Previous....
Sesuatu di balik pohon cemara besar yang berjarak satu meter dari tempatnya berdiri, seperti tengah mengawasinya. Vivi menunggu siapa pun dibalik pohon itu menyerangnya sewaktu-waktu melalui kaca. Namun, setelah beberapa saat tidak terjadi apa pun. Selama beberapa saat, yang terjadi hanyalah kesunyian, angin malam beberapa kali berhembus menerpa bulu-bulu putih Vivi.
Bichon Frise itu menoleh dan berbalik menghadap pohon itu, menatap terang-terangan pada siapapun dibalik pohon tersebut. “Siapa di sana?” Ia benar-benar sudah merasa dipermainkan dan ia sungguh geram. "Guk! Guk! Guk! Guk! Guk!" gonggongnya memperingati. 3 buah bayangan hitam seketika muncul dari balik pohon. Berjalan perlahan kearahnya. “
Vivi seketika menyesal kenapa ia tadi tidak lari saja dan malah sok menantang. Sekarang keempat kakinya terasa seperti jelly, ia tak mampu berjalan apalagi berlari. Anjing berbulu putih lebat itu akan mati dicakar dengan taring serigala!
EXCHANGE SOUL'S
07.
???
"Guk! Guk! Guk!"
Vivi masih memperingati 3 sosok itu agar tak berjalan mendekatinya. Namun seperti tuli, 3 sosok itu seakan malah tengah menertawakan dan menantangnya. Membuat Vivi makin meringkuk ditempatnya, dipejamkan mata itu erat-erat; mempersiapkan kemungkinan terburuk yang akan menimpanya. Seketika indera pendengar Vivi makin menajam. Dalam otaknya, ketiga bayangan besar itu tengah berjalan mendekat dengan seringaian mengerikan mereka.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Vivi?" tanya suara itu, suaranya terdengar sangat familiar ditelinganya, bau yang para serigala itu keluarkan juga menyerupai bau ketiga teman Poodle-nya. Perlahan, Vivi membuka kedua matanya; takut-takut kalau serigala itu meniru suara temannya. Lalu, setelah ia membuka mata maka mereka akan memperlihatkan taring setajam pisau dan langsung menerkamnya, mencabik-cabik bulu putihnya dan memakan dagingnya tanpa direbus dan dibumbui terlebih dahulu. Membayangkannya saja membuat Vivi bergidik ngeri.
Bichon Frise itu memincingkan matanya; mengintip. Seketika kedua bola matanya ingin keluar dari tempatnya. "Apa yang kalian lakukan di sini!" teriak Vivi kepada ketiga anjing Poodle dihadapannya itu.
Ketiga anjing itu memamerkan gigi mereka. "Membolos," jawab mereka serempak.
Vivi membelalakkan matanya kembali. Tidak habis pikir dengan ketiga anjing ini.
"Vivi sendiri? Membolos juga, ya?" tebak anjing Poodle berwarna cokelat lembut itu polos.
Vovo mencibir, "Sudah tahu masih bertanya."
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya seekor anjing Poodle berwarna putih dengan warna kuning dikedua telinganya itu bernama Jjangah.
"Sudah larut malam, sebaiknya kita kembali ke asrama saja jika tidak mau ikut latihan," jawab Jjanggu bijak yang disaat bersamaan juga menyesatkan.
Vivi memutar bola matanya malas. Mengikuti ketiga anjing itu kembali ke aula, atau asrama, atau ke mana sajalah yang penting tidak sendirian di halaman belakang; Vivi masih memikirkan tentang bau serigala itu. Vivi yakin bau tersebut bukan lah bau ketiga anjing Poodle tersebut.
ΘωΘ
Toben, Byul, Meokmool, dan Mongryeong berlari ke arah Vivi ketika netra keempat anjing itu menemukan teman Bichon Frise mereka yang baru saja membolos.
Vivi, Monggu, Jjangah, dan Jjanggu pun berjalan menghampiri mereka. Anjing-anjing itu sudah sama persis seperti adegan dalam serial drama. Ketika Meokmool sudah disamping Vivi. Tiba-tiba anjing betina itu langsung menginjak kaki depan Vivi, membuat anjing putih itu langsung mengaduh kesakitan. Ditatapnya Meokmool penuh rasa iba pada dirinya sendiri. "Anak nakal pantas mendapatkan itu." Setelah mengatakan hal tersebut, Meokmool lantas melengos.
"Tidak apa-apa?" Byul menatap kaki depan Toben yang Meokmool injak dengan ngeri. Meokmool itu memang bar-bar. Namun, sebenarnya Meokmool itu sangat penyayang. Ia melakukan itu karena memang teman-temannya pantas pendapatkannya.
"Kami menemukan Vivi tengah ketakut—aww!" teriak Monggu kesakitan; Vivi mengigit telinga kiri anjing Poodle itu.
"Karena kita sama-sama membolos, jadi kita bermain petak umpat bersama." Vivi menyambung ucapan Monggu yang terputus. Tentu saja itu bukan alasan yang sesungguhnya dan jangan sampai teman-temannya tahu ia seorang penakut, atau mau ditaruh di mana wajah tampannya ini!
"Aku pikir kamu pergi bermain game," kata Mongryeong terdengar iri. "Aku merindukan game-ku," ratapnya nestapa.
"Kalau begitu ayo bermain, Mongryeong," ajak Jjangah. Mata anjing Welsi Korgi itu seketika berbinar senang.
"Benar Appa baru saja membelikan kami Play Station. Semakin banyak yang bermain maka akan semakin menyenangkan," imbuh Monggu.
Jjanggu pun tak mau kalah. "Aku dengar Mongryeong sangat pintar dalam bermain Play Station, Mongryeong bisa mengajari kami."
Ingin sekali Mongryeong menyetujuinya. Namun belum sempat ia mengatakan "iya". Byul sudah lebih dulu menyela. "Ini sudah larut malam, sebaiknya kita segera kembali ke asrama."
"Play Station-nya?" Mongryeong mengeluarkan puppy eyesnya.
Byul menghela napas, tidak tahan dengan keimutan yang Mongryeong lakukan. "Kamu bisa melakukannya besok," putusnya.
"Yaah."
ΘωΘ
Besok paginya. Kelima anjing itu tidak sengaja bertemu dengan Nara di koridor, Nara melihat dan menghitung jumlah mereka yang ganjil.
"Di mana Angel?" tanyanya yang entah kepada siapa. Lalu matanya menatap anjing putih yang hampir selalu mengeluarkan ekspresi datar yang mengemaskan, si Bichon Frise.
Nara menghela napas. Rupanya anjing-anjing itu belum bisa berteman dengan Angel. Susah sekali, ya? Pikirnya.
Ketika kelima anjing itu akan pergi; rencananya adalah pergi ke kamar Kim Bersaudara untuk bermain Play Station. Sampai sebuah suara menghentikan salah satu di antara mereka. "Oh Vivi, aku perlu sedikit bantuan di sini," kata Nara.
Perasaan Vivi tiba-tiba tidak enak. Keempat temannya menatap Vivi tidak enak. Mereka akan bersenang-senang tanpa sang sahabat, sampai akhirnya si Bichon Frise berkata, "Aku hanya akan dihukum. Dan bukannya di jual ke pasar loak." Yang sedikit membuat rasa persalah teman-temannya berkurang. Akhirnya merekapun meninggalkan Vivi sendirian bersama Nara. Nara mengatakan bahwa ia butuh bantuannya untuk memasukkan semua bola-bola berserakan itu ke dalam keranjang.
"Bagaimana? Vivi bisa, 'kan?" tanyanya lembut.
"Guk. Guk. Guk. Guk. Guk," gonggong Vivi menyanggupi. Karena mau bagaimana pun Vivi lah yang bersalah dengan membolos saat kelas berlangsung.
"Anak pintar. Kalau begitu pastikan semua ini selesai sebelum jam makan siang," perintahnya, dengan senyum manis seperti biasa. Setelahnya, perempuan itu melenggang pergi. Vivi menghela napas panjang. Ini bukan pertama kalinya ia dihukum, namun rasanya tetap saja tidak menyenangkan.
Dengan ogah-ogahan. Bichon Frise itu mengumpulkan ratusan bola warna-warni ke dalam keranjang dengan moncongnya. 1, 2, 3, 4, 9, 12, 20, 30.
"Astaga, apa bola-bola ini akan membelah diri setiap kali aku masukkannya dalam keranjang?" frustasi Vivi melihat puluhan bola itu tidak berkurang. Bola-bola s****n itu seperti tidak berkurang sedikitpun dan justru semakin bertambah banyak setiap saatnya.
Dengan kesal, Vivi mengambil bola-bola itu dengan serampangan. Berlari ke sana ke mari hingga sempat terpeleset. Kadang Vivi tampak melihat sekitar, ketika yakin tidak ada siapa pun. Anjing Bichon Frise itu menutupi beberapa bola dengan kain, ada juga yang dimasukkannya kedalam kolong.
Sesaat kemudian, Vivi tersenyum bangga. Dilihatnya ruangan yang sudah bersih dari bola-bola. Hingga netra Bichon Frise itu menangkap sebuah bola yang tertinggal didekat pintu. Sebuah bola merah mengkilat bergambar naga. Vivi memiringkan kepalanya. "Aku seperti pernah melihat bola itu?" monolognya. "Uh, tidak tahu lah!" Karena takut membuang lebih banyak waktu dan jadi terlambat untuk menyusul yang lainnya bermain game. Vivi bergegas mengambilnya. Namun, ia malah tak sengaja menjatuhkannya dan membuat bola itu mengelinding semakin jauh.
Vivi mengejarnya sedikit kesusahan. Dalam hati, Bichon Frise itu terus menerus mengumpati si bola. Bola tersebut seperti memiliki pikiran dan kaki sendiri untuk terus menjauhinya, seakan Vivi adalah virus mematikan. Bola naga itu akhirnya berhenti, disebuah karpet di depan pintu yang menghalangi aksi mengelindingnya. Vivi tersenyum mengejek. "Aku doakan semoga kamu terlahir kembali sebagai manusia seribu tahun yang akan datang, wahai bola naga yang malang," ejeknya.
Vivi mendekati bola tersebut. Mungkin saja jika bola itu bernyawa ia akan mendengus kesal dan menendang b****g bulat Vivi; seperti yang biasa Meokmool lakukan pada Toben. Vivi membawa bola tersebut dengan moncongnya. Namun, ketika ia akan berbalik, sebuah obrolan yang terdengar serius menarik atensi Vivi.
"Saya tidak akan membiarkan kalian menanggung risikonya seorang diri."
Vivi tidak sengaja mendengar suara seseorang yang terdengar asing ditelinganya dari balik pintu ruangan tersebut. Vivi memiringkan kepalanya; berpikir.
Daripada ia insomnia karena panasaran, lebih baik menguping sejenak pembicaraan orang dewasa tersebut. Dengan moncong yang masih mengigit bola, Vivi menempelkan telinganya pada pintu, mendengarkan baik-baik apa yang mereka bicarakan.
"Kalian mendapatkan uang, saya mendapatkan anjing itu. Kita saling menguntungkan." Ini adalah suara laki-laki yang Vivi tidak kenal.
"Menarik." Itu suara yang Vivi yakini milik pengasuh mereka yang mengajar di kelas vokal, Jung A-yeong. "Berapa banyak yang kamu inginkan?"
"Hanya seekor," jawab laki-laki itu kelewat santai.
"Siapa hewan malang itu?" Laki-laki itu mengeluarkan sebuah foto.
"GILA! Kami bisa mati ditangan tuannya," pekik seseorang.
Vivi merasakan perasaannya tidak nyaman. Bichon Frise itu semakin mengeram ketika didapatinya suara pengasuh yang baru saja menghukumnya. Moon Nara.
"Aku sudah mengatakannya kan, kalau tidak akan membiarkan kalian menanggung risikonya seorang diri."
"Maksudmu. Kamu juga akan ikut dipenjara bersama kami, begitu?" tanya pengasuh yang mengajar di kelas akting yang Vivi ketahui bernama Park Meisie itu terdengar sinis.
Laki-laki itu terdengar menghela napas. "Jadi, kalian mau atau tidak? Saya tidak memiliki banyak waktu hanya untuk meladeni omong kosong kalian."
"Baiklah. Kami menyanggupinya," setuju Nara, terdengar buru-buru.
"Keputusan yang cantik," suara laki-laki itu terdengar mengejek.
"Kapan kami harus membawannya?" Mata Vivi membelalak. Itu adalah suara pengasuh kesukaannya, Kim Baram.
"Secepatnya." Laki-laki itu menjeda ucapannya. "Ini adalah alamatnya. Antar dia ketempat ini."
"Jauh sekali," leluh Baram. Hati Vivi mencelos mendengar suara itu berada di dalam ruangan tersebut.
"Berapa nomor rekening kalian?"
"Ouh, apakah ini semacam uang muka?"
"Anggap saja begitu."
"Ini adalah nomor rekeningku," kata Baram terdengar bersemangat. Vivi sudah beranjak dari tempatnya tanpa mau mendengarkan percakapan mereka lebih jauh. Hatinya sudah kelewat sakit, orang-orang yang dicintainya selalu menghianatinya—ralat, beberapa dari mereka. Vivi tidak bisa membayangkan jika Willis juga meninggalkan dan menghianatinya dimasa depan.
ΘωΘ
To Be Continued....