Sepanjang perjalanan pulang, Erden terus memikirkan tentang penulis buku yang tadi dia temukan. Dia seperti mengenalnya tapi dia tidak ingat.
Joshua, nama yang cukup familiar rasanya. Tapi di mana dan kapan dia mengenalnya? Kenapa dia tidak bisa mengingatnya?
Di kursi sebelah kemudi, ada buku tersebut. Steven yang meminjamkannya. Benar, itu buku yang sama dengan yang tadi ada di toko buku. Erden penasaran sungguh. Buku ini dapat membuat Steven sedikit percaya dengan keberadaan bangsanya, apakah isinya begitu nyata? Erden akan melihatnya nanti.
"Aku harus mencari informasi tentang pengarang buku ini." gumamnya terus melangkah ke dalam rumah.
Saat masuk, dia tidak melihat siapa-siapa di sana. Namun langkah kakinya terus berjalan menuju ruang kerja Kaza.
Mereka di sana.
Keuntungan baginya mempunyai kepekaan yang tinggi.
Tanpa mengetuk, Erden langsung masuk dan duduk di samping Teo yang sedang bermain game di sofa.
"Aku pikir kau akan pergi lama." ucap hacker muda itu tanpa menatap Erden.
"Apa yang kau bawa?" Kaza datang setelah mencuci tangannya. Entah apa yang ilmuan itu lakukan.
"Aku menemukan ini di toko buku." ucapnya mengangkat buku tersebut.
Teo akhirnya mengalihkan atensi pada Erden. Mempause game di ponselnya.
"Ini tentang bangsamu?" Teo bertanya, hanya pertanyaan semu yang tidak memerlukan sebuah jawaban.
"Tunggu, apa kau berfikir ini adalah cerita asli? Maksudku, semua penulis bisa mengarang cerita seperti ini." ucap Kaza.
Erden menggeleng. Bukan itu masalahnya, tapi penulis itu yang membuatnya penasaran.
"Penulisnya, aku merasa aku mengenalnya." ucap Erden.
Teo yang sedang memangku buku tersebut langsung saja melihat sampulnya, mencari nama pengarang buku tersebut.
Buku ini cukup besar omong-omong.
"Joshua.P?" gumam Teo pelan.
"Kau mau aku mencari informasi tentangnya?" tanya Teo kemudian dan Erden mengangguk mantap.
"Yang benar saja. Kalian tidak lihat kalau buku itu sudah lama sekali." ucap Kaza.
Di sana memang tertera tahun di keluarkannya buku itu.
"Kaza benar. Ini sudah satu abad lamanya. Dan juga__buku ini tergolong masih sangat bagus untuk golongan buku yang sudah berabad-abad lamanya." timpal Teo menyetujui sedikit mengomentari
"Meski begitu aku yakin pasti ada sedikit informasi tentangnya." ucap Erden bersikeras.
Mengambil buku itu dan berdiri.
"Aku akan membacanya, kau cari informasi tentangnya. Aku akan kembali tiga jam lagi." ucap Erden langsung pergi dari ruangan Kaza.
Kaza dan Teo hanya menghela nafas lelah. Sudah di bilang kalau Erden ada orang yang keras kepala. Keputusannya adalah sesuatu yang mutlak, bagaimanapun caranya.
"Turuti saja. Walaupun benar tidak ada, setidaknya dia sudah merasa puas." ucap Kaza menepuk pelan bahu Teo.
Teo mendengus.
"Memangnya apa lagi yang harus aku lakukan selain menurutinya." ketusnya lalu pergi dari sana.
•
•
•
•
Erden benar-benar membacanya. Dan dia dapat mengatakan bahwa buku ini 100% murni adalah cerita asli dari bangsanya. Rasa penasarannya semakin menjadi akibatnya. Kenapa pengarang ini tau semua tentang bangsanya, tentang clan bangsanya, semua cerita yang dia tau di buku ini semuanya benar. Bagaimana bisa?
Clan Pilohana.
Itu adalah nama clan-nya. Dan itu juga tertulis di sana.
Erden memperkirakan kalau buku ini di tulis saat dia masih kecil. Ada beberapa yang dia tidak tau dan ada beberapa yang dia tau bahkan ada cerita tentang keluarganya juga di sana.
Cerita di buku ini benar-benar real, seperti di tulis setelah sesaat peristiwa di masa itu terjadi. Semuanya ada di sana.
"Keturunan vampire murni?" bingung Erden membaca satu judul di sana.
Jika Erden tebak, buku ini seperti beberapa cacatan pribadi yang di gabungkan menjadi satu buku. Semua hal yang ada di sana di bahas secara random, tidak berurutan. Seperti ucapannya tadi, pengarang buku ini seperti menulisnya setelah sesaat peristiwa di masa itu terjadi.
"Clan Pilohana satu-satunya Clan yang memiliki keturunan vampire murni. Keturunan terakhir bangsa vampire yang terlahir di masa itu."
Itulah yang Erden baca di sana. Itu Clan-nya, dan keturunan terakhir, berarti__dia?
"Kenapa aku tidak pernah mengetahui tentang hal ini?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri.
"Ramalan itu akan terjadi sebentar lagi. Tapi aku tidak akan membiarkannya celaka. Aku sudah berjanji menjaganya."
Kalimat asing lainnya yang Erden baca. Dan Erden semakin percaya kalau ini adalah catatan pribadi sang penulis.
"Ramalan apa yang dia maksud? Dan siapa yang menjagaku?"
Erden berusaha mengingat kejadian masalalunya. Mencoba mencari tau apa maksud kata-kata ini. Namun nihil, dia tidak bisa mengingat apapun tentang ini. Tentang vampire murni dan ramalan, dia sama sekali tidak mengetahuinya.
Sejenak, dia jadi mengaitkan cerita di buku ini dengan kejadian beberapa hari yang lalu.
"Apa vampire itu yang di maksud buku ini? Tapi siapa? Kenapa dia tidak menampakkan dirinya padaku?" monolog Erden.
Tidak ada yang bisa dia tanyai di sini. Hanya dia yang benar-benar tau tentang bangsanya, tak ada yang lain, kecuali mungkin satu vampire yang dulu frekuensinya sempat Erden tangkap.
"Ya benar. Vampire itu pasti tau sesuatu tentang ini." ucapnya mengangguk kecil.
"Tapi aku tidak tau apa-apa tentangnya. Bagaimana bisa aku menanyakan hal ini padanya?"
Erden menutup buku itu dan mengusak rambutnya frustasi. Di saat dia hampir mencapai tujuan hidupnya kenapa masalah ini tiba-tiba muncul? Kenapa takdir begitu suka mempermainkannya?
•
•
•
•
"Kau sudah membacanya?" tanya Steven pada Erden.
Mereka sedang berjalan menuju kelas saat ini.
"Boleh aku meminjamnya lebih lama? Aku akan mengembalikannya nanti." ucap Erden tanpa menatap Steven.
Kening Steven mengerut mendengarnya, sebelum kedua bola matanya membulat sempurna.
"Jangan katakan kalau kau percaya dengan isinya?" tunjuk Steven berhenti di depannya membuat Erden ikut berhenti.
"Tidak. Ceritanya menarik menurutku. Kenapa?" giliran Erden yang bertanya.
Steven menggeleng pelan.
"Aku pikir kau percaya. Ini adalah era modren, hal-hal seperti itu mana ada di dunia nyata." ucapnya kembali melangkah.
"Tapi kau menatakan kau hampir mempercayainya."
"Ya memang. Tapi bukan berarti aku percaya. Hanya saja ada beberapa bagian di buku itu bisa di mengerti dengan ilmu sains." jelas Steven dan Erden mengangguk setuju.
Dia juga tau itu. Karena semuanya memang benar dan memang benar bersangkutan dengan ilmu sains.
Drrtt! Drrtt!
Steven berhenti sejenak. Ponselnya bergetar.
Namun keningnya kemudian mengernyit bingung dengan nama yang tertera di layar ponselnya.
"Profesor Martin?" ucapnya bingung menampakkan layar ponsel pada Erden.
Steven lalu mengangkatnya, tidak ingin membuat sang profesor kesal karena menunggu lama.
"Siang, Prof." ucap Steven.
"Siang, Steven. Aku mengganggumu?"
"Ah, tidak. Saya sedang santai sekarang." jawan Steven.
"Kau tidak kuliah?" oke Steven terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Eh, ti-tidak, bukan seperti itu, Prof__"
Kekehan di seberang sana terdengar.
"Saya mengerti. Saya hanya bercanda." ucapnya.
Bergurau dengan seorang dosen menyangkut masalah kuliah adalah hal yang bisa membuat heart attack dadakan. Bisa-bisanya dosen satu ini melakukannya pada Steven.
"Kau bersama Erden saat ini?" tanya Profesor Martin membuat Steven menoleh pada Erden yang masih setia berdiri di sampingnya.
"Iya, Erden di sini, Prof. Anda ingin berbicara dengannya?" tanya Seteven dan mendapat jawaban iya di seberang sana.
"Kau tidak memiliki nomor telepon Profesor Martin?" tanya Steven pelan menjauhkan ponselnya.
"Aku bahkan tidak memiliki nomor ponselmu." jawab Erden membuat Steven berdecak kesal.
Benar juga. Steven lupa meminta yang satu itu pada teman es-nya ini.
"Ini, bicaralah. Profesor ingin berbicara padamu." ucap Steven lagi memberikan ponselnya.
Erden membuat gestur bertanya dan Steven hanya mengangkat bahunya acuh tanda tidak tau.
"Halo." sapa Erden.
"Halo, Erden. Kau sedang sibuk sekarang?" tanya sang profesor to the point.
Kening Erden semakin mengerut.
"Sebentar lagi saya ada kelas, Prof." jawabnya jujur.
Dia bukan Steven yang akan mengorbankan dirinya demi di nilai baik oleh sang profesor.
"Ah begitu? Tapi apa kau bisa ke rumah sakit sekarang? Aku memerlukan bantuanmu." ucapnya lagi.
Wajah Erden kembali datar. Kalau memaksa seperti ini untuk apa basa-basi bertanya dia sedang sibuk atau tidak. Buang-buang waktu saja.
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Erden lagi.
"Bisa kau ke sini? Saya tidak enak menyebutkannya lewat telepon." ucap sang profesor lagi.
Erden berdecak pelan. Malas sekali sebenarnya pergi ke sana. Apalagi menemui sang musuh, melihat wajahnya saja membuat Erden ingin segera membunuhnya.
"Baiklah, sebentar lagi saya akan sampai di sana." ucap Erden akhirnya.
Profesor Martin mengucapkan terimakasih dan menutup teleponnya setelah Erden menjawabnya.
Erden memberikan ponsel itu kembali pada Steven.
"Apa yang Profesor Martin katakan padamu?" tanya Steven penasaran.
Dia mendengar minta tolong, dan segera ke sana, Erden ingin ke mana?
"Aku akan ke rumah sakit. Aku akan kembali nanti." ucap Erden dan langsung pergi meninggalkan Steven yang masih penasaran.
"Ck. Anak itu. Biarlah, aku akan menunggunya di kelas saja." gumamnya kembali melanjutkan perjalanan
•
•
•
•
Sepertinya keputusan Erden kali ini salah. Seketika dia menyesal datang menuruti permintaan sang profesor.
Seketika Erden menyalahkan kepekaannya yang tidak bisa menembus jarak yang terlalu jauh.
"Kau bisa mengantarnya 'kan?" tanya Profesor Martin sekali lagi.
"Saya tidak bisa mengantarnya, dan kedua sahabatnya juga sedang tidak bisa ke sini. Saya tidak bisa tenang kalau Leora menaiki kendaraan umum." lanjutnya.
Erden menatap Leora yang sedari tadi hanya diam duduk di sofa sana. Sama seperti dirinya, Leora tentu juga tidak ingin pergi bersama dengannya. Ingat, mereka saling tidak menyukai.
"Dia tidak bisa mengendarai kendaraan?" tanya Erden lagi dan profesor menggeleng sebagai jawaban.
"Jika kau tidak mau membantu katakan saja tidak. Aku tidak berharap kau mau mengantarku." ketus Leora menatap tak suka pada Erden.
Erden mendengus mendengarnya. Gadis ini memang tidak tau sopan santun.
Erden melirik jam di pergelangan tangannya. Sebentar lagi kelas akan di mulai. Maka tidak ada pilihan lain baginya selain mengiyakan.
"Saya akan mengantarnya." ucap Erden membuat Profesor Martin tersenyum senang mendengarnya.
Lain dengan Leora yang semakin menekuk wajahnya tidak suka. Tentu saja dia tidak setuju, tapi dia juga tidak ingin telat. Dia pemegang predikat mahasiswa teladan selama ini.
"Kami pergi dulu." ucap Erden lagi melangkah keluar.
"Bisakah nanti kau juga mengantarnya kembali ke sini? Aku rasa dia lebih aman jika bersamamu." ucap Profesor Martin membuat langkah Erden terhenti.
Sang profesor tidak tau saja seberapa bahayanya seorang Erden.
"Tentu." jawabnya tanpa berbalik dan kembali melangkah.
Dia benar-benar tidak ingin berlama-lama di sini.
"Ayah, kau membuatku harus terjebak bersamanya." kesal Leora memprotes.
"Sudahlah. Dari pada kau terlambat. Dia anak yang baik, percaya pada Ayah, kau aman bersamanya." ucap sang ayah padanya.
Menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya mengangguk.
"Aku pergi dulu. Ayah jaga diri, jangan kemanapun, ingat kondisimu." ucap Leora memperingati dan Profesor Martin hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Aku akan segera kembali. Aku menyayangimu." ucap Leora memeluk profesor.
"Ayah juga menyayangimu. Pergilah, hati-hati." balas profesor setelah mencium kening anaknya.
Leora hanya mengangguk dan segera pergi dari sana menyusul Erden yang sudah lebih dulu pergi.
"Informasi yang aku dapat hanya dia adalah seorang ilmuan. Namanya ada di daftar ilmuan yang sama dengan ayah dan ibumu."
Itu pesan yang Erden dapat dari Teo.
"Ilmuan? Siapa dia?" gumam Erden masih menatap layar ponselnya.
•
•
•
•