**
"Gue ga pacaran."
"Ha?"
"Gue gapacaran!"
Kristal setengah menjerit, melengkah dengan cepat meninggalkan Yse yang meriakkan namanya.
Persetan dengan pengendalian diri.
Pria itu sudah mengulitinya habis habisan, tidak ada alasan bagi Kristal untik menahan diri lebih banyak.
Brengsek!
Menyumpah, Kristal benar benar tidak mengira jika tujuan membuat pria itu berterus terang akan menjadi senjata tidak terelakkan untuknya.
Demi apapun.
Bagaimana mungkin semua hal tentang Kristal dan semua ingatan tentang masa sekolahnya dulu ada pada pria itu?
Bagaimana pria itu mengganggunya.
Menggodanya dengan percaya diri.
Lalu mengekorinya kemana mana.
Bagaimana pria itu tidak peduli pada sekitarnya.
Atau menunjukkan perhatiannya hanya pada Kristal
Manawarkan semua hal yang tentu saja membawa kenangan berharga yang begitu Kristal rindukan.
Bagaimana mungkin Kristal baru menyadari semuanya hanya karna senyuman menyebalkan yang selalu terlihat main main diwajah pria itu?
Brengsek!
Kristal membuang nafasnya dengan kasar, meremas kalung dibalik bajunya dan merasakan jantungnya yang masih menggila.
Menghentikan langkahnya, Kristal berjongkok memeluk lututnya. Menguburkan wajahnya diantara lekukan lengannya, tidak peduli tatapan orang yang lalu lalang disekitarnya.
Kristal tidak mengerti.
Tidak lagi mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kristal?"
Kristal mendengar helaan nafas berat pria yang kini berlutut dihadapannya, mengangkat wajahnya dan menemukan tatapan tenang dimata keemasan itu.
Tidak ada kilat penuh rencana atau senyuman main main yang selalu terlihat disana.
"Jangan gini, gue ga suka."
"Tapi, lo-"
"Iya, gue tau lo marah karna gua seenaknya bilang buat lupain semuanya."
"Oh, gue juga tau ko kalau sebenarnya lo emang gila."
Yse tidak menahan senyuman kecilnya, bergegas bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Kristal agar bergegas bangkit dari sana.
"Tolong, jangan lari lagi dari gue."
Kristal tak menyahut.
Menatap jemarinya yang masih berada dalam genggaman Yse dengan kening mengkerut samar.
Harusnya.
Saat Kristal bertanya..
Pria itu akan memberi pengakuan tentang ketidak seriusannya pada Kristal atau dalam artian lain hanya sedang bermain main padanya.
Menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
Mengakhir semuanya disini lalu berhenti mengganggu Kristal untuk selamanya.
Tapi lihat.
Apa yang sebenarnya terjadi disini?
Kristal menghela nafasnya dengan berat, menatap Yse yang melepaskan tangannya dengan enggan lalu membuka pintu mobilnya untuk Kristal. Pria itu menaikkan alisnya saat Kristal tak kunjung memasuki mobil, tersenyum kecil saat tatapan mereka beradu diudara.
"Gue suka "
"Ya?"
"Gue suka senyum lo hari ini."
Ujar Kristal memasuki mobil, meninggalkan Yse yang masih terdiam menatap kaca mobilnya yang baru saja tertutup dengan tatapan tak terbaca.
Menyadari.
Sama seperti Kristal.
Yse juga tidak menunjukkan senyuman tidak berartinya hari ini.
**
Kristal sudah mengira jika Yse akan membawanya kesalah satu Restouran mewah sejak pria itu menyinggung tentang makan malam, bagaimanapun hidangan menggiurkan diatas meja dengan lilin cantik yang berpendar indah ditengahnya sama sekali tidak membuat Kristal senang.
"Lo ga lagi mikir aneh aneh kan?"
"Ha?"
"Lo ga niat kan nembak gue depan orang orang banyak?"
"W-what?"
"Gue bakal kabur pokonya!"
Detik berikutnya yang terdengar hanya suara terbahak Yse yang berusaha menahan tawanya dengan punggung tangan, menatap gadis cantik yang sedang duduk disebrang meja dengan kedua tangan yang memegang garpu dan piasu dengan cengkraman kuat.
Menatapnya serius.
Penuh peringatan.
"Rencananya sih begitu."
"Awas aja, gue ga bakal ngomong lagi sama lo!"
Yse masih menaham senyumannya saat membalas tatapan serius Krostal.
"Segitunya?"
"Pokoknya amit amit!"
Kristal nyaris menggebrak meja
"Yah, padahalkan biasanya semua orang suka."
"Ga mau tau, intinya gue ga suka!"
"Iyaa, ga akan."
Kristal akhirnya melanjutkan makannya, Yse hanya tersenyum kecil dan menyesap minuma nya dengan hati hati.
Mengamati Kristal yang tampak cantik seperti biasa bahkan setelah mereka menghabiskan banyak waktu berpanas panasan dan berkeringat waktu lalu.
Beberapa perempuan mungkin akan menolak tapi Kristal masih tampak percaya diri memasuki Restauran semi formal itu.
Bagaimanapun.
Memikirkan bagaimana kehidupannya begitu berbeda saat bersama gadis itu membuat Yse tak mampu mengingkari keserakahannya.
Menjadi miliknya.
"Kenapa lo ga pacaran?"
"Drama, punya mantan ga enak."
"Jadi lo sama sekali belum pernah pacaran?"
Kristal menghentikan kegiatannya, mengusap sudut bibirnya dengan hati hati lalu membalas tatapan Yse dibawah cahaya tamaram diantara lilin yang berpendar.
"Mungkin?"
Jawaban yang ambigu.
"Tapi lo pasti pernah suka sama seseorang kan?"
Kristal mengerjap sekali, menegakkan punggungnya lalu menyipitkan matanya kearah Yse.
"Lo bilang lo pernah ketemu gue sebelumnya, lo beneran ga pernah denger apa apa soal gue?"
"No, kita cuma ketemu sekali dan gue cuma denger nama lo waktu itu."
"Lah, bisa bisanya."
Kristal mengerutkan keningnya tak habis likir, Yse melebarkan senyumannya.
"Bisa dong!"
"Dih, lo gila yah?"
"Gue kan udah bilang, gue itu tergila gila sama lo."
"Najis!"
Yse hanya tertawa kecil mendegar sahutan Kristal, berniat membuka suara sebelum tiba tiba gadis yang sedang memegang gelas tinggi itu menegang.
"Hei-"
Kristal mengangkat lengannya, menahan Yse berbicara dengan netra yang mulai melebar. Jemari gadis itu bahkan mulai bergetar dengan hebat, Yse mengerutkan keningnya lalu menoleh dengan cepat.
Mengekori tatapan Kristal yang tertuju pada pintu masuk dimana seorang pria dengan setelan jas mewahnya bersama seorang gadis cantik dengan dress biru malam yang melekat begitu pas ditubuh moleknya, kehadiran sepasang mahluk mempesona itu jelas saja mencuri begitu banyak tatapan disana.
"Kristal?"
Yse bergegas bangkit dari tempatnya saat gadis itu tiba tiba meluruh dilantai, menghampiri Kristal yang berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan tubuh yang bergetar.
"Hei, Kristal. Are you okey?"
Sayangnya.
Gadis itu jelas terlihat sedang tidak baik baik saja.
Yse merapatkan bibirnya, menoleh sekali lagi pada pencuri perhatian yang tampak seperti sepasang kekasih itu sudah memasuki salah satu private room dan meredam suasana di restouran yang tiba tiba saja dipenuhi decak dan bisikan.
"Ayo, kita pulang."
Yse meraih jemari Kristal, membawa gadis itu agar bergegas bangkit dari sana. Membawanya meninggalkan tempat itu tanpa suara, bahkan saat Yse menundudukkan Kristal dimobil.
Gadis yang baru saja menujukkan begitu banyak emosi padanya waktu lalu masih saja terdiam.
"Kristal?"
Tak ada sahutan, Yse menghela nafasnya dengan kasar. Menyalakan mesin mobilnya lalu menatap gadis itu sekali lagi.
Dan Yse lagi lagi tak menemukan apapun disana.
"It's okey, gue disini."
Yse meremas pelan jemari Kristal yang akhirnya tidak lagi bergetar seperti waktu lalu, gadis itu bahkan mulai menghela nafasnya dengan tenang dan melepas genggaman tangan mereka hati hati lalu melemparkan senyuman padanya.
"Maaf."
"Lo-"
"Tapi makasih buat hari ini."
Yse tak menyahut.
Menatap senyuman itu diwajah Kristal, senyuman yang bahkan lebih menyesakkan dari biasanya karna membuat Yse bahkan tanpa sadar mencekram kemudi mobilnya dengan kencang dan menunjukkan tatapan dingin yang tak seharusnya.
Ada apa?
Ada apa sebenarnya?
Sayangnya, pertanyaan itu akhirnya tak pernah terucap diantara mereka.
**