Benar dugaannya selama ini. Leora adalah anak Profesor Martin.
Erden kembali berjalan, sedangkan Steven dan yang lain sudah lebih dulu berada di sana.
"Aku pikir kau tidak jadi datang ke sini." ucap seorang laki-laki yang tadi bersama Leora dan seorang gadis.
"Yaa, aku harus membujuk seseorang dulu tadi. Dia keras kepala." ucap Steven sesekali melirik Erden.
Erden hanya menatapnya datar. Apa-apaan itu, Steven tadi memaksanya bukan membujuknya. Apa Erden perlu meralatnya?
"Ah ya, mereka teman-temanku." ucap Steven lagi menatap teman-temannya.
Laki-laki itu beralih menatap mereka termasuk Erden.
Melakukan perkenalan singkat, termasuk Vera yang ternyata adalah kekasih lelaki itu, Marchel Junza.
"Apa Profesor sudah siuman?" tanya Steven lagi.
"Profesor sempat sadar sebentar, tapi tadi kembali tidak sadarkan diri. Dan sekarang sedang di periksa." jelas Marchel.
"Separah itu?" tanya Erden tiba-tiba.
"Aku tidak begitu paham. Semoga saja Profesor baik-baik saja." mereka hanya mengangguk menyetujui ucapan Marchel.
"Aku harap tidak begitu." batin Erden menatap ruangan sang profesor di depan sana.
Pintu ruangan itu terbuka dan seorang dokter keluar dari sana.
Leora lebih dulu berjalan menuju sang dokter dan menanyakan keadaan ayahnya, tentu saja.
"Tidak apa-apa. Pasien hanya memerlukan energi untuk kembali sadar." ucap dokter itu dan Leora bisa bernafas lega. Lain dengan Erden yang berdecak kesal.
"Kami boleh menunggunya di dalam?" tanya Vera selanjutnya.
"Boleh. Tapi jangan ada keributan. Dan nanti jika pasien sudah siuman segera panggil saya." intruksi dokter itu dan mereka hanya mengangguk mengerti.
Leora lebih dulu masuk di susul dua sahabatnya di belakang.
"Kau tidak ingin masuk?" tanya Zivan pada Erden yang hanya diam di tempat.
"Aku bukan keluarganya." ucap Erden singkat.
"Tidak apa-apa. Kalian masuk saja, tidak masalah." ucap Marchel yang ternyata mendengar mereka.
"Nah, sudah diizinkan. Ayo, kita masuk." ucap Steven menarik pergelangan tangan Erden.
Jika saja ini bukan rumah sakit maka Steven sudah habis dia pukuli. Sembarang saja menarik-narik tangannya. Ah ya, tadi Erden lupa menendang tulang kering Steven, baiklah, setelah keluar dari rumah sakit ini nanti.
"Eh, tunggu." Steven berhenti tepat di depan pintu ruangan Profesor Martin.
Erden dan yang lainnya mengernyit bingung melihat tingkah Steven. Manusia yang satu ini sangat aneh.
Steven menengok ke dalam, dan kembali keluar.
"Tidak ada darah. Ayo." ucapnya menarik pergelangan tangan Erden.
Erden mendengus mendengarnya. Tapi dia juga tidak memungkiri kalau Erden senang dengan itu. Steven itu seperti perpaduan antara Kaza dan Teo.
•
•
•
•
"Saya merasa senang kamu di sini." ucap Profesor Martin pada Erden.
Satu jam yang lalu tepatnya, Profesor Martin sudah siuman. Tidak banyak aktifitas yang dia lakukan, apalagi tangan kirinya patah. Dia hanya duduk bersandar sambil Leora menyuapinya makanan.
Hanya ada dia, Leora dan sang profesor di sana, Marchel dan teman-teman Steven sudah kembali ke kampus, sedangkan Vera dan Steven pergi ke kantin membeli makanan untuk mereka berempat. Jadilah dia berada di situasi canggung seperti ini. Apalagi Leora terlalu menampilkan gelagat kalau dia tidak menyukai kehadiran Erden di sini.
"Saya hanya ingin menjenguk Anda, seperti yang lainnya." jawab Erden mempertahankan ekspresi datarnya.
Dan itu membuat Leora semakin tidak suka. Menurutnya itu tidak sopan. Seseorang harusnya bersikap lembut pada orang yang lebih tua, tidak seperti Erden ini.
"Kau tidak kembali ke kampus?" tanya Leora tanpa menatap Erden.
Erden menaikkan satu alisnya. Apa Leora baru saja mengusirnya?
"Kau ingin aku pergi?" Erden balik bertanya dan Leora segera mengangguk.
"Ada baiknya jika kau tidak di sini." ucapnya sarkas.
Erden mendengus kesal. Leora ini sungguh kasar untuk ukuran seorang gadis. Cara dia berbicara, Erden sangat tidak menyukainya.
"Leora, kau tidak boleh berkata seperti itu. Itu tidak sopan." ucap profesor memperingati.
"Maafkan anak saya. Dia hanya sedang kesal."
Erden hanya mengangguk singkat. Jika bukan Steven yang memaksanya dia juga tidak mau datang menjenguk orang yang sudah melenyapkan kedua orang tuanya.
Sejenak Erden mengagumi sosok profesor di depannya ini. Profesor satu ini sungguh pintar dalam bermain ekspresi dan peran. Pantas saja orang-orang banyak mengidolakannya. Andai kalau profesor ini jadi seorang aktor, maka dia akan menjadi aktor terkaya di dunia.
"Saya memakluminya." ucap Erden kemudian menatap Leora.
"Mengingat pertemuan pertama kami yang buruk." lanjutnya membuat Leora akhirnya menatapnya.
"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya sang profesor bingung.
"Aku pernah menceritakannya padamu. Soal orang yang menabrakku pagi itu." jelas Leora.
Timbul perasaan ingin protes di diri Erden. Bukankah gadis itu yang menabraknya? Kenapa jadi berpindah ke dia?
Tapi niatnya urung saat pintu kamar profesor di buka dan Steven juga Vera masuk membawa beberapa makanan, minuman juga cemilan.
"Maaf lama, tadi mengantri." ucap Steven meletakkan kantong berwarna putih itu di atas meja.
"Ya sudah, kalian makanlah dulu. Kalian pasti belum makan." ucap profesor menatap mereka semua.
Inginnya Erden akan menolak dan segera pergi dari ruangan ini. Tapi Steven dengan cepat mengangguk dan membuka makanan miliknya.
Steven benar-benar ingin di bunuh.
"Kau tidak makan? Ayo makanlah, kami sudah membeli untuk kita semua." ucap Vera menatap Erden yang hanya diam berdiri di tempatnya.
Erden menggeleng pelan.
"I'm full." ucapnya singkat.
"Setidaknya makan cemilan atau ambil minumannya. Apa kau tidak tau cara menghargai orang lain?" tutur Leora sinis.
Erden lama-lama kesal dengan gadis itu. Selalu saja ikut campur urusan orang lain.
"Sayangnya aku memang tidak tau." jawab Erden.
Leora menatapnya sinis dan mendecih.
"Menyebalkan." gumamnya kesal.
•
•
•
•
"Kau gila?" tanya Teo menatap tak percaya pada Erden.
Erden dengan santainya mengangguk tanpa mengubah posisinya yang sedang bersandar di sandaran sofa.
"Aku tidak mendukungmu." lanjutnya menatap ke arah lain.
Teo kesal, tentu, marah malah. Kenapa Erden sampai mempunyai pemikiran seperti itu?
"Aku tidak membunuhnya, kau paham itu?" bela Erden.
"Tapi kau akan menyakitinya. Apa kau tidak mengerti!" balas Teo berteriak.
Erden menatap bingung padanya. Ada apa dengan Teo?
"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu peduli dengannya?"
Teo berdecak kesal mendengarnya. Apa Erden benar-benar sudah tidak punya hati? Pikirnya.
"Aku tidak peduli dengannya, tapi apa kau tidak pernah berfikir bagaimana perasaannya? Ayolah, dendammu tidak padanya, kau tau itu?"
Teo merasa sudah tidak sinkron dengan jalan pikiran Erden. Erden memang bertindak semaunya, tapi tidak pernah berbuat seperti ini. Ini di luar akal sehat. Dan Teo paling pantang menyakiti wanita, apalagi wanita itu tidak salah sama sekali.
"Begini, aku hanya menjadikan dia sebagai pancingan. Setelah semuanya tercapai aku tidak akan menyakitinya. Apa kau belum mengerti?" tanya Erden masih santai.
"Kaza! Jelaskan padanya!" marah Teo.
Erden hanya menatap polos Kaza yang menatapnya kesal sedikit frustasi. Menghembuskan nafas panjang.
"Erden, kau tidak harus melakukan itu. Ingat, dia bukan targetmu." ucap Kaza mencoba membuat Erden mengerti.
Erden berdecak. Kenapa susah sekali membuat kedua sahabatnya ini mengerti maksudnya.
"Aku tidak menargetkannya, aku hanya menjadikan dia sebagai jalanku. Sudahlah, aku tidak ingin berdebat lagi soal ini." Erden berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Lagipula aku tidak akan menyakitinya." lanjutnya tetap berjalan.
Kaza memijat pangkal hidungnya. Kenapa ini semakin rumit saja? Mereka hanya tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah ini, kenapa Erden tidak mengerti?
"Kenapa dia sangat keras kepala?" ucap Kaza mengusak kasar rambutnya.
"Sudahlah, ikuti saja. Percuma membuat dia mengerti, dia itu keras kepala." ucap Teo setelah lama terdiam.
Kaza beralih menatapnya dengan tatapan tak percaya. Bukankah Teo yang tadi sangat keras menentang ide ini?
"Aku baru memikirkan ini. Erden tidak pernah tertarik membicarakan wanita. Apa kau tidak pernah berpikir kalau suatu saat Erden akan benar-benar menyukainya?" sesaat Kaza terdiam mendengarnya, ucapan Teo barusan ada benarnya, tapi ini konsepnya berbeda.
"Ini berbeda Teo. Ini perkara membalas dendam." ucap Kaza dan Teo hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Jalan takdir siapa yang tau." jawabnya.
•
•
•
•
Sarapan pagi ini sudah tersaji di atas meja makan. Kaza yang menyiapkannya, ya itu memang sudah seharusnya mengingat Teo yang akan membakar dapur jika memasak dan Erden yang akan membuat makanan hambar jika memasak.
Langkah kaki dari atas tangga mengalihkan perhatian Kaza. Itu Erden.
"Kau bilang ada kelas siang. Mau ke mana pagi ini?" tanya Kaza penasaran.
Erden duduk di tempat biasanya dan mengambil sendiri makanannya.
Sebenarnya makanan itu tidak ada gunanya bagi Erden. Toh dia tidak pernah tau bagaimana rasanya, hanya saja dia ingin menghargai Kaza yang sudah lelah memasaknya.
Tapi ada satu masakan yang dia suka, yaitu nasi goreng. Menurutnya bau nasi goreng itu harum.
"Aku akan pergi ke toko buku." jawabnya menyuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
"Bersama Steven?" lagi Kaza bertanya dan Erden hanya mengangguk.
"Kau sedikit berbeda semenjak mengenal pria itu. Tapi menurutku itu bagus. Setidaknya kau memiliki teman lain." ucap Kaza membuat Erden mendengus.
"Kalau saja dia tidak memaksaku, mana mungkin aku mau pergi dengannya."
"Ya ya terserah kau saja. Memangnya sejak kapan kau mau di paksa?" gumam Kaza tentunya bermaksud menyindir.
"Diamlah. Aku memang terpaksa." ucap Erden membuat Kaza terkekeh pelan.
"Di mana hacker bodoh itu?"
"Dia belum turun. Mungkin masih tidur." jawab Kaza mulai memakan sarapannya.
"Dia masih marah padaku?" tanya Erden.
"Aku rasa tidak. Sudah kubilang, dia tidak pernah bisa memarahimu." jawab Kaza membuat Erden terkekeh.
"Aku akan melihatnya."
Erden berdiri dan berjalan menuju kamar Teo yang ada di samping kamar Erden dan Kaza.
Ceklek!
Ini adalah kebiasaan mereka. Jadi jangan heran kalau tak mendengar ketukan pintu di rumah itu.
"Hey! Bocah. Aku tau kau sudah bangun." ucap Erden berdiri di depan ranjang Teo.
"Vampire bodoh ini kenapa harus ke sini." batin Teo.
"Ck. Jangan mendumal bocah. Aku mendengarnya." balas Erden membuat Teo berdecak.
Menurunkan selimut yang membungkus tubuhnya, Teo menatap datar pada Erden.
"Ada apa?" tanyanya.
"Cepat turun dan sarapan." perintah Erden.
"Aku tidak lapar. Pergilah." usirnya membuat gestur mengusir.
"Turun atau aku bakar barang-barang kesayanganmu itu?" ancam Erden dengan matanya melirik sebuah ruangan di sana.
"Ck. Kau benar-benar menyebalkan!" ketus Teo.
Erden mengedikkan bahunya acuh lalu beranjak dari sana.
"Itu nama tengahku." jawabnya santai.
Erden tertawa geli melihatnya. Apalagi mendengar Teo mengumpat-inya di dalam hati.
"Aku mendengarnya!" teriak Erden.
•
•
•
•
Di sebuah toko buku yang lumayan besar yang terdapat di pusat kota, di sinilah Erden dan Steven berada.
Steven sendiri sudah memilih beberapa buku yang ingin dia beli. Apa lagi kalau bukan untuk tugas kuliahnya.
Sedangkan Erden hanya mengikuti tanpa berniat membelinya, untuk apa? Dia sudah cukup pintar.
Baiklah, itu sombong.
"Kau tidak ingin membelinya?" tanya Steven sekali lagi.
Erden tetap menggeleng dan mengatakan aku tidak membutuhkannya. Jawaban yang cukup membuat Steven menyesal karena menanyakannya.
"Terserah." ketus Steven.
Mereka terus berkeliling. Katanya Steven masih mencari satu buku dan belum menemukannya.
Ada banyak buku di sana, tentu saja, itu toko buku. Mulai dari buku yang paling kecil sampai paling besar, buku untuk anak yang baru belajar membaca sampai untuk yang sedang mencari gelar sarjana, semuanya ada di sana.
Tapi ada satu yang menarik perhatian Erden.
'The story of clan vampire'
Itu yang Erden baca di sampul bukunya.
Buku yang cukup menarik menurutnya.
"Kenapa ada buku semacam ini?" gumam Erden bertanya.
"Kau ingin membelinya?" tanya Steven tiba-tiba mengagetkan Erden.
"Apakah ini kisah nyata?" tanya Erden dan Steven tergelak mendengarnya.
"Tentu tidak. Ada banyak buku ber genre fantasy di sini. Dan ini salah satunya." Steven menunjuk buku yang Erden pegang.
"Kau tidak percaya dengan keberadaan vampire?" tanya Erden tiba-tiba.
Steven terdiam sejenak dan mengedikkan bahunya.
"Aku memiliki buku ini. Awalnya aku ingin tidak percaya. Tapi cerita di dalamnya terasa begitu nyata. Aku rasa penulisnya sangat pintar dalam membuat alurnya." ucap Steven.
Erden segera mencari nama sang penulis di buku tersebut. Dan ada sebuah nama yang setidaknya dapat dia perkirakan sebagai penulisnya.
Joshua.P
•
•
•
•