Isrina masih tampak gelisah. Sinar matanya diliputi kabut dan cemburu. Bagaimana mungkin, aku membiarkan perempuan yang selalu menghangatkan dan menyejukkan jiwaku itu, merasa gundah? Kuraih tubuh Isrina lebih dalam. Mendekapnya lebih erat, dan membenamkannya dalam pelukan. Agar dia tahu, seberapa dalam rasa dan cintaku padanya. Isrina tengadah saat kucium kepalanya dengan lembut. Tatapannya masih menyimpan tanya. "Kamu cemburu pada sesuatu yang bahkan telah hilang dalam memori dan hatiku?" tanyaku mengurai sunyi. Isrina tidak menjawab, mengeratkan pelukannya di tubuhku. "Venia sempurna untuk kau cintai." Isrina mendesah. "Perempuan itu, memiliki apa yang tidak kupunya. Kecantikan, status dan kekayaan." "Tipe menantu ideal, di mata Mama." Suara Isrina terdengar lirih. Kara

