“Aku sama sekali tidak menyangka jika Tante Rita bisa sejahat itu. Bahkan tega ngebiarin Om Hendro terlantar, padahal selama ini dia membutuhi segala keperluannya.” Za menerawang jauh ke masa lalu. “Dulu, pertama kali kami bertemu, sikapnya sangat baik dan lemah lembut. Aku bahkan menganggapnya calon ibu mertua yang sempurna.” Za mengembus napas kasar. “Mungkin jiwa keibuannya ada. Dia depertinya sangat menyayangi Rico. Apapun yang diinginkan Rico, selalu dipenuhi. Dia tidak pernah bisa ditentang keinginannya. Itu juga yang membuat aku terjerumus ke jurang dosa.” Terdengar desah penuh penyesalan dari mulut Za. “Berbeda sekali denganku. Semenjak dari lahir hingga sekarang hanya menjadi bahan cemoohan. Kamu pasti bangga berdampingan dengan dia. Tidak seperti denganku.” Kali ini Albany

