Aku merasakan pandangan mataku yang buram saat menatap jalanan yang membentang sunyi di hadapanku. Tol Ci Pularang menjelang senja seolah menoreh sepi, angin yang kencang menderu menabrak jendela mobil menambah deru hatiku yang semakin tak menentu. Pesan w******p Habibi yang baru sempat ku buka tiga jam lalu, membuat dadaku bertalu dalam gemuruh yang sulit kukatakan. Bagaimana mungkin Isrina bisa kecelakaan? Bagaimana mungkin dia bisa terserempet truk pengangkut pasir saat berangkat sekolah tadi pagi? bagaimana kondisinya, parahkah? Oh Tuhan, bagaimana juga bayi dalam kandungannya? Berulangkali kutelepon Habibi, tapi selalu saja nadanya sibuk. Berulangkali kukirim pesan tapi selalu hanya centang dua yang tetap hitam, pesanku tidak terbaca. Isrina ada apa denganmu? Sambil melajukan mobil

