Gadis Kasar

1802 Kata
Erden melihat jam di pergelangan tangannya, kenapa gadis itu lama sekali, pikirnya. Erden menengok ke luar jendela mobil, ada Leora di depan sana yang terlihat sedang mencari-cari sesuatu. "Ah, ya. Dia tidak tau mobilku yang mana." gumam Erden pelan. Dasar Erden! Keluar dari mobil dan hanya berdiri di sana tanpa ingin berteriak memanggil Leora. Hingga beberapa menit kemudian Leora akhirnya melihatnya dan berjalan ke arahnya. "Kau! Kenapa meninggalkanku?" marah Leora menunjuk pemuda itu. Tak ingin menjawab, Erden langsung masuk membuat Leora semakin kesal dengan tingkahnya. Leora segera masuk ke dalam memasang wajah kesal dan tidak mengeluarkan satu katapun untuk Erden. Begitupun Erden, dia hanya ingin cepat sampai dan gadis ini cepat pergi darinya. Ini adalah pertama dan terakhir. Erden tidak mau lagi menjadi supir pribadi gadis kasar yang tidak tau sopan santun ini. "Aku bisa pulang sendiri nanti." ucap Leora dan langsung turun dari sana setelah Erden menghentikan mobilnya di parkiran kampus. Tanpa mengucapkan terimakasih? Namun tampaknya itu akan sulit. Erden dengan cepat mengunci pintu mobilnya. "Erden! Buka pintunya!" ketus Leora. Erden menoleh dan hanya menatapnya datar. Sesekali gadis kasar ini harus di beri pelajaran bukan? "Buka saja jika kau bisa." jawabnya memilih menyandarkan kepala di sandaran kursi. Tentu saja itu tidak mungkin! "Erden, jika kau menganggap bisa bermain-main denganku maka kau salah. Cepat buka pintu ini! Aku akan terlambat karenamu!" Leora meninggikan suaranya. "Kau pikir aku tidak akan terlambat?" Erden masih santai sambil memejamkan matanya. Terdengar decakan dan erangan frustasi dari Leora. Memilih ikut bersama Erden ternyata adalah pilihan yang salah. "Ini bukan waktunya untuk bercanda Erden. Ayolah, kau kekanakan kau tau itu?" Kali ini Erden hanya diam tidak ingin menanggapi. Biar saja gadis itu mengoceh hingga lelah sendiri. "Erden!" teriak Leora marah. Erden masih bergeming. Ingin rasanya Leora membenturkan kepala Erden berkali-kali pada setir mobil. Tapi dia tidak mau masuk penjara karena kasus pembunuhan. "Katakan apa maumu sekarang." ucap Leora pasrah. Erden membuka matanya dan menoleh menemukan Leora yang menghadap sepenuhnya padanya. "Nyawa ayahmu." inginnya Erden menjawab itu, namun terlalu frontal untuk saat ini. "Simple. Cukup menjadi gadis baik." ucapnya dan Leora ternganga mendengarnya. Apakah di mata Erden, Leora adalah seorang kriminal? Permintaan macam apa itu? "Are you kidding me? Kau pernah melihatku berbuat jahat?" tanya Leora tak percaya. Erden mengedikkan bahunya acuh. "Kau terlalu kasar untuk ukuran seorang wanita. Apa kau tidak memperhatikan bahasamu itu?" "Hey! Apa urusannya denganmu?!" ucap Leora lantang. "Lihat, kau kasar." ucap Erden membuat Leora berkali-kali menahan diri agar tidak terlalu emosi. Erden menahannya di dalam mobil hanya karena ini? Yang benar saja! "Lalu kau ingin aku seperti apa?" tanya Leora frustasi. "Seperti kataku tadi." "Oke. Kau puas sekarang?" Leora hanya ingin cepat pergi dari sini. Ingin menjawab namun getaran di ponselnya lebih dulu mengalihkan perhatiannya. From Teo "Kau di mana? Kau tidak ada di kelas. Jangan berbuat macam-macam Erden, atau aku akan mengadukan ini pada Kaza!" Terdengar seperti ancaman. Erden berdecak. Memangnya apa pengaruhnya jika bocah itu mengadukannya pada Kaza? To Teo "Aku baru akan ke kelas." Begitu yang Erden ketikkan sebagai balasannya. Menyimpan ponsel lalu kembali menatap Leora. "Tidak sebelum kau benar-benar melakukannya." ucap Erden kemudian keluar dari dalam mobil. Leora berdecak kesal dan kakinya menendang-nendang udara menyalurkan emosinya. "Dia manusia paling aneh dan menyebalkan yang pernah aku temui." ucap Leora menggerutu. Blam! Pintu mobil di tutup dengan keras membuat Erden yang berada beberapa langkah di depan sana menoleh. Leora hanya terus berjalan tanpa memperdulikan Erden. Persetan dengan menjadi gadis baik, dia sedang kesal bercampur marah sekarang. "Dasar gadis kasar." gumam Erden kemudian melanjutkan langkahnya menuju kelas. Biar Erden tebak, Steven pasti sedang uring-uringan menunggunya sambil menggerutu. "Aku harus mempersiapkan telingaku sekarang." gumam Erden pelan. • • • • "Aku pikir kau akan membolos tadi." ucap Steven meminum minuman miliknya. Yang di bicarakan hanya diam tak merubah posisi nyamannya yang sedang berbaring di gazebo taman kampus. Erden baru tau ada tempat seperti ini di kampus. Yaa, salahkan dia yang tidak mau meluangkan waktu untuk melihat-lihat apa yang ada di universitas ini. "Aku merasa kalau Profesor Martin tidak hanya menyukai Erden dalam hal pelajaran. Mungkin Profesor ingin kau menjadi kekasih putrinya." ucap Kris menggodanya. Erden berdecak mendengarnya. Jika itu terjadi maka itu adalah malapetaka baginya. "Jangan sampai itu terjadi." ucap Erden pelan. "Memangnya kenapa? Dia itu cantik, pintar, dan ayahnya seperti sudah memberi restu padamu. Kalau itu aku, pasti sudah kujadikan pacar." tutur Alta di angguki yang lainnya kecuali Erden tentunya. "Itu kau bukan aku." jawab Erden masih memejamkan matanya. Steven berdecak mendengarnya. "Sudahlah, percuma berbicara padanya. Dia adalah laki-laki yang monoton. Dia tidak akan mengerti masalah berat seperti itu." ucapnya mencibir. "Kau urusi saja hidupmu itu. Kaupun masih sendiri. Tidak tau diri." balas Erden pedas. Steven terdiam sedangkan teman-temannya sudah tertawa mendengar perkataan Erden. Ucapan Erden cukup pedas jika membalas orang lain. Seakan teringat sesuatu, Erden duduk dan menatap Steven. "Aku ingin ke toko buku lagi besok. Temani aku." ucap Erden lebih mengarah pada perintah. "Siapa kau berani memberi perintah padaku?" ucap Steven sinis. Dia masih kesal omong-omong. Erden berdecak dan mengambil tasnya. "Aku tidak memberi perintah. Tapi ini paksaan. Kau tidak mau, tinggal kuseret." ucapnya membuat Steven ternganga. Apakah ini seperti pembalasan dendam karena dia sering memaksa Erden untuk pergi dengannya? "Aku pergi." pamit Erden dan mereka hanya mengangguk, kecuali Steven yang masih loading. "Hati-hati." ucap Zivan dan Erden hanya mengangguk. Seakan baru tersadar Steven lantas berteriak padanya. "Itu bukan paksaan tapi penculikan!" teriaknya membuat atensi beberapa orang teralih padanya. "I don't care!" jawab Erden agak lantang membuat Steven semakin berdecak kesal. • • • • Seumur hidupnya, ini adalah hal paling langka yang Erden lakukan. Bisa di katakan kalau ini adalah pertama kalinya Erden melakukan ini. Menanti seorang gadis. Entahlah dia hanya mengikuti langkah kakinya, dan di sini dia sekarang. Di fakultas kesenian, di luar kelas Leora. Apa yang dia lakukan? Tentu saja menunggu gadis itu keluar. Hanya beberapa menit lagi. Bagaimana dia tau? Apalagi kalau bukan karena instingnya. Meski dia harus lebih dulu bertanya pada orang lain mengenai jurusan yang Leora ambil. Kepekaannya tidak sampai benar-benar sehebat itu. "Ck. Kenapa juga aku melakukan ini?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri. Sudah di bilang, dia hanya mengikuti langkah kakinya yang di perintah instingnya. Lagipula dia merasa ada tanggung jawab untuk memastikan gadis ini aman sampai rumah sakit. Dan juga__ini bisa di manfaatkan bukan? "Astaga!" pekik seseorang di ambang pintu. Bagaimana tidak terkejut, saat dia keluar dan menemukan sang idola kampus sedang berdiri bersandar di dinding samping pintu. Erden benar-benar tampan di lihat dari dekat. Erden hanya menoleh dan menatap gadis itu dengan tatapan datar. Tidak sadar kalau si gadis sedang menahan nafas saat melihatnya secara langsung. "Hey, bernafaslah." Suara bariton itu menyapa indra pendengaran si gadis, membuatnya semakin melayang rasanya. "Ada apa? Oh my god!!" lagi gadis kedua berteriak dengan ekspresi terkejut. Erden berdecak mendengarnya. Berapa gadis lagi di dalam sana yang akan ikut berteriak? Lama-lama telinganya bisa tuli mendengarnya. "Ka-kau be-be-nar Erden?" tanya gadis yang baru datang. Erden hanya mengangguk sebagai jawaban. Kini dia sudah berdiri menatap sepenuhnya pada kedua gadis itu. "Apa kelasnya sudah selesai?" tanya Erden yang entah mengapa membuat pipi kedua gadis itu bersemu merah. Erden sama sekali bukan pakar dalam hal seperti ini. Tiba-tiba saja dia membutuhkan Steven di sini. "Hey, kau meninggalkan bukumu." seorang gadis lagi keluar memberikan sebuah buku pada salah satu dari mereka. "O__" gadis itu langsung menutup mulutnya dengan mata melotot menatap Erden. Untunglah gadis ini tidak ikut berteriak, pikir Erden. Bruk! Akhirnya mata Erden sedikit melotot melihat gadis itu jatuh ke lantai. Dia pingsan. Baiklah, ini bahkan lebih parah dari berteriak. • • • • "Gara-gara kau, kelasku dan satu universitas ini menjadi heboh. Apa kau tidak dengar kalau aku mengatakan tidak perlu mengantarku pulang? Kau sengaja membuat keributan di sana?" cecar Leora terus berjalan tanpa menoleh pada Erden yang berjalan di belakangnya. Erden hanya mendengarkan dengan wajah datarnya, kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Santai sekali seperti tidak terjadi apa-apa. Entah dia sudah lupa dengan kejadian barusan, atau dia hanya berusaha melupakannya. Itu cukup memalukan omong-omong. Kehadirannya membuat seorang gadis pingsan, menurutnya itu berita yang memalukan. "Kau berisik sekali." komentar Erden setelah sampai di depan mobilnya. "Bagaimana tidak. Kau bahkan langsung menarik tanganku tadi. Entah gosip seperti apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dan itu semua gara-gara kau!" ketusnya menunjuk Erden yang masih pasang wajah menyebalkan. Wajah datar. "Kenapa kau harus memikirkannya?" lagi pertanyaan Erden membuat Leora semakin gemas ingin memukul kepala Erden. "Sudahlah. Yang jelas sekarang kau pergilah, aku bisa pulang sendiri." ucap Leora berjalan menjauh dari sana. Erden paling tidak suka hal-hal yang berbelit. Menarik tangan Leora dan langsung mendorong Leora masuk ke dalam mobilnya. "Selain kasar, dia gadis yang sangat berisik." gumam Erden berjalan memutari mobilnya. Semua kejadian itu terekam sempurna di kamera mahasiswa yang melihatnya. Tak terkecuali Steven beserta teman-temannya dan Vera beserta Marchel. "Apa mereka sedang pacaran?" tanya Marchel dan Vera menggeleng. "Leora bahkan tidak menyukai Erden. Itu yang dia katakan padaku." jawab Vera. "Hati orang siapa yang tau." ucap Marchel lagi. Sedangkan di dalam mobil, Leora kembali mengoceh panjang lebar pada Erden yang hanya diam saja seolah Leora tidak ada di sana. Ingat, dia sudah terlatih dengan ocehan Teo dan Steven, jadi mungkin Erden tidak akan terganggu begitu cepat. Dan Leora, lama-lama dia juga lelah berbicara panjang lebar tapi Erden sama sekali tidak menanggapinya. Sama sekali tidak. Dan sebuah notifikasi di ponselnya mengalihkan perhatiannya. Itu dari ayahnya. Leora di buat menggerutu dalam hati. Bukannya tidak mau mengikuti kemauan sang ayah, hanya saja dia terlalu gengsi mengatakannya pada Erden. Pada akhirnya Leora hanya memilih diam. Dia bisa beralasan lupa pada ayahnya nanti. "Kenapa berhenti?" tanya Leora merasakan kendaraan Erden tidak lagi melaju. "Turunlah__" "Sekarang kau mengusirku? Wah, kau gentle sekali." potong Leora cepat. Inilah yang Erden tidak suka dari para gadis. "Bisa kau dengarkan dulu?" Leora hanya diam setelahnya. "Belikan apa yang ayahmu mau. Aku menunggu di sini." ucap Erden menunjuk minimarket di seberang jalan dengan dagunya. Leora menoleh, ya ada minimarket di sana. Tapi, kenapa Erden bisa tau? "Darimana kau tau?" tanya Leora menatapnya penuh curiga. "Aku melihatnya di ponselmu." jawab Erden asal. "Kau! Dasar tidak sopan!" teriak Leora memukul Erden dengan tasnya. "Hey! Hentikan! Setidaknya aku tidak membuatmu berbohong. Cepatlah pergi atau aku akan menyeretmu lagi!" balas Erden dan Leora menghentikan aksinya. "Cih. Dasar kau tidak sopan!" ucap Leora menatapnya tajam. "Dasar gadis kasar!" Blam! "Kau!__" Erden hanya dapat menahan kata-katanya agar tidak terucap lagi. Percuma, itu akan membuatnya semakin emosi pada gadis kurang ajar itu. "Seharusnya aku berpura-pura tidak mendengarnya tadi. Sial sekali hidupku bertemu gadis ganas sepertinya." gerutu Erden menatap Leora yang baru saja masuk ke dalam minimarket. Dan tebak apa yang terjadi? Hampir setengah jam gadis itu belum juga kembali. Apa se-banyak itu yang ayahnya pinta? Kenapa gadis ini sangat merepotkan. "Erden! Tolong aku!" Erden mendengarnya. Bunyinya berasal dari minimarket. "Itu Leora." gumamnya. • • • •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN