu tersebut dapat membuka secara otomatis seperti milik mereka. "Ini akan jauh lebih sulit dari dugaanku," keluh Vivi lemas.
Byul menyahuti, "Mau bagaimana lagi, aksi memang tidak semudah teori.”
"Apa kamu memiliki ide agar kita bisa masuk kedalam kamar itu tanpa ketahuan?" tanya Vivi pada Byul.
Byul tampak berpikir. Tidak berselang lama Yorkshire Terrier itu berseru, "Bagaimana jika mereka tengah mengajar, salah satu dari kita harus ada yang membolos dan menyelinap masuk ke dalam?" usulnya, agak ragu. Oh, ayolah. Byul itu murid teladan yang selalu mendapatkan nilai terbaik dan tidak pernah membolos, apa yang baru saja diucapkannya terdengar kontras dengan kebiasaannya yang selalu disiplin.
Wajah Byul yang tadinya ragu seketika berubah lesu ketika Yorkshire Terrier itu mengingat sebuah fakta. "Oiya, mereka selalu mengunci pintu dengan benda kecil itu dan membawanya bersama." Byul sering melihat benda itu menancap di mana-mana. Suho menyebut benda kecil itu sebagai kunci.
"Ooh, jadi kalian sudah akan mulai menyelidiki para pengasuh itu malam ini, ya?" Toben berkata cukup keras setelah sekian lama berpikir; kenapa kedua temannya ini keluar kamar tengah malam begini. “Astaga! Aku belum menyiapkan kostumnya! Bagaimana ini Vivi .....” Toben terbengong ketika dilihatnya Vivi dan Byul memelototinya. Toy Poodle itu bahkan mengira kalau bola mata kedua temannya itu akan keluar dari tempatnya sebentar lagi. "Apa aku salah lagi—"
Kreak~
Perkataan Toben terputus oleh derit pintu dibelakang mereka yang tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok Nara dengan baju tidur dan mata mengantuk. Ketika melihat ketiga muridnya berdiri diambang pintu kamarnya. Nara langsung membelalakkan mata syok. "Kenapa kalian malam-malam berada di sini!" Perempuan bermarga Moon itu memekik heboh.
"Ada apa, sih?"
"Aish, kemarilah dan lihat sendiri," suruh Nara. Ia berjongkok; menatap tajam ketiga anjing itu penuh selidik. "Kalian tahukan kalau sekarang sudah sangaaaaat malam? Dan malam adalah waktunya bagi seluruh makhluk kecuali makhluk nokturnal beristirahat?” Nara menghitung jumlah mereka sebelum akhirnya kembali berujar, “Dan kalian bukanlah bagian dari makhluk nokturnal. Katakan padaku, apa mau kalian?" tanyanya dengan nada mengancam. Ketiga anjing itu merasakan perubahan nada bicara Nara yang tidak seperti biasanya, membuat mereka kehilangan sedikit nyali.
Baram yang penasaran akan apa yang Nara dapati diluar pun bergegas keluar. Dan betapa terkejutnya perempuan bermata sipit itu ketika mendapati ketiga anjing asuhannya berada didepan pintu kamar mereka. "Astaga, apa yang mereka lakukan di sini?" syoknya, yang tidak mendapatkan jawaban dari temannya. "Ini dingin sekali, sebaiknya bawa mereka masuk saja.”
Ketiga anjing itu saling menyeringai ketika mendengarkan kata "bawa mereka masuk". Vivi mendekati telinga Toben dan berbisik, "Kali ini kecerobohanmu membawa berkah."
Toben terkejut, "Benarkah?"
Nara mengangguk. “Oke.” Menyetujui bahwa mereka harus membawa anjing-anjing ini masuk atau mereka akan sakit. "Mungkin mereka merindukanku," terkanya. Sambil membawa Vivi dan Toben digendongannya. Sedangkan Baram mengendong si Yorkshire Terrier. "Siapa yang bisa berjauhan dengan wanita cantik sepertiku ini?"
"Ck, terlalu percaya diri hanya akan mencelakaimu cepat atau lambat," sinis Baram.
"Terlalu dengki dengan kebahagiaan orang lain juga hanya akan mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri, Kim," balas Nara.
"Kamu penceramahiku!"
"Tidak, itu hanya perasaanmu saja."
"Guk. Guk. Guk. Guk. Guk." Bichon Frise itu menggonggong sambil melihati wajah Nara dan Baram bergantian.
Sebuah ruangan minimalis yang memiliki dominan warna pastel, dengan dua kasur cukup besar, sebuah televisi dinding yang tengah menayangkan acara Veriety Show, dan dua buah lemari menyambut penglihatan ketiga anjing itu. Namun yang paling menyita perhatian ketiga anjing tersebut adalah banyaknya poster anggota OXE yang menghiasi hampir seluruh ruangan, bahkan ada pula poster jadul grup tersebut ketika masih dalam formasi lengkap.
"Woah, kita memiliki tamu?" tanya Meisie speechless. Ketika mendapati kedua temannya kembali dengan tiga ekor anjing yang notabenenya adalah murid istimewa mereka.
"Seperti yang kamu lihat." Baram dan Nara meletakkan ketiga anjing itu dikasur sebelah kiri. Nara menyingkirkan bungkus-bungkus plastik diatas kasur dan membuangnya ke keranjang s****h yang berada di dekat televisi.
"Apa mereka akan menginap?" tanya A-yeong penasaran. Baram dan Nara menghampiri Meisie dan A-yeong yang duduk dikasur sebelah kanan— dengan tumpukan bungkus ramen di antara mereka.
"Ajak menginap saja. Dengan begitu kita bisa dengan mudah membawanya," usul Meisie. Perempuan itu tersenyum tipis dengan mata yang melirik Vivi. Baram memelototinya, dengan telunjuk yang ia tempelkan kebibir; menyuruhnya tutup mulut dan diam. "Ck, anjing bodoh itu tidak akan mengerti apa yang kita bicarakan. Kalian ini hobi sekali bersandiwara," katanya malas. Sambil menunjuk ketiga anjing murid sekolah Pet High School itu dengan garpu berlumuran keju.
"Aku tidak bersandiwara." Baram mencoba membela diri. Ketiga anjing itu memperhatikan perdebatan kecil mereka dengan seksama. "Aku tulus mencintai ... tuannya," ucapnya yang langsung mendapatkan tinju main-main dari rekan A-yeong. "Ya! Wajah cantikku!"
"Kamu pantas mendapatkan itu!" tawa A-yeong meledak. Beberapa makanan dari dalam mulutnya berhamburan keluar.
Meisie memutar bola matanya malas sambil memberi pujian, "Dasar wanita gila." Beberapa saat kemudian ia berkata, "Hei, kalian. Mengerti apa yang kita bicarakan tidak?" Meisie meneriaki ketiga anjing yang duduk di kasur seberang—posisi mereka semua saat ini saling berhadap-hadapan.
"Guk. Guk," gonggong Byul sebagai perwakilan.
"Apa yang anjing itu katakan?" binggung A-yeong menatap ketiga temannya dengan mulut yang penuh mengunyah.
"Mungkin seperti 'yeah, kami paham bahasa kalian dan bagaimana jika aku mencakar atau mengigit wajahmu hingga terkena rabies?'." ujar Nara dengan ekspresi aneh. "Wajah anjing-anjing itu yang mengatakannya." Ia berdalih sesaat kemudian ketika teman-temannya tak ada yang tertawa.
"Wow."
"Kau bercandakan, Moon?"
"Mereka anjing terlatih dan pintar, kalau kalian lupa. Bahkan Byul adalah salah satu bintang di Pet High School." Baram membela dengan apa yang selama ini ia lihat. "Bahkan perkembangan mereka dibanding hewan-hewan lain di Pet High School sangat memukau, mereka anjing berbakat sama seperti pemiliknya."
"Jadi," A-yeong menjeda ucapannya, ia bersedekap angkuh menilai ketiga anjing didepannya itu, "apa mereka tahu bahwa kita akan melakukan sesuatu pada salah satu temannya? Lalu para anjing ini akan melakukan hal heroik apa untuk melawan para penculik seorang diri hingga polisi tiba? Seperti didrama-drama murahan menjelang Natal." Perempuan berambut hitam panjang itu tersenyum meremehkan.
"Oh, ayolah, ini bukan film Natal yang menayangkan anjing sebagai pahlawannya—" Meisie tersedak salivanya sendiri hingga terbatuk-batuk. “Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Nara yang duduk disebelahnya menepuk-nepuk punggungnya dan menyodorkan sebotol air mineral.
"Aku pikir tidak, mereka hanya sekumpulan anjing manja," komentar Nara kemudian, yang membuat ketiga anjing itu mendengus tidak suka meski kenyataannya memang demikian. Para makhluk memang cenderung tidak menyukai perkataan buruk mengenai sifat merekakan meski itu memang benar? Itulah mengapa kosakata munafik sangat cocok.
"Ya, ya, ya. Kalian berdua." Baram menunjuk Meisie dan A-yeong. "Tersesah apa yang mereka pikirkan. Tapi bawa mereka kembali, aku geli ditatap seperti itu oleh anjing." Baram membayangkan para anjing itu mencabik-cabiknya atas perbuatan yang akan mereka lakukan. Karena saat ini ketiga anjing itu tengah memelototi mereka berempat tanpa berkedip, bahkan ekspresi wajah mereka sangat datar. Dan sungguh itu membuat paranoidnya kambuh!
"Ah waee! kenapa harus aku, sih?"
ΘωΘ
Meisie dan A-yeong menutup pintu kamar kelima anjing tersebut setelah mengantarkan tiga di antara mereka kembali.
"Vivi, kamu benar," sesal Byul, "seharusnya dari awal aku mempercayaimu." Anjing Yorkshire Terrier itu sungguh merasa menyesal.
"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang Byul sudah tahu kebenarannya." Bichon Frise itu tersenyum senang, akhirnya teman baiknya mempercayainya.
"Benar! Yang harus kita lakukan sekarang adalah meyakinkan Mongryeong, Meokmool, dan Angel," sambung Toben mengebu-gebu.
Vivi menghela napas malas ketika mendengar nama Shih-tzu itu disebut. "Sudahlah, sekarang kita harus beristirahat. Kita harus menjaga kesehatan agar orangtua kita tidak khawatir."
Kali ini Byul yang mendengus. "Biar saja, jika kita sakit itu artinya para orangtua akan menjenguk kita, 'kan?" katanya terdengar kesal bercampur harapan. Lalu beranjak dari depan pintu dan melompat keatas kasurnya yang berada ditengah-tengah Mongryeong dan Toben. Vivi dan Toben saling pandang. Hingga akhirnya mereka saling mengangkat bahu acuh tak acuh. Tidak ingin memikirkan masalah ayah dan anak itu.
Ketika Vivi sudah berbaring diatas kasurnya. Bichon Frise itu teringat kembali ketika A-yeong dan Meisie mengantarkan mereka kembali kekamar. Di mana Vivi tak sengaja melihat bayangan seperti anjing besar tengah mengawasi mereka, ia tidak terlalu yakin dengan baunya tetapi itu hampir sama dengan yang diciumnya tempo hari di halaman belakang ketika membolos. Spontan ia pun mengonggong dan melompat turun— mengejar bau itu mumpung ada pengasuh yang menemaninya jadi ia tidak begitu takut. Namun ketika 2 pengasuh tersebut berhasil menyusulnya, mereka sama sekali tidak melihat siapa pun di sana. Itu sama seperti tempo hari! Dan Vivi merasa dejavu karenanya, perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak setiap kali memikirkannya.
Mendadak, kepala Vivi terasa pusing ....
ΘωΘ
To Be Continued....