Sore harinya Cristian berdiri di tempat dia meletakkan lukisan Zisy. Lukisan itu sudah tidak ada di tempatnya, sedikit membuat Cristian panik serta cemas. Tinjunya terkepal hebat. Maniknya tak bisa tenang sedikit pun. “Di mana?” gumam Cristian lemah. Mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, Cristian sedang mencari siapa kiranya yang mengambil lukisan Zisy. Dia terlihat semakin gusar dan tak tahu harus melangkah ke arah mana. “Tunjukkan dirimu. Aku ... aku minta ... maaf.” Dunia di atas Cristian seperti berputar hebat. Semuanya bergerak bersamaan, membuat Cristian merasa pusing. Kakinya goyah, semakin lemas, sedangkan perutnya terasa mulas seperti ada yang mengaduk asam lambungnya. “Di mana?” pekik Cristian. Semua orang yang lewat menoleh padanya, tetapi tak ada yang bertanya pad

