08. Had a Fight

1938 Kata
Previous.... "Kalian mendapatkan uang, saya mendapatkan anjing itu. Kita saling menguntungkan." Ini adalah suara laki-laki yang Vivi tidak kenal. "Menarik." Itu suara yang Vivi yakini milik pengasuh mereka yang mengajar di kelas vokal, Jung A-yeong. "Berapa banyak yang kamu inginkan?" "Hanya seekor," jawab laki-laki itu kelewat santai. "Siapa hewan malang itu?" Laki-laki itu mengeluarkan sebuah foto. "GILA! Kami bisa mati ditangan tuannya," pekik seseorang. Vivi merasakan perasaannya tidak nyaman. Bichon Frise itu semakin mengeram ketika didapatinya suara pengasuh yang baru saja menghukumnya. Moon Nara. "Aku sudah mengatakannya kan, kalau tidak akan membiarkan kalian menanggung risikonya seorang diri." "Maksudmu. Kamu juga akan ikut dipenjara bersama kami, begitu?" tanya pengasuh yang mengajar di kelas akting yang Vivi ketahui bernama Park Meisie itu terdengar sinis. Laki-laki itu terdengar menghela napas. "Jadi, kalian mau atau tidak? Saya tidak memiliki banyak waktu hanya untuk meladeni omong kosong kalian." "Baiklah. Kami menyanggupinya," setuju Nara, terdengar buru-buru. "Keputusan yang cantik," suara laki-laki itu terdengar mengejek. "Kapan kami harus membawannya?" Mata Vivi membelalak. Itu adalah suara pengasuh kesukaannya, Kim Baram. "Secepatnya." Laki-laki itu menjeda ucapannya. "Ini adalah alamatnya. Antar dia ketempat ini." "Jauh sekali," leluh Baram. Hati Vivi mencelos mendengar suara itu berada di dalam ruangan tersebut. "Berapa nomor rekening kalian?" "Ouh, apakah ini semacam uang muka?" "Anggap saja begitu." "Ini adalah nomor rekeningku," kata Baram terdengar bersemangat. Vivi sudah beranjak dari tempatnya tanpa mau mendengarkan percakapan mereka lebih jauh. Hatinya sudah kelewat sakit, orang-orang yang dicintainya selalu menghianatinya—ralat, beberapa dari mereka. Vivi tidak bisa membayangkan jika Willis juga meninggalkan dan menghianatinya dimasa depan. EXCHANGE SOUL'S 08. ??? Vivi meletakkan bola terakhir—yang entah bagaimana dari warna merah dan sekarang berubah menjadi warna oranye—kedalam keranjang. Wajah anjing putih itu ditekuk. Sekarang mood-nya benar-benar buruk, Vivi menatap bola terakhir itu sengit. "Ini semua berkatmu." Entah apa maksud ucapan sang Bichon Frise. Yang jelas, ia harus memberitahukan semua yang ia dengar pada teman-temannya. Vivi menoleh, beberapa langkah kaki berjalan masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan warna itu. "Wah, rapi sekali.” Vivi yang mendengar suara itu pun langsung menoleh. Disipitkannya mata bulat hitam tersebu tak suka pada sang pengasuh. “Vivi hebat!” Nara memujinya, perempuan itu bahkan mengacungkan kedua jempolnya semangat. Vivi yang mendapati keempat temannya dan juga Angel datang bersama Nara— dengan berjalan mengiringi perempuan itu dibawah kakinya dikanan-kiri— mendengus tak suka. "Gggrrrrrr!" Vivi mengeram mengancam. Membuat Byul, Toben, Meokmool, Mongryeong, dan Angel mengernyit binggung dengan tingkah sang Bichon Frise. Nara berjalan dan berjongkok dihadapan sebuah lemari untuk menyimpan buku; ia menunduk mengambil sesuatu. "Ah, sepertinya Vivi harus lebih pintar jika ingin membodohiku," ejeknya Perempuan itu tersenyum dan menahan tawa dengan punggung tangannya ketika didapatinya beberapa bola terturupi kain dan sebagian mengelinding ke kolong. "Aku selalu mendapatkan peringkat 1 di sekolah, jadi berhati-hatilah," pesannya untuk para anjing yang suka berbohong. Sedikit menyombongkan diri juga; lebih nermaksud mencairkan suasana karena menyadari si Bichon Frise tak menyukainya setelah hukuman ini berlangsung. Namun, hal itu malah terdengar seperti sebuah ancaman ditelinga Vivi. "Guk! Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!" gonggong Vivi diselingi geraman, kedua daun telinganya menukik naik dengan ekor yang mengacung tegak. Melihat hal itu, dahi Nara mengernyit. Ia pernah dengar kalau Vivi memang anjing yang pilih-pilih, manja, memiliki mood yang buruk, dan hanya menurut pada orang-orang terdekatnya. Nara tak habis pikir kalau itu sampai seburuk ini. Perempuan akhir usia 20-sn itu menggeleng. "Baiklah, baiklah. Aku akan pergi," ucap Nara mengalah sambil berlalu pergi. Mencoba mengalah pada seekor anjing yang ribuan kali lebih berharga dari harga dirinya. Nara mencoba menahan diri, menjadi pengasuh hewan bukanlah keinginannya. Salahkan saja pendidikannya, fisik yang tak menarik, juga keadaan yang memaksanya menerima apa pun pekerjaan yang sudi memungutnya. "Vivi, ada apa denganmu?" tanya Meokmool kesal setelah Nara tak terlihat lagi. Toy Poodle betina itu benar-benar tak suka akan sikap Vivi barusan. "Aku tahu kamu nakal, tetapi aku tidak menyangka kamu akan senakal ini." Meokmool menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir, padahal ia baru saja dihukum tapi sudah langsung mencari gara-gara. Toben dan Mongryeong ikut menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti Meokmool. Hampir-hampir Byul mengira kepala kedua anjing jantan itu akan putus karena terlalu cepat menggeleng seperti ban sepeda yang diayun. "Meokmool benar. Willis pasti juga tidak akan menyukai ini dan pasti sangat sedih kalau tahu kamu senakal ini," nasihat Byul coba memberi pengertian. Namun, Bichon Frise itu saat ini sedang tidak ingin mendengarkan nasihat apa pun. Karena merekalah yang harusnya mendengarkannya! "Semuanya dengarkan aku." Vivi mulai menarik napas panjang dan mengambil keputusan. "Nara itu bukan pengasuh yang baik." Vivi berkata dengan kesungguhan, para anjing itu bisa melihat dari sorot matanya yang bulat dan sehitam jelaga. Namun, teman-temannya tersebut justru memutar bola mata mereka malas saat mendengar ucapannya. "Nara, A-yeong, Baram, dan Meisie punya niat jahat pada kita, tepatnya salah satu di antara kita. Mereka bekerja sama dengan seseorang yang ingin memisahkan anjing dengan orang tuanya demi uang," ujar Vivi menggebu-gebu. Ditatapnya masing-masing manik anjing-anjing itu. "Aku tidak sengaja mendengarnya ketika pria asing itu kemari tadi!" Para anjing itu hanya diam menyimak; memandang Vivi seperti melihat anjing aneh. Vivi melanjutkan. "Kita harus memberitahukan ini pada kepala sekolah Liu Sooman dan para orangtua. Kita harus bekerja sama!" mohon Vivi sungguh-sungguh, meski perutnya agak memanas mengungkapkan semua ini. "Apa kamu memiliki bukti?" Semua mata tertuju pada si cantik Shih-tzu. Vivi memincingkan matanya tidak suka; menyesal kenapa ia tadi tidak menendang si Shih-tzu sok cantik ini pergi. Kalau perlu, harusnya ia sudah menendang Shih-tzu ini keluar dari Pet High School sejak awal. "Maksudmu apa?" tanya Vivi dengan nada tidak bersahabat. Ia tidak terima dibilang pembohong secara tidak langsung. "Iya, maksudku. Apa kamu bisa mempertanggung jawabkan perkataanmu, Vi? Kamu bisa saja menghancurkan pekerjaan seseorang dengan sebuah kesalah pahaman," ujar Angel yang langsung mendapatkan anggukan dari yang lain. “Aku pikir kamu harus mencari bukti lebih dulu sebelum menyimpulkan sesuatu.” Angel menarik napas, sedikit tak nyaman ketika Vivi menatapnya penuh permusuhan. "Apa kamu mendengarkan semua percakapan mereka dari awal hingga akhir? Apa kamu yakin tidak ada satu pun kata yang terlewatkan?" hujam Angel. "Kamu tahukan kalau Kak Meisie mengajar di kelas akting. Bisa saja Kak Meisie tengah membaca naskah drama bersama teman-temannya." "Aku memang tidak mendengarnya dari awal hingga akhir. Tetapi, aku tidak sebodoh apa yang kamu pikirkan," kesal Vivi. Dadanya bergemuruh. Ia tidak terima direndahkan seperti ini. "Dengar. Manusia itu memiliki sifat dasar serakah, rakus, penghianat, dan mereka akan melakukan apa pun demi sesuatu bernama uang." Vivi menatap satu per satu temannya dengan mata berapi-api. Vivi melihat gelagat Byul yang seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun, coba ditahannya. "Byul, katakan saja," suruh Vivi. Byul menghela napas panjang. Memikirkan kemungkinan terburuk jika ia tetap mengatakan isi hatinya dengan jujur. "Oh Vivi. Sejelek-jeleknya manusia, mereka juga memiliki sifat dasar pengasih, pelindung, pemimpin, setia, patuh, penyabar,—" "Apa kamu tengah membaca kamus?" Vivi berkata sarkas, menurutnya Byul sangat berlebihan dalam hal sopan-santun. Byul meringis mendengar ucapan anjing yang lebih muda darinya itu. "Oh Vivi. Maafkan aku. Tetapi, aku mempercayai para pengasuh. Merekalah yang merawatku dengan baik sejak pertama kali aku tinggal di sini." Byul mengingat betapa baiknya empat orang yang Vivi cap jahat itu. "Percayalah padaku, para pengasuh adalah orang-orang baik." Byul coba meyakinkan Vivi. Seketika ia merasa tidak enak hati ketika melihat wajah kecewa sang adik. "Mongryeong? Toben? Meokmool? Kalian mempercayaiku, 'kan?" tanya Vivi penuh harap. Bichon Frise itu tidak menyalahkan Byul, semua orang berhak memiliki dan mengungkapkan pendapatnya. Namun, ia juga tidak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya pada anjing Yorkshire Terrier tersebut. "Mereka menyayangi kita, Vivi. Mereka telah disumpah untuk menjaga kita, para pengasuh tidak mungkin melakukan hal serendahan itu pada kita." Meokmool berujar meyakinkan. Vivi menghembuskan napas kasar. Kenapa para anjing betina begitu mencintai para pengasuh! Lalu ia menatap kedua temannya yang tersisa dengan pipi semerah cabai rawit. "Kalian berdua, ayo katakan sesuatu!" bentak Vivi kesal. Mongryeong menundukkan kepalanya dengan wajah sedih. Baiklah, Vivi sudah mengetahui jawaban Welsi Korgi itu. Ketika Toben akan mengatakan sesuatu. Belum juga terucap satu huruf, Vivi sudah menyumpal moncong Toy Poodle tersebut dengan harmonika. Giiiiinggg! Hingga menimbulkan nada vokal sumbang yang menganggu telinga. Anjing-anjing itu pun lantas meringis kala mendengarnya. Dengan brutal, Vivi mengigit ekor Toben dan menyeret si Toy Poodle itu keluar. Toben membuang benda berlubang itu dari moncongnya. "Ekorku sakit tahu!" keluh Toben. Namun Bichon Frise itu tak menghiraukannya dan terus berjalan dengan menyeret ekor malang sang sahabat dengan digigit. Anjing-anjing lain yang melihat hal itu pun terkikik geli, tak terkecuali Monsieur dan para gengnya. Vivi sempat melirik sinis melihat ketiga anjing itu, lalu melengos pergi begitu saja. "Kita itu ... mau ke mana?" tanya Toben penasaran. Vivi berhenti menyeret ekor Toben dan menyentaknya kesal. Toben segera menjilati ekor malangnya dengan sayang; takut-takut kalau terinfeksi dendam. Vivi menatap Toben serius, yang membuat Toben menelan liurnya gugup akibat ditatap sedemikian intens oleh Vivi. "Menurutmu mereka itu jahat atau baik?" tanya Vivi. Matanya menyelidik setiap gerakan sekecil apa pun yang Toben ciptakan. Takut-takut kalau Toy Poodle itu akan mengatakan sesuatu yang membela si pengasuh, ia bisa langsung meraih sepatu bekas disampingnya dan menyumpalkannya pada moncong Toben. Toben nampak berpikir sebelum akhirnya mengatakannya dengan pasrah, "Aku tidak tahu." Vivi tersenyum puas. "Kalau begitu, ikutlah denganku mencari tahu apakah mereka itu sungguhan jahat atau tidak. Dengan begitu kita akan tahu jawabannya." Kata-kata Vivi membuat otak Toben berkerja 2x lebih baik dan membenarkan perkataan sahabatnya tersebut. "Aku akan ikut denganmu," putus Toben. Vivi tersenyum senang. "Kapan kita akan melakukannya?" tanyanya lagi. "Tentu saja setelah ku membuat dua setel baju detektif untuk kita. Kita harus terlihat stylish dalam keadaan apa pun, 'kan," jelas Vivi yang membuat Toben tersenyum senang, ia sudah membayangakan mereka berdua akan memakai baju seperti apa. "Kamu benar, Vi. Ayo, kita harus memilih kain sutra terbaik." Toben berlari kesebuah ruangan; meninggalkan Vivi tertinggal dibelakangnya. Anjing Bichon Frise itu berusaha mengejar Toben dengan tubuh besarnya. Ide tersebut membuat kedua anjing itu melupakan makan siang mereka. ΘωΘ Malam harinya ketika mereka di kamar asrama bersiap untuk istirahat, anjing-anjing itu menjadi sedikit canggung. Meokmool yang tengah merapikan selimutnya dengan terburu-buru, lalu berpura-pura tidur dengan posisi tak nyaman. Byul yang biasa menutup pintu sebelum tidur. Namun, kini membiarkannya terbuka begitu saja; membuat orang yang melintas dapat melihat kegiatan mereka di dalam kamar. Mongryeong yang hanya memakai sebelah kaos kaki, karena sebelahnya lagi berada didekat Vivi dan Mongryeong tidak berani mengambilnya. Bahkan malam ini Mongryeong tak mendengking 40 kali sebelum tidur. Toben melirik Vivi yang sudah mendengkur dikasurnya setelah Toy Poodle itu menutup pintu. Lalu beralih melirik kasur Byul. Biasanya sebelum tidur, Vivi akan meminta pelukan hangat dari Byul, hingga si Bichon Frise itu bisa tidur. Namun kini? Ini semua salah pengasuh-pengasuh itu! Toben mendengus kesal, ia jadi membenci keadaan seperti ini. Toben berjanji akan membantu Vivi dan membuat persahabatan mereka kembali seperti semula! Toy Poodle itu berusaha memejamkan matanya. Namun tidak bisa! Toben mencoba tidur dengan menghitung domba, dilihatnya Vivi yang tengah tidur dengan membuka sedikit moncongnya. Toben mulai menghitung dan menjadikan Vivi sebagai objek dombanya. Dihitungan ke 30, Toben sudah hampir terlelap. Namun, sesuatu berwarna putih berjalan sempoyongan mendekati kasurnya. Refleks Toben membuka matanya lebar; takut-takut itu adalah bayangan hantu Gumiho yang akan menculiknya. Akan tetapi ketika netranya membuka sepenuhnya, ternyata itu adalah Vivi yang tidur sambil berjalan dan berpindah kekasurnya. Toben mendengus kesal, kebiasaan buruk Vivi ketika tidur yang membuatnya hampir jantungan belum hilang. Menyesal rasanya kemarin ia begitu bersemangat menyambut Vivi yang akan tinggal di asrama. Dengan memeluk tubuh bulat Vivi, akhirnya Toben dapat memejamkan mata. Di dalam mimpi Toben, sekelompok anjing keren anggota band terkenal yang tengah mengadakan tour konser terbesar sepanjang sejarah peradaban hewan! Mereka adalah band yang tengah naik daun saat ini, yang terdiri dari 5 anjing super keren. Mereka adalah ... THE PEATLES! ΘωΘ To Be Continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN