Ku izinkan Kau Memilihnya

1220 Kata
Malam itu seperti biasa Isrina berdiri di teras rumah, menunggu laki-laki yang paling dicintai dalam hidupnya kembali dari kantor tempatnya bekerja. Lepas isya, biasanya Mas Gara, nama panggilan suaminya kembali dari kantor. Jalanan jakarta-Bogor yang macet sepertinya mengharuskan Mas Gara selalu tiba setelah matahari tenggelam. Sagara Rahman, nama laki-laki yang telah menoreh begitu banyak cerita dalam hidupnya. Entah dengan kata pujangga apalagi, Isrina melukiskan perasaannya pada laki-laki dengan d**a bidang dan mata cokelat tajam itu yang salalu merubuhkan perasaannya dalam lautan rindu. Seharusnya malam itu adalah malam yang indah. Malam tepat tiga tahun hari pernikahannya dengan Sagara. Malam di mana tiga tahun yang lalu, dengan suara yang tenang dan dalam Sagara mengikatnya dalam sebuah ikatan pernikahan. Dengan suara sedikit bergetar Sagara melafalkan ijab kabulnya, dihadapan almarhum bapak dan emak Isrina, dihadapan penghulu, disaksikan seluruh kerabat dan handai taulan. Tiga tahun yang lalu, untuk pertama kalinya Isrina menyentuh tangannya yang kukuh, menciumnya dalam linangan air mata bahagia sebagai seorang istri. Isrina tidak pernah bermimpi, Tuhan mengirim laki-laki sempurna itu dalam hidupnya. Laki-laki yang selalu menghangatkan dan menyejukkan jiwanya, laki-laki yang selalu merengkuhnya saat terluka. Namanya Isrina Hamidah, nama yang sederhana. Sesederhana wajahnya. Kata orang dia tidak cantik, tapi kata mereka, sorot matanya teduh dan senyumnya manis. Dia dikenal gadis polos dan lugu tapi baik hati dan smart, mungkin untuk itulah Sagara memilihnya. Tiga tahun lebih tua darinya, Sagara yang baru selesai kuliah dari sebuah Institut teknologi di kota Bandung dan sedang magang di sebuah perusahaan Telekomunikasi terbesar di Bandung, sering bermain ke tempat kostnya di daerah Sukajadi yang hanya berapa menit perjalanan angkutan kota menuju kampus. Sebagai mahasiswi dari keluarga sederhana, Isrina bersama Anggita memilih ngekost di daerah yang dekat dengan kampus. Kalau uang bulanan Isrina habis dia bisa nyari tumpangan motor menuju kampusnya di daerah Geger Kalong. Melewati deretan kios dan ruko. Tak jarang angin kota Bandung yang kala itu masih sejuk, dengan ramah membelai pipinya. Bagi Mahasiswi yang sering harus nyari tumpangan motor ke kampus karena uang bulanan sudah menipis, sepoinya angin dan rindangnya pohon dari beberapa tempat yang dilewati adalah anugrah Allah yang luar biasa. Subhanallah. Suara detak jam yang terdengar samar dari dalam rumah membuyarkan lamunan, apa benar dia memilih Isrina karena terpikat senyumannya? Isrina tersenyum pahit. Bukan, bukan itu alasan Sagara memilihnya. Tidak ada laki-laki yang memilih perempuan hanya karena sebuah senyuman. Sagara terluka. Anggita Dyah Harum Permata, sahabat Isrina dan juga kekasih Sagara dipaksa menikah di semester akhir. Cinta mereka tak selesai, Isrina adalah saksi hidup bagaimana hancurnya hati seorang yang bernama Sagara. "Sayang, kelamaan menunggu, ya?" Tiba-tiba sebuah sapaan lembut muncul. Sebuah rengkuhan lembut menyadarkan Isrina, mungkin dia terlalu hanyut dalam lamunan, sehingga dia tidak menyadari kalau Sagara sudah turun dari mobil yang diparkirkan agak jauh di pojok halaman rumahnya yang luas. Mata Isrina mengerjap, seulas senyumnya muncul menyambut kecupan Sagara di pipinya. Sagara melingkarkan tangannya di bahu Isrina, mengajanya untuk segera masuk, dan menarik perlahan untuk duduk di taman belakang. Sikapnya kaku. Terdengar beberapa kali helaan nafasnya yang berat. Isrina terdiam, mulutnya kelu. Sudah seminggu ini Sagara terlihat gelisah. Semenjak dia meminta izin untuk menikahi Anggita, dia seolah semakin berjarak. Ciuman Sagara di keningnya serasa hambar, pelukannya di pinggang Isrina terasa dingin, atau cuma perasaan Isrina karena terluka harus merelakan suaminya berbagi cinta. Bukankah Isrina mengizinkannya? Isrina memberinya kesempatan untuk hidup dengan perempuan yang dicintai sepenuh hati, bukan semata pelarian sepertinya. Sagara menangkup wajahnya. Ada gelisah yang semakin kentara. Bibirnya bergetar saat mengatakan hal yang tidak pernah terlintas dibenaknya. Dia meminta Isrina mundur, dengan alasan Anggita tidak ingin berbagi. Nafas Isrina memburu, seluruh aliran darah rasanya membeku. Isrina tidak percaya laki-laki yang teramat dicintainya, imamnya, pemegang kunci syurganya tega mengucap kalimat seperti itu. Langitnya gelap, meski Isrina mengangguk, meski Isrina tersenyum, tapi luka dihatinya menganga teramat dalam. Isrina merasa dicampakkan. Bahkan, Isrina tidak diberi kesempatan hanya untuk berbagi cinta. Malam itu seperti gelap gulita, Isrina tidak merasakan hadirnya ribuan bintang di langit Bogor yang biasanya benderang di musim kemarau ini. Ribuan bintang diatas langit hitam itu menghilang, ditutupi genangan airmata yang memenuhi kelopak matanya. Anggita memang terbiasa mengambil apapun yang Isrina punya, sahabat, teman, ataupun cuma perhatian para dosen dan senior. Perempuan cantik itu, bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah. Tapi mengambil Sagara setelah tiga tahun menjadi suaminya, sungguh menyakitkan hati. Isrina menangis tersedu. Sia-sia Sagara memeluknya, memohon ampun dan menghiba. Luka hati Isrina tidak terobati. **** Angin malam mendesir menerobos kaca mobilku. Aku memacu mobil dengan kencang. Lampu jalanan sepanjang jalan raya Ci Binong menari lembut menyapu netra mataku yang sedikit ngantuk, jalan Tegar beriman yang kini semakin luas dan bersih, dengan beberapa Mall baru yang kukuh berdiri, menghubungkanku ke daerah Bojong Gede, wilayah Bogor dengan penduduk yang mayoritas berbahasa ibu bukan Sunda, dan memiliki banyak suku campuran dari berbagai daerah di Indonesia. Jakarta selalu menjadi gula, bagi para pendatang untuk mencari sesuap nasi. Mungkin inilah salah satu alasan, tempat ini begitu padat dan dihuni para kaum urban karena letaknya yang terjangkau dari Jakarta. Termasuk aku yang bolak-balik Jakarta Bogor via toll untuk bekerja. Seharusnya aku bahagia, hari ini bisa mengantar Anggita berkeliling Jakarta. Harusnya aku juga bangga, karena tidak sedikit mata yang terpesona melihat kecantikan, perempuan yang bergayut manja di tanganku. Entahlah, yang ada aku pusing masuk butik satu ke butik lainnya. Belum lagi acara makan yang ribet, aku harus berkeliling Jakarta yang macet hanya untuk makan di restoran pavoritnya yang mewah. Aku bahkan sempat sedikit bertengkar dengannya, aku muak dengan caranya menaruh gengsi. Aku hanya tersenyum hambar, saat sebuah kecupan mesra mendarat di pipiku ketika mengantar Anggita di depan rumahnya yang terletak perumahan elit di daerah Cinere-Depok. Lambaian tangan dan senyuman mesra Anggita hanya kubalas dengan anggukan kecil. Senyuman itu mempesona, tapi tidak sehangat dan setulus Isrina. Lagi-lagi, bayangan Isrina menari di benakku. Duh. Dengan langkah gontai, aku menyusuri ruangan demi ruangan yang sunyi. Sekarang aku tidak berharap ada yang memeluk pinggangku dengan mesra, membelai peluhku dengan usapan lembut, atau cuma sekedar secangkir teh hangat yang menenangkan. Jangan rindu, karena segalanya sudah berlalu. Lama aku menekuri seisi rumah yang serasa senyap, saat tanganku tidak sengaja menyentuh benda dingin di saku baju. Seharian ini, aku bahkan tidak sempat membuka pesan apapun dari gawaiku. Perempuan bernama Anggita itu benar-benar memalingkanku dari dunia. Kukeluarkan benda pipih keluaran produk eropa terbaru. Aku terpaku, menatap layar gawai. [Mas, suplemen kesuburan punyamu tidak sengaja terbawa olehku. Nanti aku kirim via jasa pengiriman ya.] Sebuah pesan masuk via aplikasi w******p sepertinya terkirim sejak tadi, seharian mencari pernik keperluan wanita yang diinginkan Anggita, membuat kepalaku nyut-nyutan. Aku melihat ada ratusan pesan yang belum terbaca dari nomor yang berbeda menghiasi layar gawai. Lama kueja barisan pesan itu, Isrina dalam luka yang begitu dalam masih sempatnya dia perduli padaku. Aku, laki-laki paling b*****h di muka bumi ini. [Mas programnya hampir selesai, sayang kalau tidak dilanjutkan. Bulan depan Mas, temui dokter Rizki untuk konsultasi terakhir. Mudah-mudahan Mas, segera punya momongan. Meski mungkin tidak lahir dari rahimku, tapi aku bahagia.] Mataku panas membaca pesan yang dikirim Isrina di sebrang sana, ada yang berdesir tidak karuan dalam hatiku. Ada gemuruh yang menderu. Seminggu tanpa sosok, perempuan berwajah sederhana itu sudah cukup rasanya membuat hatiku gerimis. [Jangan via jasa titipan, Rin. Aku yang akan mengambilnya ke kotamu. ] Bergetar tangan memijit tombol kirim. Dadaku berdebar, menanti jawaban perempuan yang memutuskan untuk mengalah dan pergi. Ada yang menderu di sudut jiwa, aku merindu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN