Previous....
Toy Poodle itu berusaha memejamkan matanya. Namun tidak bisa! Toben mencoba tidur dengan menghitung domba, dilihatnya Vivi yang tengah tidur dengan membuka sedikit moncongnya. Toben mulai menghitung dan menjadikan Vivi sebagai objek dombanya. Dihitungan ke 30, Toben sudah hampir terlelap. Namun, sesuatu berwarna putih berjalan sempoyongan mendekati kasurnya.
Refleks Toben membuka matanya lebar; takut-takut itu adalah bayangan hantu Gumiho yang akan menculiknya. Akan tetapi ketika netranya membuka sepenuhnya, ternyata itu adalah Vivi yang tidur sambil berjalan dan berpindah kekasurnya. Toben mendengus kesal, kebiasaan buruk Vivi ketika tidur yang membuatnya hampir jantungan belum hilang. Menyesal rasanya kemarin ia begitu bersemangat menyambut Vivi yang akan tinggal di asrama.
Dengan memeluk tubuh bulat Vivi, akhirnya Toben dapat memejamkan mata. Di dalam mimpi Toben, sekelompok anjing keren anggota band terkenal yang tengah mengadakan tour konser terbesar sepanjang sejarah peradaban hewan! Mereka adalah band yang tengah naik daun saat ini, yang terdiri dari 5 anjing super keren. Mereka adalah ... THE PEATLES!
EXCHANGE SOUL'S
09.
???
"Gitar bass, vokal: Byul McCartney! Gitar utama, vokal: Vivi Harrison! Gitar ritem, vokal: Meokmool Lennon! Gitar bass 2, vokal: Mongryeong Sutcliffe! Dan tentu saja yang paling populer diantara mereka ber-5. Sang drummer legendaris: TOBEEEEN STARR!!!" teriakan sang MC membahana di seluruh stadion yang disambut teriakan heboh dari para penggemar.
Dengan pakaian keren, kacamata hitam model terbaru, dan gaya rambut existensialis. Ke-5 anjing super star itu menaiki panggung. Sorak soray penggemar memenuhi stadion. Toben mengangkat stiknya, seketika semua orang terdiam mengagumi ketampanannya hingga stadion hening sesaat. Toben mulai memukul drumnya. Anggota lain pun mulai mengikutinya, mereka mulai memetik senar gitar. The Peatles membawakan salah satu karya agung mereka. ALL MY LOVING!
Close your eyes and I'll kiss you
Tomorrow I'll miss you
Remember I'll always be true
And then while I'm away
I'll write home every day
And I'll send all my lovin' to you.
Mereka ber-5 mulai bernyanyi bersama dan bergiliran membawakan intro lagu. Memadukan keunikan suara yang mereka miliki. Namun, bukan berarti saling bertubrukan. Justru itu menambah keindahan dalam lagu yang mereka bawakan dengan harmonisasi apik memukau yang mereka miliki.
I'll pretend that I'm kissing
The lips I am missing
And hope that my dreams will come true
And then while I'm away
I'll write home every day
And I'll send all my lovin' to you.
Semua orang mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi, terhanyut kedalam cerita didalam lagu dan tanpa sadar ikut bernyanyi bersama The Peatles.
All my lovin', I will send to you
All my lovin', darlin', I'll be true.
Lagu baru saja akan berakhir, ketika tiba-tiba stadion berguncang hebat yang menyatu dengan hentakkan musik. Samar-samar terdengar suara gemuruh dan pijakan kaki seseorang yang sangat besar. The Peatles masih terus bernyanyi dengan musik yang menghentak panggung heboh ketika sesuatu seperti mata sebesar badan mobil mengintip dari atas langit; mengamati para anggota The Peatles yang masih menyanyikan lagu mereka diatas panggung. Tangan sebesar atap rumah itu masuk ke dalam stadion dan meraba-raba panggung; mencari sesuatu.
Close your eyes and I'll kiss you
Tomorrow I'll miss you
Remember I'll always be true
And then.
Semua orang yang ada di dalam stadion berteriak histeris; menyadarkan para anggota akan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tak lama kemudian raksasa itu berteriak menggelegar, "DAPAAAT!" Raksasa itu menangkap dan mengangkat tubuh sang drummer The Peatles.
“Tidaaaak, tolong selamatkan aku!” Toben meronta-ronta dan berteriak sejadi-jadinya meminta pertolongan, ia mengigit tangan raksasa itu namun sayang harus berakhir sia-sia. Anjing Toy Poodle itu melihatnya, tidak ada satu pun orang yang tertarik menolongnya, semua orang sibuk berhamburan dan menyelamatkan diri masing-masing, termasuk teman-teman Toben yang notabenenya sudah lama saling mengenal dan selalu mengucapkan janji untuk saling melindungi. Kini semua itu hanya omong kosong ketika Toben tengah dalam kesusahan.
Tidak ada teman yang benar-benar teman kecuali dirimu sendiri. Ketika kemalangan tiba, mereka semua yang mengaku teman dengan suka rela akan pergi meninggalkanmu sendirian dengan semua kesakitan itu.
Raksasa tersebut menimang-nimang tubuh Toben lalu tersenyum sangat cerah, ia membawa Toben pergi ke sebuah gubuk reyot tempat tinggal sang raksasa. Setelah mereka memasuki gubuk tersebut yang hanya berisikan beberapa kuali, piring, dan bahan-bahan makanan super jumbo seukuran ranjang seperti wortel, kentang, bawang, cabai, brokoli, jagung, dan beras. Toben langsung dilemparkan kedalam wajan yang 10.000x lebih besar dari tubuh sang anjing. Raksasa tersebut lalu mengiris-giris kubis dan memasukkannya kedalam wajan sambil menyenandungkan sebuah lagu kuno.
“Ooh. Tidak! Selamatkan Tobenieee!” Toben berteriak heboh setiap kali raksasa tersebut melemparkan sayuran ke dalam wajan yang akan langsung menghujani tubuh mungilnya, membuat Toben harus berlari kepayahan menghindarinya. Sesaat kemudian, Toben dapat bernapas lega karena raksasa itu rupanya pergi, membuat wajan tersebut berguncang dan mengakibatkan Toben terjengkang. Namun itu hanya sesaat, raksasa itu datang kembali dengan seember kaldu yang ia langsung tuang ke dalam wajan, membuat tubuh mungil anjing Toy Poodle hitam itu muncul-tenggelam di dalam air. Toben mengap-mengap, ia menggerak-gerakkan keempat kakinya yang tiba-tiba terasa kram; berusaha naik ke atas permukaan kaldu dan meraih sesuatu sebagai pelampung dadakan.
Beberapa saat kemudian Toben berhasil menggapai sebuah sayuran yang mengapung yang langsung ia jadikan sebagai pelampung. Toben mengatur napasnya yang tersenggal-senggal diantara genangan kaldu yang kian lama kian memanas ketika tiba-tiba wajah malas Meokmool muncul dari dalam kaldu sambil berkata, "Bangun! Atau aku siram dengan air got!"
Toben melolot ketika sebuah sendok berukuran besar menimpa kepalanya hingga berbunyi "tuk", membuat ia secara refleks melepaskan sayuran tersebut dan membuatnya kembali tenggelam dan mengakibatkannya meminum banyak air kaldu yang membuatnya tersedak.
Tiba-tiba sayuran raksasa yang mengapung dalam kaldu bersamanya diwajan raksasa itu menghilang, tak lama kemudian secara samar-samar digantikan dengan kepala teman-temannya yang mengerubunginya dengan wajah mengantuk—beberapa ada yang menguap dan membersihkan air liur.
"Lain kali kita bisa menyumpal moncongnya dengan plastik jika masih mengigau.” Meokmool memberi usul, anjing-anjing yang mengelilingi Toben itu rata-rata mengangguk setuju.
"Toben memiliki banyak plastik bekas cemilan yang tak pernah dibuangnya ketempat s****h yang disimpannya dibawah tempat tidur," adu Mongryeong, polos.
Meokmool tersenyum cantik—begitu mengerikan dimata para pejantan. "Bagus, pakai itu saja."
Toben menelan liurnya sendiri ngeri. Kebiasaan burukmu akan menjadi bumerang di masa depanmu! Toben memiliki kebiasaan buruk ketika tidur, yakni mengigau dan berteriak sejadi-jadinya.
“Ini terjadi karena Toben tidak pernah mendengarkan pengasuh untuk berdoa sebelum berangkat tidur,” ucap Byul setelah sekian lama berpikir.
“Benarkah? Aku juga tidak suka berdoa sebelum tidur,” komentar Vivi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Meokmool yang membuatnya seketika meringis malu. “Hehe, ada apa?”
Meokmool mendengus sebal, sementara Toben mengangguk-angguk saja mendengarkan semua ucapan teman-temannya; dia masih mengantuk. “Kenapa kalian selalu berkata tanpa memakai otak terlebih dahulu? Apa otak kalian itu sebenarnya tidak berfungsi?”
Byul menyela, “Mungkin otaknya sudah dijual atau ukurannya terlalu kecil sehingga tidak maksimal dipakai berpikir.”
Vivi memberengut. “Astaga, kalian kejam sekali—”
Suara seseorang yang hampir jatuh dan derit pintu yang terbuka, anjing-anjing itu kompak menoleh ke arah sumber suara yang tiba-tiba saja menganggu pembicaraan mereka.
“Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!” Mongryeong menggonggongi perempuan yang kini tengah tersenyum lebar sambil memegangu handle pintu.
"Ups, aku ketahuan ternyata. Maaf, menganggu waktu bermain kalian. Tetapi, apa kalian belum mengantuk, hmm?" tanya perempuan itu dengan nada lembut dan halus, membuat hampir separuh anjing-anjing itu jatuh ke dalam pesonanya yang manis. Pukul dua dini hari. Namun, pengasuh tersebut masih mendapati anjing-anjing itu terjaga. Baram tersenyum, ia berjalan mendekati makhluk-makhluk berbulu tersebut dengan sepasang tangan bertaut yang ia sembunyikan dibelakang punggung. "Apa kalian ingin aku membacakan sebuah dongeng?" Baram duduk bersimpuh dihadapan ranjang Toben yang berukuran mini di mana di sana keempat anjing lainnya—Vivi, Byul, Meokmool, dan Mongryeong—tengah mengerubungi Toben.
Tangan kiri Baram ia bawa untuk mengelus puncak kepala Vivi. Namun, Bichon Frise itu lebih dulu menghindar. Perempuan itu terkikik geli. "Waah, Vivi bahkan aku tidak kamu izinkan mengelus kepalamu, hah? Dasar anak nakal.” Baram menggoda anjing putih berbulu ikal itu, mencubit pipi tembem Vivi dengan gemas yang saat ini tengah menatapnya datar.
"Guk. Guk. Guk.” Vivi menggonggong tak suka.
"Ya ampun, manisnya." Namun Baram tak mengerti. "Baiklah. Aku akan pergi. Tetapi ingat, kalian harus segera tidur, ya? Tidak ada penolakan, atau besok pagi kalian akan mendapatkan hukuman dari Guru Jung akibat mengantuk di kelasnya," ancam Baram—sambil membawa-bawa guru gendut yang mengajar di kelas seni— sambil tersenyum yang membuat matanya menghilang.
Baram bangun dari duduknya. Beranjak pergi dari hadapan ke-5 anjing super mengemaskan yang membuatnya ingin mencubit pipi mereka terus-menerus. "Semoga mimpi indah bayi doggy," ucapnya yang langsung menghilang dibalik pintu.
Vivi bukanlah tersangka kasus korupsi. Namun, kini semua mata menatapnya sebagai pendosa k**i. "Yang seperti pengasuh Baram adalah orang jahat bagi Vivi." Meokmool melirik Vivi sekilas dengan malas. "Lalu, yang seperti Jack The Ripper adalah orang baik bagi Vivi," lanjutnya menyindir.
Sepasang mata Mongryeong berbinar. “Meokmool adalah yang terbaik dalam berbicara super pedas.”
"Itu hanya topeng." Vivi coba meyakinkan. "Manusia itu memiliki 1001 wajah!"
"Terserah saja apa katamu, aku mengantuk dan aku ingin kembali tidur." Meokmool kembali kekasurnya. "Oh, ya.” Anjing Toy Poodle betina itu kembali melirik kasur Toben. “Jangan mengigau seperti anjing gila lagi. Atau, akan aku tendang bohongmu kekolam hiu!" ucap Meokmool mengancam Toben yang saat ini sudah kembali ke alam mimpi; melanjutkan sesi dimasak raksasa.
Para anjing itu kini satu per satu mulai kembali kekasur mereka masing-masing. Kecuali si Bichon Frise. "Kamu adalah pemimpin kami, anjing tertua diantara kamu," ucap Vivi sedih, kepalanya ia tundukkan sedangkan kaki depan kanannya ia bawa mengorek-ngorek selimut Toben yang jatuh. Selama beberapa saat, Bichon Frise itu masih terdiam ditempatnya. Vivi tahu kini Byul menatapnya, maka dari itu ia buru-buru melanjutkan, "Bukankah kamu tidak tahan dengan kecanggungan ini?" tebaknya.
Vivi mengangkat kepalanya yang langsung disambut dengan wajah murung sang anjing Yorkshire Terrier tersebut. "Apa yang bisa aku lakukan?" tanya Byul binggung dengan jalan pikirannya sendiri.
"Ikut aku, kita selidiki mereka bersama. Jika benar mereka baik aku akan memperbaiki kesalahanku dan meminta maaf dengan tulus. Namun, jika mereka terbukti jahat kita harus melaporkannya bersama," usul Vivi. "Bagaimana pun juga kita adalah sebuah Tim Persahabatan, kita tidak boleh dalam kecanggung atau kesalah pahaman," lanjutnya.
Byul tersenyum mendengar ucapan dewasa Vivi. Ia pun berjalan mendekati Vivi dan merangkul Bichon Bichon itu penuh kasih sayang. "Terima kasih, karena tidak marah atas sikap egoisku," ujar Byul tulus.
Vivi melepas pelukan itu. Sejujurnya mendapatkan pelukan dari Byul adalah kesukaannya. Namun, saat ini ada hal yang jauh lebih penting. "Ayo, kita mulai misi ini!"
Byul tergagap, "S-sekarang?" Sungguh ia kemarin tidak tidur siang dan itu membuatnya sangat lelah sekarang.
"Tentu saja, semakin cepat semakin bagus," kata Vivi bersemangat— membuat Byul yang berniat menolak jadi tidak enak. “Ada anjing malang yang akan mereka culik, kita harus bergegas.”
Dengan gesit Vivi melesat ke arah pintu keluar dan menekan tombol BUKA yang terletak tiga inci disamping bawah pintu. Secara otomatis, pintu bercat putih tersebut terbuka. Byul mengigit tengkuk Toben dan menyeret Toy Poodle jantan itu ikut bersama mereka berdua. Toben yang sudah tidur tentu saja terkejut, anjing itu sebenarnya ingin sekali memberontak dan kembali kekasur empuk melanjutkan mimpi. Namun, tubuhnya terlalu malas hingga ia pasrah saja diseret ke mana pun oleh Yorkshire Terrier betina itu. Ketika ketiga anjing tersebut sudah keluar, cecara otomatis pintu pun menutup dengan sendirinya.
Vivi lebih dulu berjalan diantara lorong gelap yang hanya disinari sedikit pencahayaan, secara refleks matanya tak sengaja menangkap bayangan seseorang yang berjalan melewati lorong. "Ke sana, ayo!" ajaknya. Meninggalkan Byul dan Toben dibelakang.
Byul menginjak kaki depan Toben— membuat Toy Poodle itu meringis kesakitan. Lalu, meninggalkannya sendirian begitu saja, yang mau tidak mau Toy Poodle itu pun harus mengikuti kedua temannya meski diiringi gerutuan. "Mengapa harus aku yang selalu mengalah?" Dengan langkah ogah-ogahan. Toben mengikuti Vivi dan Byul yang jauh berada didepan, di lihatnya Vivi dan Byul yang tengah merapatkan tubuh mereka ketembok sambil mengawasi sesuatu di depan saja.
Penasaran. Toben ikut menempelkan tubuhnya ditembok—dibelakang tubuh Byul yang berdiri dibelakang ekor Vivi. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan?"
"Ssstt!"
ΘωΘ
Song: ALL MY LOVING by THE BEATLES
To Be Continued....