CHAPTER 8 DIARY

2811 Kata
Suasana sepi sore itu, tak terlihat seorang pun berada di dalam rumah yang sederhana namun sangat nyaman untuk ditempati.  Cklek! Suara pintu dibuka dari luar, terdengar. Tak lama kemudian, sesosok gadis cantik tampak memasuki rumah. Gadis itu menatap sekeliling rumah, mengembuskan napas perlahan ketika keheningan yang dia temukan di dalam rumah yang sudah ditempatinya sedari kecil tersebut.  Dengan malas dia melangkahkan kaki menuju suatu tempat. Langkahnya terhenti begitu tiba di depan sebuah ruangan yang di bagian daun pintu tertempel sebuah papan nama bertuliskan ‘Jovita Petrova Room’. Tanpa ragu dia membuka pintu dan memasuki kamar yang terlihat cukup nyaman. Semua benda tertata dengan rapi, berbagai poster tertempel di dinding kamar. Poster yang menunjukan gambar pemain basket profesional dari berbagai negara. Ya, gadis itu ... Vita, merupakan penggemar berat olahraga basket meskipun dia seorang gadis, bahkan dia bergabung dengan club basket di sekolahnya.  Vita merebahkan tubuh di kasur empuknya, sambil kedua mata menatap lurus pada langit-langit kamar. Tatapannya kosong yang menandakan dia sedang memikirkan sesuatu saat ini. Kemudian tangan kanannya meraih sebuah benda pipih dari saku seragam sekolahnya. Benda pipih yang tidak lain merupakan handphone itu dia tatap dengan serius. Dia melihat-lihat beberapa foto yang tersimpan di aplikasi gallery dan gerakan tangannya berhenti begitu melihat foto dirinya bersama seorang gadis yang memiliki wajah sangat mirip bahkan sama persis dengannya. Jovina Petrova itulah nama gadis yang berfoto bersamanya. Gadis itu tidak lain merupakan saudara kembarnya.  Jika di keluarga lain yang normal, saudara kembar memiliki hubungan yang dekat bahkan semua hal harus disamakan. Mulai dari benda-benda bahkan pakaian pun harus sama. Tidak demikian dengan Vita dan Vina. Vita memiliki sebuah alasan yang membuatnya tidak bisa dekat dengan saudaranya. Alasan itu tidak lain karena sebuah perasaan iri yang selalu Vita rasakan pada saudara kembarnya. Vina memiliki kepribadian yang berbeda dengan Vita. Vina merupakan seorang gadis periang yang baik hati, ramah pada siapa pun. Dia sangat mudah tersenyum, pintar dan juga berprestasi. Sedangkan Vita, hanyalah seorang gadis yang pendiam, jarang bicara, cuek dan tidak terlalu pintar jika dibandingkan dengan Vina. Vita bahkan tidak memiliki prestasi apa pun yang patut dibanggakan.  Perbedaan itulah yang membuat Vita tidak menyukai saudaranya. Terutama karena perlakuan ibu mereka yang tidak adil menurut Vita. Ibunya selalu lebih menyayangi Vina dibanding dirinya. Vita sadar hal itu wajar terjadi karena Vina jelas lebih mampu membuat ibunya bangga dibandingkan dirinya. Vina sangat dekat dengan ibunya, tapi tidak demikian dengan Vita. Sering terjadi pertengkaran-pertangkaran kecil antara Vita dengan ibunya. Tidak jarang Vita membuat sang ibu marah hanya karena gadis itu selalu melawan perintah atau nasihat ibunya.  Sejujurnya, Vita tidak pernah merasa nyaman tinggal di rumah. Namun apa daya, hanya Vina dan ibunya lah keluarga yang Vita miliki. Ayahnya telah tiada sejak dulu, sejak Vita dan Vina masih sangat kecil. Sebagai single parent, ibu mereka sangat sibuk bekerja dan jarang berada di rumah karena harus membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Kira-kira seperti itulah kehidupan Vita yang dia anggap sangat membosankan.  Akan tetapi, Vita menyadari kehidupannya yang hampa itu sedikit terobati setiap kali dia mendengar suara tawa dari Vina dan ibunya di dalam rumah. Meskipun Vita tidak ikut serta dalam kegembiraan itu. Hanya dengan mendengar suara tawa mereka, membuat Vita tersadar bahwa dia tidak tinggal sendirian di dalam rumah.  Namun, kini semuanya berubah. Canda tawa dari Vina dan ibunya tak pernah terdengar lagi. Suasana rumah terasa semakin sepi, membuat Vita tidak jarang merasa ketakutan karena keheningan yang dia rasakan di dalam rumahnya sendiri. Selain itu, Vita merasakan sesak di dalam dadanya setiap kali memergoki sang ibu tengah menangis seorang diri. Meskipun Vita tidak terlalu dekat dengan ibunya, tapi dia merasakan sakit ketika melihat wanita yang telah melahirkannya ke dunia, bersedih. Penyebab kesedihan sang ibu tidak lain karena Vina yang sudah menghilang selama tiga bulan ini.  Tiga bulan yang lalu, Vina berlibur bersama dengan sahabatnya, Cella. Vina mengatakan akan pergi mengunjungi orang tua Cella. Tetapi hingga kini Vina dan Cella tidak kunjung kembali meskipun waktu sudah berlalu selama tiga bulan. Yang membuat ibunya semakin bersedih setelah dia mengetahui bahwa Vina dan Cella telah berbohong. Mereka sama sekali tidak pergi untuk menemui orang tua Cella. Entah kemana mereka pergi bahkan orang tua Cella pun tidak mengetahuinya. Tentu pihak keluarga sudah melaporkan hal ini pada pihak kepolisian namun hingga kini belum ada kabar mengenai keberadaan dua gadis yang menghilang secara misterius tersebut.     Bruuuk! Vita tersentak kaget dan semua lamunannya buyar ketika mendengar suara benturan dari dalam rumah. Dengan cepat dia beranjak bangun dari posisi berbaringnya dan pergi menuju sumber suara. Betapa terkejutnya Vita saat menemukan sang ibu tengah duduk di lantai dengan barang belanjaan yang berserakan di sekelilingnya. Air mata terlihat menghiasi wajahnya yang cantik. Vita menghampiri sang ibu dan mengusap punggungnya mencoba untuk menenangkan.  “Ibu baik-baik saja?” Tanya Vita sambil menatap ibunya dengan memasang raut khawatir. Sang ibu mengangguk pelan sembari menghapus air mata dengan jari-jari tangannya. “Iya, maaf ibu hanya kelelahan. Tadi banyak sekali pekerjaan di kantor.” Jawab ibunya sambil berusaha bangun. Vita dengan sigap membantunya.  Hanya dengan melihat air mata yang membentuk garis bagai sungai di wajahnya, Vita tahu ibunya sedang berbohong. Pastilah ibunya seperti ini karena memikirkan Vina lagi.  Sang ibu mengulas senyum ramah, “Kau pasti lapar, kan? Ibu akan memasak makanan untukmu.” Vita menggeleng tegas, “Tidak perlu, Bu. Nanti saja. Aku belum lapar. Lebih baik ibu istirahat saja dulu di kamar.” “Tidak apa-apakah ibu istirahat dulu?” Vita meresponnya hanya dengan anggukan. “Baiklah. Ibu istirahat dulu di kamar. Nanti panggil ibu jika kau sudah merasa lapar ya.” “Hm, iya, Bu,” ucap Vita, menyetujui.  Setelah itu ibunya berjalan gontai mendekati meja, dia meletakan barang belanjaannya di sana lalu melenggang pergi menuju kamarnya. Vita hanya menatap langkah sang ibu yang semakin menjauhinya. Hati Vita terasa semakin sakit. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Vina, tapi Vita sadari dia tidak pernah membenci saudaranya itu. Meskipun Vita sering merasa iri pada Vina tapi dengan sepenuh hatinya dia berharap Vina segera kembali.  Vita ikut beranjak pergi, berniat kembali ke kamarnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika dia melewati sebuah ruangan. Daun pintu yang tertempel papan nama bertuliskan ‘Jovina Petrova Room’, mengusik hatinya. Ya, ruangan di balik pintu itu tidak lain merupakan kamar Vina. Vita ingat dia tidak pernah memasuki kamar itu. Terakhir kali yang dia ingat, dia memasuki kamar itu ketika mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.  Vita sempat ragu untuk membuka pintu, namun entah mengapa dia merasa kata hatinya menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar itu. Vita meneguk ludah sebelum tangannya terulur mendekati kenop pintu. Dia pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar saudaranya. Sebuah kamar yang sudah tiga bulan ditinggalkan pemiliknya.  Begitu berada di dalam kamar, Vita mengedarkan tatapannya ke sekeliling. Berbeda dengan kamarnya yang sangat ramai dengan berbagai poster yang tertempel di dinding. Kamar Vina sangat rapi dan terlihat feminim. Tidak ada satu pun poster yang tertempel di dinding bernuansa merah muda itu. Hanya terdapat sebuah lukisan berupa hamparan taman bunga yang sangat indah serta foto berukuran cukup besar yang terpasang di dalam pigura yang tergantung di dinding. Foto itu tidak lain merupakan foto Vina dan Cella ketika mereka menerima penghargaan atas kemenangan dalam sebuah kompetisi musik yang mereka ikuti sesaat sebelum dua gadis itu menghilang. Sebuah biola pun ikut dipajang di dinding. Vina memang sangat menyukai biola, dia pun pandai memainkannya. Tapi dibanding biola, memainkan piano jauh lebih dia sukai. Sebuah piano diletakan di dekat jendela kamar. Vita ingat betul dirinya begitu iri ketika sang ibu membelikan piano itu untuk Vina. Bahkan ukuran kamar ini jika dibandingkan kamar Vita, jauh lebih besar. Vita mendengus kasar sambil menggelengkan kepala, merasa dirinya begitu wajar selalu iri pada Vina karena ibu mereka memang selalu membedakan mereka.  Vina sering menjadi juara dalam kompetisi piano yang dia ikuti, terutama saat berkolaborasi dengan Cella yang pandai memainkan biola, prestasi mereka semakin bersinar. Karena alasan itulah ibunya sangat bangga pada Vina yang selalu berprestasi dalam segala bidang sedari kecil, sekaligus membuat rasa iri di dalam hati Vita semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.  Setelah puas menatap sekeliling kamar, Vita melangkah mendekati meja belajar Vina dan duduk di kursi yang tentunya selalu diduduki Vina jika gadis itu sedang belajar di kamarnya. Banyak beberapa buku yang tersusun rapi di atas meja. Vita melihat satu persatu buku itu. Sebagian besar tumpukan buku itu merupakan kumpulan beberapa novel dan beberapa di antaranya merupakan buku pelajaran.  Vita tidak merasakan ketertarikan pada buku-buku itu karena pada dasarnya dia tak terlalu senang membaca. Lalu ekor matanya tanpa sengaja tertuju pada sebuah buku yang diletakkan di paling bawah tumpukan. Vita mengambil buku yang ternyata tercantum tulisan ‘My Diary’ di sampulnya yang berwarna merah muda. Vita membukanya dan terlihatlah tulisan tangan Vina memenuhi buku itu. Vita tidak ingin membacanya karena bisa jadi Vina menuliskan sesuatu yang sangat pribadi di dalam buku diary-nya. Vita tidak ingin diam-diam membacanya meskipun Vina tidak akan mengetahuinya karena kini gadis itu tidak ada di sini.  Vita hanya membuka lembar demi lembar kertas itu tanpa membacanya. Gerakan tangannya terhenti ketika tiba pada halaman yang ditandai dengan sebuah pembatas buku, pastilah Vina yang menandai halaman tersebut. Halaman itu merupakan lembar kertas terakhir yang penuh dengan tulisan Vina. Vita pun menyadari lembar kertas yang tengah dia buka itu merupakan curahan hati yang ditulis Vina sebelum dia menghilang. Ketertarikan mulai memenuhi perasaan Vita. Dia pun mulai membaca tulisan Vina dengan harapan dirinya dapat menemukan petunjuk apa pun tentang keberadaan Vina. Kedua Bola mata Vita membulat sempurna ketika membaca beberapa kalimat dalam buku diary Vina. Di sana, Vina mencurahkan semua pemikirannya. Mengenai keengganannya untuk memenuhi keinginan Cella. Vina menuliskan keinginan Cella untuk berkemah di tempat yang terpencil di dalam buku itu. Vina bahkan menuliskan beberapa tempat yang menjadi tujuan mereka untuk berkemah. Kini harapan Vita terwujud sudah, dia tidak menyangka isi di dalam buku itu benar-benar memberikan petunjuk keberadaan Vina dan Cella.  Namun, mengingat sudah tiga bulan lamanya mereka tidak kembali, sebuah pemikiran buruk mulai memenuhi kepala Vita. Entah mengapa dia merasakan sesuatu yang buruk telah menimpa dua gadis itu. Cukup lama Vita merenung, memikirkan semua kemungkinan yang terjadi pada Vina dan Cella.  Cklek! Terdengar suara pintu dibuka dan hal itu sukses membuat Vita tersadar dari lamunannya. Seorang wanita berusia sekitar 37 tahun yang memiliki paras jelita menatap dengan raut terkejut di wajahnya begitu menemukan sosok Vita yang sedang berada di dalam kamar Vina.  “Vina,” ucap wanita itu yang tidak lain adalah Josette Petrova yang merupakan ibu dari si kembar, Vina dan Vita. Vita memicingkan mata, tampak tersinggung karena dirinya dikira Vina oleh ibunya. “Aku bukan Vina, Bu.”   Josette terkejut, menyadari dia telah melakukan kecerobohan dengan salah mengenali putrinya. Tentu saja gadis itu adalah putrinya, Vita. Tidak mungkin Vina karena hingga kini dia bahkan tak tahu keberadaan putri kesayangannya itu.  Josette terkekeh pelan, “Oh, maaf. Ibu terkejut melihatmu ada di kamar Vina. Apa yang kau lakukan di sini? Seingat ibu, kau tidak pernah masuk ke kamar ini. Apa kau juga sangat merindukan Vina?” Josette tertegun menyaksikan Vita yang hanya diam tanpa menanggapi pertanyaannya. Berbeda dengan hubungannya dan Vina, hubungannya dengan Vita memang tidak terlalu dekat, Josette sangat menyadari hal itu. Vita sangat pendiam dan sering sekali membuatnya kesal. Sangat jauh berbeda dengan Vina yang periang, penurut dan selalu membuatnya bangga.  Vita beranjak bangun dari posisi duduknya dan mulai melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Vina tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sebenarnya Josette masih menantikan jawaban dari putrinya itu, tapi ini bukan pertama kali Vita mengabaikan dan tidak menjawab jika ditanya. Josette tak heran lagi dirinya diabaikan. Putrinya itu bahkan sering melawan perintah dan nasihatnya karena alasan itulah dia selalu kesal pada Vita. Vita bahkan masih diam seribu bahasa ketika melewati Josette yang masih berdiri di dekat pintu.  “Apa kau lapar? Ibu akan menyiapkan makanan untukmu.” Tidak ingin ambil pusing dengan kelakukan putrinya, Josette mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia ingat Vita belum memakan apa pun, berpikir putrinya itu pasti kelaparan sekarang. “Hm, panggil saja aku jika makanannya sudah siap. Aku akan ke kamarku.” Setelah berujar demikian, Vita benar-benar meninggalkan kamar, mengabaikan pertanyaan ibunya tadi seolah-olah dia memang tidak berniat untuk menjawabnya. Josette hanya mendesah lelah sambil memijit pangkal hidung, dia menatap punggung sang putri yang menghilang di balik pintu   ***   Di dalam kamarnya, Vita kembali merebahkan diri di kasur empuknya. Kini pemikirannya kembali pada buku diary Vina yang dibacanya tadi.  “Haruskah aku menceritakannya pada ibu?” Gumamnya pelan. Sebuah gumaman yang hanya mampu didengar olehnya.  Vita kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu di kamar Vina. Sebenarnya dia merasa kecewa karena ibunya sempat menganggap dirinya sebagai Vina. Memang wajah mereka serupa sehingga sulit untuk dibedakan, tapi tetap saja menurut Vita seharusnya sang ibu mampu membedakan dirinya dengan Vina. Bahkan ibunya itu terlihat kecewa setelah mengetahui bukan Vina yang berada di kamar itu melainkan Vita. Ya, Vita mampu melihatnya dengan jelas, kekecewaan yang terlihat di wajah ibunya. Sebuah pemikiran bodoh pun terlintas di benak gadis itu.  “Seandainya aku yang menghilang, mungkinkah ibu akan sesedih ini juga?” Sekali lagi Vita menggumamkan isi pikirannya. Vita sangat menyadari ibunya begitu menyayangi Vina, dia selalu ingin mengetahui perasaan sang ibu mungkinkah menyayanginya juga. Namun jika mengingat betapa seringnya mereka bertengkar membuat Vita merasa ragu bahwa dia pun disayangi oleh ibunya.  Tok ... Tok ... Terdengar suara ketukan pintu, Vita pun beranjak bangun dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Ketika dia membuka pintu, terlihat ibunya sudah berdiri di sana.  “Ayo, makan. Makanannya sudah siap,” ucap Josette sambil mengulas senyum lebar. “Iya, Bu.” Vita menutup pintu lantas berjalan mengikuti ibunya yang berjalan di depan.  Keheningan menjadi saksi bisu di dalam ruangan dimana sepasang ibu dan anak itu kini sedang menyantap makanan di piring masing-masing. Tak ada satu pun dari mereka yang memulai percakapan. Vita pun tampaknya tak ingin membahas tentang diary Vina yang dia baca tadi pada ibunya.    “Tadi itu tumben sekali kau masuk ke kamar Vina. Apa kau sangat merindukan dia?”  Vita menghentikan kegiatan makannya ketika mendengar ibunya memulai percakapan. Gadis itu menggeleng pelan, “Tidak. Aku hanya ingin melihat kamarnya saja,” jawab Vita dengan raut datarnya. “Dia itu kan saudaramu jadi wajar saja jika kau merindukannya. Kau tidak perlu malu mengakuinya, Vit.”  Sebenarnya Josette mengatakannya dengan diiringi sebuah senyuman, namun perkataan itu entah mengapa justru membuat Vita merasa sangat kesal. Sambil meletakan sendok di tangan ke atas meja dengan cukup kasar, wajah gadis itu memerah karena menahan emosi. “Ibu-lah yang merindukannya. Ibu selalu menangisinya setiap hari. Bahkan sepertinya ibu lupa kalau aku juga ada di samping ibu.”  Kini Josette-lah yang mulai tersulut emosi mendengar ucapan putrinya yang begitu ketus itu. “Apa maksudnya? Mana mungkin ibu lupa padamu.” Josette berdecak jengkel, ikut meletakan sendok dalam genggaman ke atas meja. “Kau selalu seperti ini, berkata kasar pada ibu. Kau sangat jauh berbeda dengan Vina.”  Rasa kesal semakin memenuhi pikiran Vita hingga tanpa sadar, dia beranjak bangun dari posisi duduknya dan mengutarakan semua kekesalannya pada sang ibu. “Sudah cukup ibu membandingkanku dengan Vina. Aku tahu ibu tidak pernah menyayangiku. Ibu hanya menyayangi Vina. Aku memang tidak pernah membuat ibu bangga, tidak seperti Vina. Mungkin jika disuruh memilih, ibu akan lebih memilihku yang menghilang daripada Vina.”  Josette terbelalak, terkejut tentu saja mendengar tuduhan Vita. Dia pun ikut berdiri dan tanpa dia sadari tangan kanannya melayang mendekati wajah putrinya. Plaaak! Suara tamparan mengalun di dalam ruangan. Terlihat jelas keterkejutan di wajah Vita ketika merasakan perih dan panas di pipi kanan karena tamparan ibunya yang cukup keras itu. Vita memang sering bertengkar dengan ibunya tapi inilah pertama kalinya dia ditampar seperti ini. Vita mendengus kesal sambil memegangi sisi wajahnya yang terasa panas dan berdenyut. “Ibu tidak pernah mengerti kenapa kau selalu bersikap seperti ini pada ibu. Kau selalu menyakiti perasaan ibu dengan ucapan dan sikapmu. Bagi ibu, kau dan Vina adalah harta yang paling berharga. Kalian alasan ibu bertahan hidup sampai saat ini. Kalian berdua sumber kebahagiaan ibu. Ibu menyayangi kalian berdua,” kata Josette, mengutarakan isi hatinya. “Ibu hanya tidak mengerti jalan pikiranmu, kau selalu menghindari ibu dan Vina. Kau seperti tidak menganggap kami sebagai keluargamu. Ibu dan Vina selalu berusaha mendekatimu dan menunjukan kasih sayang kami padamu. Tapi sebelum kami melakukannya, kau selalu menghindari kami. Kau tidak pernah mau bergabung dengan kami. Kau menjauhkan dirimu dari kami. Asal kau tahu, Vit ... ibu dan Vina sangat menyayangimu. Kita keluarga. Ibu selalu ingin bisa menghabiskan waktu bersama dengan kedua putri ibu.” Ucapannya yang cukup panjang itu mengalir dengan sendirinya dari mulut Josette, diiringi dengan tangisan yang tanpa dia sadari keluar sendiri dari kedua matanya. “Kenapa kau selalu menghindari kami, Vit? Kau juga selalu memusuhi saudaramu. Kau tidak pernah berbicara atau sekedar menyapanya. Padahal ibu bisa melihatnya, Vina selalu berusaha mendekatimu. Kenapa kau membenci saudaramu?” Vita hanya diam seribu bahasa, rasa sakit terasa di dalam hatinya ketika menyadari perkataannya tadi telah membuat hati ibunya terluka. Rasa sesal memenuhi pikiran Vita, tapi egonya yang tinggi membuat dia tak ingin melanjutkan percakapan itu. Mengabaikan ibunya yang masih berurai air mata, Vita melenggang pergi dari ruangan itu. Josette pun tak terlihat ingin menghentikan langkah putrinya. Wanita itu memilih duduk dan menangis dalam sepi, merenungi nasib keluarga kecilnya yang entah sampai kapan akan seperti ini. Josette merasa telah gagal menjadi seorang ibu. Dia pun gagal membesarkan kedua putrinya dengan benar. Bahkan kini dia merasa bukan hanya telah kehilangan Vina, tapi juga telah kehilangan Vita meski gadis itu masih tinggal bersamanya di dalam rumah yang bagaikan kuburan tersebut.                                                   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN