bc

Di Belahan Hati Yang Lain

book_age18+
23
IKUTI
1K
BACA
drama
comedy
sweet
humorous
like
intro-logo
Uraian

Hati dan perasaan itu tidak bisa dibagi, hati bisa tersibak oleh kesiap memori dan menimbun rasa menjadi degup asa. Ia bisa melajukan detak jantung sepasti detik jam, dan memindai masa indah dengan sendu. Hingga mengakali lidah, dari benci jadi rindu. Perasaan acapkali berhembus dalam ketakacuhan, hanya untuk mengecap sesal bertudung helai curiga, tanpa beralas akal. Keduanya akan selalu saling menambah, hingga pemiliknya makin berhati-hati dan berkali-kali terbawa perasaan alias baper.

Hati yang tertutup dan terus berjaga-jaga tidak akan mampu mengendalikan arah, karena tak ada yang ideal bagi perasaan jika kata kuncinya tak pernah berubah.

Tak seorang pun bisa selamanya hidup dalam drama yang diciptakannya sendiri. Walau dalam drama itu ia memainkan peran terseru sekalipun. Lakeesha yang sejak puber kurang tanggap dalam urusan cintanya, masih bersiteguh pada sebuah titel drama yang tak pernah usai diperankannya. Stay Single Di Usia Hampir Lewat Angka 3. Ia terjebak dalam keegoannya sendiri, menjembabkan dirinya pada kehidupan yang boring tanpa pasangan, untuk alasan yang sangat gaje.

Yaitu, cemburu dan dendam. Hingga suatu hari, ia mendapati bahwa dirinya sudah tak lagi menyimpan kenangan-kenangan masa lalunya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya membuatnya sama sekali tak berani jatuh cinta lagi itu. Lalu, bagaimana ia bisa menemukan kembali Edelweiss yang hampir lapuk di dalam gudangnya itu, dan menemukan bahwa perasaan hati itu masih tumbuh indah bawah hujan?

Pengen tahu kelanjutannya? Simak aja!

chap-preview
Pratinjau gratis
The Evening Glory
Petang yang panas itu rupanya telah membuat setiap orang di Ol' Flame Kafe seketika menjadi delusional.  Suara bising kendaraan sesekali terdengar setiap kali pengunjung baru memasuki pintu. Bunyi klakson tak bisa dihindarkan berulang kali menembus ruang berdinding kaca di satu sisi itu. Seperti tidak cukup sejuk dengan sistem pendingin udara yang ada, pengunjung tampak gelisah dan tersirat kecurigaan satu sama lain. Bunyi dentingan piring menyahuti nada sentimen sendok dan garpu para penikmat makan dari berbagai meja. Menempel di dinding kaca, sekelompok anak ABG tak bisa lagi meredam suara. Di pojok ruangan, sebuah keluarga tak kalah asyik saling mencicipi makanan dari piring satu sama lain. Sementara itu, di tengah ruangan, beberapa pasangan sedang mengobrol dengan pendamping wanita berkipas tangan yang saling melirik dengan gerah. Di sebuah meja, di pojok dinding kaca, empat orang wanita berpenampilan elegan dan seorang laki-laki berpakaian santai tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada lagi gairah untuk berbincang setelah debat yang cukup sengit tentang artikel terbaru di majalah wanita. Mereka berdebat tentang survei yang mengatakan ya atau tidak cinta sejati ditakdirkan untuk sehidup semati.  "Yea, persisnya seperti yang terjadi dengan Romeo dan Juliet," kata Noire skeptis.  "Itu adalah tragedi, dear...," kata Utari enggan menepis keraguan Noire. Ponselnya lagi-lagi bergetar. "Tidak ada seorangpun yang mencari romansa komedi dalam kehidupan nyata... Ya... Hallo?" Pada dasarnya mereka memilih untuk tidak mempercayainya, tapi survei tersebut seperti menebarkan angin segar bahwa ya, 75 persen mereka akan berlabuh di bahtera pernikahan. Bahkan jika itu melalui perpisahan atau perceraian dengan pasangan pertama mereka. Atau mereka yang tidak merasa bahwa itu adalah cinta, selama terikat hubungan yang yang sakral, bahkan dalam polemik rumah tangga, atau terperangkap dalam ranjang pernikahan yang lebih seperti kutukan, itulah cinta sejati. Tapi, sepertinya, tak ada yang benar-benar peduli lagi mana yang benar. Sederhananya karena, tidak satupun dari mereka yang merasa memiliki cinta sejati.  "Bagaimana bisa semati, kalau sehidup saja tidak pernah bertatap muka?" Kata-kata Keisha tersebut telah menarik percakapan lebih lanjut. Ia berpendapat, bahwa dalam banyak kasus, hubungan yang langgeng antara suami dan istri, meski setia, bukan berarti memiliki cinta sejati. Bukan berarti mereka tidak menyimpan rahasia. Tapi, demi kedamaian di bumi, mereka memilih tidak membuka suara. Sebab bagaimanapun, cinta sejati tidak dapat dicapai melalui perselisihan, kecuali argumen biasa, apalagi penolakan terhadap hal-hal di sekitar kehidupan mereka. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tidak mengerti kenapa masih banyak pasangan yang bahkan terlihat memakai samaran masing-masing, terlepas dari wajah pasangannya. "Seperti... Tindakan merebut pacar seseorang atau berpaling dari orang yang dicintainya karena perselisihan kecil, itu bukanlah cinta sejati tapi sebuah perskandalan!"  "Tapi... Sejatinya cinta, kan adalah saling mengasihi?" Kata Erlan yang masih keukeuh dengan pendiriannya, ia yakin bahwa setiap orang masih bisa menemukan cinta sejatinya. "Seseorang itu masih bisa mendapatkan kembali cintanya yang direbut, atau menjelaskan bahwa ia lebih berharga dari sebuah perselisihan kecil yang dilakukannya. Kecuali kalau kamu lebih suka dengan Dido's Lament." Tak ada seorang pun yang pernah mendengar Dido's Lament. Erlan pun menjelaskan dengan singkat, bahwa itu adalah sebuah pertunjukan opera yang menceritakan ratapan seseorang yang mencinta hingga ia merelakan takdirnya untuk dilupakan. Tidak seorang pun menyukainya. Bahkan Keisha cepat-cepat menepisnya dengan mengalihkan pembicaraan. Mereka lebih setuju cinta sejati adalah seperti sebuah pelabuhan cinta dua pasang anak manusia yang saling melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain pasangan, menerimanya dengan perasaan senang atau tidak dan tetap berjuang demi kebahagiaan cinta mereka berdua. Walaupun mereka tidak ditakdirkan bersama.  "Maksudnya, selalu indah, kan?" kata Noire sambil menunjuk muka Keisha yang sesekali berharap-harap cemas. Untuk menegaskan dirinya, Erlan pun menambahkan bahwa, seorang pecinta sejati, akan tetap mencinta dan mengharap kebahagiaan untuk orang yang dicintainya, walaupun tanpa ambisi untuk memiliki.  "Kadang itu sakit sekali rasanya, tapi bagi siapapun yang hatinya berisi cinta, entah yang seseorang dambakan atau mendambakan seseorang, kisah itu selalu indah adanya." Perdebatan semakin sengit, mereka sama-sama mengklaim bahwa apapun itu bentuknya, hidup bersama atau tidak, selama dua pasangan itu menyadari, bahwa cintanya tersimpan aman di dalam hati masing-masing dan itu membuat kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya, maka itu adalah cinta sejati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam setiap hubungan, khususnya pernikahan, semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Adalah jodoh yang menjadikannya sesuatu menjadi sesuatu yang dipertahankan, yang berawal dari sebuah cita-cita untuk melanjutkan kehidupan ideal yang dimimpikan setiap insan manusia.  "Reproduksi itu sesuatu yang niscaya, selama sains belum menemukan cara lain untuk mengembangbiakkan manusia, pernikahan akan selalu ada di antara jodoh dan cinta sejati!" kata Noire tak rela idealismenya dipatahkan. Bagaimanapun ia tak sudi hidup sendiri, dan ia merasa tidak ada yang menginginkan hidup dengan pasangan yang membuatnya nelangsa. Apakah jodoh dengan cinta sejati itu kemudian beda? Mereka tak begitu peduli, mereka hanya peduli, siapa yang menang dalam permainan ini. Keisha mengingatkan sekali lagi, "Uno!" Ayu melempar kartu 2++, Dena menyembunyikan kartunya di d**a, Utari menepuk kartunya di meja. Semua mata memandang ke arah Keisha dengan penuh harap, termasuk Erlan yang hanya menonton saja. Tentu saja harapan agar Keisha menarik dua kartu. Tapi wanita berwajah mungil dengan tubuh gendut itu menjerit sambil mengacungkan kartunya untuk Ayu yang duduk di kursi sebelah. "Tarik empat kartu!! Dan Uno!!" Keisha membanting kartu 4++. Lagi-lagi pemenangnya adalah Keisha. Keisha dengan cepat meraup kartu masing-masing para pemain yang kalah, dan menghitung hasil minus. Kartu-kartu itu bertebaran lagi di meja. "Dena, 10, 25, 45, 70, 90, 110, 128, minus 128... Utari 40, 60, 65, minus 65... Ayu, 20, 40, 60, 80, hahaha..., plus 40 dan 40, 160, 175, 197, minus 197... Dan gambarkan bintang lagi untukku," katanya pada Erlan . "Yahay! Dapet bintang lagi...!" Erlan yang baru saja bergabung ke grup itu dan menjadi pencatat skor menanyakan bagaimana Keisha bisa menghitung secepat itu. Utari menjawab, "Oh, dia selalu cepat seperti itu." "Tapi harus ada triknya, kan?" tanya Erlan . "Penjumlahan tiga angka. Kau hanya harus tahu nomor apa saja dan mengingatnya, jumlahnya jadi 15, sisanya hitung sendiri, lah," kata Keisha. Erlan menarik bibirnya sambil mengangguk-angguk mengerti. "Hmm. Pintar juga." "Dan dia juga ambisius!" kata Dena sambil manggut-manggut memperhatikan kartu-kartu yang kalah. Keisha sendiri no comment. Tapi, saat dia nengok, Dena udah langsung menuduhkan garpu es krim itu ke mukanya, "kau memang ambisius! Belum-belum udah langsung ngitung! Dicek dulu yang lain, Neng! Kali-kali ada kartu yang ketuker." "Yang nyelip, juga? Lha, kita semua udah sambil ngitung, tadi waktu main, kan?" Keisha meringis. Lalu menjulurkan lidahnya, tak acuh. Tapi, Dena sudah menyimpan es krimnya, membantu Ayu yang kena bagian mengocok membereskan kartu-kartu. Dia orangnya paling suka ngritik, jadi nggak pernah komen lagi kalau kritiknya dipatahkan. Dia malah mengusulkan Erlan , "Coba saja kau kasih dia tebak-tebakan. Dia pasti orang pertama yang memecahkannya." "Tolong jangan trik murahan," kata Keisha ketus. "Oh, ho-ho-ho...," kata Erlan mencondongkan badannya ke samping sambil tertawa. "Oke... Aku takkan mencobamu..." "Tapi, aku akan mengakui, aku bukan pemecah puzzle yang baik," kata Keisha. "Aku mencobanya di Apps, tapi permainan itu menjengkelkan sekali." "Kan, bisa dipilih warna-warnanya, Keish?" "1000 pieces?" Keisha melotot sambil mulutnya monyong. Candy Crush sampe ribuan turun beruntun juga nggak boring, ah!" "Tapi, puzzle 1000 pieces itu untuk orang genius, Keish!" Yang lain pada mengerutkan keningnya. "Yea, Candy Crush lebih asyik," kata Ayu memecahkan suasana, sambil membuat trik shuffle dengan tangan manisnya. "Aku tak pernah tahu kalian masih bermain games..." "Heyyy! Refreshing itu perlu..." kata Utari sambil menepuk lengan Erlan di seberang meja, hingga Ayu agak kesulitan membagi kartu. "Mungkin itu ide yang baik buatku menghilangkan stress di kantor! Aku suka puzzle... Aku selalu cepat dalam puzzle. Pecahan berapa yang paling banyak kau bisa selesaikan, Keish?" tanya Erlan . "Hm... 36..." "Hahahahahaha...," Erlan tergelak. "Kupikir 1000... Tapi, kau bahkan tak sampai 100..." "Hahahahaha...," Keisha balas tertawa sambil menengadahkan wajahnya. "Aku nggak kurang kerjaan seperti itu, ya! Memang aku semua game harus bisa, ya?" Nada Sundanis Keisha yang bercampur Jakarta keluar di tengah-tengah. Erlan tertawa sambil menunduk membuat gambar bintang untuk Keisha, sambil mulutnya monyong ke samping, keqi. Kartu telah rata dibagikan Ayu. Semua siap dengan kartu masing-masing di tangan. Keish melemparkan kartu pertama, 2++ warna merah. "Shoot," kata Dena mengumpat. Ia menarik 2 kartu. Keish menahan tawa pendek. Ponsel Utari berdering di atas meja, ia dengan sigap mengangkatnya. Permainan untuk sementara dihentikan, Ayu mengetuk-ngetuk kartunya tak sabar di meja. Dena mencomot tart buah campur di piring Keisha, ia hendak mengambil potongan buah jeruk, tapi tangannya ditepuk Keisha. Dena mendengus, akhirnya ia pun mengambil potongan buah kiwi. Keisha manggut-manggut puas, menyuap buah jeruk berwarna jingga segar itu ke dalam mulutnya sendiri. "Ya, dok... Bagaimana hasilnya? Okay... Itu kabar bagus... Hm! Terima kasih, dok..." Utari menaruh ponsel kembali di meja, lalu mengangkat bahunya. "Aku sudah tidak memerlukan obat-obatan itu lagi..." "Hey!! That's good..." Keisha menepuk tangan Utari senang. "Yea... Aku sendiri sudah muak dengan pil-pil itu, yuck!" "Good for you, Tari...," kata Erlan menimpali. Utari tak ingin membahasnya lagi, ia mengangkat tangannya untuk menghentikan topik itu, lalu melemparkan kartu 4++. "Ambil empat kartu, dan warna kuning." "Haha!!" Seru Ayu sambil melemparkan kartu yang sama pada Keisha. "Ambil 8 kartu, dan warna biru!" Dena terbahak-bahak sambil memegang perutnya. "Oh, nooo!!" Jerit Keisha sambil menarik bibirnya sedih, tapi tiba-tiba ia terpingkal-pingkal menunjuk kartu-kartu di meja. "Hahahaha... Ambil 12 kartu, dan warna hijau!" "Oh, shoot! Oh, shoot!!! Shoot, shoot...!" Umpat Dena dengan wajah merah. "Kau tak bisa melakukannya...!" Ia menggeram kesal pada Keisha. Semuanya tak dapat menahan tawa. Juga Erlan , ia menahan tawa, hingga bahunya berguncang. "Setelah ini, aku tak mau main kartu lagi...!" Rajuk Dena, sambil mencangkul 12 buah kartu. Giliran Utari melempar kartu hijau, tapi wanita itu malah terdiam memandang ke atas meja. Ia lalu melempar kartu hijau dengan angka 1, sambil berkata, "aku kira aku tak mau main lagi... Aku ingin kita bicara serius tentang IPO tahun ini..." Semuanya melirik ke wajah Utari. "Ada apa dengan IPO tahun ini?" Tanya Ayu heran. "Kita akan mengikutinya, kan?" Dena tertawa senang, sambil membanting tumpukan kartu dari tangannya. "Yahhh...," kata Keisha kecewa. "Tentu saja... Aku hanya ingin ini menjadi kesempatan aku untuk berhenti bekerja. Aku ingin melakukan sesuatu yang selama ini ingin kulakukan..." "Ehm..." Tampaknya Erlan benar-benar tertarik. "Riv... Apakah tawaran itu masih berlaku?" "Surely...," kata Erlan menegaskan. Utari selalu mengagumi aksesoris, ia ingin membuat trend merk sendiri. Dari Erlan ia menemukan celah ke sana. Tapi, ia belum berani meninggalkan perusahaannya. "Kalian tim yang tangguh dalam perusahaan kita... Aku tahu bisa mempercayakan perusahaan ini pada kalian sampai aku benar-benar mantap. Setelah itu, kalian bisa menentukan pilihan kalian sendiri. Apakah kalian mendukung rencanaku ini... Keish... Kau sudah aku persiapkan sejak lama!" "Tentu saja!" Kata Ayu cepat. "Yesss," Kata Keisha mengepalkan tangan, sambil mengadukan sikut tangannya ke paha. "Yea... Aku 100% mendukung, Ri..." "Tapi, itu semua bergantung pada IPO tahun ini...," kata Utari cemas. "Kita tak tahu persaingan di luar..." "Jangan khawatir, kita akan meraih kesuksesan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya...," kata Keisha sambil membereskan kartu-kartu di meja. "Keish... Kau siap, kan menggantikan aku? Kita benar-benar butuh title yang kamu sandang itu... Itu sebuah selling point untuk perusahaan." "Sure...," kata Keisha sambil membelalak. Matanya tetap jatuh pada kartu-kartu di atas meja. "Aku tak akan pergi kemana-mana..." "I don't know," kata Utari sambil membukakan tangannya. "Kau baru saja mengambil Diploma Ilmu Komunikasi, aku pikir kau ingin mengejar cita-citamu yang lain..." "Aku hanya ingin menguasainya! Apakah itu salah?" "Tidak sama sekali, dear... Hanya ingin memastikan..." Utari menepuk tangannya. "Kalau begitu, kita boleh mulai minggu depan. Kau akan mengerjakan tugas-tugas aku selama aku mengurus persiapan dengan Erlan ." Utari mengulurkan tangannya pada Keisha. "Great!!" Kata Keisha sambil menjabat tangan Utari. "Aku yakin, kita akan menuai hasil dengan baik."  "Yup! Let's be sure on that!" kata Utari mengangguk sambil memutar kepalanya dengan menunduk.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

CRAZY OF YOU UNCLE [INDONESIA][COMPLETE]

read
3.2M
bc

Sepenggal Kisah Gama ( Indonesia )

read
5.1M
bc

Because Alana ( 21+)

read
364.3K
bc

LAUT DALAM 21+

read
299.8K
bc

Noda Masa Lalu

read
205.8K
bc

I Love You Dad

read
293.9K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook