Pasangan Sempurna
“Ah, Pak Haris Santoso! Akhirnya datang juga. Saya sudah menunggu Anda dan Ibu Riana.”
Tuan Wijaya, pemilik acara malam itu, segera menyambut mereka di pintu ballroom. Senyumnya mengembang lebar ketika Haris menjabat tangannya singkat.
“Maaf membuat Anda menunggu,” jawab Haris datar.
Hanya beberapa kata.
Begitulah Haris Santoso.
CEO muda itu dikenal irit bicara, sulit ditebak, dan memiliki tatapan tajam yang mampu membuat orang lain berpikir dua kali sebelum mengajaknya berbasa-basi. Di ruang rapat, ia bisa membuat suasana menjadi sunyi hanya dengan satu pandangan. Ia tidak suka percakapan yang tidak perlu, tidak suka basa-basi, dan hampir tidak pernah menunjukkan keramahan hanya untuk menyenangkan orang lain.
Namun malam itu, ketika Haris menoleh kepada perempuan yang berdiri di sampingnya, wajah dinginnya berubah.
“Sayang… kamu kedinginan?”
Riana menggeleng pelan. “Tidak.”
Sejak memasuki ballroom, Riana sudah menyampirkan selendang tipis di bahunya untuk menutupi bahunya yang terbuka. Namun salah satu ujungnya sedikit bergeser ketika mereka berjalan.
Haris memperhatikannya. Tanpa banyak bicara, pria itu membetulkan posisi selendang tersebut, menariknya sedikit agar benar-benar menutupi b@hu istrinya.
Riana menatapnya dan tersenyum kecil. “Aku tidak apa-apa, Mas.”
Tuan Wijaya yang melihat perhatian kecil itu langsung tertawa.
“Wah, ternyata CEO Santoso Property yang terkenal dingin itu bisa juga perhatian seperti ini.”
Beberapa tamu di sekitar mereka ikut tersenyum.
Haris hanya mengangkat sudut bibirnya, kemudian tangannya berpindah menggenggam tangan Riana, membawa istrinya menuju area yang disiapkan untuk tamu.
Ballroom hotel malam itu tampak megah. Lampu-lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke meja-meja bundar yang dihiasi rangkaian bunga putih dan lilin kecil dalam wadah kaca. Alunan piano mengalir lembut di antara percakapan para pengusaha, sementara para pelayan bergerak tenang membawa nampan berisi minuman dan hidangan pembuka.
Nama-nama besar dunia bisnis Jakarta berkumpul di sana.
Dan pasangan yang baru saja memasuki ruangan itu membuat banyak kepala menoleh.
Haris terlihat gagah dalam setelan hitam mahal tak bercela, yang jatuh sempurna di tubuh tegapnya. Wajah tegas dengan rahang kokoh, hidung lurus, dan rambut hitam yang ditata rapi membuat pembawaannya semakin berwibawa. Ada sesuatu dalam cara pria itu berdiri. Haris selalu terlihat tenang, dingin, dan penuh kendali, yang membuat orang-orang secara naluriah memberi jalan.
Di sampingnya, Riana tampak anggun dalam gaun panjang berwarna champagne yang terbuka di bagian bahu, menampilkan kulitnya yang halus dan cantik.
Gaun itu adalah pesanan khusus yang dipilih sendiri oleh Haris. Selalu begitu, Haris mau istrinya selalu tampil sempurna di acara-acara seperti ini.
Dan memang seperti ekspektasinya, gaun itu membuat kecantikan Riana semakin menonjol. Rambut hitam panjangnya ditata dalam sanggul rendah, memperlihatkan leher jenjang dan sepasang anting berlian kecil yang berkilau setiap kali terkena cahaya. Wajah oval lembut, mata besar yang tenang, dan senyum tipis selalu menghiasi bibirnya.
Mereka benar-benar tampak sebagai pasangan sempurna.
“Pak Haris benar-benar beruntung mendapatkan istri seperti Bu Riana.”
Seorang pengusaha senior mengangkat gelas sambil tersenyum.
“Kalian masih terlihat seperti pengantin baru.”
Riana spontan tersipu.
Haris justru merangkul pinggangnya.
“Dia memang membuat saya betah pulang ke rumah.”
“Wah!”
Tuan Wijaya tertawa lebar.
“Kalau semua suami bisa bicara seperti itu, para istri pasti senang.”
Riana menggeleng kecil.
“Mas Haris memang suka membuat saya malu.”
Haris menoleh kepadanya.
“Saya cuma mengatakan yang sebenarnya.”
Tawa kembali terdengar.
“Di kantor katanya Pak Haris bisa membuat satu ruangan diam hanya dengan satu tatapan.”
“Kalau dengan istrinya begini, berarti memang benar-benar cinta.”
Riana mendengar percakapan itu samar-samar. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sudah sangat ia kuasai selama tiga tahun terakhir. Karena Riana tahu, di tempat seperti ini, ia harus menjadi Riana Lestari yang semua orang kenal.
Istri Haris Santoso.
Istri yang anggun, selalu tersenyum, dan tidak pernah membuat suaminya terlihat buruk di depan orang lain.
Haris sudah membentuk citra itu selama tiga tahun pernikahan mereka.
Bukan dengan perintah.
Tidak pernah ada aturan tertulis.
Tetapi Riana belajar dari tatapan Haris setiap kali mereka menghadiri acara bersama, dari cara pria itu merangkulnya ketika seseorang mendekat, dari bagaimana ia selalu mengharapkan senyum yang sama ketika mereka difoto, dan dari kalimat yang pernah diucapkannya suatu malam setelah mereka pulang dari sebuah gala.
“Orang-orang menghormati kita karena mereka melihat rumah tangga kita baik-baik saja.”
Saat itu Riana hanya mengangguk. Ia tidak merasa keberatan. Bagaimanapun, bukankah memang seharusnya begitu?
Ia masih ingat ucapan Haris ketika mereka baru menikah.
“Jangan membuatku terlihat buruk di depan orang.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Riana bahkan tidak merasa tersinggung.
Ia hanya menjawab, “Aku tidak akan melakukan itu.”
Dan sejak saat itu, ia benar-benar memegang perkataannya. Ia tahu bagaimana orang-orang memandang dirinya.
Riana datang ke keluarga Santoso tanpa membawa nama besar. Tidak ada ayah atau ibu dan keluarga terpandang yang bisa berdiri di belakangnya. Tidak ada warisan. Bahkan nama keluarganya sendiri tidak pernah benar-benar ia kenal.
Ia tumbuh besar di panti asuhan. Sampai sekarang pun ia tidak tahu dengan pasti dari keluarga mana darahnya berasal. Maka ketika akhirnya menjadi istri Haris Santoso, bisik-bisik seperti itu sebenarnya sudah bisa ia tebak.
Beruntung sekali.
Perempuan tanpa keluarga bisa menikah dengan CEO Santoso Property.
Entah apa yang dilihat Haris dari dia.
Riana pernah mendengarnya berkali-kali. Namun ia tidak pernah membalas.
Tidak apa-apa. Suatu hari mereka akan tahu aku tidak sekadar beruntung.
Itulah yang selalu ia pikirkan.
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat daripada mereka. Ia hanya ingin bisa berdiri di samping Haris tanpa membuat pria itu merasa salah telah memilihnya.
Karena itu, Riana belajar banyak hal. Mulai dari cara berbicara dengan para pengusaha. Cara membaca laporan, dan cara melihat peluang dari angka-angka yang bagi orang lain hanya terlihat seperti deretan data membosankan.
Bahkan ketika Haris pulang membawa masalah perusahaan, Riana sering menjadi orang pertama yang mendengarkan.
“Menurutmu bagaimana?”
Begitu pertanyaan itu keluar, Riana tahu Haris sedang meminta pendapatnya.
Ia akan membuka laporan, membacanya, kemudian berkata,
“Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan ambil tawaran ini.”
“Kenapa?”
“Risikonya terlalu besar.”
Atau kadang justru sebaliknya.
“Ambil.”
Haris akan mengangkat wajah.
“Yakin?”
“Yakin.”
“Dasarnya?”
Riana akan menunjuk angka di laporan.
“Ini.”
Haris biasanya tidak banyak bertanya setelah itu. Dan Riana tidak pernah mempermasalahkannya. Ia juga tidak pernah mengatakan kepada orang lain bahwa keputusan itu berasal darinya.
Sebab baginya, membantu Haris bukan sesuatu yang harus dibanggakan. Kalau Haris berhasil, bukankah seharusnya ia ikut bahagia?
Sesederhana itu.
Ada satu hal lain yang selalu Riana lakukan.
Menjaga citra Haris.
Di depan orang lain, Haris harus terlihat sebagai suami yang sempurna. Dan Riana tidak keberatan memainkan perannya. Bahkan terkadang Haris hanya perlu meliriknya, dan Riana sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Ketika menghadiri acara bisnis, misalnya. Haris akan mendekat. Tangannya menyentuh pinggang Riana.
“Jangan jauh-jauh.”
Riana biasanya hanya tersenyum. “Memangnya aku mau ke mana?”
Haris tidak menjawab.
Namun beberapa menit kemudian, ketika seorang pengusaha memuji mereka sebagai pasangan serasi, Haris akan tersenyum hangat dan merangkul bahu Riana.
“Dia memang istri yang luar biasa.”