Vina tak hentinya meneteskan air mata ketika menyadari kebodohannya. Seharusnya sejak awal dia menuruti kata hatinya dan berusaha mencegah Cella mendatangi tempat ini. Seandainya saat itu dia dan Cella tidak memasuki desa ini maka penderitaan ini tak akan pernah mereka rasakan. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Vina sangat menyadarinya, menyesal sekarang pun tidak akan merubah apa pun.
Vina tengah terbaring tidak berdaya di sebuah gubuk. Pria-pria yang tadi menangkapnya dan Cella yang berjumlah enam orang itu kini tengah mengelilingi tubuh Cella. Mereka merobek pakaian Cella sehingga kini tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh gadis malang itu. Cella berteriak-teriak memohon ampun, namun pria-pria itu sama sekali tidak mempedulikannya. Mereka tetap menyiksa Cella.
Air mata Vina tak hentinya mengalir ketika dia melihat penyiksaan yang sedang dialami Cella. Tiga pria memegangi tubuh Cella yang memberontak. Lalu tiga pria lainnya menguliti tubuh Cella. Kulit Cella yang putih dan mulus itu kini berwarna merah karena berlumuran darah. Lalu mereka mengiris daging Cella sedikit demi sedikit dengan menggunakan pisau tajam. Teriakan semakin kencang keluar dari mulut Cella, teriakan yang memilukan siapa pun yang mendengarnya. Vina tak mampu melakukan apa pun untuk menolong Cella. Luka-luka di tubuhnya akibat diseret secara paksa tadi telah membuatnya lemas dan hampir tak bisa bergerak.
Pria-pria itu memasukan daging Cella ke dalam mulut mereka. Melihat hal itu membuat Vina menyadari bahwa pria-pria itu bukanlah manusia normal, melainkan canibal. Mereka terus mengiris daging Cella dan memakannya dengan rakus seolah-olah daging Cella terasa lezat di mulut mereka.
Teriakan Cella terdengar membahana lebih dari sebelumnya ketika salah seorang dari canibal itu merobek perutnya dengan pisau. Vina rasa-rasanya ingin memuntahkan semua isi perutnya ketika melihat canibal-canibal itu memakan dengan lahap organ di dalam perut Cella yang terburai keluar. Kini tak terdengar lagi suara teriakan Cella yang menandakan gadis itu telah kehilangan nyawanya.
Vina tidak pernah menyangka bahwa dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan sahabatnya yang telah melalui banyak perjuangan bersamanya. Perjuangan selama mereka latihan untuk mengikuti kompetisi musik. Sahabat yang telah melewati waktu bersama Vina dalam suka maupun duka. Bahkan bagi Vina, dia lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan Cella dibandingkan bersama keluarganya. Kini tepat di depan matanya, dia melihat sang sahabat meregang nyawa dengan tragis. Vina bahkan tak sanggup melakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Jangankan untuk menyelamatkan Cella, Vina tidak yakin dia mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Vina merasa sebentar lagi dia pun akan mengalami nasib yang sama dengan Cella.
Sedikit demi sedikit daging yang menempel di tubuh Cella mulai habis dilahap canibal-canibal itu. Kini hanya menyisakan tulang belulang tubuh Cella yang berwarna merah karena terbaring di genangan darahnya. Para canibal bermaksud memakan daging yang menempel pada wajah cantik Cella. Kedua mata Cella yang masih memelotot itu dicungkil dari kelopaknya oleh salah seorang cannibal dengan menggunakan ujung pisau. Begitu bola mata Cella berada dalam genggamannya, tanpa ragu dia pun segera melahapnya.
Crat ... Crat ... Crat!
Kraus ... kraus ... kraus!
Suara bola mata Cella yang sedang dikunyah canibal itu terdengar jelas di telinga Vina.
Vina membekap mulut, dia berusaha untuk menahan rasa mualnya. Dia juga tengah berusaha sekuat tenaga untuk menahan agar suara isak tangisnya tak meluncur keluar atau dirinya akan menarik perhatian para canibal.
Wajah cantik Cella perlahan disayat dan dikoyak hingga kini tak menyisakan rupa apa pun. Bahkan semua daging dan kulit yang menempel di kepala Cella, sudah tidak ada lagi. Hanya menyisakkan tengkorak dan rambut hitamnya yang panjang.
Keenam canibal itu tertawa terbahak-bahak, mereka sangat menikmati pesta menyantap daging Cella. Lalu tatapan mereka kini beralih ke arah Vina. Sedetik kemudian, Vina merasakan tubuhnya kembali bergetar dengan hebat. Air matanya semakin deras mengalir. Vina menyadari kini gilirannya harus mengalami kematian tragis seperti Cella.
Keenam canibal itu mulai mengelilingi Vina dengan pisau tajam yang mereka genggam.
“Tolong, jangan bunuh aku!” Teriak Vina, teramat kencang disertai isak tangis yang tak lagi dia tahan. “Ampuni aku. Maafkan aku karena sudah memasuki daerah kekuasaan kalian,” pinta Vina dengan isak tangisnya yang terdengar pilu, suaranya pun terdengar bergetar hebat pertanda dia sedang ketakutan bukan main. Namun, tentu saja keenam canibal itu tidak mempedulikan permohonan Vina. Dengan seringaian di wajah, mereka semakin mendekatkan pisau tajam pada tubuh Vina. Refleks Vina memejamkan mata serapat mungkin, tak sanggup menyaksikan kekejaman yang sebentar lagi akan mereka lakukan padanya.
Teeet ... Teeet ... Teeeet!!
Ngiung ... Ngiung ... Ngiung!!
Tiba-tiba terdengar suara menyerupai suara sirine. Entah dari mana asal suara itu. Tetapi yang pasti suara itu telah menyelamatkan nyawa Vina. Keenam canibal itu beranjak bangun dan melangkahkan kaki meninggalkan Vina. Seorang Canibal terdiam dan menatap ke arah Vina. Terlihat enggan untuk meninggalkan gadis itu.
“Ayo, kita menghadap. Kau tidak mendengar suara panggilan itu,” kata canibal yang lain pada canibal yang masih terdiam menatap Vina.
“Tapi bagaimana dengan dia?” Sang canibal menunjuk Vina yang masih terbaring di lantai, dengan dagunya.
“Kita akan melanjutkan pesta nanti setelah selesai menghadap. Lagi pula, aku masih kenyang setelah memakan singa dan wanita tadi.”
“Bagaimana jika dia melarikan diri? Kita harus mengikatnya.”
Suara tawa tiba-tiba mengalun dari mulut canibal yang lain. “Tidak perlu melakukan itu. Lihat, tubuhnya babak belur. Dia tidak akan sanggup berjalan. Lagi pula, tidak akan ada seorang pun yang bisa melarikan diri dari tempat ini.”
Keraguan yang sang canibal pun lenyap setelah mendengar ucapan rekannya, “Ya, kau benar. Ayo, kita pergi!”
Dengan serempak semua canibal itu pergi meninggalkan Vina dan jasad Cella yang tinggal tulang belulang tersebut.
Vina menangis sejadi-jadinya. Banyak hal yang membuatnya menangis seperti ini. Pertama, karena dia menangisi nasibnya yang masih dikatakan cukup beruntung. Berkat suara sirine yang tiba-tiba mengalun itu dirinya masih bertahan hidup hingga sekarang pdahal tadi dirinya nyaris bernasib sama dengan Cella. Alasan lain yang membuat Vina menangis histeris karena rasa sakit yang dirasakan nyaris di sekujur tubuhnya. Akibat diseret paksa tadi, tubuh Vina kini lecet di beberapa bagian. Dan alasan terakhir dirinya tak sanggup menghentikan air mata karena kematian Cella yang mengenaskan.
“Cella, maaf. Maafkan aku karena tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkanmu. Maafkan aku, Cell.”
Vina mengutarakan penyesalannya masih dengan berurai air mata. Meskipun dia tahu tidak akan ada yang berubah meskipun dia mengutarakan permintaan maafnya pada Cella. Cella tak mungkin mendengar ataupun menyahutinya. Vina merentangkan satu tangannya ke depan seolah ingin meraih jasad Cella. Tapi tak bisa karena jarak mereka terlampau cukup jauh.
Kini Vina menerawang menatap langit-langit gubuk, tengah memutar otak untuk memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Jika berdiam diri di sini, dia tahu para canibal itu akan kembali dan menjadikannya santapan seperti Cella. Jelas Vina tak sudi tubuhnya dimakan oleh monster-monster itu. Tapi di sisi lain dia tak bisa menggerakan tubuhnya. Tubuh itu terasa remuk dan kaku, semua persendiannya terasa patah.
Dalam suasana bingung itu, Vina memejamkan mata. Dan saat itulah sekelebat bayangan ibunya tiba-tiba terlintas. Vina teringat ketika dirinya meminta izin pada sang ibu untuk pergi berlibur. Bukan mengatakan akan pergi camping di tempat terpencil berdua dengan Cella, melainkan berbohong dengan mengatakan mereka akan berlibur ke luar negeri untuk mengunjungi orang tua Cella yang memang tidak menetap di negara ini.
Vina tak mungkin lupa bagaimana raut ibunya menunjukan keengganan untuk memberi izin Vina berlibur berdua dengan Cella. Meski karena Vina tak berhenti membujuk akhirnya sang ibu menyerah dan mengabulkan keinginannya. Vina pun akhirnya diizinkan berlibur bersama Cella.
Kini Vina benar-benar menyesal karena sudah membohongi ibunya. Seharusnya saat sang ibu melarangnya pergi, Vina menurut.
Selain sang ibu, sosok lain yang muncul di pikirannya adalah saudara kembarnya. Sosok saudara yang tak pernah bertegur sapa karena mereka sama-sama saling menghindari. Baik Vina maupun saudaranya itu nyaris tak pernah mengobrol meski mereka tinggal di satu atap yang sama. Vina tahu persis penyebab hubungan mereka seburuk ini karena saudara kembarnya yang selalu iri dengan prestasi yang diraih Vina. Vina memang selalu berprestasi di sekolah dalam hal akademik. Begitu pun di luar sekolah, Vina dan Cella cukup berprestasi di bidang musik. Vina selalu membuat sang ibu bangga, tidak seperti saudara kembarnya yang selalu membuat ibu mereka kesal.
Adapun alasan Vina tidak menyukai saudaranya sendiri karena tak suka dengan tindakan saudara kembarnya yang selalu bersitegang dengan ibu mereka. Saudaranya itu tidak segan-segan melawan sang ibu dan tak jarang Vina melihat ibunya menangis setelah bertengkar dengan salah satu dari putri kembarnya.
Tapi sekarang, dalam situasi seperti ini, Vina baru menyadari sebagai saudara seharusnya dia tidak bersikap seperti ini. Bukankah seharusnya dia membantu mendamaikan saudara kembarnya dan ibu mereka? Padahal Vina tahu persis alasan saudaranya bersikap seperti itu karena iri ibu mereka selalu memuji dirinya, berbeda dengan saudaranya yang sering dimarahi sang ibu karena sering membangkang dan membuat onar.
Kedua mata Vina yang terpejam itu seketika terbuka. “Aku tidak boleh menyerah seperti ini,” gumamnya, tiba-tiba. “Aku harus tetap hidup demi ibu. Ibu pasti sedih jika aku mati seperti Cella. Dan lagi ...”
Vina tak melanjutkan ucapannya, namun dia bertekad dalam hati jika bisa keluar dengan selamat dari desa terkutuk ini dia akan memperbaiki hubungan dengan saudara kembarnya. Ya, banyak hal yang akan diperbaiki Vina, dia sudah memutuskan akan membuat perubahan yang besar dalam hidupnya.
Vina mencoba menggerakkan tubuh, tapi dia merasa tubuhnya sangat kaku. Perih dan sakit masih kuat dia rasakan di sekujur tubuh. Namun dia tidak menyerah. Gadis itu tetap berusaha untuk bangun. Vina sangat menyadari bahwa saat ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bisa melarikan diri.
Meskipun dengan gemetaran dan dengan rasa sakit yang seolah menusuk seluruh tubuh, Vina tetap memaksakan diri untuk bangun. Tekad kuatnya untuk selamat dan bertahan hidup tak sia-sia karena akhirnya dia berhasil bangkit berdiri meski sempoyongan. Dengan gontai dia melangkahkan kaki. Sambil berpegangan pada dinding, dia berjalan perlahan menuju pintu.
Perlahan tapi pasti, dia pun tiba di dekat pintu. Dia kembali berbalik badan, untuk beberapa saat menatap ke arah jasad Cella. Sekali lagi dia meminta maaf pada Cella dengan sepenuh hati. Sebuah permintaan maaf yang dia gumamkan di dalam hati sehingga tak ada seorang pun yang mampu mendengarnya.
Dengan susah payah dan tertatih-tatih, Vina terus melangkah meninggalkan gubuk beserta sahabatnya yang tewas dengan mengenaskan. Dengan cara apa pun, dia harus bisa keluar dari desa ini dengan selamat.