Menghabiskan malam di bawah purnama selalu indah bagiku. Di sini, di atas balkon kamar di rumah Mama sepertinya selalu menghadirkan pendar yang sama di dadaku, indah. Ribuan bintang dan semilir angin malam yang berhembus membuat riap hijab isrina menari dengan lembut. Kutatap bidadariku dengan rindu yang sama. Dengan cinta yang tidak berubah. Kehadirannya kembali membuat hatiku yang beku serasa dipenuhi kehangatan dan kesejukan cinta. "Sayang, coba lihat bulan di atas kita," kataku melirik Isrina di sisiku dengan tatapan rindu, Isrina melirikku dengan sendu, perempuan yang selalu membuatku bahagia itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, berusaha menyembunyikan segaris luka yang menghiasi pipinya di hadapanku. "Sayang, jangan sembunyikan apapun dari suamimu," bisikku lembut

