Keikhlasan Isrina & Fakta Venia

1661 Kata

Aku hanya memandangi tumpukan berkas pekerjaanku dengan hati yang kosong. Entahlah, akhir-akhir ini semangat bekerjaku sedang turun, banyak berkas pekerjaan yang belum selesai. Membuatku terpaksa membawanya pulang ke rumah, berkutat di ruang kerja sampai larut malam. Seperti biasa, Isrina akan adir menemaniku. Menyuguhkan secangkir teh hangat, kadang dia juga membuat aneka olahan sebagai pelengkap minum teh. Sentuhan Tangan lembutnya, memijit pundakku dengan hangat mengaliri sejuta ketenangan pada hatiku. Tak sepatah katapun bibir itu mengeluh, padahal hari pernikahanku dengan Venia sudah ditetapkan. Senyum dan tatapannya selalu sama. Intonasi suaranya pun tidak berubah dengan bahasa yang selalu santun. Memandang perempuan itu, selalu laksana menatap oase di tengah sahara yang ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN