Hari sudah agak sore, aku memarkirkan mobil di halaman rumah Mama yang luas. Rasa letih ditubuhku membuat aku segera turun. Aku dan Mama disambut Mbak Mella di depan teras rumah. Wajahnya ceria, berbanding terbalik dengan wajah mama yang kaku. Semenjak kejadian di poliklinik tadi, Mama mendadak hemat bicara, sekali-kali pandangannya melirik ke arahku. Seperti mau mengucap sesuatu tapi, di urungkannya. " Gimana,Ma? Sudah selesai kan bajunya? Aku sudah gak sabar lihat Mbak Veniya memakai gaun pengantinnya. Hm... Pasti cantik." Mbak Mella ribut memberondong Mama dengan pertanyaan, dia sama sekali belum up date kondisi Venia terkini. " Ma, Veniya itu jauh lebih cantik dari Anggita apalagi dari Mbak Isrina." Hmm. Mbak Mella tertawa lepas, tanpa melirik sedikitpun ke arahku dan m

