Bab 8

1682 Kata
“Tidak, Bu. Terima kasih,” jawab Al dan langsung menuju kamarnya yang pintunya hanya ditutupi gorden yang juga usang. Aku dan Bu Ningsih saling melempar pandangan. Ternyata, tadi siang dia lahap, karena dipikirnya Bu Ningsih, lah, yang sudah membuatkan masakan itu untuknya. Aku tersenyum miris. Aku sudah berharap terlalu banyak padanya. Kini aku tahu, mana mungkin hanya dengan semangkuk sayur asem hatinya bisa luluh begitu saja. Bu Ningsih memberi isyarat agar aku mengikuti Albany ke kamarnya. Walaupun ragu, aku mengikuti juga sarannya. Iya, mungkin kami harus bicara dari hati ke hati, agar aku tidak lagi membuatnya kecewa. Aku menyibak gorden penutup pintu itu dan terlihat Albany sedang duduk sambil mengotak-atik ponselnya. Tak lama dia berbicara dengan seseorang yang dari pendengaranku sepertinya seorang perempuan. “Iya, Bu. Baik, sebentar lagi saya ke sana,” ucapnya. Hanya kalimat itu yang terdengar jelas di telingaku. Setelah menarik ponsel dari telinganya, Albany melirik padaku. “Boleh aku masuk?” tanyaku. “Silahkan. Sebentar lagi aku mau berangkat, kok.” Albany bangkit dari tempat tidur dengan kasur yang sudah lepek. Ada sebuah bantal butut di sana. “Mas, maaf, tadi aku tidak bermaksud membohongimu—“ “Oh iya, aku belum mengganti uangmu yang tadi siang. Habis berapa?” potongnya sebelum aku menyelesaikan ucapan. Aku mengernyit tak mengerti. “Maksudnya apa, Mas? yang tadi siang …?” “Kamu tadi belanja sayuran dan segala macemnya. Aku belum menggantinya. Habis berapa?” tanyanya lagi. Mulutku langsung menganga tak percaya. “Aku ikhlas, Mas. Aku hanya ingin memasak untuk suami dan juga ibu mertua—“ “Aku memang miskin, tapi aku tidak suka dikasihani,” potongnya lagi. Dia kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari sakunya dan menjejalkannya ke tanganku lalu pergi setelah mengambil jaket kulitnya yang tergantung di paku. Sejenak aku mematung memandangi lembaran uang yang tadi Al berikan. Bukan aku tak mau diberi nafkah olehnya, tapi caranya itu. Kenapa begitu kasar? Aku menghela napas panjang, mencoba mengurai rasa yang menyesakan d**a. “Neng.” Terdengar suara Bu Ningsih memanggil seseorang. Apa ada orang lain di luar? Aku menyibak gorden, setelah sebelumnya menyeka air yang sempat menetes dari ujung mata. Tidak ada siapa-siapa. Bu Ningsih justru sedang menatap ke arahku. “Ibu … manggil … Za?” tanyaku menunjuk d**a sendiri. Bu Ningsih mengangguk. “Sini, Sayang,” ajaknya ke arah kursi yang ada di ruang tamu. Entah itu memang ruang tamu atau ruang keluarga, karena memang di sana hanya ada ruangan ini selain dua kamar, dapur dan kamar mandi. Aku duduk setelah Bu Ningsih juga duduk. Kini dia menatapku lekat. “Apa bisa kamu jelaskan pada Ibu, apa yang sedang terjadi di antara kalian? Beberapa hari yang lalu, Albany diajak pergi setelah kedatangan ayah kandungnya ke sini. Kata Mas Hendro, dia mau memberikan hak yang selama ini tidak pernah diperoleh Al. Hanya itu yang Ibu tahu. Lalu tiba-tiba dia kembali ke rumah ini membawa kamu. bukan Ibu tidak suka, hanya saja Ibu tidak mengerti, apa yang sedang terjadi,” katanya. Deg. Pertanyaan Bu Ningsih membuatku gugup. Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana jika Albany marah lagi? “Apa pernikahan kalian juga atas permintaan Mas Hendro?” tambah Bu Ningsih. Aku menunduk, tak mampu membalas tatapan Bu Ningsih yang seakan menghujam ke dalam dan mencari kebenaran. “Iya, Bu. Pernikahan saya dan Mas Al, atas perjodohan dari Om Hendro,” jawabku pelan. “Apa Albany tidak menginginkan pernikahan ini? Aneh sekali, padahal kamu anak yang baik dan cantik. Pinter masak pula. Mas Hendro pasti menginginkan yang terbaik bagi Al, makanya dia menjodohkannya sama kamu,” ujar Bu Ningsih lagi. Aku hanya bisa menelan ludah berat, karena bukan begitu cerita sesungguhnya. Albany hanya diberi beban tanggungjawab yang bukan kesalahannya. Lalu, jika aku mengatakan semua ini pada Bu Ningsih, apakah dia masih akan menginginkanku ada di sini? Apakah dia masih mau bersikap baik seperti ini? Tidak mungkin. Ibu mana yang rela anaknya dijadikan kambing hitam atas dosa orang lain? Bu Ningsih menghel napas berat. “Mungkin dia masih belum bisa menerimamu, Neng Za. Tapi Ibu yakin, lama-lama dia pasti jatuh cinta sama kamu,” ucapnya seraya mengelus punggungku. Hatiku bagai diremas kuat. Berat sekali rasanya saat aku membayangkan semua itu. ** Sudah jam sepuluh lebih, tapi Albany belum juga pulang. Setiap kali ada deru motor yang terdengar, kupingku langsung menajamkan pendengarannya. Tapi, lagi-lagi bukan motor dia yang datang. Ternyata begini rasanya menunggu suami pulang. Khawatir. Apa aku telepon saja? Aku sudah punya nomornya yang diberikan oleh Pak Satpam, waktu itu. Aku mengotak-atik ponsel, berulang kali ingin menekan nomor itu, tapi urung kulakukan. Takut mengganggu kesibukannya. Aku ke luar dan duduk di kursi rotan yang ada di teras. Menatap jalan yang sudah gelap dan sepi. Samar-samat terlihat cahaya lampu motor di kejauhan. Aku menajamkan penglihatan, apa mungkin itu Albany? Semoga saja, karena ini sudah larut malam. Hampir jam sebelas. Bu Ningsih bahkan sudah tidur sejak tadi. Suara motor itu semakin jelas. Ya, itu suara motornya Albany. Aku semakin yakin saat motor itu berbelok ke halaman tak berpagar ini. Aku langsung berdiri untuk menyambut kedatangannya. Dia turun dan menyampirkan helm-nya di kaca spion. “Baru pulang, Mas?” sapaku. Dia hanya menjawab dengan gumaman. “Motornya nggak sekalian dimasukin aja?” tanyaku mengekorinya masuk ke dalam. “Motor butut siapa yang mau nyuri,” jawabnya datar. Salah lagi pertanyaanku. “Kamu udah makan? Aku panaskan dulu sayurnya ya?” tanyaku lagi. Dia berhenti dan berbalik. “Aku sudah bilang sama kamu untuk tidak peduli padaku. Apa belum jelas?” ucapnya tegas. Aku langsung menunduk dan memilin jari. Selama hidup, aku selalu diperlakukan dengan lembut oleh kedua orangtuaku. Karena itu, saat ada yang berkata keras, hatiku langsung menciut. “Maaf,” timpalku dan membiarkannya masuk ke kamar. “Jangan ngikut, aku mau ganti baju,” ucapnya menutup gorden. Perutku terasa keroncongan. Tadi saatnya makan malam, aku membiarkan Bu Ningsih makan sendirian. Aku bilang, jika aku akan menunggu Albany agar bisa makan bersama. Namun, ternyata dia sepertinya sudah makan di luar. Daripada menunggunya yang sedang ganti baju, aku lebih baik makan saja. Bayi dalam perutku ini pasti butuh nutrisi. Aku ambil nasi dan sayur yang telah dingin. Menyuapnya dalam diam sendirian. Lampu ruang makan yang menyatu dengan dapur ini temaram, karena hanya lampu pijar 5 watt. Hatiku sakit, bukan karena harus makan makanan dingin ini, tapi karena sikapnya yang kembali kasar padaku. Dengan sudut mata aku melihat jika Albany lewat dan masuk ke kamar mandi tanpa peduli padaku. Aku segera menyudahi makan yang sama sekali tidak terasa enak ini. Akku menatap kasur yang tidak begitu besar. Memang cukup untuk kami tidur berdua, tapi apa mungkin dia mau? Aku duduk dulu saja dan menunggu Albany kembali dari kamar mandi. Lama sekali, tak kunjung datang, padahal suara pintu kamar mandi yang ditutup sudah dari tadi. Aku bangkit dan melihat ke luar dari gorden yang sedikit disibak. Ternyata dia tidur meringkuk di kursi jati yang panjangnya hanya separuh tinggi tubuhnya. Aku keluar dan mendekat padanya. “Mas.” Kugoncang badannya pelan. Dia kembali bergumam. “Pindah. Tidur di kamar saja. Nanti badan kamu sakit,” bujukku. Dia hanya bergumam tanpa membuka matanya. “Maas … ayo,” bujukku lagi. Dia bangkit dan duduk. Tatapannya terlihat tidak suka. “Kita bisa berbagi kasur itu. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa memunggungiku, tapi aku mohon, kamu jangan tidur di sini,” pintaku lagi. Dan sepertinya perjuanganku kali ini berhasil. Dia bangkit dan berjalan ke arah kamar. Aku tersenyum dan mengekorinya. Seperti yang aku sarankan padanya, dia tidur menghadap dinding. Aku menatap punggungnya yang terlihat bergerak naik turun. Mungkin dia merasa lelah sehingga begitu cepat terlelap. ** Tak terasa, sudah hampir sebulan aku di sini. Menempa rasa sabarku hingga ke titik yang paling dalam. Tak mengapa, karena dia sudah berkorban untukku. Maka kali ini, giliranku yang berkorban untuknya. Hari ini, Bu Ningsih kembali memintaku untuk mengantarkan makanan untuk Al. setelah sekian lama aku tak melakukannya lagi karena memang dilarang oleh dia. “Nggak perlu antar makanan segala, hari ini aku akan makan di luar dengan Bu Amel,” katanya. Selalu begitu hampir setiap hari. Bu Amel? Apakah perempuan yang waktu itu? Yang aku taksir adalah seorang arsitek. Entahlah. Wanita itu masih muda. Namun, mungkin karena jabatannya sehingga Al memanggilnya dengan sebutan ibu. “Bu, tapi Mas Al suka melarang Za untuk mengantar makanan,” jawabku pada Bu Ningsih. “Tapi tadi nggak melarang kamu, kan?” katanya. Ya, memang, sih. Tapi, karena tadi aku juga tidak menawarinya. “Sudah, kamu antar saja ya. Dia juga sangat suka sayur kacang. Mumpung bikin,” katanya lagi. Aku tak kuasa menolaknya. Baiklah, mau dimakan atau tidak sama suamiku nanti, yang penting aku sudah mengikuti keinginan ibu mertuaku itu. Tiba di sana, jam di ponsel menunjukan sudah pukul 12 lewat 10 menit. Pak Satpam yang waktu itu anehnya tidak ada di tempat, mungkin sedang ke toilet. Aku langsung masuk dan memindai sekeliling. Menyusuri lahan yang sepertinya diperuntukan untuk jalan. Di mana Albany ya? Ah, di sana masih ada seorang pemuda yang tampaknya akan istirahat juga. Aku bergegas mendekatinya. “Mas, apa kamu tau dimana Pak Albany?” tanyaku. “Pak Al?” dia balik bertanya. “Iya. Kamu tau?” ulangku. “Oh, biasanya dia lagi di ruangannya Bu Amel. Itu sebelah sana,” katanya sambil menunjuk sebuah ruangan di gedung sebelah. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Langkah kupercepat agar segera sampai di sana. Pintunya terbuka, tapi suasana terlihat sepi. Aku masuk semakin dalam. Lalu, terdengar desahan yang membuat telingaku menajam. Entah keberanian dari mana, aku malah semakin mendekati sumber suara itu. Di sebuah ruangan yang temaram, aku melihat Albany sedang b******u dengan seorang wanita. Dari siluetnya, aku sangat yakin jika itu adalah wanita yang sempat kulihat waktu itu. Tubuh tinggi dan rambut panjangnya, masih sangat kuingat. Tubuhku mendadak kehilangan kekuatan. Bahkan rantang yang kupegang jatuh tanpa bisa kutahan. Bunyinya bergemerincing di ruangan itu dan memekakan telinga. Aku mundur beberapa langkah. Namun, masih bisa kulihat jika mereka kaget dan menghentikan aktifitasnya. Wajah keduanya menoleh ke arahku. Aku segera berlari meninggalkan tempat itu dengan hati yang hancur. Perjuanganku sepertinya tidak akan pernah berhasil. Aku bahkan telah kalah sebelum memulai peperangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN