CHAPTER 7 KEGAGALAN

1692 Kata
Vina dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya, mencoba untuk membuka pintu besi yang dalam keadaan tertutup. Akan tetapi, pintu itu tak bergerak sedikit pun. Vina menggulirkan mata untuk menatap sekeliling, mencoba mencari apa pun untuk membuka pintu, namun nihil. Dia sama sekali tidak menemukan apa pun. Vina tidak ingin ditangkap lagi oleh canibal-canibal yang memakan tubuh Cella, karena itu sekali lagi dia mencoba melangkahkan kakinya yang terasa semakin kaku. Entah kemana jalan yang akan dipilih gadis malang itu?  Tidak mungkin bagi Vina untuk berjalan memasuki daerah pedesaan lagi karena jelas hal itu sama saja dengan menyerahkan diri ke sarang canibal. Vina pun akhirnya memutuskan untuk melarikan diri dengan masuk ke dalam hutan belantara. Dengan tertatih-tatih, Vina berjalan memasuki hutan.  Vina memang seorang yang penakut, namun rasa takutnya seakan-akan melebur entah kemana. Walaupun kini dia sedang berjalan di dalam hutan yang gelap dan hanya pepohonan lebat yang terlihat sejauh matanya memandang. Akar-akar dari pohon bahkan banyak yang mencuat keluar dari dalam tanah. Cukup sering Vina tersandung akar pohon dan nyaris terjatuh.  Rasa sakit yang memenuhi sekujur tubuhnya sama sekali tidak Vina pedulikan. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanyalah sebuah harapan. Harapan di ujung hutan ini dia akan menemukan jalan keluar dari desa berbahaya ini.  Seiring berjalannya waktu, Vina mulai kelelahan. Dia bahkan tidak memiliki tenaga yang tersisa untuk melanjutkan perjalanannya. Dia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon. Dalam diamnya, Vina kembali terbayang akan kehidupannya di masa lalu. Kehidupannya yang penuh dengan kenangan indah bersama keluarganya dan juga Cella.  Mengingat Cella, peristiwa tragis beberapa jam yang lalu dihadapinya kembali terbayang di ingatan Vina. Vina tak sanggup membayangkan rasa sakit yang dirasakan Cella sebelum dia mengembuskan napas terakhir. Masih terngiang-ngiang di telinga Vina teriakan Cella yang begitu pilu dan menyayat hati. Untuk kesekian kalinya Vina merasa bersalah karena tak sanggup melakukan apa pun untuk menyelamatkan sang sahabat.  Pikiran Vina kembali menerawang, kali ini dia teringat pada keluarganya. Dia teringat pada ibu yang begitu disayanginya. Entah apa yang tengah dilakukan oleh sang ibu saat ini? Itulah pertanyaan yang bergumam di dalam benak Vina. Vina tersenyum ketika dia mengingat kenangan indahnya bersama sang ibu. Ya, hanya sosok ibu yang Vina ingat karena ayahnya telah lama meninggal. Ayahnya meninggal sebelum Vina memiliki cukup banyak kenangan dengannya. Apakah Vina merasa kesepian tanpa sosok seorang ayah di sampingnya? Tentu saja tidak, karena ibunya yang pekerja keras telah menggantikan sosok ayah dalam hidup Vina. Vina sangat mengagumi sosok ibunya. Di mata Vina sosok ibunya merupakan seorang wanita tangguh yang berhasil membesarkan anak-anaknya dengan baik. Dia telah berhasil menjadi sosok seorang ibu sekaligus seorang ayah.  Mengingat sang ibu, tentu saja membuat Vina kembali teringat pada saudara kembarnya. Walau bagi Vina dirinya tak pernah merasa memiliki saudara meski sebenarnya memiliki. Mereka tak pernah menghabiskan waktu bersama. Itulah salah satu alasan yang membuat Vina lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan Cella dibandingkan saudaranya. Ibunya yang lebih sering bekerja dibandingkan diam di rumah, membuat Vina pun jarang berada di rumah. Setelah pulang sekolah dibandingkan pulang ke rumahnya, Vina lebih memilih untuk pergi bersama dengan Cella.  Ya, tidak banyak kenangan yang dimiliki Vina dengan saudaranya. Tapi bukan berarti mereka tak memiliki satu pun kenangan yang berharga. Vina menatap ke arah jari tangannya. Tepat di jari manis, terpasang sebuah cincin dengan hiasan bunga berwarna merah muda di bagian tengahnya. Cincin itu ... mungkin itulah satu-satunya benda yang membuat Vina teringat pada saudaranya. Masih terngiang jelas di ingatan Vina, ketika ibunya memberikan hadiah cincin itu pada mereka berdua. Kini Vina semakin yakin jika bisa selamat dan kembali ke rumahnya, dia benar-benar akan memperbaiki hubungan dengan saudaranya. Jika mereka bisa akrab layaknya saudara, Vina yakin ibu mereka pun akan bahagia melihatnya.  Cukup lama Vina merenung hingga tanpa dia sadari langit sudah mulai menghitam, menandakan malam telah tiba. Vina memegangi perutnya yang melilit dan tak hentinya meraung-raung minta diisi.  “Haah, lapar,” gumam Vina sambil meringis. Jika dipikir-pikir dia memang belum memakan apa pun lagi selain roti bakar yang dia dan Cella makan sebelum berangkat tadi pagi. Vina berdecak karena perutnya tak bisa diajak kerja sama dalam kondisi menegangkan ini. Vina mencoba mencari apa pun yang bisa dimakannya di dalam hutan itu. Dan saat melihat sebuah pohon dengan buahnya yang bergelantungan, seketika senyuman lebar tersungging di bibirnya.  “Itu dia, buahnya terlihat manis.” Tanpa sadar Vina meneguk ludah, dia benar-benar kelaparan sekarang dan melihat buah berwarna merah itu membuat air liurnya serasa ingin menetes.  Vina kembali menatap sekeliling mencari ranting kering yang bisa dia gunakan untuk mengambil buah itu. Seolah Dewi Fortuna tengah berpihak padanya, dia menemukan sebuah ranting cukup panjang tergeletak di tanah. Tanpa pikir panjang, Vina mengambilnya.  Dengan wajah sumringah, dimana harapan dirinya bisa bertahan hidup di hutan itu semakin membentang luas, Vina berusaha menggapai buah yang bergelantungan di atas pohon dengan menggunakan ranting pohon di tangannya. Namun berapa kali pun dia berusaha, tak ada satu pun buah yang berhasil diambilnya. Ranting pohon itu tak cukup panjang untuk menjangkau buah, meski Vina melompat-lompat sekalipun.  “Haah, sial! Sepertinya memang harus dipanjat.”  Vina menelisik pohon yang tumbuh menjulang tinggi tak jauh dari tempatnya berdiri. Entah pohon apa itu, Vina merasa baru pertama kali ini dirinya melihat jenis pohon seperti itu. Vina menghela napas panjang, jika ingin makan dia harus nekat memanjat pohon sehingga itulah yang sedang coba dia lakukan. Vina berpegangan pada batang pohon, dia pun mulai memanjat dengan gerakan perlahan karena sekujur tubuhnya yang masih terasa perih dan sakit.  Vina jadi teringat pada saudaranya lagi sekarang. Jika itu saudaranya, dia pasti tidak akan kesulitan memanjat pohon ini karena gadis itu sedikit tomboi jika dibandingkan Vina yang feminim. Terkadang saudaranya lebih senang melakukan tindakan-tindakan seperti yang dilakukan para pria dibandingkan Vina yang lebih anggun dalam bersikap layaknya gadis normal seusianya.  Sepatu kets yang Vina kenakan terasa licin saat menginjak batang pohon yang dikelilingi lumut berwarna hijau tua. Akibatnya Vina tergelincir dan kembali jatuh ke bawah. Vina berdecak, begitu sulit memanjat pohon besar itu.  “Jangan menyerah, Vina. Ingat kau harus bertahan hidup.” Sambil memasang wajah penuh tekad, Vina mencoba menyemangati dirinya sendiri. Sekali lagi dia mencoba memanjat dan kali ini lebih berhati-hati dan teliti dibanding sebelumnya.  Perlahan tapi pasti Vina berhasil naik ke atas pohon, dia pun kini nyaris menggapai salah satu dahan dimana ada beberapa buah yang bergelantung di sana. Vina meraba-raba dahan itu untuk berpegangan dan menjadikannya pijakan untuk berdiri. Saat itulah dia merasakan sesuatu menusuk dan menggigitnya. Vina tersentak dan begitu dia melihat telapak tangannya yang digunakan untuk meraba-raba dahan pohon itu, tanpa sadar Vina menjerit histeris. Vina mengibas-ngibaskan tangannya dengan heboh begitu melihat ada beberapa ulat berduri yang menempel di telapak tangannya. Saat Vina menggulirkan mata menelisik dahan pohon, dia baru menyadari betapa banyak ulat yang menempel di sana. Bahkan buah-buahan yang tampak menggiurkan mata jika dipandang dari kejauhan itu rupanya dipenuhi ulat.  Vina tak kuasa menahan rasa ngeri melihat ulat berduri sebanyak itu, dia pun urung untuk mengambil buah. Kembali dia turun ke bawah.  “Aduuh, perih dan gatal.” Vina meringis sembari menggaruk telapak tangannya yang mulai bentol-bentol dan memerah akibat terkena duri dan gigitan ulat tadi.  Vina tiba-tiba meneteskan air mata, merasa hidupnya begitu menyedihkan. Desa terkutuk ini benar-benar tempat yang memberi banyak kesialan untuk Vina. Dia ingin bergegas pergi dari sini. Dia ingin segera pulang ke rumah dan menghangatkan diri di pelukan sang ibu.  Vina kembali melanjutkan perjalanannya karena merasa tak ada harapan baginya untuk mendapatkan makanan di tempat itu. Dia juga tidak ingin lagi membuang-buang waktunya yang berharga karena tidak menutup kemungkinan para canibal itu akan mengejarnya sampai ke hutan ini.  Seiring berjalannya waktu, kondisi di dalam hutan semakin gelap. Kegelapan tanpa adanya cahaya membuat Vina kesulitan untuk melihat sekeliling, sehingga ....  Bruuk! Byuuur! Kesialan lain menimpa Vina. Tanpa disadari dia telah terperosok ke sebuah sungai, sungai yang tampaknya tidak terlalu lebar namun berarus deras. Gadis malang itu berusaha melawan arus air yang mengalir cukup deras yang mencoba menghanyutkannya. Beberapa kali Vina nyaris tenggelam, dia kesulitan bernapas tapi tampaknya tekad tak ingin menyerah untuk mempertahankan hidup, membuahkan hasil yang memuaskan. Dia berhasil memegang semak-semak yang tumbuh liar di sekitar sungai. Dia berpegangan dan berusaha untuk keluar dari sungai itu.  Vina mencoba mengatur napasnya yang terengah-engah setelah kini berada di atas tanah karena dia berhasil keluar dari air sungai. Namun, Vina merasakan sakit yang teramat sangat tepat di bagian kening. Sesuatu terasa bergerak-gerak di keningnya. Seiring dengan gerakan entah makhluk apa pun itu, rasa sakit semakin menusuk keningnya. Vina meraba bagian yang sakit pada keningnya itu, kedua matanya membulat sempurna ketika dia menyentuh sesuatu yang licin, panjang dan bergerak-gerak semakin dalam membuat lubang di keningnya. Meskipun rasa ngeri, takut, jijik dan tentu saja rasa sakit yang tak terkira sedang dirasakannya, Vina mencoba menarik makhluk yang mencoba melubangi keningnya tersebut.  Makhluk itu sangat licin membuat Vina kesulitan untuk menariknya. Tapi Vina tidak menyerah, dia terus berusaha menariknya hingga akhirnya berhasil. Makhluk itu yang tampaknya seekor lintah menggeliat-geliat di tangan Vina, dengan segera gadis itu melemparkannya sejauh mungkin. Air mata kembali mengalir membentuk garis bagaikan sungai di wajah Vina. Vina tidak pernah membayangkan dirinya akan mengalami semua penderitaan ini.  Vina berpikir, mungkinkah ini sebuah hukuman untuknya karena telah membohongi sang ibu demi bisa berlibur berdua dengan Cella? Kini Vina semakin merasa bersalah karena telah membohongi ibunya. Andai waktu bisa diulang kembali, Vina ingin memperbaiki segalanya. Dia akan melakukan apa pun untuk menentang keinginan Cella berkemah berdua di tempat terpencil ini. Semua tragedi ini bermula dari keinginan Cella untuk berkemah di tempat terpencil. Memang sejak awal Vina tidak pernah menyetujuinya. Tapi tetap saja bagi Vina, dia telah melakukan suatu kecerobohan. Tidak seharusnya dia menyerah dan menyetujui ajakan Cella saat itu.  Isak tangis Vina terdengar kencang di dalam hutan yang sepi dan gelap gulita. Vina begitu ingin bisa segera kembali ke rumahnya. Berkumpul kembali bersama ibu dan saudaranya. Keinginan itu membuat keberanian kembali dirasakan Vina. Dia melanjutkan perjalanan, mengabaikan kegelapan yang menyelimutinya.  Langkah demi langkah ditempuhnya dengan penuh semangat, semua rasa sakit di tubuhnya, dia abaikan sepenuhnya. Tetapi, mungkin Vina memang ditakdirkan untuk tak pernah keluar dari desa berbahaya itu. Vina kembali terperosok. Kali ini dia menginjak sebuah genangan air. Naasnya genangan air itu bukanlah genangan air biasa melainkan sebuah rawa. Rawa yang memiliki dasar tak berujung, sedikit demi sedikit mulai menghisap tubuh Vina.  Vina meronta dan berteriak meminta pertolongan, tapi percuma ... tak ada satu makhluk pun yang menghampirinya. Seiring berjalannya waktu, tubuh Vina semakin terhisap ke dalam rawa hingga hanya menyisakan jari-jari tangannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN