Part 6

936 Kata
"Ara?" Kristal menoleh saat mendengar ketukan pelan di pintu kamarnya lalu terbuka dan menemukan Mama berdiri disana dengan piyama tidurnya. "Are you okey?" Kristal menarik sudut bibirnya, melemparkan senyuman yang seketika membuat Mama menghela nafasnya dengan berat lalu melangkah masuk dan memeluk Kristal yang masih duduk termenung di meja belajarnya. "Tadi lancar jalan jalannya?" "Lancar ko, Ara juga seneng." Mama melepas pelukannya, menatap Kristal yang membuang tatapannya dari Mama. "Terus?" "Ga ada terusan." Mama berdecak pelan, mengusap hati hati rambut Kristal lalu kembali membuka suara. "Kalau kamu seneng, kenapa belum tidur? Anak mama lagi mikirin sesuatu yah?" Kristal tak menyahut, menatap udara dengan kosong tak tahu harus mengatakan apa dan dari mana pada ibunya yang menunggu dengan sabar. "Ma?" "Iya sayang?" Kristal menghela nafasnya, akhirnya memilih membalas tatapan Mama yang kini mengusap punggung tangannya menenangkan. "Ara.." Kristal menghentikan ucapannya, menelan ludahnya susah payah saat tenggorokannya seolah terasa tercekik oleh tangan tak kasat mata. "Ada apa,?" "Ara.." Suara Kristal mulai terdengar serak, mengulum bibirnya dengan mata yang mulai berkaca kaca. "Sayang?" Mama mulai terlihat cemas, genggaman tangannya semakin erat saat Kristal kembali membuka suara dengan gemetar. "Ara mau nangis, boleh?" "Nangis aja gapapa, sini peluk Mama." Mama menarik Kristal dalam pelukannya, membiarkan Kristal mulai menangis dengan keras dan mengusap punggungnya menenangkan. Tak ada suara. Hanya terdengar isakan keras dan suara jarum jam yang sudah menujukkan pukul lewat tengah malam. Sudah sejak lama Kristal tak pernah lagi menangis sekeras ini, sejak itu pula Mama selalu memastikan Kristal tidur dan melarang keras pintu yang terkunci dikamar putrinya untuk mencegah hal hal yang mencemaskan terjadi seperti yang sudah sudah. Andra. Apa Kristal bertemu Andra? Tatapannya lalu terjatuh pada buket bunga yang mengering diatas meja dengan sepucuk kartu ucapan yang sudah kusut diatas meja. Mama tak membuka suara, masih menepuk pelan punggung putrinya yang bergetar pelan lalu menghela nafasnya dengan berat. Berharap. Waktu yang tepat segera tiba untuk putrinya. *** Pagi itu para Mahasiswa dan Mahasiswi tampak bergegas memasuki gerbang kampus untuk menghadiri kelas pagi di hari senin yang begitu padat seperti biasanya, namun pemandangan yang terlihat sama seperti biasa itu terlihat berbeda kali ini. Tidak peduli tatapan curiga satpam di pos jaga ataupun tatapan penasaran pada mobil mewah yang sudah terparkir sejak pagi buta didepan kampus itu, seorang wanita paruh bayah tampak berdiri anggun disana dengan gaun merah marun dan selendang yang berusaha menutupi rambut pirangnya agar tak terlalu mencolok lalu kaca mata hitam yang menutupi setengah wajahnya sedang menenteng tas mewah senada ditangannya "Permisi." Satpam akhirnya memilih mendekat saat wanita dan mobil mewahnya itu tak lagi hanya mencuri perhatian tapi mulai membuat keributan. "Ada yang bisa saya bantu?" Pria paruh baya dengan rambut klimis dan seragam rapihnya menyambut dengan senyuman ramah, terduga supir dari wanita yang masih terlihat serius menatap para Mahasiswa dan Mahasiswi yang memasuki gerbang. "Maaf, Pak. Nyonya saya cuma lagi nyari calon mantunya." "Owalah, kalau boleh tau siapa namanya dan dari fakultas mana?" "Ga usah kepo!" Sahutan dari wanita modis itu seketika membuat Pak Satpam meringis pelan, membalas senyuman canggung sang Supir padanya "Gimana kalau nunggunya didalam saja, Bu? Ada ruang tunggu dan kita bisa memanggil orang yang Ibu cari." "Nah loh, gimana Bu?" "Mang sule gimana sih, nunggu disini aja udah. Kalau kita ke dalem nanti Kristalnya ga mau ikut sama kita, jangan bikin usaha saya sia sia dong Mang!" "Iya, Maap Bu!" Sang supir menyahut dengan sabar, Pak Satpam mulai salah tingkah saat wanita berdarah asing itu menurunkan kacamata hitamnya hanya untuk melemparkan tatapan tajam mengancam. "Emangnya saya ga bisa nunggu disini?" "Iya, Bu." Sahut Pak Satpam hati hati, wanita paruh bayah itu tampak berpikir sejenak sebelum tersenyum mantap. "Yaudah, kuy kita masuk!" "Siap Bu!" Lah? Keduanya segera memasuki mobil mewah berwarna hitam metalik disisi jalan, meninggalkan sang Satpam yang mengerjap heran sebelum berlari kecil menuju gerbang untuk segera menunjukkan tempat ruang tunggu berada. Merapal dalam hati. Semoga tak ada badai yang mengguncang hari ini. ** "Kristal." "Kristal!" "Kristal!!!" "Apaan?" Inggrid memutar bola matanya malas, menarik Kristal yang akan berbelok menuju gedung perpustakaan menuju ruang loker. "Ikut gue!" "Kenapa sih?" "Bentar, gue ambil tas dulu!" Gadis itu membawa Kristal menuju lokernya, mengambil tasnya disana lalu setengah membanting pintu loker dan menguncinya dengan cepat. "Gimana?" Inggrid menatap sekitarnya, ruang loker tidak lagi terlalu ramai karna beberapa kelas sudah memulai mata kuliahnya. "Apaan?" "Nge date lo kemarin gimana?" Sahut Inggrid gemas, menahan diri untuk tidak mengguncang bahu Kristal dan memintanya membuka mulut sekarang juga. "Yah ga gimana gimana." "Aman?" Kristal nyaris menarik sudut bibirnya melihat tatapan penasaran bercampur cemas milik gadis yang semakin mendesaknya untuk segera membuka suara. "Aman ko." "Cius?" Kristal nyaris memutar bola matanya malas, lalu bergegas beranjak dari sana. "Beneran ga ada yang aneh aneh kan?" "Iya." "Kristal ih!" Kristal melemparkan tatapannya sekilas pada Inggrid yang benar benar terlihat cemas lalu kembali membuka suara. "Ga ada apa apa ko." "Ya kan tapi-" Kristal menghentikan langkahnya, menepuk bahu Inggrid yang melemparkan tatapan kesalnya. "Gue bisa jaga diri ko." "Jaga diri apanya kalau kecolongan mulu! Mau gue sebutin satu satu apa? Gue harus bilang apa ke bonyok lo kalau ada apa apa? b******k, harusnya kemarin gue buntutin kalian aja sekalian!" "Dih, najis! Bukannya lo ada kelas?" "Lah, ko tau?" "Sana." Kristal mendorong Inggrid agar segera berbelok kearah yang berlawanan darinya, berdecak kesal Inggrid akhir memilih mengalah dan segera bergegas. "Pokonya nanti lo harus cerita!" "Males." "Harus! Wajib!" "Bodo." "Kristal!" Gadis itu hanya mengedikkan bahunya saat Inggrid menjerit kesal dari ujung lorong, melanjutkan niatnya menuju gedung perpustakaan sebelum suara keras dari speaker pengumuman memenuhi lorong dan ruang kelas dipenjuru kampus menghentikan langkahnya. "MAHASISWI BERNAMA KRISTAL ARABELLA DAMIAN DIHARAPKAN UNTUK SEGERA MENUJU RUANG TUNGGU SEKARANG JUGA!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN