“Ada temen SMA-ku dulu yang jadi Bandar sayuran, Bu. Dia minta bantuan aku carikan sayur dan buah dari petani langsung. Lumayan kalau aku bisa ambil selisih misalnya 2000 rupiah dari setiap kilogram. Lumayan, kan, Bu, kalau seandainya aku bisa carikan dia dua atau tiga ton dalam seminggu?” ungkap Albany dengan mata berbinar. “Ibu akan dukung apapun keputusan kamu, Al. Saran dari Ibu, hati-hati dalam setiap melangkah.”Bu Ningsih mengelus punggung anaknya. “Tentu saja, Bu. Mulai besok, rencananya aku akan menemui Pak Rosyid yang punya perkebunan sayuran di kampung sebelah.” “Emang kamu nggak kerja?” “Kerja lah, Bu. Aku akan ke sana sepulang kerja.” “Ibu lihat sekarang kamu semakin bersemangat saat pergi bekerja. Apa ada sesuatu di sana?” tanya Bu Ningsih. Albany membuang muka karena

