Tak hentinya Vita meneteskan air mata, dia tidak pernah mengira hasil dari pencariannya sangat mengecewakan bahkan menyakitkan seperti ini. Vita sangat menyesali kebodohan yang selama ini dia lakukan, mengabaikan dan menjauhi saudaranya sendiri hanya karena perasaan iri. Kini tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Vina tak mungkin kembali hidup. Dia telah pergi untuk selamanya. Paul yang sejak tadi terdiam sengaja membiarkan Vita mencurahkan seluruh kesedihannya, kini mencoba menenangkan perasaan Vita yang pastinya sedang hancur. Dia duduk di samping Vita dan mengusap-usap punggungnya lembut. “Kau tahu, Paul. Aku berniat memperbaiki hubunganku dengan Vina setelah perjalanan ini. Aku ingin berbaikan dengannya, akrab layaknya saudara kembar pada umumnya. Aku ingin ibu kami b

