"Dia memang pria yang terlahir tidak sopan. Bisa-bisanya dia dengan santai melihat ponselku. Apa dia tidak tau hal-hal yang bersifat privasi? Hah, dia memang menyebalkan." gerutu Leora mengambil beberapa barang yang ayahnya pesan.
Menatap ke seberang sana, mobil Erden masih terlihat.
Tak lama kemudian senyum jahil Leora muncul.
"Biarkan saja dia menunggu lama di sana. Kalau perlu dia pergi saja. Sesekali dia harus di buat kesal." ucapnya mengambil satu cup salad buah di dalam kulkas dan pergi menuju tempat duduk yang di sediakan di sudut minimarket.
Cukup lama Leora duduk di sana sambil bermain ponsel. Sekali lagi menoleh ke seberang sana, mobil Erden masih di sana.
"Ck. Apa dia benar-benar akan menungguku di sana?" ucap Leora kesal.
Berencana lebih lama di dalam sambil menunggu Erden pergi dari sana.
Saat ingin menyuap buah ke dalam mulutnya, sebuah tangan menghentikannya membuat tangannya menggantung di udara.
Ingin protes, kesal tentunya. Leora dengan cepat menoleh pada sang pelaku.
Namun sedetik kemudian mata Leora membola, tubuhnya tiba-tiba melemas dan ketakutan datang membuatnya seolah membeku tidak melakukan perlawanan apapun.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu?" tanya pemuda itu menampilkan wajah menakutkan bagi Leora.
"Le-lepas." ucap Leora terbata.
"Setelah kau membuatku menjadi tahanan? Tidak bisa. Bukankah aku sudah berjanji membalasmu?" ucapnya lagi semakin kuat mencekram pergelangan tangan Leora.
Leora meringis dan kali ini mulai memberontak.
"Lepaskan aku!" ucapnya cukup lantang.
Pemuda itu dengan cepat menodongkan pisau lipat di leher Leora membuat Leora menahan nafas takut.
"Berteriak sekali lagi maka kau akan tiada." ucap pemuda itu berbisik.
Air mata Leora menetes. Dia sungguh takut sekarang. Dia tidak punya kekuatan untuk melawan pemuda ini, apalagi pisau lipat itu.
"Ikut aku dan jangan macam-macam." ancamnya menyeret Leora menuju pintu belakang minimarket itu.
Nasib buruk bagi Leora karena pengunjung memang tidak ramai. Dan juga, sejak kapan cctv di sekitarnya mati?
Menoleh ke belakang, dia masih dapat melihat mobil Erden di sana. Hanya Erden satu-satunya harapan Leora saat ini.
"Erden! Tolong aku!" teriak Leora dalam hati.
Konyol memang. Leora berharap kalau Erden dapat mendengarnya dan segera menyelamatkannya.
Pemuda itu membawanya ke belakang minimarket. Tidak ada seorangpun di sana kecuali mereka berdua. Leora semakin di buat takut sekarang.
Dia tidak ingin pasrah, tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Hanya air matanya yang semakin deras menetes dari kedua matanya.
"Sstt, jangan menangis gadis manis. Dulu kau begitu berani bersaksi di pengadilan. Ke mana perginya keberanianmu itu?" ucap pemuda itu berbisik pelan.
Pisau lipat itu dimainkan di pipi Leora, tidak sampai menggores pipi mulus itu memang, tapi tetap saja Leora sangat takut. Pria yang bersamanya ini sangat nekat.
"Kau tau? Di dalam penjara, yang aku pikirkan hanya kau. Memikirkan bagaimana cara paling sadis untuk menghabisimu." ucap pemuda itu lagi dan tanggapan Leora hanya tangisan.
Tubuhnya bergetar karena takut.
"Erden! Aku takut, tolong aku!" lagi, Leora hanya bisa berteriak dalam hatinya.
Dia masih belum menyerah memanggil Erden, walaupun terlihat tidak ada gunanya.
"Perlu kuberi pisau yang lebih besar?" ucap seseorang mengagetkan mereka berdua.
Leora langsung membuka matanya dan menoleh. Erden sedang berdiri di ambang pintu.
Leora bisa mengatakan kalau ini adalah pertama kalinya dia menyukai kehadiran Erden. Dapat bernafas lega dan tersenyum lega, dia sangat bersyukur Erden mendengarnya dan datang ke sini. Leora tidak peduli bagaimana caranya Erden bisa ada di sini, yang dia tau, Erden ke sini datang untuk menyelamatkannya.
"Siapa kau?" tanya pemuda itu.
Dia merasa terancam tentunya. Ada saksi mata dan belum tentu dia bisa menghabisinya juga.
Erden terkekeh, bergerak maju selangkah demi selangkah mendekati mereka berdua.
"Kau masih sempat menanyakan siapa aku?" Erden balik bertanya padanya.
Pemuda itu mundur dengan pisau itu kembali menempel di leher Leora, mengancam.
"Jangan berani mendekat atau dia akan kubunuh." ucapnya mengancam.
Leora kembali memejamkan matanya menggeleng pelan.
"Jika kau ingin selamat, tutup saja matamu. Kau mengerti?"
Leora dengan cepat mengangguk dan semakin rapat menutup matanya.
Erden kembali menatap pemuda itu, bola matanya berubah menjadi merah darah. Erden kemudian mengangkat kedua tangannya menampakkan kuku-kuku tajamnya yang runcing.
"Kau bisa pilih yang mana." ucapnya menatap kedua tangannya bergantian.
Bingung tentunya, bercampur takut juga. Siapa pria itu sebenarnya? Apa ini adalah sebuah ilusi? Pikirnya.
"Ah, kau terlalu lama."
Entah bagaimana tepatnya, dan entah kapan terjadinya, Erden sudah dapat mengambil alih Leora dari tangan pemuda itu.
"Arrgghh!!" pekik pemuda itu merasakan sakit dan perih di punggungnya.
Leora sontak membuka matanya mendengar teriakan itu.
"Kubilang jangan membuka mata. Jadilah gadis baik kali ini." ucap Erden berbisik lantas Leora langsung menutup rapat matanya lagi.
Tak hanya mata, Leora bahkan berbalik badan dan memeluk erat Erden. Dia sudah merasa aman sekarang. Erden ada di dekatnya.
Erden sempat tertegun sejenak. Pelukan Leora begitu erat seakan tidak membiarkannya bernafas barang sedetik.
Erden kembali menatap pemuda yang masih kesakitan di sana, dan beralih pada kuku-kuku-nya yang terdapat darah.
"Jangan merasa kau yang paling hebat kalau lawanmu hanya seorang wanita. Kau mengerti itu?" ucap Erden yang pastinya tertuju pada pemuda itu.
Membawa Leora pergi dari sana dengan Leora yang masih memeluknya erat. Memejamkan matanya, kemudian semuanya kembali seperti semula. Erden tidak mau membuat geger satu kota dengan tindakannya. Cukup pemuda itu yang kebingungan nanti.
"Kau aman, tenanglah." ucap Erden di perjalanan.
Leora tidak mengucapkan apa-apa. Dirinya masih sangat takut dan terkejut dengan kejadian ini. Nyawanya hampir melayang, siapa yang tidak syok dengan itu?
•
•
•
•
Bugh!
Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba pukulan itu mendarat dengan sempurna di pipi kanan Erden. Bahkan dia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah tadi mengantar Leora ke rumah sakit.
"Apa-apaan kau__"
"Apa?!" balas Teo cepat dengan nada marah.
Erden tentu semakin bingung. Kenapa lagi dengan bocah hacker satu ini?
"Ada apa denganmu? Salahku apa kali ini?" tanya Erden membuat Teo berdecak.
Pukulan Teo memang tidak terasa di pipinya, tapi tetap saja dia terkejut dan butuh penjelasan. Lagipula, tumben sekali dia tidak membatin, biasanya anak satu itu akan menggerutu di dalam hati.
"Apa kau benar-benar bodoh? Kau sudah kehilangan akal? Untuk apa kau menunjukkan identitasmu tadi hah!" teriak Teo marah.
Jangan tanya lagi kenapa Teo bisa tau semua yang Erden lakukan.
"Aku tidak menunjukkannya, aku hanya menggertaknya. Lagi pula tidak ada yang melihatnya selain dia." jawab Erden berjalan masuk.
Teo berbalik dan menarik tangan Erden kuat membuat Erden kembali berbalik menghadapnya.
"Jadi kau pikir dia tidak akan menceritakan ini pada orang lain?"
"Kau pikir orang-orang akan percaya dengannya? Ayolah, dia tidak punya bukti apa-apa. Dan juga aku yakin dia tidak sampai berpikir kalau aku vampire."
Erden melepas cengkraman tangan Teo dan kembali berjalan menuju kamarnya.
"Kau meninggalkan jejak di punggungnya kau lupa?!" teriak Teo.
"Tapi aku tidak meninggalkan sidik jari di sana. Jadi tenanglah." ucap Erden tanpa berbalik menatap Teo.
"Ck. Terserah kau saja. Aku tidak mau ikut campur jika ada yang mengetahuinya nanti." ucapnya lagi dan Erden hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Kau tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku tau itu."
Selanjutnya Teo hanya menggerutu tak jelas. Kesal dengan apa yang Erden lakukan. Bagaimana kalau identitasnya terbongkar? Keselamatannya akan terancam tentunya. Walaupun dia makhluk yang abadi, tetap saja mempunyai kelemahan bukan?
Kaza yang menatap mereka dari kursi sofa sana hanya geleng-geleng kepala. Yang satu terlewat santai dan yang satu terlewat serius.
"Sudah kubilang kalau dia tidak akan se-ceroboh itu." ucap Kaza saat Teo duduk di sofa.
"Tetap saja itu berbahaya Kaza." balas Teo masih kesal.
"Daripada menjelaskannya pada Erden, lebih baik kau cari informasi tentang pemuda itu. Dia cukup berbahaya untuk orang-orang di sekitar Erden. Aku hanya tidak ingin Erden kembali berbuat seperti ini untuk melindungi mereka." ucap Kaza panjang lebar.
Teo menghembuskan nafas panjang. Kaza ada benarnya. Dari gelagatnya saja pria itu terlihat sangat berbahaya. Apalagi dengan gamblangnya dia mengatakan ingin membunuh Leora.
Teo segera berdiri dan pergi menuju ruangannya.
"Jadi dia yang namanya Leora? Aku pikir dia bisa membuat Erden jatuh cinta padanya." gumam Kaza mengingat-ingat wajah Leora.
•
•
•
•
"Ada informasi lain yang kau temui?" tanya Erden pada Teo.
Saat ini mereka bertiga sedang berada di ruangan Teo.
"Satu-satunya informasi hanya itu. Itu juga aku dapatkan dari catatan rumah sakit tempat ayah dan ibumu bekerja dulu." jawab Teo.
Layar di depan sana menampilkan daftar nama-nama ilmuan pada masa itu. Data pribadi rumah sakit, tentu dengan mudah Teo dapatkan.
Memangnya sejak kapan mereka mengenal kata ilegal?
"Ada banyak nama di sana. Mungkin ada yang kau kenal selain ayah dan ibumu." ucap Kaza yang juga ikut bergabung di sana.
"Tidak ada yang kukenal. Sudah kubilang, aku tidak pernah tau rekan orang tuaku." jawab Erden terlihat frustasi.
"Kau punya catatan pribadi ibumu bukan? Apa tidak ada nama Joshua di sana?" tanya Teo dan Erden menggeleng.
"Aku bahkan sudah membacanya beberapa kali." jawabnya.
Ketiganya menghembuskan nafas lelah. Orang yang bernama Joshua ini benar-benar membuat mereka pusing dan frustasi. Tidak ada sedikitpun informasi tentangnya. Mungkin satu-satunya nama Joshua.P yang Teo dapat hanya di data rumah sakit ini.
"Aku jadi mulai berfikir kalau dia juga vampire seperti dirimu." celetuk Kaza asal.
Namun berbeda dengan reaksi Erden yang tampak menangkap ucapan itu dengan serius.
"Aku baru menyadarinya." gumam Erden lalu pergi dari sana.
Teo menatap Kaza datar.
"Kau hanya menambah masalah baru Kaza." ucapnya.
"Aku hanya asal bicara. Mana mungkin aku tau kalau dia menanggapinya serius." jawab Kaza membela diri.
Teo berdecak kesal.
Tak lama Erden kembali, membawa sebuah buku di tangannya yang mereka tau itu adalah buku milik kakeknya.
"Untuk apa kau membawa ini?" tanya Teo.
"Di halaman terakhir buku ini ada beberapa nama vampire Clan Pilohana." ucap Erden menunjukkan daftar nama-nama tersebut.
"Ada clan lain juga. Kakekku mengatakan mereka sekutu." Erden menunjukkan deretan nama-nama dengan clan berbeda.
"Kalian menyadari sesuatu? Nama clan di sini di singkat dengan huruf depannya." ucapnya lagi.
Mereka berdua mengangguk membenarkan.
"Dan lihat di sana. Hanya ibu, ayah dan juga Joshua mempunyai singkatan nama yang sama."
Sejenak mereka terdiam. Itu memang masuk akal. Apalagi pada buku yang Erden bawa kemarin, sering terdapat kata aku yang berarti penulis itu sendiri.
"Jadi maksudmu dia memang seorang vampire?" tanya Teo dan Erden mengangguk.
•
•
•
•